Dungeon Defense Vol 3 – Bab 3 Part 2

Oleh Alone of Nyx on November 21, 2017

Dungeon Defense: Volume 3 – Bab 3 (Part 2) Bahasa Indonesia

Bab 3 – Daerah Pegunungan Terbakar (Part 2)


▯ Raja Petani, Peringkat 71, Dantalian
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 2, Hari 25
Pegunungan Hitam, Benteng Putih

“Yang Mulia, apakah Anda benar-benar berencana melakukan gencatan senjata?”

Dengan kepala kuda kami yang sejajar satu sama lain, Lapis dan aku bergerak maju. Melihat kembalinya kami, para tentara di kamp kami mulai menurunkan tahanan. Aku menjawab.

“Tentu saja tidak. Bahkan margrave tidak akan bisa bertahan lebih dari beberapa hari dan akan segera melompat keluar. Karena rasa keadilan orang tersebut sangat kuat, dia kemungkinan besar tidak mampu mentolerir penjahat sepertiku. ”

“Kalau begitu kenapa ……”

“Tenang saja, aku jamin margrave akan menyerang kita dalam waktu 10 hari. Bukannya Farnese sudah menunggu untuk penyergapan di dalam hutan pinus? Yang harus kita lakukan adalah berpura-pura mundur dan kemudian melanjutkan untuk sepenuhnya mengepung margrave. ”

“Hamba tidak mengerti rencana Yang Mulia.”

Kami meningkatkan kecepatan kuda kami. Debu salju muncul dari kuku kuda. Angin musim dingin yang dingin menelanku secara menyeluruh. Aku menikmati sensasi yang terasa seolah tubuhku menjadi beku sebagian. Angin musim dingin memberitahuku bahwa tubuhku masih hidup. Aku tertawa terbahak-bahak.

“Lapis. Margrave adalah individu yang adil. Perasaan keadilan mengubahnya menjadi karakter yang mendalam. Namun, kedalaman itu adalah keterbatasannya. Selain itu, orang yang tidak etis sangatlah dangkal sampai dasarnya, dan karena kekosongan yang tak terbatas tersebut, mereka tidak memiliki keterbatasan. Hal ini sangat menggembirakan karena aku dangkal! Dapatkah margrave mengatur kebahagiaanku? Dapatkah seseorang yang adil di dunia ini menanganiku? Sangat disayangkan bagi orang-orang yang tidak mampu mengatasi kegembiraanku. ”

“Pasti menyenangkan bersikap ceria, Yang Mulia.”

Lapis membuat kuda kami tetap berdekatan. Dia kemudian berbicara.

“Apakah Yang Mulia yakin bahwa margrave akan keluar dalam waktu 10 hari?”

“Tentu saja. Aku percaya pada keadilannya pada dirinya. ”

“Jika memang begitu, maka 20 tahanan akan cukup.”

“……”

“Kita tidak memiliki alasan untuk repot-repot meningkatkan jumlah narapidana dan membuang-buang perbekalan.”

Dengan kendali di tanganku, aku menatap langsung Lapis. Lapis tidak mengedipkan matanya bahkan dengan angin musim dingin mendorongnya.

“Lapis.”

“Ya, Yang Mulia?”

“Jika kau mati, kau pasti akan pergi ke Neraka.”

“Aku mengerti. Itulah mengapa hamba tidak akan mati. ”

Lapis menatapku.

“Menurut seseorang, mereka mengklaim bahwa kehidupan hamba lebih berharga dari pada Yang Mulia. Karena ini adalah kehidupan yang berharga, hamba harus merawatnya dengan baik. ”

Aku tidak bisa mempercayainya.

Aku bertanya.

“Apakah kau tidak merasa kasihan pada tahanan rendahan itu?”

“Hamba tidak akan melakukan kesalahan dengan menangani narapidana dengan enteng karena kasihan pada mereka. Mereka adalah kelompok yang dapat, kapan saja, menyerang hamba atau Yang Mulia. Karena hamba mengerti dan mengakui kekuatan mereka, hamba akan membunuh mereka. ”

Lapis berbicara secara datar.

“Sebenarnya, bukannya hamba menghormati narapidana secara tulus?”

Apakah ada cara agar aku tidak tertawa dalam situasi ini?

Sambil membuat badai salju di belakang kami, kami kembali ke perkemahan kami.

Begitu kami kembali ke pasukan, kami memenggal 77 tahanan.

 

▯Pembunuh Sanak-Famili, Putri Kekaisaran, Elizabeth von Habsburg
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 2, Hari 29
Wilayah Utara Kekaisaran Habsburg

― Bulan 2, hari ke 25. Pasukan musuh telah merebut Benteng Hitam. Kekuatan militer sekitar 3.000. Komandannya adalah Demon Lord Dantalian. Pasukan kami ditempatkan pada Benteng Putih dan ditaklukan dengan sempurna. Kami berlimpah dalam perbekalan dan memiliki jumlah senjata yang cukup. Kabutnya parah. Pegunungan aman.

Untuk waktu yang cukup lama, aku melihat laporan yang telah dikirim oleh margrave. Karena aku memeriksanya cukup lama, aku mengerti akan isinya.

…… Jadi margrave takut padaku. Karena dia takut padaku, dia mencoba untuk tidak mengungkapkan apapun, dan karena dia mencoba untuk tidak mengungkapkan apapun, dia telah menuliskan informasi yang tidak penting. Apakah margrave tidak tahu bahwa dengan mencoba tidak mengungkapkan apapun, sebenarnya dia mengungkapkan semuanya secara rinci? Apakah dia berusaha menghindari ancaman langsung dengan mengabaikan ketidaktahuan? Apa niat sebenarnya meninggalkan laporan ke kurir dan bukannya mage, dan pesannya tiba hari ini saat pesan tersebut dikirim pada tanggal 25 ……?

Aku merobek-robek laporan tersebut.

Ini bukan kalimat. Ini hanyalah gerutuan orang tua. Kalimat seharusnya ditulis di atas kertas ini, tapi karena tidak ada kalimat dan hanya pengulangan, potongan perkamen menjadi sampah. Sudah menjadi kebiasaanku untuk mengubah barang tidak berguna menjadi sampah.

Keringat dingin mengalir di leher para bangsawan saat mereka melihatku menghancurkan laporan margrave tersebut. Aku berbicara.

“Dengarkan ini. Margrave menyatakan pegunungannya aman. Aku telah memberikan kepercayaanku kepada margrave. Apa yang kalian semua pikirkan tentang masalah ini? ”

Para bangsawan berbicara berbarengan.

– Lakukan sesuai keinginan Yang Mulia.

Kata-kata tersebut sama artinya dengan tidak mengatakan sama sekali.

Sebuah tawa mengalir dari bibirku. Para bangsawan tersentak saat aku tertawa. Aku tidak yakin dengan alasannya, tapi orang-orang di sekitarku akan selalu ketakutan setiap kali aku tertawa. Itu adalah kejadian aneh.

“Aku melihat ternyata kalian semua tidak menarik. Kalian semua memiliki kepala dan mulut, namun bagaimana ucapan kalian? Apakah pantas untuk menyebutnya sebuah kebahagiaan bagi Kekaisaran karena para bangsawan sangat kompak? Apakah pantas untuk mengampuni satu orang, ketika mengambil nyawa sisanya, lagi pula kalian semua mengulangi kata-kata yang sama pula? Ini adalah ide yang bagus karena kita juga bisa menghemat persediaan. ”

Para bangsawan bersujud di lantai.

― Tolong jelaskan!

Mereka bahkan tidak memiliki akal sehat.

Tiga ungkapan yang paling aku benci di dunia adalah ‘Ucapan Anda tak terukur’, ‘Saya sangat bersedia’, dan ‘Tolong jelaskan’. Ini bukan sebuah ucapan tapi halusinasi. Tidak peduli apa yang aku katakan, mereka tak terukur, bersedia, dan jelaskan, sehingga hampir sulit untuk mengatakan sekarang seperti apa. Karena itu, setiap kali aku mendengar tiga ungkapan tersebut, aku menafsirkannya sebagai satu baris saja.

‘Tolong diam.’

Jika mereka menyuruhku untuk tutup mulut maka aku akan melakukannya. Apa lagi yang bisa aku lakukan?

Aku menutup mulutku dan keluar dari tenda. Para bangsawan dengan cepat berdiri dan mengejarku. Karena para bangsawan mengikutiku, pembantu mereka, ksatria, dan bawahan ksatria semuanya dengan tergesa-gesa menemani kami juga, sampai akhirnya, 200 orang mengikuti satu orang. Meskipun aku tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Itu adalah sebuah adegan komedi. Meskipun itu menjadi pemandangan yang lucu, tidak ada yang tertawa. Karena setiap orang pasti takut jika aku tertawa, aku menahan diri untuk tidak melakukannya. Aku ingin berbalik dan meneriaki 200 orang di belakangku. …… Tertawalah sedikit dalam kehidupanmu. Tertawa. Tertawa aku katakan padamu.

Dulu ada saat di mana aku benar-benar mengucapkan kata-kata tersebut.

Pada saat itu, ratusan pejabat pemerintah yang rendah dengan paksa menggerakkan otot-otot  wajah mereka dan mulai tertawa. Ha, haha, ha, hahaha, ha, haha, ha, ha, mereka mengucapkannya bersamaan.

Itu mengerikan.

Terkadang, hal tersebut akan muncul dalam mimpi burukku.

Setelahnya, aku tidak pernah memberi perintah untuk tertawa lagi. Sangat disayangkan. Bagaimana mungkin aku berharap pada mereka yang tidak bisa berbicara dengan benar bisa tertawa dengan benar?

Mereka bukan manusia tapi hantu. Mereka adalah individu yang hidup sebagai hantu dan akan memenuhi tujuan mereka sebagai hantu. Itu adalah cara dunia mereka bergerak untuk menjalani hidup mereka sebagai hantu. Karena aku mempercayainya, aku tidak punya pilihan selain menyerahkannya kepada mereka sendiri. Bagi manusia, ucapan seharusnya ada sebagai cara untuk melepaskan pikiran batin mereka, namun manusia menggunakannya untuk menutupi pikiran dan merenungkannya, menyebabkan ucapan mereka tidak menyisakan satu bagian pun dari makna sebenarnya atau mengandung jumlah terkecil dari emosi mereka. .

Sebuah dataran terbentang di depan kelompok 200 orang. Ada tiang kayu yang ditanam di tanah ini. Orc, goblin, minotaurs, dan demon lainnya terikat pada pilar, satu demon per tiang. Mereka adalah tahanan yang telah ditangkap pasukan kami.

Bahkan ada Demon Lord di antara mereka.

Peringkat ke-68, Demon Lord Belial.

Unit yang terpisah, saat melakukan pengintaian, bertemu Demon Lord secara kebetulan dan menangkapnya hidup-hidup. Terikat pada tiang kayu, Belial melotot padaku. Aku tidak menggunakan tali untuk mengikat Demon Lord ke tiang, sebagai gantinya, aku telah memakukannya. Dengan sopan aku menempelkan telapak tangan, pergelangan tangan, dan pergelangan kakinya ke kayu. Belial mengerang dalam bahasa demon saat berdarah.

“…… Terkutuk kau. Terkutuk kalian semua. Kalian wabah benua, para dewi tidak akan pernah memaafkan kalian semua. Penghakiman akan jatuh pada rasmu yang telah menginjak-injak dan membakar rumah kami …… ”

Para bangsawan bergumam satu sama lain di belakangku. Mereka tidak bisa mengerti bahasa demon. Nah, mereka juga tidak mengerti bahasa Kekaisaran dengan benar, jadi tidak ada kemungkinan mereka tahu bahasa ras lainnya.

Aku mengeluarkan pisau. Itu adalah jenis pisau yang digunakan saat membantai binatang. Setelah melihat pisau tersebut, Belial membuka matanya lebar-lebar. Demon Lord bergumam lebih putus asa.

“Oh Dewa, oh Dewi, tolong, kumohon padamu untuk menghukum yang ada di hadapanku. Menghukum ketidakadilan dengan kebenaran dan mengembalikan darah dengan darah. Sebagai hambamu yang lemah, aku dengan rendah hati berdoa. Oh Dewi, tolong …… ”

“Itu tidak ada gunanya.”

Demon Lord berbalik untuk menatapku.

“Apa?”

“Aku bilang itu tidak ada gunanya, oh Demon Lord yang lemah.”

“Kau, apa yang kau …… tidak. Bagaimana kau mengetahui bahasa kami ……? ”

“Tidak ada milikmu atau diriku dalam berbicara. Seperti bunga masih tetap akan bunga jika mekar di kebunku, maka kalaupun ada bunga yang mekar di duniamu, itu masih bunga sederhana. Biasanya aku senang melihat bunga yang ada di tanganku, jadi aku tidak membenci belajar bahasa baru. ”

Belial menatapku secara tajam.

“Apa yang ingin kau lakukan terhadapku, manusia?

“Aku akan mengambil hidupmu.”

Aku mengambil batu asah dan mengasah pisau tersebut. Getaran yang disebabkan karena besi, saat diasah oleh batu, terpaparkan ke telapak tanganku. Belial kebingungan melihat diriku mengasah pisauku.

“Apakah kau melihat spanduk yang melambai di sisi lain dataran? Itulah tentara yang dipimpin oleh Demon Lord Marbas. Parit-parit digali jauh di garis depan dan pagar kayu dipasang, jadi pertahanan mereka tidaklah biasa. Melewati tempat itu dan menghancurkan mereka tidak akan menjadi taktik yang paling menguntungkan bagi kami. Itulah sebabnya aku berencana memancing musuh ke sini.”

“Hah. Tuan Marbas memimpin kavaleri terbesar di dunia demon. Dia bukan seseorang yang akan kalah dari orang sepertimu. ”

“Maafkan aku, Demon Lord. Apakah kau tahu siapa aku? ”

“Apa?”

“Sepertinya tidak. Aku berasumsi bahwa kau melakukannya karena kau mengatakan ‘orang sepertimu’. ”

“…… Dan siapa sebenarnya kau sampai mengatakan hal tersebut?”

Bagus.

Pisau telah diasah dengan baik.

Aku sejenak meletakkan besi dari pisau itu ke dalam api dan memanaskannya.

“Namaku Elizabeth von Habsburg. Ada beberapa nama lagi di antaranya, tapi aku akan mengabaikannya. Demon Lord Belial, meski dalam waktu singkat, aku akan bekerja sama denganmu. Lebih dari segalanya, aku akan menjadi orang terakhir yang akan kau lihat di saat-saat terakhir dalam hidupmu. ”

“……!”

Marbas pasti tidak akan bisa menahan jika personil militernya menyaksikan seorang Demon Lord yang dikuliti hidup-hidup di depan mata mereka. Para demon akan marah, dan tidak dapat menahan kemarahan tersebut, mereka akan menuntut. Mereka akan menyingkirkan dinding kokoh mereka dan parit yang aman untuk menyerang kami.

Sepertinya Belial mengerti apa maksudku saat dia mulai berjuang mati-matian. Tentu saja, Belial, yang tubuhnya dipaku, tidak bisa lepas.

“Tidak! Tuan Marbas, jangan datang! Tolong tinggalkan aku sampai mati! ”

“Menyerahlah. Tidak peduli seberapa banyak kau berteriak, mereka tidak dapat mendengarmu. ”

“Tidak! Aaack! Kau tidak boleh, kau bajingan Kau tidak boleh!”

“Betapa merepotkannya.”

Tipe orang yang tidak tahu kapan semuanya akan sia-sia.

Aku menekan pisau ke dirinya. Pisau tersebut mengiris daging Demon Lord dengan lembutnya seolah mentega. Sebuah teriakan terdengar. Mengincar saat lidahnya keluar dari mulutnya, aku memotong ujung lidahnya. Jeritan lain terdengar. Teriakan Belial sekarang telah kehilangan bentuknya dan hanya raungan rasa sakit.

Aku melirik seorang mage. Mage tersebut menganggukkan kepalanya dan mengaktifkan mantra pengeras suara. Sejak saat itu, jeritan Belial diperbesar dan bergema keras di seluruh dataran. Setiap kali jari tangan atau jari kaki Belial terputus, tentara kami bersorak.

Saat aku mulai mengupas kulit pipi Belial, para bangsawan berteriak.

― Yang Mulia, pasukan musuh bergerak. Itu bendera Marbas!

― Pasukan musuh melakukan serangan penuh!

Para bangsawan secara terang-terangan menunjuk ke arah depan.

Mereka memang benar. Bendera demon berkibar kencang. Suara terompet benar-benar memenuhi sisi dataran. Mereka bersiap untuk segera menyerang. Aku membersihkan pisau dengan kain lap.

“Dengarkan baik-baik. Pasukan musuh akan menjadi gelisah sehingga mereka akan menyerang kita secara nekat. Jangan kau melawan mereka di sana. Seret mereka jauh ke dalam wilayah kita dan kepung mereka. Terus-menerus pukulkan gendang dan tiupkan trompet secara kuat. Bergerak dengan tenang selagi membuat pasukan musuh tidak dapat mengembalikan ketenangan mereka dengan menyebabkan keributan serta kebisingan. Apakah kalian mengerti?”

Para bangsawan memukul dada mereka dengan lengan kanan mereka.

― Ya, Yang Mulia!

Pertarungan berlanjut sampai petang.

Pasukan musuh bentrok dengan garis pertahanan kami dengan hanya tubuh mereka. Pasukan kavaleri yang dipimpin oleh Marbas sangat kuat. Namun, kavaleri mereka kelelahan karena mendaki bukit, mengalami penurunan kecepatan dengan terjebak di pagar kayu, terhambat oleh tombak, dan ditembak mati oleh para pemanah. Para demon berusaha untuk menyerang 4, 5, dan 6 kali dan jatuh ke kematian mereka berulang kali.

Akhirnya, pasukan musuh mundur. Itu setelah mereka gagal menembus pertahanan kami untuk yang ke-7 kalinya. Mereka tidak secepat saat mereka pertama kali menyerang kami. Aku tidak melewatkan kesempatan tersebut.

“Kejar mereka dan robek mereka berkeping-keping.”

Pasukan ksatria kami bergegas maju. Karena mereka memiliki cukup istirahat, para ksatria penuh semangat. Bagian belakang musuh diserang oleh pedang yang diayunkan oleh kesatria kami. Tentara musuh jatuh dengan wajah mereka di bagian menurun bukit. Setengah mayat jatuh dan terjatuh menuruni bukit, dan pada saat mereka mencapai dasar bukit, mereka sudah menjadi mayat seutuhnya. Satu demi satu, mayat setengah tubuh berguling menuruni bukit. Mundurnya musuh telah berubah menjadi kekalahan. Belial, yang tergantung di pilar kayu, belum meninggal. Dia menyaksikan pertempuran yang telah berubah menjadi pembantai dengan mata terbuka. Dengan darah tersumbat di tenggorokannya, dia meraung.

― Aack Uuuuaaaa …… uuaaaah! Uuuuaaaack!

Ketika saatnya malam, hujan es mulai turun dari langit. Ada banyak tentara musuh yang telah meninggal di atas bukit sambil menatap langit. Mereka telah mati dengan mata dan mulut terbuka lebar. Salju dan angin memasuki celah yang terbuka. Karena mayat telah menjadi dingin, salju tidak meleleh dan bersandar kuat di atas tubuh mereka. Salju menumpuk pada mulut mayat.

Aku memotong leher Belial dan melemparkan kepalanya ke salju. Ada begitu banyak kepala terkubur di salju sehingga sulit untuk membedakan kepala lainnya dari milik Belial. Meskipun goblin, centaur, dan manusia memiliki penampilan yang berbeda, bentuk yang mereka miliki setelah kematian hampir sama. Jadi itulah hidup. Kehidupan tidaklah sama karena mereka semua hidup, mereka adalah satu kehidupan karena mereka semua sama matinya …… Meskipun hidup seharusnya bisa saling memahami karena rasa takut dan simpati mereka terhadap kematian, karena mereka tidak dapat mengalami kematian saat mereka hidup, demon dan manusia, sebenarnya, terpisah dan kemungkinan besar akan bertarung untuk selamanya …… Setelah menatap kepala terpenggal yang terkubur di salju cukup lama, aku berpaling.

Dalam perjalanan pulang ke kemahku, para bangsawan dan tentara berjejer di kedua sisinya. Mereka semua berlumuran darah. Sementara aku menyusuri jalan setapak, mereka berlutut satu demi satu.

― Yang mulia.

― Anda adalah pemenangnya.

Di ujung jalan, saudara laki-lakiku berdiri di pintu masuk kemahku. Tidak ada darah di baju besinya.

Begitu aku mendekat, ksatria kakakku mundur selangkah. Aku membersihkan bahu adikku.

“Cukup melegakan Anda tidak terluka, Yang Mulia Putra Mahkota.”

Saudaraku gemetar.

“Kau …… Kau, adalah Iblis.”

“Aku tahu. Apakah ada masalah dengan itu? ”

“……”

“Aku bertanya apakah ada masalah akan hal itu.”

Adikku menurunkan kepalanya. Dia menggumamkan sesuatu dengan suara rendah, tapi aku tidak bisa mendengarnya.

Betapa menyedihkan.

Merasa kasihan pada kebanggaan kecil dan semangat pemberontakannya, aku mengabaikan saudaraku dan masuk ke dalam kemahku. Dia adalah orang yang tidak bisa menatap seseorang dengan benar kecuali jika dia meletakkannya di tempat tidur.

Pelayan mendekati untuk membuka dan membersihkan tubuhku.

Sambil mengusap perut bagian bawahku, kepala pelayan berbisik.

“Yang Mulia, ada sebuah pesan dari Demon Lord Paimon.”

“Letakkan. Aku akan mendengarkannya nanti. ”

Kepala pelayan menunduk.

Dengan tubuhku yang sekarang bersih, aku duduk di atas sebuah dudukan buku.

Angin musim dingin meresap ke tubuhku yang sekarang dingin. Karena tenda tidak bisa menghalangi angin, musim dingin bisa masuk ke dalam secara menyeluruh. Kepalaku kosong. Aku memikirkan laporan bahwa margrave telah mengirim dan sampai pada waktu fajar.

…… Margrave takut padaku. Hal yang pantas untuk menghormati ketakutan tersebut. Jelas bagi yang lemah untuk takut pada orang-orang yang mereka kenali lebih kuat dari diri mereka sendiri. Tapi untuk alasan apa dia takut padaku, namun, memilih untuk tidak mematuhi perintahku? Apakah itu harga diri? Apa artinya bisa berasal dari harga diri yang tidak masuk akal? Aku tidak bisa mengerti. Apakah itu kebodohan? Apakah aku harus mencaci-maki kebodohan seorang orang tua? Aku tidak yakin. Apakah itu kesombongan diriku sendiri karena menganggapnya sebagai orang tua yang pikun atas kemauan diriku sendiri? Itu bisa jadi ……

Aku mengambil pena bulu dan mulai menulis. Hanya satu kata.

― Kemenangan (勝).

 

▯Penjaga Utara, Margrave dari Rosenberg, Georg von Rosenberg
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 1
Pegunungan Hitam, Benteng Putih

― Kemenangan (勝).

Aku menjadi kaget seakan kepalaku dipukul.

Pesan kemenangan telah dikirim oleh Putri Kekaisaran hanya memiliki satu kata ‘kemenangan’ yang tertulis di atasnya. Karena tidak dapat memikirkan apa yang Putri Kekaisaran coba katakan, aku merenung.

…… Apakah dia mengatakan bahwa dia telah menang, atau apakah dia menyuruh aku untuk menang? Apakah dia menginstruksikanku untuk menyerah karena dia memperoleh kemenangan? Apakah itu artinya aku harus membedakan siapa pemenangnya sendiri? Apakah Putri Kekaisaran sang pemenang sementara aku adalah pecundang?

Kata tunggal ini berisi semua makna tersebut. Putri Kekaisaran tidak membanggakan atau membual tentang prestasinya. Dia menggunakan kemenangannya untuk mengancam dan mengintimidasiku. Dengan menetapkan kemenangannya sebagai contoh, dia mendesakku untuk berhasil juga. Jika kemenangan berada di luar jangkauanku, maka dia menyarankanku untuk tunduk kepadanya. Keinginan untuk menang mendorong tubuhku dari belakang ke arah depan di mana pasukan musuh berada, dan saran untuk menyerah membuat tubuhku tertarik kembali ke tempat di mana pasukan kami bertahan. Musuh dan sekutu jelas berbeda, namun, aku tidak dapat melihat perbedaan antara didorong dan ditarik.

Penguasa Kekaisaran yang sah adalah Yang Mulia Kaisar dan pewaris takhta yang berhak adalah Putra Mahkota, namun, Putri Kekaisaran menginjak martabat sang Kaisar dan menertawakan otoritas Putra Mahkota. Presesi melangkah dan tertawanya sangat mengesankan. …… Apakah dia menyuruhku mengikutinya? Apakah itu yang dimaksud dengan kemenangan (勝)? Apakah orang tua yang berjuang untuk sukses di tahun-tahun terakhirnya, arti dari kemenangan? Sambil menatap langit, aku sangat berharap agar tubuhku yang tua setidaknya tidak ternodai.

Aku memanggil para kapten ke kamarku dan memberikan mereka perintah.

“Tentara yang dipimpin oleh Putri Kekaisaran telah memenangkan sebuah kemenangan besar dalam pertempuran mereka. Karena kabar kemenangan telah sampai ke kita, musuh yang berada di Benteng Hitam harus segera menerima laporan kekalahan. Atur pasukan seandainya musuh berusaha untuk mundur. ”

Para kapten menurunkan kepala mereka.

“Apakah Anda berencana untuk mengejar musuh sekarang, Jenderal?”

“Tidak. Sekarang masih malam hari. Mempertimbangkan kemungkinan disergap jika kita mengejar mereka dengan tergesa-gesa. Begitu fajar tiba dan suara ayam yang pertama terdengar, kerahkan pengintai dan bergerak maju. ”

“Seperti yang Anda perintahkan.”

Setelah mengirim kapten pergi, aku berganti. Seorang anak muda membantuku mengenakan baju besiku. Ayah anak laki-laki ini selalu membantuku mengenakan bajuku sepanjang hidupnya, tapi musim gugur yang lalu, dia telah meninggal dalam pertempuran melawan Dantalian. Anaknya mewarisi pekerjaan ayahnya seakan itu hal wajar.

Berbeda dengan ayahnya, jari anak laki-laki tersebut agak kikuk dan canggung sambil membantuku memakai perlengkapanku. Aku tidak bisa menyalahkannya karena hal itu. Meski pemuda ini menganggapnya memalukan untuk tidak disalahkan, aku menganggapnya malu untuk menjadi lebih memalukan.

“Tidak apa. Aku akan melakukan sisanya sendiri. ”

“Saya minta maaf, Yang Mulia.”

“Untuk apa kamu minta maaf ……? Kau bisa pergi sekarang. ”

“Baik.”

Dengan tegas aku melengkapi perlengkapanku dan duduk di meja kerja.

Karena Putri Kekaisaran dengan murah hati telah menulis dan mengirim berita kemenangan, sebagai pengikut keluarga Kekaisaran, aku harus mengirim surat ucapan selamat. Sebelumnya, aku hampir tidak bisa menulis beberapa baris, tapi kali ini, sama sekali tidak ada yang terlintas dalam pikiranku.

…… Yang Mulia Putri Kekaisaran, jangan membunuh ayah dan saudara laki-laki Anda, dan jangan juga menghina mereka. Saya meminta Anda untuk tidak membuang rasa bakti Anda.

Ketika aku hendak menuliskan kalimat itu, aku mengepalkan tinjuku dengan kuat. Begitu memikirkan wajah Putri Kekaisaran, senyum Deon Lord Dantalian juga ada di sana. Dadaku berdebar kencang. Kelemahan kata-kataku tertanam dalam tulang-tulangku.

Betapa sulitnya ini.

Karena usia tuaku, sepertinya aku tidak memiliki kekuatan yang tertinggal dalam dirikuuntuk menangani satu kalimat pun.

Aku memejamkan mata. Dengan mata terpejam, aku memikirkan bentuk diriku yang memberi daya tarik besar kepada orang-orang di wilayah utara.

Aku berusaha membayangkan diriku mendekati Yang Mulia Kaisar setelah memukul mundur tentara Demon dan Putri Kekaisaran, namun, satu-satunya gambaran yang muncul dalam pikiranku hanyalah tangan Putri Kekaisaran yang menguliti kulit buaya. Hanya jari-jari yang berlumuran darah. Di tepinya, kulitnya dikuliti seolah-olah sudah merupakan takdirnya untuk dipisahkan dari tubuh sejak awal. Tubuhku bergetar karena gerakan tangan yang lancar tersebut ……

Dari mana buaya itu ditangkap?

▯Raja Rakyat Jelata, Peringkat ke-71, Dantalian
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 1
Pegunungan Hitam, Benteng Putih

Pesan mendesak tiba tadi malam.

Terdapat sebuah kode yang sulit diartikan pada pesan tersebut. Melihat pada bola kristal mereka, para witch membuat garis dari kode tersebut.

Aku melihat saat para witch menguraikan laporan tersebut. Saat goresan tersebut berkumpul dan mulai membentuk kata-kata yang masuk akal, tatapan para witch terguncang. Humbaba membacakannya dengan lantang.

“…… Bulan ke-2, hari ke-29. Kekalahan total. Pasukan kedua Marbas telah binasa. ”

Raut wajah Humbaba saat dia berbalik menatapku ialah pucat. Aku mengangguk.

“Jangan berhenti. Lanjutkan membaca.”

“…… Dari 15.000 pasukan elit terpilih, sekitar 9.000 orang masih tersisa. Pihak oposisi merupakan aliansi antara Kekaisaran Habsburg dan Kerajaan Polish-Lithuanian. Perkiraan kekuatan militer musuh adalah 40.000. Pada Dataran Neris. Musuh semakin menyusup masuk. Ah! Marbas adalah seorang bajingan berkepala kuda. Aku akan langsung ke intinya. Aku akan bertahan selama 13 hari. Dantalian, kau terobos …… ”

Humbaba menelan ludahnya.

“Itu saja, master.”

Aku mengusap daguku.

Kekalahan total dan binasa. Ini merupakan hal yang berat. Meskipun Barbatos adalah seorang gadis yang kacau saat sex denganku dan tertawa terbahak-bahak, saat masalah yang dihadapi berkaitan dengan perang, dia menjadi orang yang sama sekali berbeda. Barbatos tidak akan pernah membesar-besarkan kata-kata saat melibatkan perang. Kekalahan toal dan binasa. Rasa pahit memenuhi mulutku.

“13 hari, ya kan? Apakah Barbatos mengatakan kalau dia akan bertahan selama 13 hari? ”

“Ya, master.”

Aku bisa merasakan pandangan Barbatos yang menyipit dari fakta bahwa dia telah memberitahuku tentang tanggal pastinya. Jika 13 hari, maka itu hampir dua minggu, jadi seharusnya tidak masalah untuk menulisnya dua minggu.

Namun, Barbatos menyatakan 13 hari. Dia telah menghitung hari dia bisa bertahan dan batas akhir pertahanan tersebut, dan menyimpulkannya sebagai 13 hari. Akan tetapi, tidak lebih atau tidak kurang dari itu dan tepat 13.

Sesuai dengan nama mereka, pasukan pertama Barbatos dan pasukan kedua Marbas merupakan kekuatan serangan utama dari Pasukan Sekutu Demon Lord. Jika mereka hilang maka perang ini akan berakhir sepenuhnya.

Barbatos yang menginstruksikanku untuk ‘menerobos’ berarti dia memintaku untuk menyerang pasukan sekutu musuh dari belakang, setelah menembus Benteng Putih. Kami tidak hanya harus merebut Benteng Putih, tapi kami harus terus melaju sampai ke belakang pasukan musuh, jadi batas waktu 13 hari hanyalah 13 hari. Sambil memperkirakan kemungkinan berhasil di kepalaku, aku bertanya.

“Humbaba. Berapa hari yang kita butuhkan untuk pergi ke utara dari pegunungan dan mencapai Dataran Neris? ”

“Uh, ya. Jika kita bergerak secepat mungkin, maka empat sampai lima hari ……? Itu akan menjadi perjalanan yang sangat sulit. Jika kita maju sambil menghancurkan, membakar, dan menyingkirkan hal-hal yang tak tertahankan di jalan kita, maka sekitar 10 hari? ”

“Karena satu hari telah berlalu, maka dengan menambahkan satu hari ke 10, itu akan membuatnya 11 hari. Jika kita memasukkan hari-hari yang dibutuhkan untuk bersiap, maka kita harus segera merebut Benteng Putih dalam waktu 3, tapi jika mungkin, 2 hari. ”

“Hii―, dua hari. Bukankah itu benar-benar sulit― ……? ”

Para penyihir bergumam putus asa. Awalnya, pasukan kita berencana untuk menaklukkan Benteng Putih selama seminggu. Bahkan seminggu adalah waktu yang singkat untuk merebut benteng tersebut. Karena telah menjadi lebih pendek dari jadwalnya, para witch kebingungan. Dua hari dari sekarang adalah lusa. Sudah jelas bahwa para witch akan kesulitan.

Meski begitu, aku tersenyum.

Sudut bibirku bergerak dengan sendirinya.

“—Aku melihat langit membantu kita.”

“Maaf?”

“Sekitar waktu ini, Rosenberg seharusnya sedang bersiap-siap untuk berperang. Karena kita sekarang telah menerima laporan bahwa Pasukan Sekutu Demon Lord benar-benar dikalahkan, maka margrave seharusnya menerimanya lebih cepat. Margrave seharusnya sudah sangat jengkel karena apa yang telah aku lakukan, dan karena situasi yang menguntungkan ini telah ikut menumpuk, kesabaran margrave seharusnya sangat gatal sehingga membuat dia tidak bisa menahannya lagi. ”

Aku berdiri dari tempat dudukku. Setelah berdiri, rasanya seolah-olah bukan kesabaran margrave yang gemetar, tapi diriku sendiri. Nah, apa yang sangat buruk dari hal tersebut? Tidak ada orang yang akan menyalahkanku jika kesabaranku akan hal sex sedikit gemetar.

“Humbaba, cari dan bawa kembali Farnese dari hutan pinus. Kita akan mengadakan rapat strategi secepatnya …… tidak, tidak jadi! Aku secara pribadi akan pergi ke hutan. Itu akan lebih cepat. Maukah kau memberiku tumpangan di sapumu? ”

“Tentu. Sapu hamba akan selalu memiliki tempat kosong untukmu, master. ”

Para witch terbang ke langit malam sambil memberikanku tumpangan.

Itu merupakan malam yang indah dengan hujan es yang turun. Setiap kali cahaya bulan bertabrakan dengan lembaran es kecil, sinar-sinar tersebut bertebaran. Terangnya sinar bulan yang terbelah sedikit menimpa ratusan ribu keping salju. Meski malam itu gelap, kegelapan hanya menjulang di atas tanah.

Penyihir menurunkanku di samping pohon pinus. Seluruh lingkungan hening. Cahaya bulan tidak bisa menyesuaikan di hutan pinus ini. Sejak 4 hari yang lalu, Farnese memimpin kavaleri di sini untuk bersantai dan menunggu untuk penyergapan.

Humbaba membunyikan peluit panjang.

― Hwiiiiiiii.

Suara tersebut langsung menyelimuti ke dalam badai salju dan menghilang ke sisi lain hutan. Tak lama setelah itu, sambil meninggalkan jejak debu salju, sekelompok centaur dengan cepat mendekati kami. Para centaur tersebut tidak mengenakan apapun di bagian atas sehingga dada mereka terbuka. Mereka mengenali siapa aku dan menurunkan kaki depan mereka untuk memberi salam mereka.

“Jendral pengganti ada di mana?”

Tidak ada tanggapan.

Aku mengerutkan alisku.

Rasa dingin yang tidak merasuki tulang belakangku.

“Jenderalku? Di mana Farnese? ”

Terdapat rumah es di lokasi di mana centaur menuntunku.

Begitu aku memasuki igloo, kulihat Farnese meringkuk pada sudut ruangan. Bahkan di hutan ini, di mana musim dingin cukup kuat, Farnese tidak memakai mantel bulu. Dia hanya mengenakan seragam militer yang terbuat dari kain.

Kapan pun tentara melihat Farnese seperti ini, mereka akan mengatakan bahwa itu karena ayah dan ibunya mengandungnya saat bersalju. Para prajurit percaya bahwa flu pasti meresap ke dalam rahim sang ibu dan masuk ke tulang anak tersebut, sehingga Farnese tidak merasa dingin bahkan selama musim dingin. Bagi para prajurit, Jendral adalah seorang gadis yang lahir di musim dingin. Sambil menutup diri di rumah es, Farnese bergumam dengan suara yang hampir tidak bisa didengar.

“…… af …… aaf …… af ……”

“Farnese?”

“……”

Farnese membeku.

Merasakan sesuatu yang aneh, aku meletakkan tanganku di bahunya, dan pada saat itu, jeritan meledak. Farnese mencengkeram kepalanya dan menurunkan seluruh tubuhnya ke lantai. Terkejut dengan reaksi mendadak tersebut, aku mundur selangkah.

“Maafkan aku …… maafkan aku, Ayah …… maafkan aku ……”

Aku menahan napas.

Kepalaku menjadi dingin.

Tulang belakangku terasa mati rasa seakan arus mengalir melewatinya.

Farnese, tidak sadar akan kedatanganku, terus bergumam.

“Maafkan aku, Ayah. Aku tidak akan melakukannya lagi …… maafkan aku …… ”

Dasar Dewa terkutuk.

Karena tidak tahan mendengarkan lebih lama lagi, aku keluar dari igloo. Jika aku terburu-buru mendekati seseorang dalam kondisi mental semacam itu, maka itu hanya akan membuat situasi lebih buruk. Aku dapat mengetahuinya berdasarkan pengalaman, adalah satu-satunya alasan aku harus berterima kasih kepada Dewa.

Di luar rumah es, ratusan centaur menurunkan kuku depan mereka. Pemimpin centaur berlutut di depan. Menunjuk ke arah igloo, aku bertanya.

“Sejak kapan.”

Suaraku bergetar karena marah.

“Sejak kapan sang Jendral menjadi seperti itu?”

“Sejak kami mendirikan sebuah kamp penyergapan di hutan pinus ……”

“Apa alasannya?”

“Ko-komandan ini tidak tahu. Jendral baik-baik saja selama siang, tapi anehnya, dia akhirnya seperti itu pada malam hari. Tampaknya Nona memiliki rasa takut yang tidak wajar dari pohon-pohon pinus jadi kami membangun igloo tersebut. Itu sebabnya situasi sudah sedikit lebih baik, tetapi ……”

“Situasinya menjadi sedikit lebih baik?”

Aku memandang bolak-balik antara rumah es dan centaur.

“Apakah kau mengatakan bahwa situasinya menjadi lebih baik? Itu lebih baik?”

“……”

“Katakan padaku sekarang. Apakah kau berlutut untuk meminta pengampunan, atau kau, dengan berlutut di depanku, meminta saya aku memotong kepalamu?”

Bahu centaur bergetar.

“Y-Yang Mulia. Kumohon setidaknya ampuni hamba ……!”

“Kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat?”

“Jendral memohon agar kami tidak pernah menginformasikannya ke Yang Mulia, jadi ……”

Aku menghunus pedang panjang dari pinggangku dan memenggal kepala centaur. Darah menyembur keluar dari lehernya. Darah merah menyembur ke salju putih bersih.

Aku melihat sekeliling dan berbicara.

“Aku adalah Tuanmu. Jangan lupakan ini.”

Kavaleri centaur menundukkan kepala lebih dalam. Meninggalkan mereka, aku memasuki igloo sekali lagi. Farnese masih bergumam dengan suara dicampur dengan tangisan.

“Farnese.”

Aku mendekati Farnese dan meraih kepalanya. Aku hampir tidak mampu membangun kontak mata dengan dia.

“Farnese. Ini aku. Dantalian.”

“Maaf …… Maaf, saya membuat kesalahan ……”

“Aku bukanlah ayahmu. Perhatikan dengan teliti, Farnese. Lihat aku. Aku bukanlah ayahmu. Aku tidak akan memukulmu atau memperlakukan mu secara kasar. Aku tidak akan membatasimu dalam perpustakaan dan memberikan makanan melalui lubang di pintu.”

Aku secara putus asa berbisik.

“Aku tidak akan membuatmu kelaparan hanya karena kau tidak patuh. Aku tidak akan membakar atau mengobrak-abrik buku-buku yang kau sayangi. Farnese, aku bukanlah ayahmu. Aku Dantalian. Dantalian.”

“……”

“Kau sudah bukan lagi anak haram yang terikat oleh keluargamu. Tidak ada yang bisa membatasimu. Kau di sini. Kau pengikut ku. Aku adalah Tuanmu. Lihat. Selama kau tidak mengkhianatiku terlebih dahulu, aku tidak akan meninggalkanmu.”

Fokus dalam mata Farnese perlahan kembali.

“Tu…an…?”

“Benar.”

“Pohon p-pinus ……”

Farnese gemetaran.

Itu muncul seolah-olah dia sudah lupa bagaimana meneteskan air mata, jadi dia hanya bisa menangis dengan suaranya.

“Begitu banyak jangkrik yang melekat pada pohon-pohon pinus …… mereka terus menangis …… ayahku kepada wanita muda ini …… wanita muda ini, berulang kali ……”

“……”

Ternyata itu.

Pohon yang telah melihat Farnese melalui jendela ketika ia masih kecil, adalah jenis yang sama dari pohon pinus yang ada di sini.

Aku menatap sangat dalam ke mata Farnese.

“Itu bukanlah suara jangkrik. Tidak ada jangkrik di sini.”

“Tapi, mereka tetap …… suara jangkrik, terus-menerus ……”

“Itu bukan suara jangkrik. Itu adalah suara salju. Farnese, kau sedang kebingungan antara suara salju sebagai teriakan jangkrik. Karena kenanganmu terikat pada pohon-pohon pinus, kenangan tersebut menyebabkan kesalahan ini.”

“Tidak, Tuan …… bukan itu …… itu tidak mungkin ……”

“Aku akan membuktikan kepadamu.”

Aku meraih pergelangan Farnese’ dan menyeretnya. Meskipun Farnese berjuang untuk tidak meninggalkan igloo, aku memaksa menariknya keluar. Farnese sadar siapa aku. Itu berarti tidak ada masalah serius dalam akalnya. Saat kesadaran yang biasa dan kenangan membingungkannya bertumpukan satu sama lain, itu adalah kesempatan yang paling optimal. Ketika itu aku harus menggunakan persepsinya untuk menghancurkan kenangan masa lalunya.

Badai salju meraung saat meniup pohon-pohon pinus. Farnese terus menundukkan kepalanya dan mencoba untuk tidak melihat ke manapun. Aku meraih dagu Farnese dan memaksanya untuk melihat sekitarnya.

“Lihat hal yang berada di hadapanmu. Sekarang adalah musim dingin!”

“……”

“Tidak ada jangkrik. Mereka semua halusinasi yang telah kau ciptakan sendiri. Apakah suara salju dan teriakan jangkrik terdengar sama di kepalamu? Perhatikan dengan teliti, Farnese. Buka matamu dan lihatlah sekitarmu dengan jelas. Kau 16 tahun. Jika kau 16, maka kau sudah dewasa sialan. Berapa lama kau akan mengerang karena kau teringat oleh ayah seperti anjingmu!?”

Aku menatap Farnese sekali lagi. mata Farnese bergetar. Namun, mereka tidak bergetar karena tidak dapat melihat, tapi gemetaran mata yang belum menemukan pusat fokus mereka.

“Kau sudah bukan merupakan korban lagi. Kau penyerang. Kau bukan lagi menjadi bagian yang lemah yang tersinggung, tetapi bagian dari yang kuat yang menyinggung. Jika seseorang mencoba untuk mengambil hidupmu, maka bunuh mereka sebelum mereka bisa melakukannya terlebih dahulu. Sangat sederhana. Jika orang tersebut adalah ayahmu, maka bunuh ayahmu, dan jika orang tersebut adalah Dewa, maka bunuh Dewa tersebut juga.”

“Tuan……”

“Yang harus kau lakukan adalah mengambil semua kehidupan mereka.”

“Tapi, jika Tuan membuang wanita muda ini …… maka wanita muda ini akan lagi.”

“Jangan berperilaku seperti anak manja.”

Farnese tersentak.

“Aku tidak mempunyai hobi membesarkan boneka yang rusak.”

“……”

Perlahan.

Sedikit demi sedikit, gemetar Farnese berhenti.

Aku tidak tahu apakah 30 menit atau satu jam telah berlalu. Kecuali, berkat para witch setelah melemparkan penghalang di sekitar kami, kami tidak membeku. Farnese membuka mulutnya.

“Tuan …… dingin ……”

“Apakah kau sudah sedikit sadar?”

“Wanita muda ini tidak yakin ……”

“Apakah suara jangkrik masih terdengar di telingamu?”

“Sedikit …… tapi, itu jauh lebih baik daripada sebelumnya.”

“Anggap saja kau beruntung karena aku menemukanmu lebih dulu daripada Lapis. Jika itu Lapis, maka dia akan meraih kepalamu dan menguburkannya di salju.”

“Ah, aah. Jika itu Nona Lapis, maka itu bisa jadi―”

Aku mendorong bagian belakang kepala Farnese dan langsung memaksa wajahnya ke dalam salju. Farnese melambaikan tangannya secara serius.

Setelah 4, 5 detik, aku mengangkat kepala Farnese kembali. Dengan ‘Pua’, Farnese menghela nafas. Dari alisnya sampai ke hidungnya, seluruh wajahnya tertutup salju. Aku menyeringai padanya.

“Dan pemikiran bahwa Lapis akan bertanya padamu setelah ini sangat mungkin terjadi. Aku akan bertanya lagi. Apakah kau sudah sadar? Atau apakah aku harus mendorong lebih banyak opium [A1] ke dalam mulutmu agar kepalamu untuk menjadi lebih jelas?”

“…… Aku melihat kepribadian Yang Mulia seperti anjing.”

“Oh? Kau akhirnya mengucapkan kata-kata kotor. Aku memberikan ucapan selamat secara tulus. Aku cukup penasaran sejak kapan kau mulai belajar untuk mencemooh.”

Setelah aku melepaskan kepalanya, Farnese mengusap wajahnya dengan ujung pakaiannya. Dia mengambil topi yang jatuh ke tanah dan membersihkannya.

“…… Kata-kata kotor seperti apa yang tepat untuk mengekspresikan situasi seperti ini? Yang Mulia adalah seseorang yang menyatakan tahu akan segalanya, jadi Anda pasti sangat mengetahuinya.”

“Tentu saja. Jika kau bergumam kata ‘sialan’, maka semuanya akan sempurna.”

“Betul. Sialan perasaan ini.”

Farnese menghela nafas.

Akhirnya bisa lanjut ke topik utama.

“Ada alasan apa Tuan datang jauh-jauh ke sini untuk bertemu wanita muda ini?”

“Pasukan kedua yang dipimpin oleh Marbas telah benar-benar dikalahkan.”

“……”

Farnese menatap menuju arahku.

Sebuah cahaya dingin telah kembali ke matanya.

“…… Kalau begitu margrave seharusnya sedang mempersiapkan pertempuran sambil lari.”

“Aku juga berpikir seperti itu. Cara untuk memancing dia keluar. Untuk membahas topik ini, aku datang ke sini untuk bicara omong kosong denganmu selama tengah malam.”

“Mm. Margrave mmerupakan veteran yang sangat hati-hati. Bahkan jika kita berpura-pura mundur, tidak ada kemungkinan ia akan mengejar kita. Sebuah jaminan pasti, kita harus menanam keyakinan yang akan meyakinkan dia kalau tidak akan menjadi masalah untuk mengejar pasukan kita ……”

Farnese meludah di tanah. Tampaknya ia menyingkirkan salju yang masuk ke wajahnya tadi. Aku menjelaskan detail situasinya.

“Karena kekalahan Marbas, Barbatos menjadi terisolasi. Setelah merebut Benteng Putih dalam waktu dua hari, pasukan kita harus melakukan perjalanan ke utara tanpa menundanya. Apakah ini mungkin?”

“……”

Farnese menyipitkan matanya.

“Ini bukan dua hari, Tuan. Malam ini adalah batas waktunya.”

“Malam ini?”

“Aah, ada dua situasi yang Margrave paling takuti. Yang pertama adalah kita buru-buru melarikan diri saat kita menerima pesan mendesak dan mampu melarikan diri dengan aman dan sentosa. Yang kedua adalah Margrave yang mengejar kita saat kita mundur dengan santainya, dan menemui kekalahannya ketika terkena penyergapan. Kedua hal tersebut merupakan peristiwa terburuk bagi Margarave. Yang pertama memperbolehkan musuh, melarikan diri tepat di depan mata mereka, untuk melarikan diri, sehingga akan menunjukkan ketidaksetiaan, dan yang terakhir dikalahkan oleh musuh dan jatuh ke bawah, sehingga akan berarti akhir dari kehidupannya.”

“Terus.”

“Pesan mendesak datang hari ini. Ini baru saja tiba, Tuan. Margrave kemungkinan belum memutuskan apakah ia lebih takut tidak setia atau kematian. Setelah malam ini berlalu dan fajar tiba, keputusan Margrave perlahan-lahan akan menjadi lebih jelas. malam membingungkan ini, di mana Margrave masih menjadi ketakutan yang tidak pasti, ini adalah kesempatan yang paling optimal bagi pasukan kita. Jika kita kehilangan kesempatan kita hari ini, maka memikat keluar margrave kedepannya akan menjadi hampir mustahil.”

Farnese menyikat salju dari dirinya dan berdiri.

Farnese menatap para witch yang mengelilingi kita dalam lingkaran. Gumamnya

“Tuan. Mari kita melempar umpan.”

 

▯Penjaga Utara, Margrave of Rosenberg, Georg von Rosenberg
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 1
Pegunungan Hitam, Benteng Putih

Pada tengah malam.

Seorang kapten bergegas ke arahku dan melaporkan.

“Jenderal, kita sedang diserang! Witch membombardir dinding!”

Serangan musuh.

Karena satu kalimat tersebut, aku mengambil sarung dan pedangku dan segera menuju ke puncak benteng tersebut.

“Apa yang terjadi?”

Para prajurit tidak dapat memberikan respon yang baik dan menunjuk ke arah langit. Begitu aku melihat ke atas, aku melihat witch terbang melalui langit malam. Cahaya bulan sedang ditutupi oleh awan dan hujan es, sehingga sulit untuk melihat angka mereka secara pasti. Meskipun begitu, aku bisa mengatakan bahwa jumlah witch sekitar 20. Para witch menjatuhkan benda gemuk ke benteng tersebut.

“Ini ……”

Itu merupakan kepala. Jenis yang sama dari kepala yang terakhir kali sekarang turun seperti hujan es dari tangan penyihir. Kepala manusia, yang menghitam karena api, menutupi benteng tersebut.

– Hii, hiiiiiik!

Para prajurit menurunkan punggung mereka dan gemetaran. Mereka percaya kalau witch telah menempatkan kutukan pada kepala. Mendengar jeritan yang berasal dari prajurit, aku menyipitkan mataku.

“……”

Mengapa?

Setelah menembus udara musim dingin dingin, mengapa mereka datang ke sini larut malam hanya untuk menjatuhkan kepala mayat?

Meskipun mungkin metode yang agak efisien dalam menurunkan moral di pihak kami, waktunya aneh. Dari semua kesempatan, kenapa pada malam ini. Apa maksudnya dari ini jika mereka tidak akan memulai pengepungan?

Sementara mengerutkan alisku, aku memberi perintah.

“Kirim semua mage ke atas.”

Aerial Mage Force melangkah ke benteng dan terbang ke langit malam.

Salah satu hal yang paling ditakuti mage adalah bertarung dalam kegelapan malam. Namun, tidak masalah untuk kesempatan ini. Jumlah witch di sisi mereka ada 20 dan mage di pihak kami hampir 30. Kami dapat menandingi mereka.

Sebuah pertempuran sengit memenuhi langit. Witch ditembak jatuh oleh busur dan menjerit saat mereka jatuh. Para witch, yang kehilangan pegangan sapu mereka, jatuh ke tanah dan kepala mereka hancur karena hal tersebut.

Suara kepala retak bergema dari bawah benteng. Seperti burung akan jatuh ketika dibunuh oleh pemburu, para witch turun satu per satu. Karena tidak ada sumber cahaya di bagian bawah di mana para witch jatuh, tampak gelap seperti lubang ke neraka. Mayat tidak bisa terlihat dan hanya suara kepala jatuh satu demi satu. Meskipun kalah jumlah dengan pasukan kami, para witch tidak melarikan diri.

Pada saat itu, sadar akan sesuatu seperti arus listrik melewati tubuhku.

“……!”

Jadi itu.

Mereka membuat persiapan untuk memungkinkan kekuatan utama untuk mundur segera.

Agar pasukan musuh mundur, satu-satunya alasan untuk mendapatkan lebih banyak waktu untuk mundur, mereka telah mengirimkan para witch. Dengan melemparkan kepala prajurit yang mati, mereka mengancam kami. Sementara kami berbaur dengan para witch dan ketakutan karena ancaman, pasukan musuh kemungkinan mundur di sisi lain dari malam cakrawala.

“Jendral!”

Seorang kapten berteriak.

Dua witch bergegas ke arahku.

Terkejut dengan penurunan tiba-tiba mereka, para pemanah dengan putus asanya menembakkan anak panah yang telah mereka persiapkan. Salah satu kepala para witch tertusuk oleh anak panah dan menemui ajalnya. Namun, witch lainnya masih hidup dan datang ke arahku sambil menarik keluar pedang.

“Heub!”

Logam tajam bertabrakan satu sama lain. Aku telah mengangkat pedang panjangku dan menerima serangan witch.

Meskipun tubuh witch tersebut jauh lebih kecil dariku, kekuatannya tidak terlalu mengesankan, satu serangan tersebut, yang juga berisi kekuatan tambahan dengan terbang dengan sapunya, cukup kuat.

Pergeseran kekuatan ke sisiku, aku berguling ke belakang. Witch segera menuju ke arahku. Karena witch sangat dekat denganku, selagi kami bertukar serangan dengan pedang kami, para prajurit di sekitar kami tidak bisa mendekati.

“Ahahah! Aha, ahah hahahaha-!”

Sang witch mengeluarkan sebuah tawa gila.

Penampilannya tampak seolah-olah dia hampir tidak lebih dari 10-tahun-tua.

Ada panah yang sudah tertusuk ke dada gadis ini dengan rambut pirang platinum. Setiap kali ia mengayunkan pedangnya, darah mengalir dari lukanya. Itu seharusnya cukup menyakitkan untuk membuat seseorang menjadi gila, namun, sang witch hanya tertawa. Agar tidak memberikan witch kesempatan untuk menyebutkan mantra, aku memojokkannya menggunakan pedangku. Dan kemudian, pada saat celah terbuat, aku memukul perut witch dengan kepalan tangan kiriku.

“―Pa, ha.”

Tidak dapat menahan seranganku, sang witch terhempas.

Tubuh sang witch terhempas ke benteng dan jatuh ke bagian bawah dinding.

Para pemanah mendekat ke tepi benteng dan mulai menembakkan ke bawah. Udara hening di daerah di mana anak panah melewati. Sang witch tidak bangkit lagi. Karena suara retak kepala tidak terdengar, aku menduga bahwa ia mampu menghindari kematian.

“Jenderal, anda baik-baik saja !?”

“Kau tidak bisa menduganya dari melihatku? Aku belum cukup tua sampai aku dapat ditaklukan oleh seorang gadis muda.”

Aku menyarungkan pedangku.

Di langit malam yang jauh, para witch yang selamat melarikan diri. Tampaknya enam atau tujuh dari 20 penyihir telah tiada. Melihat bayangan melarikan diri yang kecil jumlahnya, itu menyedihkan.

“Semua pasukan, buka gerbang benteng dan bersiap serangan mendadak! Pasukan musuh berencana untuk melarikan diri saat menggunakan witch sebagai kambing hitam untuk mengalihkan perhatian kita. Tiupkan sangkakala!”

Setelah memukul mundur para witch, para prajurit berteriak. Para mage menembakkan bola api ke langit malam untuk merayakan kemenangan kami.

Dalam malam berawan ini, ledakan bola api bisa terlihat dengan jelas. Dipengaruhi oleh cahaya hidup, tentara kami lupa tentang dingin, lupa tentang kematian, dan pergi melalui pintu gerbang. Para komandan pasukan dan ajudan berlari di sekitar lapangan redup untuk mengatur barisan. Aku menunggangi kuda putih dan pergi ke depan.

Tidak ada keraguan.

Setelah mendengar pasukan utama mereka dikalahkan, Demon Lord berencana untuk mengevakuasi kembali ke wilayah demon.

Karena ia tidak percaya dalam menghadapi kami dan juga tidak memiliki tekad untuk bertahan, dengan menyalahkan pada kekalahan unit lain, ia kemungkinan besar bermaksud untuk mundur sepenuhnya.

“Ikuti aku!”

Tidak ada waktu untuk kalah.

Jika Dantalian mampu mundur dengan aman, maka itu tidak akan menjadi kemenanganku. Kemenangan akan hanya miliki Putri Kekaisaran.

Karena Putri Kekaisaran menang, pasukan musuh menjadi mundur. Jika aku menjadi penonton di sini maka aku akan menjadi orang bodoh belaka yang telah kehilangan Benteng Hitam dan hanya mampu mengambil kembali berkat Putri Kekaisaran. Jika itu terjadi, maka perang ini akan benar-benar dihiasi sebagai kemenangan Putri Kekaisaran. Itu seharusnya tidak terjadi!

Seseorang harus memblokir arah memimpin Putri Kekaisaran. Jika tidak dihalang, maka tidak ada yang bisa tahu kapan arah memimpin tersebut berubah menjadi pertumpahan darah. Ketika Putri Kekaisaran menurunkan tahta ayahnya sendiri untuk nama kemenangan, dan ketika dia melenyapkan kakaknya sendiri dengan pembenaran kemenangan, dalam situasi ini, siapa yang bisa menghukum dia? Jika tidak ada yang dapat melakukan hal ini, maka tidak ada pilihan lain selain bagi aku untuk melangkah maju.

Karena itu adalah tugas bangsawan.

Karena itu adalah misiku sebagai Rosenberg.

Untuk ketenangan Kekaisaran, dan untuk membalas dendamku, Demon Lord Dantalian, kau akan mati di pegunungan hitam malam ini.

▯Raja Rakyat Jelata, Peringkat ke-71, Dantalian
Kalender Kekaiasaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 1
Pegunungan Hitam, Jalur Gunung

20 witch telah pergi dan 12 telah kembali. Semua 12 witch memiliki dada mereka yang tertembus dan berdarah.

Aku tidak bisa melihat Humbaba diantara mereka.

“……”

Merasa menyedihkan, aku tidak bisa bertanya di mana Humbaba berada. Aku hanya bisa bertanya apakah mereka bisa terus bertarung. Jika para witch mengatakan itu akan sulit, maka aku berencana untuk menyingkirkan mereka dari pertempuran.

“Bisakah kau terbang lagi?”

“Kami akan membalas kebaikan Tuan kami dengan hidup kami.”

Para witch berlutut di salju dengan tubuh berdarah mereka. Di tempat di mana darah mereka menetes, lubang terbentuk di salju. Melirik ke lubang merah tersebut, aku bersumpah. Apapun risikonya, aku akan mendapatkan kemenangan dalam pertempuran ini.

Meskipun pasukan kami memiliki 50 witch, aku sengaja hanya mengirim 20 orang untuk memancing musuh. Ke 20 witch tersebut telah menerima perintah tidak masuk akal tanpa sepatah kata pun. Dan tanpa sepatah kata pun, 9 di antaranya menemui akhir hidup mereka. Apa yang dipikirkan oleh mereka bersembilan saat mereka merasakan udara musim dingin yang dingin untuk yang terakhir kalinya, dan betapa menyedihkan perasaan mereka saat mereka turun ke jurang yang tak terbatas dan gelap oleh kesepian mereka, aku tidak berani mengukur emosi tersebut. Mereka telah mati untukku.

Aku diam-diam memerintahkan kapten.

“Bergantung pada pagar kayu. Musuh akan menempatkan kavaleri mereka di depan dan menyerang pasukan kita. Ini akan berakhir jika kalian bertahan di pagar tersebut. Pengguna tombak harus melindungi pemanah, dan pemanah harus bergantung pada pengguna tombak. Mengandalkan satu sama lain dan bertahan bersama. ”

Kapten mengulangi perintah dan berlari ke garis depan.

Dari kejauhan, suara langkah bergema dan mengguncang bumi. Saat langkah-langkah tersebut mengangkat awan salju dari tanah, kavaleri musuh mendekat. Di malam yang gelap ini, figur mereka tidak dapat terlihat secara detail tapi malah muncul sebagai satu massa besar, seperti bayangan raksasa. Di antara bayang-bayang, suara terompet yang tajam bercampur. Gema, debu salju, dan suara terompet kacau menyatu, sehingga tampak seolah-olah bukannya seribu, tapi sepuluh ribu mendekati kami

“Tiup terompet.”

Para peniup terompet kami meniupkan napas ke terompet mereka. Di langit malam, pernapasan tentara musuh dan nafas pasukan kami bercampur aduk, dan para witch terbang ke langit sekali lagi.

Di langit yang menyuarakan bunyi terompet, para witch dan mage saling berhadapan. Dan di tanah gemetar oleh langkah, infanteri dan kavaleri berhadapan. Darah yang keluar dari langit bertebaran ke bawah dan darah bergelombang dari tanah meluncur ke atas. Dunia basah kuyup.

Seorang ajudan kapten berteriak.

― Yang Mulia, itu infanteri musuh!

Cahaya bulan dengan samar menunjukkan tentara musuh di sisi lain jalur gunung. Meski wajah mereka tidak bisa terlihat, tombak yang mereka pegang bersinar terang dalam cahaya redup. Pasukan utamaku terdiri dari 2.500 prajurit, namun tampaknya tentara musuh mencapai sekitar 5.000 orang jika mereka menambahkan kavaleri bersama dengan infanteri tersebut.

Meskipun pagar kayu, yang diandalkan pasukan kami, pada kokoh, jumlah yang kami miliki sangat sedikit. Ada celah besar yang ditempatkan di antara masing-masing pagar. Kavaleri musuh terus-menerus menekan kuda mereka ke tempat-tempat tersebut. Para pengguna tombak kami perlahan terdorong mundur. Sebuah tombak yang disodorkan oleh kavaleri musuh menusuk kepala salah satu infantri kami. Ujung tombak melewati mata mereka dan keluar dari belakang kepala mereka.

Setelah menunggangi kuda dan menatap ke medan perang, aaku berbicara dengan tenang.

“Bertahan. Kita akan bertahan hidup jika bertahan. Jika kalian menyerah, maka kita semua akan binasa. ”

Aku merasa pahit dengan ketidakberdayaanku. Di malam yang suram ini, semua prajurit sendirian. Dengan sendirinya, tentara kami mengendalikan bayang-bayang musuh yang mendekati mereka seperti banjir. Ketika pertempuran dilakukan oleh tentara dan bukan diriku sendiri, aku tidak dapat mati menggantikannya, dan tugas untuk mati itu semata-mata dilakukan oleh prajurit.

Pasukan kami langsung jatuh ke salju dan mati. Selama mereka bukan sekutu, pasukan musuh menginjak mayat dan menguburnya lebih jauh ke salju. Rambut mayat yang terkubur setengah bergoyang karena angin. Karena mayat mereka kokoh, tidak ada kalimat manis yang tersisa. Kematian adalah sesuatu yang menyangkal kata-kata.

Aku menatap hutan pinus di sebelah kiri medan perang. Farnese kemungkinan besar bersembunyi di sana sambil menahan napas. Rasanya aku bisa merasakan napasnya saat dia menatap seperti serigala di medan perang dengan mata hijaunya.

Apakah aku jatuh lebih dulu, apakah tentara musuh bisa menembus pertahanan kami terlebih dahulu, atau apakah Farnese yang menyelimuti tentara musuh dari belakang akan datang lebih dulu, aku tidak dapat memahami bagaimana urutannya akan berakhir. Semua orang sendirian dalam pertempuran malam ini. Aku mengulangi kata-kata yang sama seperti yang aku katakan beberapa saat yang lalu.

“Bertahan. Kita akan bertahan hidup jika bertahan. ”

 

▯Penjaga Utara, Margrave of Rosenberg, Georg von Rosenberg
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 1
Pegunungan Hitam, Jalur Gunung

“Serang! Jangan beristirahat dan terus serang! ”

Infanteri kami terus maju satu demi satu. Tidak ada waktu untuk istirahat. Sampai malam berakhir, tidak akan ada istirahat. Sebelum kita menghancurkan pagar kayu, membantai tentara musuh, dan mencapai kemenangan dengan mengambil kepala Demon Lord, tidak akan ada jeda sampai saat itu. Membunuh mereka, merobek mereka, dan merobeknya berkeping-keping …… Perintah yang bukan kata-kata, tapi malah, tidak lebih dari ledakan suara, terus berbunyi.

Sebuah panah nyasar terbang ke arahku dan mengenai pundakku. Darah mengalir dan tubuhku terasa hangat. Kapten tidak menyadari cederaku. Bagus. Itu lebih baik seperti ini. Jauh lebih baik mereka tidak tahu aku terluka. Bukannya peperangan malam memang seperti ini? Aku meneriakkan energi yang membara di dalam diriku.

“Hancurkan mereka!”

Kata-kata menghilang dari medan perang dan hanya ada suara yang menggema di seluruh penjuru. Tombak! Tombak……! Seorang ksatria yang menjatuhkan senjatanya panjangnya mulai berteriak. Dia meraih sebuah tombak, tidak menyadari siapa yang telah memberikannya kepadanya, dan melanjutkan serangannya. Mereka tertutup badai salju yang terangkat oleh kaki kuda, sehingga para ksatria tidak terlihat dengan jelas. Sekali lagi, seseorang berteriak, Tombak ……! Tombak……! dan termakan oleh salju. Aku bisa melihat sesuatu dengan jelas di punggung pasukan yang sedang termakan oleh badai salju. Meskipun aku tidak yakin dengan apa itu, aku yakin itu adalah sesuatu yang melampaui kata-kata. Itu, mungkin, bagian yang berada dalam titik buta kehidupan. Kebutaan hidup.

Kapten berbicara.

“Pasukan musuh lebih sedikit dari yang diperkirakan, Jenderal.”

“Dan kita juga tidak bisa melihat kavaleri musuh.”

Aku mengangguk.

“Tampaknya kurang dari 3.000. Demon Lord pasti sudah melarikan diri sebelumnya bersama Pengawal Pribadi. Mereka bertahan untuk memberi waktu kepada Demon Lord untuk melarikan diri. ”

Prediksiku tepat sasaran.

Dantalian menanggapi dengan cepat berita tentang kekalahan Marbas. Saat mengirim para witch untuk menggunakan taktik kabut, Dantalian mundur dengan pasukan utamanya. Jika aku menunggu sampai fajar, maka pasukan utama Demon Lord akan kembali ke Benteng Hitam tanpa mendapatkan kekalahan.

Oh, betapa disayangkannya, Dantalian.

Kecemasanmu telah menghancurkanmu. Sebaliknya, jika bukan karena kau mengirim witch mu, kemungkinan besar aku akan menunggu sampai subuh. Ini mungkin yang disebut dengan sedikit menggigit.

Bahkan jika Dantalian bisa lolos dengan pengawalnya, tidak masalah. Meskipun disayangkan kami tidak dapat memenuhi kuota untuk Demon Lord, hanya memusnahkan pasukan utama ini saja cukup besar.

Tujuan terbesarku adalah mencegah Putri Kekaisaran memegang kendali kemenangan. Aku puas dengan pencapaian ini.

“Kami telah menerobos pagar kayu!”

“Jenderal, infanteri kita telah berhasil melewatinya!”

Kapten menjadi bersemangat.

Terutama, pasukan kita mengalahkan musuh dalam jumlah. Seperti bagaimana seseorang bisa mengunci batang kayu jika mereka jatuh ke sungai, pasukan musuh mengandalkan pagar yang lemah dan bertahan.

Karena pasukan musuh sedang dalam persiapan untuk mundur, mereka tidak bisa memasang pagarnya dengan baik, dan sekarang, jumlah pagar kayu yang mereka berhasil bangun telah hancur. Apa yang musuh bisa andalkan sekarang? Tersapula oleh banjir pasukan kami dan tenggelam!

“Tolong beri kami perintah untuk melakukan serangan habis-habisan, Jenderal!”

“Izinkan kami untuk mengambil bagian dalam kemenangan akan kemenangan!”

“Mm. Pergi.”

Aku mengangguk setuju.

Dengan mengeluarkan raungan, para kapten melambaikan bendera mereka. Akhirnya, pasukan cadangan kami maju ke garis depan juga. Suara terompet bergema.

Terompet masing-masing pasukan memiliki nada yang berbeda, namun medan perangnya terlalu kacau untuk membedakan nadanya. Kekacauan ini akan segera berakhir begitu pertempuran usai.

―   ……

Antara kebisingan, sesuatu nada datang ke telingaku. Memang, itu adalah bunyi terompet.

Namun, rasanya seperti suara tersebut lebih jauh dan lebih tinggi dari yang lain.

― Buuu ……

Paling tidak aku yakin. Suaranya tidak datang dari pasukan kami. Apakah suara itu berasal dari demon? Jika memang begitu, maka suara itu seharusnya datang dari depan, namun, aku mendengar suara dari hutan di sisi lain. Setelah kebisingan tersebut, aku menatap pohon pinus tersebut.

― Buuuuu, buuu ……

Suaranya semakin mendekat. Itu mendekati lebih cepat dari kecepatan gaya berjalan rata-rata orang. Terompet tidak ditiup oleh infanteri tapi dengan kavaleri. Cahaya bulan menyelinap di antara celah di awan. Di hutan yang redup akan cahaya, cabang-cabang pohon pinus bergetar. Pohon pinus bergetar dan menepis salju.

Menerima salju yang jatuh dari dahan, seorang gadis muncul dari pohon pinus.

Gadis tersebut menunggang kuda hitam. Dia dengan ringan melepaskan salju yang jatuh ke kepalanya. Mengikuti gerakan gadis tersebut, kuda hitamnya mendengus. Badai salju mengamuk, tapi keributannya menjauh dari gadis tersebut, membuatnya menjadi satu-satunya orang yang jelas di tengah angin musim dingin yang kacau.

 

 

“……”

Gadis itu melirik ke arah ini. Seolah-olah dia telah bertemu dengan pandanganku, namun, aku tidak merasakan tatapannya dengan mataku, tapi juga seluruh tubuhku. Matanya tanpa emosi dan acuh tak acuh seperti musim dingin. Dia hanya memegang posisinya seperti angin. Gadis tersebut membuka mulutnya.

Kata-kata yang dia katakan seperti ini.

― Bantai mereka.

Itu.

Begitu kata-katanya mengalir ke udara.

Suara terompet berbunyi keras.

― Buuuuuuuu

Sejumlah kavaleri demon yang tak terhitung jumlahnya muncul dari pohon pinus. Centaur lahir dengan wajah manusia dan kaki kuda berteriak. Kavaleri demon melompat dari belakang, pagar kayu, dan maju lebih jauh untuk memukul mundur pasukan kami.

Karena mereka tiba-tiba tertangkap dari belakang, personil militer kami diliputi kebingungan. Meski mereka buru-buru berusaha melakukan pertahanan, tidak ada ruang sama sekali. Pagar kayu ikut campur. Karena guncangan yang sangat besar, aku hanya bisa melihat pemandangan pasukanku berlari dalam kebingungan dan hancur lebih jauh.

Kapten yang bisa aku beri perintah, dan kapten yang mau mendengarkan perintahku dan meneruskannya, tidak berada di pihakku. Di atas segalanya, semuanya sudah terlambat. Bahkan jika aku berlari ke medan perang yang kacau, bahkan jika aku mempertaruhkan hidupku, aku tidak akan pernah bisa mengubah arah pertempuran ini sekarang. Intuisi yang telah bersamaku sepanjang hidupku menyatakannya.

Bahwa ini adalah kekalahanku.

Aah.

Aaah―.

Tentara kami terus terpojok. Mencoba bersembunyi di balik pagar kayu, tentara saling bertentangan satu sama lain. Pagar kayu tidak dapat menangani perebutan dan runtuh. Orang-orang tersebut jatuh ke tanah dan menghamburkan salju saat mereka menabrak tanah. Prajurit-prajurit bergeliatan di atas salju.

Gadis tersebut masih berdiri tegak di tepi hutan dan melihat ke bawah pada pertempuran. Napas yang mengalir dari bibirnya terangkat ke atas. Dia tidak bergerak. Rasanya seolah-olah medan pertempuran sama sekali tidak relevan dengan gadis tersebut.

Oh, Dewa.

Bagaimana kau bisa, untuk iblis?

Bagaimana kau bisa membiarkan iblis menang?

Apakah untuk memenuhi keadilanmu di sini di tanah kami? Apakah kekalahan dari orang tua ini yang sesuai dengan kebenaranmu? Apakah itu rencana besarmu untuk membiarkan Demon Lord tersebut, yang telah membantai, membakar, dan menertawakan tahanan yang tidak bersalah, untuk mencapai kemenangan?

“……”

Aku menatap langit.

Para witch dan mage berjuang keras di langit malam. Namun, intensitas yang diketahui para witch telah berbalik posisi, dan sekarang mage bertahan dalam keganasannya. Para witch, yang jumlahnya lebih rendah dari 20, sekarang tampak lebih dari 30. Mage kami jatuh. Mereka terjatuh dengan kepala terpotong dan lengan mereka terputus. Mereka telah menjadi bunga musim dingin merah dan dicabuti kelopak per kelopak.

Jadi aku tertipu.

Aku tertipu jadi aku kalah.

Dan karena aku telah kalah, aku harus mati.

“……”

Aku memakai helmku.

Membeku karena angin musim dingin, helmnya terasa dingin. Sensasi dingin dari besi masuk jauh ke dalam kepalaku dan masuk ke pikiranku. Sambil melupakan para Dewa dan menolak keadilan dari pikiranku, aku hanya melotot ke jalan untuk bergegas ke depan.

Anak muda menahan tali kendaliku.

“Yang Mulia, Anda mau pergi ke mana ……?”

“Aku takut dengan penghinaan yang akan aku terima untuk kembali hidup. Kamu boleh pergi. Naik kuda cadanganku dan pergi jauh. ”

Anak muda tersebut tidak pergi. Dia naik kuda cadangan dan mengeluarkan pedang. Aku tidak bisa menghentikannya.

Setelah kami memutar kepala kuda kami dan bergegas ke pasukan musuh, anak muda tersebut merupakan orang pertama yang jatuh karena tertembak oleh anak panah. Dia telah menahan 3 anak panah. Setelah panah menusuk tenggorokannya, pemuda tersebut berguling dari pelananya. Aku belum jatuh jadi aku melanjutkan jalanku.

Pada saat itu, seseorang berteriak ke arahku.

“Kenapa, bukankah itu Margrave!”

“……!”

Mataku terseret oleh suara yang tak mungkin aku lupakan.

Di atas tembok pria dan kuda, Demon Lord Dantalian naik ke atas kuda.

Demon Lord menyeringai lebar.

“Ke mana kau terburu-buru, Margrave! Bukannya langit malam cukup indah dan saljunya luar biasa? Bukannya darah para prajurit menyembur ke segala arah hal yang bagus juga? Jika kau terburu-buru, maka kau mungkin akan melewatkan semua pemandangan ini. Pergilah dengan lebih santai! ”

“……Kau bajingan.”

“Ah, Margrave mungkin agak terlalu tua untuk menikmati pemandangan. Kau mungkin kaget dan kesal karena semua kejadian mengejutkan yang terjadi malam ini. Tapi jangan khawatir. Aku sangat sopan kepada orang tua. Aku akan menerima semua omong kosong dan ocehanmu. ”

Dantalian tertawa terbahak-bahak ke arah langit.

“Tolong jangan menolaknya. Bukannya kita tidak memiliki ikatan khusus diantara kita, Margrave? ”

“Kau bajingan―!”

Aku maju ke arah di mana Demon Lord berada menggunakan kudaku.

Centaurus dengan cepat mendatangiku untuk melindungi Demon Lord.

Saat aku secara putus asa dan memenggal centaur, sesuatu bertabrakan kuat dengan punggung kepalaku. Kepalaku berdenyut dan aku kehilangan keseimbangan.

Wajahku diselimuti salju dingin. Sambil merasakan wajahku menjadi dingin dan bagian belakang kepalaku menjadi panas, aku memejamkan mata.

Suara tawa kosong Putri Kekaisaran melewati telingaku.

― Tuan Rosenberg, Tuan Rosenberg. Oh, Tuan Rosenberg ……

Dan kemudian aku kehilangan kesadaran.

 

 

 

 

▯Penjaga Utara, Margrave of Rosenberg, Georg von Rosenberg
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 1
Pegunungan Hitam, Jalur Gunung

― Saat aku membuka mataku, pemandangan seorang pria dan beberapa gadis duduk dan bersandar satu sama lain masuk ke dalam penglihatanku. Pria tersebut mengenakan pakaian hitam. Dia secara perlahan membelai seorang gadis dengan rambut pirang platinum yang menggunakan pangkuannya sebagai bantal.

Aku tidak yakin dengan apa yang sangat dia sukai, tapi gadis itu terus mengusap pipinya ke pangkuan pria tersebut. Ada perban yang membungkus kepala gadis tersebut.

Di sisi pria tersebut, ada seorang gadis lain yang duduk di sampingnya. Suara halaman dari buku yang dibalik bisa terdengar.

Aku memejamkan mata sekali dan membukanya lagi. Apakah ini kenyataan? Apakah ini halusinasi? Dunia di sekitar mereka putih bersih karena tertutup salju. Sinar matahari tercermin secara tidak teratur sehingga batas antara realitas dan halusinasi menjadi kabur.

―   ……?

―   ……

Mereka berbisik dengan kata-kata yang tidak bisa aku pahami. Gadis berambut platinum pirang terus tertawa, pria itu kadang-kadang tertawa, dan gadis pirang itu sama sekali tidak menertawakannya. Di lokasi tersebut, semuanya dilebur menjadi satu.

Dari kejauhan, seorang gadis berambut merah muda mendekat sambil memegang piring. Pria dan gadis-gadis tersebut menerima sepiring makanan dari piring itu. Pada saat itu, gadis berambut merah muda itu menunjuk ke arahku dan menggumamkan sesuatu. Pria itu menatapku.

Guyuran

Air hangat menyiram kepalaku. Aku terbatuk dan mengangkat tubuhku. Darah tercampur dalam batukku.

Setelah meludahkan darah, kepalaku menjadi jelas dan penglihatanku berbeda. Pria dan gadis-gadis itu tidak duduk di tengah sinar matahari. Ada sejumlah mayat yang tersebar di sekitar mereka.

“Margrave, kulihat kau masih hidup.”

Pria itu berbicara.

“Anggap saja itu sebuah keberuntungan bahwa garis hidupmu cukup panjang. Jika Humbaba di sini telah meninggal, maka kau juga pasti akan mati oleh tanganku. ”

“……”

Aku meludahkan darah di mulutku dan berbicara.

“Kenapa kau tidak membunuhku?”

“Aku tidak mengampunimu. Kau bertahan dengan kemampuan sendiri. Meskipun kami telah menggunakan tali untuk mengikatmu, yang telah jatuh di medan perang, itu saja. Kami tidak menyembuhkan atau merawatmu. ”

Kau bertahan hidup sendiri.

Hatiku terasa mati oleh kata-kata Demon Lord. Apa yang ingin aku capai dengan bertahan hidup? Sebenarnya apa yang diinginkan dari pikiranku berjuang mati-matian untuk tetap hidup?

“…… Apa yang kau ingin lakukan terhadapku?”

“Aku adalah musuhmu, dan kau juga musuhku. Karena tidak ada hubungan yang terkait dengan kita, aku memberikan simpati kepadamu. ”

Demon Lord tertawa kecil.

“Menghormati sesepuh adalah etika yang melampaui ras dan kewarganegaraan. Aku akan membebaskanmu. ”

Aku tertegun.

Gadis-gadis berbaris di samping pria itu menatap ke arah ini dengan wajah tidak berekspresi.

Rasanya wajah mereka yang tanpa ekspresi adalah wajah telanjang kematian.

“……Bunuh aku. Ambil hidupku sebagai gantinya. ”

“Pikirkan lebih dalam lagi, Margrave. Karena kau telah bertahan hidup sendiri, bukannya kau harus mati dengan tanganmu sendiri? Ah, aku akan kesulitan menyeret orang tua. Aku akan menempatkan salah satu kuda pelayanmu sebagai pelayanmu. Jangan terlalu kecewa. ”

“Para prajurit …… apa yang terjadi dengan perwira dan orang-orangku?”

“Mereka semua mati.”

“Meskipun begitu, bukankah ada orang-orang yang selamat?”

Dantalian tersenyum.

“Kami membunuh mereka semua.”

Aah.

Aku muntah darah. Organ internalku melonjak terbalik. Setelah terengah-engah sesuatu yang lembut dan basah, aku kehilangan kesadaran sekali lagi.

Oh Dewa.

Oh Dewa.

 

▯Raja Rakyat Jelata, Peringkat ke-71, Dantalian
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 1
Pegunungan Hitam, Jalur Gunung

Sambil melirik Margrave yang dibawa pergi dengan tandu, Lapis berbicara.

“Yang mulia. Apakah ada alasan mengapa Anda menyelamatkan nyawanya? Rosenberg adalah keluarga terhormat di antara keluarga terhormat, yang telah berjuang melawan tentara Demon Lord selama beberapa generasi. Jika Yang Mulia mengambil leher pria tersebut maka Yang Mulia akan mengguncang seluruh dunia. ”

“Itulah sebabnya aku tidak boleh mengambil lehernya.”

Dengan lembut aku menyisir rambut Humbaba yang tergeletak di pangkuanku. Humbaba merunduk sambil menirukan suara seekor kucing. Seorang pengintai telah menemukan Humbaba, yang telah jatuh di salju dekat Benteng Putih, dan membawanya kembali. Untungnya, luka-lukanya tidak parah. Aku bertanya apakah Humbaba memiliki sesuatu yang dia inginkan. Dia langsung menjawab.

― Bantal Pangkuan!

Aku dengan senang hati menerima permintaan sederhana ini. Lapis juga tidak mengatakan apapun dalam kritik akan hal ini. Kami semua mengakui kontribusi yang dibuat oleh para witch. Suatu saat nanti, aku akan menghibur para witch dengan hadiah sesungguhnya yang tidak seperti bantal pangkuan belaka. Sambil tersenyum, aku berbicara.

“Marbas dikalahkan dan bahkan Barbatos telah terdesak. Bagaimana aku bisa menang dengan sangat baik dalam hidupku sendiri sementara hasil dari perang sangat mengenaskan seperti ini? Aku akan mencolok. Seseorang yang mencolok akan dipukul. Meskipun kita mengirim Rosenberg kembali hidup …… ”

Rosenberg akan terbunuh oleh Putri Kekaisaran.

Aku menelan kata-kata itu. Itu merupakan hal yang tidak perlu aku katakan. Aku menempatkan kata-kata yang kurang mencurigakan di mulutku.

“Wilayah yang dipimpin oleh Rosenberg akan segera menjadi tanah yang kita duduki. Jika kita mengambil nyawa tuan yang dihormati oleh rakyatnya, maka kita hanya akan membangkitkan kemarahan mereka. Untuk masa depan saat kita memerintah mereka, aku harus toleran. ”

Aku ingin tahu apakah dia telah menerima jawaban itu. Lapis tidak mempertanyakan lebih jauh. Aku berbicara.

“Beritahu Barbatos tentang kemenangan kita. Ditambah, termasuk pinta agar dia membersihkan bibirnya karena aku akan menemaninya. ”

“……”

Lapis menyipitkan matanya.

“Yang Mulia, Anda selalu menekankan bahwa Anda membenci wanita dengan dada kecil, tapi sebenarnya, itu bohong kan? Sepertinya pikiran Anda cukup berada di Barbatos. Hamba memiliki keraguan. ”

Betapa berisiknya.

Farnese bersandar padaku dan dengan tenang membaca bukunya, dan Humbaba mendengkur dengan kepala tertancap di pangkuanku. Kupikir aku harus menikmati kejenakaan kedua orang ini hari ini.

 

 

 

 

 

 

▯Penjaga Utara, Margrave of Rosenberg, Georg von Rosenberg
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 1
Daerah Sekitar Pegunungan Hitam

“……”

Begitu aku membuka mata lagi, aku mendapati diriku terbaring di tempat tidur.

Menurut petugas kuda, yang telah mengikutiku sebagai pelayan, dia mengklaim bahwa para witch telah membawa dan menurunkan kami di sebuah desa terdekat. Ini adalah kamar kepala desa, dan setelah tidur setengah hari, aku hampir tidak bisa mendapatkan kembali akal sehatku. Ketika aku bertanya kepadanya tentang apa yang telah terjadi pada sisa anak buahku, tentara tersebut menundukkan kepalanya. Aku tidak bisa bertanya apapun.

Dibantu oleh pelayan, aku meninggalkan rumah kepala desa.

Desa itu berada di kaki pegunungan. Anehnya, kota ini sepi. Saat fajar, karena suara bubuk mesiu meledak di Benteng Putih, orang desa telah dievakuasi. Karena tempat evakuasi itu tidak cocok dengan kepala desa tua, dia mengatakan bahwa dia tetap tinggal di rumah. Tampaknya kepala desa menyadari kalau aku adalah seorang penguasa.

Begitu kami mendekati pintu masuk desa, Pegunungan Hitam bisa terlihat dengan jelas. Benteng Putih terbungkus dalam api. Api dari benteng dengan cepatnya menempel pada kaki gunung, dan dari kaki, nyala api terbentang ke atas sampai ke puncak, membuat Pegunungan Hitam menjadi gelap gulita.

Dengan memadamkan api di belakang mereka, ribuan tentara berangkat menuju suatu tempat. Mereka benar-benar pergi. Meskipun aku tidak tahu ke mana mereka pergi, yang pasti itu bukan ke wilayah demon tapi ke arah manusia.

Aku tenggelam ke tanah yang tertutup salju dan menangis untuk waktu yang lama. Lututku bergetar dan pita suaraku menjadi robek.

…… Ah, apakah ini hidup? Apakah kau mengatakan bahwa ini juga kehidupan?

Aku seorang manusia. Namun, aku adalah pengkhianat yang telah membuat manusia hancur. Aku adalah pengkhianat yang seribu kali lebih kejam daripada seorang pengkhianat yang telah menjual negara mereka sendiri. Tanah tersebut sekarang akan diinjak-injak oleh musuh-musuh asing. Selain itu, itu adalah tanah di mana manusia lebih banyak akan lahir dan dibesarkan. Karena orang tua ini, anak-anak muda, yang akan lahir dan dibesarkan dari sekarang, akan diinjak-injak sebelum mereka bisa mekar. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang dapat aku lakukan……?

Aku hampir tidak bisa berdiri begitu malam telah tiba. Merobek ujung bawah pakaianku, aku menggunakan potongan pakaian yang sobek tersebut sebagai perkamen dan meminjam alat tulis dari kepala desa. Aku menyerahkan laporan tersebut kepada prajurit dan mengirimnya pergi lebih dulu. Aku menyuruhnya untuk pergi lebih dulu dan memberi tahu Putri Kekaisaran atas kekalahan kami. Kalimat yang aku tulis sambil menahan rasa gemetar di jariku adalah ini.

― Bulan ke-3, hari ke-1. Pasukan musuh telah merebut Benteng Putih. Kekuatan militer sekitar 4.000. Demon Lord Dantalian komandannya. Pasukan kami dimusnahkan.

Ketika aku menulis kalimat pasukan kami dimusnahkan, tubuhku bergetar.

Aku mengutuk takdirku yang telah mengizinkanku menua sampai aku tua. Namun, karena aku tidak mengatakan hal-hal yang seharusnya aku katakan, aku terpojok sejauh ini, dan karena menulis hal-hal yang seharusnya aku tulis adalah tugas terakhir yang diberikan kepadaku, aku menulis sisanya.

― Bulan ke-3, hari ke-1. Pasukan musuh telah merebut Benteng Putih. Kekuatan militer sekitar 4.000. Demon Lord Dantalian komandannya. Pasukan kami dimusnahkan. Daerah Pegunungan terbakar.

Nama: Georg von Rosenberg
Ras: Manusia
Pekerjaan: Penguasa (A +)
Reputasi: Salah Satu Penguasa dari Tiga Penasihat Tinggi.

Kepemimpinan: Peringakt A            Kekuatan: Peringkat B +       Kecerdasan: Peringkat B
Politik: Peringkat B+                          Pesona: Peringkat B+             Teknik: Peringkat D

Gelar: 1. Penjaga Utara 2. Pengontrol Benteng
Kemampuan: Berkuda S, Logistik A, Kemampuan Berpedang B +, Taktik B
Ketrampilan: A Green Old Age (B)

[Prestasi: 31]


Footnote

[A1] Opium, apiun, atau candu (slang Bahasa Inggris: poppy) adalah getah bahan baku narkotika yang diperoleh dari buah candu


Sebelumnya | Selanjutnya


Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻