Adventurer Kein Chapter 14

Oleh Alone of Nyx on April 17, 2018

― Middle-aged Adventurer Kein’s Good Deed Chapter 14 Bahasa Indonesia ―


Chapter 14: Elena Melindungi Kein

 

 

Di adventurer guild, para staf bergerak dengan cepat dikarenakan Kein, yang kembali untuk memberikan laporan ke guild.

Di ruang resepsionis, Elena, sang resepsionis, membawakan teh, menunjukkan wajah yang mengerutkan dahi.

Ada sesuatu mengenai baju zirah mithril yang Kein ambil, tapi dia tidak tahu apa jadi Kein tetap menyimpannya.

Entah kenapa, Elena yang biasanya baik memancarkan sesuatu aura berat dan tegang yang sebelumnya tidak pernah.

 

“Emm, apa aku melakukan hal yang buruk?” (Kein)

“Tidak, bukan begitu. Laporan seperti ini merupakan sebuah kewajiban adventurer. Kazu dan Jinx dari “Twin-Headed Snake” menyerangmu, kan? Sekarang para staf sedang menyelidikinya, tapi mereka tidak mencurigai perkataanmu sebagai korban.” (Elena)

“Jadi begitu.” (Kein)

 

Jika Elena mengingat prestasi Kein selama di guild, tidak mungkin ada orang yang akan melindungi Kazu dan Jinx karena masalah yang mereka perbuat.

Mendengar kabarnya, ada juga anggota dari staf yang memuji Kein— yang bahkan bukan peringkat C— menang melawan mereka berdua.

Namun, Kein tidak menikmatinya walaupun dia dipuji.

Meskipun itu perbuatan untuk melindungi diri, dia tetap merasa bersalah karena telah membunuh sesama adventurer.

Dia masih tidak dapat menerima bahwa dia telah membunuh mereka berdua dengan tangannya sendiri.

Tangannya bergemetaran sambil memegang cangkir teh, dia tidak bisa memegangnya dengan benar.

Dia merasa tidak enak karena guild menyajikan dia teh. Itu sesuatu yang dia telah tekadkan ketika terpojok lagipula.

Meskipun, bahkan jika musuhnya seorang yang jahat, perasaan setelah membunuh mereka terasa tidak enak seperti teh murahan.

Dia kemungkinan tidak bisa tidur malam ini.

 

“Tapi menurut pribadiku sendiri, aku selalu ingin Kazu dan rekannya terbunuh, entah diserang oleh monster atau alasan lain.” (Elena)

“Kenapa? Adventurer guild bisa saja memberikan “Twin-Headed Snake” hukuman, kan?” (Kein)

 

Karena dia pikir guild tidak akan tinggal diam terhadap seseorang yang menyerang sesama adventurer, keluh Kein.

 

“Bukan itu masalahnya!” (Elena)

“Uhh……” (Kein)

 

Elena yang marah menutupi wajahnya dengan tangannya yang gemetaran.

 

“Maafkan aku tiba-tiba berteriak… Yang aku khawatirkan adalah dirimu, Kein. Bahkan sebelumnya, sudah ada kecurigaan bahwa “Twin-Headed Snake” menyerang sesama adventurer. Namun Snakehead sangat licik sampai saat ini mereka bisa menghindari segala tuduhan. Bahkan kali ini juga, mereka tetap bertahan itu merupakan tuduhan staf guild secara sepihak.” (Elena)

“Itu berarti, meskipun dengan segini banyaknya bukti tentang mereka, kamu masih tidak bisa menyeret “Twin-Headed Snake”?” (Kein)

“Benar. Meskipun adventurer tidak ingin tinggal diam akan “Twin-Headed Snak” tapi mereka merupakan salah satu dewan dari kota, jadi itu menyusahkan.” (Elena)

“Jadi begitu.” (Kein)

 

Pembicaraan mengenai politik tidak dapat dimengerti oleh Kein tapi dia mengerti bahwa ada sebuah alasan kenapa guild selalu mengambil tindakan tidak ikut campur.

 

“Snakehead kemungkinan akan membuat alibi untuk mengambil nyawamu. Jika mereka tidak membalaskan dendam kedua anggota mereka, mereka akan kehilangan reputasi sebagai Keluarga. Itu kemungkinan besar yang akan dia pikirkan.” (Elena)

“Jika seperti itu, berarti aku dalam bahaya, kah?” (Kein)

“Itu merupakan kecerobohanku. Aku menyerahkan Pedang Mithril kepadamu, dan aku tidak menyadari “Twin-Headed Snake” akan mengincarmu dikarenakan hal itu…”(Elena)

 

Suara Elena yang menutupi wajah dengan tangannya terdengar dia sudah menangis.

 

“Tidak, ini bukan kesalahan Elena.” (Kein)

 

Kein tidak berpikir akan kemungkinan dia diserang karena pedang mithrilnya juga.

Sudah terlambat untuk mengatakannya tapi, jika saja dia menyembunyikan pedang mithril dengan membungkusnya menggunakan kain makan tidak akan terjadi seperti ini.

 

“Ini merupakan kesalahanku. Jadi aku akan mengatasinya!” (Kein)

 

Meskipun Kein mencoba untuk menghiburnya, Elena tiba-tiba mengangkat wajahnya.

Kein berpikir dia tidak ingin merepotkan Elena.

 

“Tidak, aku akan bersembunyi untuk sementara waktu.” (Kein)

 

Meskipun dia mengatakan begitu, dia tidak harus kemana…

Untuk bersembunyi, jika penginapan murah yang dia tempati sekarang bukan pilihan bagus, barangkali dia bisa tinggal di goa gunung Koku yang dia sangat afal.

 

“Ah, benar juga! Kein, kamu tinggal saja di guild mulai dari sekarang. Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa di guild. Juga semua staf guild, termasuk ketua guild, merupakan sekutumu jadi kami pasti akan melindungimu.” (Elena)

“Eh, mulai dari sekarang?” (Kein)

 

Selagi Kein kebingungan dengan pembicaraan yang mendadak, tangannya ditarik oleh Elena ke bagian ruang dalam.

Tanpa disadari, ekspresi Elena menjadi cerah.

 

“Maafkan aku ini agak sempit, tapi ini merupakan bagian dari asrama staf guild. Aku ingin kamu tinggal di sini untuk sementara waktu.” (Elena)

“Tidak menjadi masalah bagiku sempit atau tidak, tapi…” (Kein)

 

Kamar yang ditunjukkan ke Kein lebih cantik dan luas.

Dibandingkan kamar di mana Kein tidur sampai sekarang pada penginapan murah, kamar ini setidaknya 2x lebih besar.

Sebaliknya, dia tertarik dengan semua perabotan imut yang tersusun dan aroma parfum yang wangi.

Bukannya kamar ini sedang ditempati? Pikirnya.

 

“Maafkan aku kamarnya sempit. Karena tidak ada kamar kosong, kamu akan sekamar denganku untuk sementara waktu, jadi tolong bersabar.” (Elena)

“Ehhhhh—!” (Kein)

 

Sepertinya Kein akan tinggal bersama dengan Elena.


Sebelumnya | Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻