Adventurer Kein Chapter 11

Oleh Alone of Nyx on April 17, 2018

― Middle-aged Adventurer Kein’s Good Deed Chapter 11 Bahasa Indonesia ―


Chapter 11: Penyergapan di Jalan Pegunungan

 

 

Kein pikir ada sesuatu yang dia dapat lakukan untuk Gereja.

Pada Akhirnya, apa yang bisa Kein lakukan hanya mengumpulkan tumbuhan obat di Gunung Kuko.

Bahkan hari ini, Kein menyapu dan membersihkan pinggiran kuil kecil Dewa gunung.

Itu pasti berkat bantuan Dewa, gereja dapat terselamatkan.

 

“Aku dianggap sebagai yang menyelamatkan semua orang, tapi itu semua berkat Dewa.” (Kein)

 

Kein mendekorasi kuil Dewa gunung dengan barang berharga dari anak-anak, seperti kincir angin.

Setelah mendekorasi menggunakan mahkota cantik dari bunga dan kincir angin, Kein terasa segar.

 

“Dewa gunung, tolong jaga anak-anak.” (Kein)

 

Sambil berpikir betapa tidak berdayanya dia, sesuatu yang hanya dia dapat lakukan hanyalah berdoa dengan sungguh-sungguh, meminta bantuan dari Dewa.

Kein berlari melalui pegunungan untuk mengumpulkan tumbuhan obat yang digunakan sebagai bahan potion.

 

“Yah.” (Kein)

 

Tiba-tiba, baju zirah mithril tergeletak di jalan pegunungan.

 

“Apa kamu ingin memakainya?” (Kein)
Sebelumnya, sebuah pedang, dan sekarang sebuah baju zirah.

Kein percaya sampai saat ini, kalau itu merupakan perbuatan seseorang.

Kein pikir untuk membawanya ke guild, tapi dia mengingat ketika kasus pedangnya, jadi dia memutuskan untuk memakainya.

Bersamaan dengan pedang mithril, baju zirahnya seringan bulu.

“Apa?” (Kein)

 

Seketika dia memakai baju zirah mithril, sebuah anak panah terbang ke arahnya.

Baju zirah mithril menangkalnya dengan sempurna.

 

“Cih, meleset.” (Kazu)

 

Karena Kazu meleset akan serangannya, Jinx muncul dari semak-semak memegang sebuah kapak.

“Kau sialan, apa yang kau lakukan!” (Kein)

“Hahaha, apa yang akan aku lakukan!” (Jinx)

 

Jinx tertawa selagi memegang sebuah kapak, dan mengayunkannya ke Kein!

 

“Kau hebat.” (Jinx)

 

Kein berhasil menghindari serangannya, tetapi tangannya tersayat sedikit.

 

“Kein, kau si idiot lembek. Apa yang kami lakukan sampai sekarang, apa kau mengerti?” (Kazu)

 

Kazu teriak selagi mengisi ulang busurnya.

 

“Apa kau berencana untuk membunuh sesama adventurer!?” (Kein)

 

Seorang adventurer menyerang seorang adventurer.

Hanya ini, yang tidak boleh dilakukan.

Tapi, bagi bandit hal seperti itu masa bodoh.

 

“Hahaha, kau akhirnya mengerti!” (Kazu)

“Kalian ‘Twin-Headed Snake’ sudah kelewatan!” (Kein)

 

Selagi memasukan hutan dan berlari melalui jalan pegunungan untuk kabur, Kein teriak.

 

“Sampai saat ini, aku hanya berkata manis. Kein, sejak awal aku sangat membencimu!.” (Kazu)

 

Kazu mengejar Kein selagi memegang busur dan anak panah.

Dia sungguh ingin membunuh Kein.

 

“Sial……” (Kein)

 

Selagi mencoba untuk kabur, Kein memikirkan salah apa dia, dia terpaksa berteriak di dalam dirinya.

Jika Kein dapat kabur dari sini dan menceritakannya ke adventurer guild, mereka akan menerima penalti.

 

“Jinx, jangan biarkan bajingan itu kabur. Aku pasti akan membunuhnya.” (Kazu)

“Hyahaha!” (Jinx)

 

Kazu, adventurer peringkat C meluncurkan anak panah.

Jinx si preman menyerang menggunakan kapak.

Kein terpojok.

Namun, Kein mengetahui semua jalan dari pegunungan.

Dan, mereka sampai di kedalaman hutan.

Kein memakai baju zirah mithril, jadi meskipun sebuah anak panah mengenai tubuhnya, efeknya akan sedikit.

 

“Cih, mustahil untuk membunuhnya menggunakan panah.” (Kazu)

 

Kein diuntungkan dengan keadaan geografis, dia mengetahui segala jalan pegunungan.

Kein pikir dia dapat melarikan diri jika seperti ini tapi, tiba-tiba dia mulai kehilangan kesadaran dan hampir pingsan, jadi dia memutuskan untuk beristirahat di bayangan pohon besar.

 

“Fuhehehe, seharusnya sudah bereaksi sekarang. Oi… Kein, apa kau ingat apa nama keluargaku? “Twin-Headed Snake”. Kapak yang menyayatmu, telah diolesi dengan racun khusus. Bahkan untuk berjalan aja susah.”

 

Jinx berteriak ke Kein seperti dia menang, dia menjelaskan situasinya ke Kein.

 

“Sial, apa ada sesuatu untuk……” (Kein)

 

Kain mencari di tasnya.

Terdapat tumbuhan obat untuk mengobati lukanya, tapi dalam keadaan ini… Ah, Kein menemukan hadiah dari Suster.

 

“Sakitnya pasti parah, jadi keluar saja.” (Jinx)

 

Kein, meminum potion penyembuhan dari Suster dan bersembunyi di pohon besar.

Mustahil untuk melarikan diri dari mereka berdua, jadi Kein bersiap untuk berdiri.

Mendengar suara langkah kaki Jinx mendekat, Kein melemparkan Sky Potion ke semak-semak.

 

“Hahaha, kau di sana!” (Jinx)

 

Mendengar suara semak-semak, Jinx menyiapkan kapaknya.

Mengambil kesempatan, Kein meloncat keluar dan menikam pinggul Jinx menggunakan pedang mihtril.

Jinx menganggap remeh lawannya, adventurer peringkat D, yang telah diracuni.

 

“Guah… Mustahil!” (Jinx)

 

Kein tiba-tiba mencabut pedangnya dari pinggul Jinx.

Seketika, darah Jinx menyembur keluar.

Mustahil, diriku, adventurer peringkat C, dikalahkan oleh adventurer peringkat D, petani tanaman obat.

Jinx tergeletak dan menemui ajalnya.


Sebelumnya | Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻