Dungeon Defense Vol 3 – Bab 4 Part 1

Oleh Alone of Nyx on February 28, 2018

Dungeon Defense: Volume 3 – Bab 4 (Part 1) Bahasa Indonesia


Bab 4 – KABUT PERANG (Part 1)

 

 

 

Kami diberi satu misi.

 

Pergi ke utara.

 

Pergi ke utara dan selamatkan Barbatos.

 

Waktu untuk istirahat yang diberikan kepada pasukan kami hanya setengah hari. Kami menjarah persediaan yang menumpuk seperti gunung di dalam Benteng Putih, dan karena tidak akan mampu untuk menampungnya jika kami menjarah semuanya, kami membakar sisanya. Sementara kami membakar persediaan, yang pada awalnya kami gunakan untuk memberi makan dan pakaian para tahanan, kami juga memutuskan untuk membakar para tawanan juga.

 

Karena akan lebih efisien seperti itu.

 

Aku memerintahkan secara kejam.

 

“Bakar setiap desa manusia yang kita lalui.”

 

Api dan asap bermunculan di mana pun pasukan ku pergi. Prajurit-prajuritku bergerak saat mereka membakar semua yang ada di jalan kami, dan bergerak sambil membuat asap di belakang mereka. Kami maju dengan tanpa henti untuk memberikan bantuan kepada Barbatos.

 

Manusia ingin mendorong para penyerang kembali ke wilayah demon. Karena perang terjadi pada wilayah yang mereka tempati, manusia berharap wilayah demon tempat terjadinya bukan wilayah mereka sendiri.

 

Sekarang, selama situasi saat tentara kedua benar-benar kalah, satu-satunya orang yang menghalangi jalan tentara manusia jumlah besar adalah Demon Lord Barbatos. Barbatos hampir mencapai batasnya karena menghalangi tentara manusia yang terdiri dari 40.000 orang dengan 20.000 tentaranya sendiri. Memberikan bantuan untuk Barbatos adalah tugas utama. Dengan begitu, wilayah demon bisa terhindar dari bencana perang yang mengerikan. Barbatos dan aku tidak akan menjadi pemberontak yang telah membawa perang ini.

 

“Jangan terobsesi dengan penjarahan! Bunuh mereka jika kalian ingin mengambil nyawa mereka, tapi jangan sia-siakan energi kalian dalam pembantaian. Kita tidak punya waktu untuk memerkosa jadi urus tubuh bagian bawah kalian sebisa mungkin. Bakar semua kota manusia dan ubah penduduk desa menjadi tunawisma.”

 

Aku bahkan tidak memiliki sedikit keraguan. Bakar semuanya. Bakar semua yang terlihat. Desa dan persediaan yang tidak kita bakar akan menjadi jalur kehidupan yang akan memberi makan musuh. Aku menjalankan sebuah taktik cheongya secara terbalik.

(Catatan TL: taktik Cheongya ( 청야 전술 ) – Sebuah taktik di mana tentara yang bertahan akan mundur sambil membakar setiap pasokan yang bisa digunakan oleh pasukan musuh.)

 

Terkadang, para tetua desa akan sangat marah karena frustrasi yang terpendam dan memohon kepada kami. Para tetua memohon agar mereka setidaknya membutuhkan benih jika mereka ingin melakukan bertani selama musim semi yang akan datang, jadi mereka memohon agar kami tidak merobek harapan mereka untuk bertahan hidup sampai akarnya. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan kepada para tetua betapa mendesaknya situasi kami. Keadaan mereka seharusnya tidak menjadi milikku dan keadaanku seharusnya bukan milik mereka, jadi aku tidak punya waktu untuk membuat keadaan yang saling menguntungkan. Bahkan jika aku memiliki cukup waktu, itu merupakan dislokasi yang sulit untuk diperbaiki. Aku menggertak para tetua.

 

“Kalau begitu maukah kau mati? Apakah kau lebih baik mati sebagai gantinya? Dengarkan aku dengan seksama, manusia. Sampai musim dingin usai, larilah ke pegunungan dan jangan turun. Pertanian tahun ini telah berakhir, jadi jangan pegang satu pun kesan yang melekat. Jangan kembali dari lembah gunung!”

 

Dengan air mata di mata mereka, para pria dan wanita tua berangkat untuk mencari perlindungan.

 

Asap yang naik dari Pegunungan Hitam bergerak sedikit, tapi dengan pasti, ke arah utara. Setiap hari berlalu, desa-desa yang berada di jalur utara kami ubah menjadi api.

 

Orang-orang meluap dari kota di mana hanya abu yang tersisa. Manusia yang telah kehilangan rumah mereka melarikan diri ke selatan atau bersembunyi di pegunungan. Asapnya padat di semua sisi. Suara tangisan dan tangisan bergema di seluruh area di mana asap tebal. Mereka harus menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan karena salju dan hujan yang turun saat pawai kami jadi terasa ringan. Jika menjadi sulit untuk membakar benda-benda karena cuaca, maka aku akan membunuh setiap manusia.

 

Para pengungsi bernyanyi saat mereka pergi.

 

 

 

Jika kami pergi sekarang, kapan kami akan kembali

Jika kami pergi sekarang, kapan kami akan kembali

Desa kami terbakar dan anak-anak kami terbakar

Aha, jika kami pergi sekarang, maka kapan kami akan kembali ……

 

 

 

Ketika mereka tidak memiliki jalan untuk melangkah dan tidak ada tujuan untuk di tuju, tampaknya manusia mengandalkan lagu-lagu di jalan keberangkatan mereka. Meski lagunya menyedihkan dan bodoh, aku tidak menghentikannya. Jika iya, aku mendorong bagian belakang manusia. Larilah, sebarkan, sebarkan lagunya secara luas, beri tahu orang-orang dengan lagu tentang kami yang datang sebagai wabah kalian ……

 

Dalam perjalanan, tentara duke menghalangi jalan kami. Mereka merupakan tentara yang melarikan diri dari benteng mereka karena mereka tidak dapat menahan nyanyian rakyat yang pahit. Namun, ini setelah para duke menawarkan mayoritas personil militer mereka ke keluarga Kekaisaran untuk memberikan bantuan militer. Meski semangat mereka patut dipuji, hanya semangat mereka yang bisa dipuji. Sambil sedikit melirik kekuatan musuh yang nyaris mencapai 50 tentara, Farnese bertanya.

 

“Apa yang harus kita lakukan, Tuan?”

 

“Menginjak-injak mereka.”

 

“Dipahami. …… Betapa melelahkannya. ”

 

Sambil bergumam tentang betapa menyusahkannya, Farnese memimpin pasukan kami.

 

Karena kemenangan kami sudah jelas, Farnese merancang sebuah permainan. Permainan untuk melihat bagaimana dia bisa membunuh semua 50 tentara musuh tanpa kehilangan satu pun. Sambil menguji segala jenis taktik, Farnese mengejek musuh. Permainannya sukses. Tentara-tentara tersebut dilenyapkan sepenuhnya.

 

Kami memotong kepala yang disebut tentara dan menggantungnya di atas tiang. Setiap kali kami membakar sebuah desa, kami melemparkan sekitar 15 kepala. Setelah melihat kepala mereka, orang-orang tua mendengarkan kata-kata kami sedikit lebih baik. Kami tidak perlu secara verbal mengancam mereka, mereka mengemasi barang-barang mereka atas kebijaksanaan mereka sendiri untuk menemukan tempat berlindung. Lurus ke depan. Seharusnya aku juga melakukan ini sebelumnya.

 

Kami tidak diragukan lagi merupakan tentara Demon Lord.

 

Jika seseorang mengungkapkannya sedikit lebih akurat, maka kami adalah tentara bajingan.

 

Personel militer kami menganggap kenyataan kalau mereka merupakan bajingan sebagai sesuatu yang patut dibanggakan. Saat kami menjarah lebih banyak, tentara kami membentuk tentara yang lebih kuat. Perjalanan tidak menyakitkan.

 

Tentara kami sendiri akan memberikan gelar tentara kami, seperti ‘The Harbingers of Winter’, ‘The Human’s Plague’, dan ‘The Pillagers of Mountains’. Karena musim dingin adalah sesuatu yang terkutuk, wabah adalah sesuatu yang harus cela, dan perampokan adalah hal yang keji untuk dilakukan, orang bisa tahu betapa bajingannya pasukanku. Betapa bersyukurnya. Aha, betapa anarkisnya. Ini merupakan musim yang bagus.

(TL: ?)

 

Hidupku lebih dari sekedar sengsara, jadi aku akan menyanyikan tentang kesedihanku. Para pengungsi bernyanyi karena mereka tidak tahu ke mana harus pergi, dan aku bernyanyi karena aku tidak tahu dari mana asalku. Lagu orang yang tidak punya tempat untuk pergi dan lagu seseorang yang tidak memiliki tempat untuk kembali sama sekali berbeda.

 

“Apa yang akan terjadi: ini atau itu-? Dinding di balik kuil dewa kota telah runtuh – apakah ini-? Saat mereka mati dan mati lagi seratus kali-. Atau jika kita mati dan mati bersama-sama – apakah itu-?”

 

“…… Lagu apa sih itu? Anehnya.”

 

Farnese mengerutkan alisnya. Lapis, yang berkuda di sampingku di atas kudanya, juga menatapku dengan aneh. Aku membuat sebuah kebohongan.

 

“Ini merupakan lirik dari melodi yang aku dengar dalam mimpiku tadi malam. Ketukannya berkelok-kelok di lidahku dengan sangat baik sehingga nyanyiannya mengalir secara alami. Bukankah ini lagu yang diberkati oleh Dewi? ”

 

“Hm.”

 

“Cobalah bernyanyi bersama. Ini adalah lagu yang dengan santai melepaskan nyawa seseorang. Lagu dinyanyikan untuk menikmati cita rasa melakukan sesuatu yang berat namun dengan ringan. Apa yang akan terjadi di dunia ini: ini atau itu?”

 

Lagu tersebut langsung beredar di kalangan para tentara. ‘Mereka mengatakan kalau ini adalah lagu yang dibuat oleh Tuan kami Demon Lord setelah secara pribadi mendengarnya dari Dewi sendiri’, sebuah premi yang melekat pada rumor yang tidak beralasan ini. Begitu aku memasukkan ritme seperti trot ke lagunya dan membacakannya, tentara kami membuang lagu-lagu militer dan tertawa pada trot. Pasukan kami mengubah lirik sesuai selera mereka. (Catatan TL: Trot adalah genre musik Korea)

 

 

 

Badum tat badum tat apa itu: ini atau itu?

Badum tatat tat membakar kuil dan membantai orang – apakah ini?

Saat mereka mati dan mati lagi seratus kali

Atau jika kami mati dan mati bersama-sama – apakah itu?

 

 

 

Para petugas dan pria meneriakkan, membantai, menjarah, dan melakukan pembakaran. Dengan ‘koong chuck’, udara yang mengasyikkan meniup saat mereka mengayunkan pedang mereka, dan dengan ‘koong chuck’ lainnya, mereka bersenandung saat mereka memadamkan api. Setiap kali nyanyian dinyanyikan, darah tercecer.

 

Saat kami maju lebih jauh ke utara, irama drum empat beat menjadi ramah. WItch merupakan pasukan yang paling pusing tentang trot dan mengeluarkan getaran yang tidak berkaruan. Sambil mengendarai sapu mereka, para witch terbang rendah dan menyanyikan paduan suara. Di bawah para witch, para prajurit bernyanyi sambil menginjak tanah. Saat paduan suara dan terus berulang, perjalanan kami berlanjut dengan cepat.

 

Lagu pengungsi menyebar ke selatan. Lagu penyerbu menggali jalannya ke utara. Lagu kebangsaan pengungsi merupakan tangisan rakyat, dan lagu kebangsaan penjarah merupakan kegembiraan rakyat, jadi aku tidak membedakan keduanya. Aku hanya menganggap mereka semua sebagai orang. Saat diselimuti asap yang muncul dari api, kami menyebarkan melodi.

 

Sementara semua pasukan kami mengikuti ritme, hanya saja Lapis tetap bersikap dingin. Lapis dengan tegas menolak menyanyi.

 

“Itu merupakan kebiasaan buruk.”

 

Sejujurnya itu memang sangat benar.

 

 

 

Bulan 3, hari ke 11.

 

Sebelum hari ke 13 dari janji yang kami buat dengan Barbatos.

 

Kami telah mencengkeram blokade musuh di daerah tengkuk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

▯ Raja Rakyat Jelata, Peringkat ke-71, Dantalian
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 11
Dataran Neris

 

 

 

“―Dobrak mereka.”

 

Aku berbicara sambil menunjuk ke arah kepungan musuh.

 

Kepada mereka, kata-kata mengalir ke dunia dan diubah sesuai dengan kehidupan mereka. Namun, bagi individu yang berkuasa, dunia mengikuti kata-kata, dan kehidupan orang lain berubah sesuai dengan kata-kata yang diucapkan oleh figur otoritas. Aku adalah orang yang berpengaruh. Aku memerintahkan mereka untuk menerobos, jadi itu terjadi.

 

Humbaba memimpin witch lainnya dan mengebom area musuh. Kami telah menjarah begitu banyak bubuk mesiu dari Benteng Putih sehingga sekarang kami hampir meluap. Para witch menebarkan kantong mesiu tanpa berhemat. Dan setelah itu, mage di sisi pasukan musuh terbang ke udara untuk membalas.

 

Pasukan musuh banyak dan pasukan kami sedikit. Bagaimanapun juga, tentara musuh tersebar luas untuk membentuk sebuah pengepungan. Pasukan kami ditarik dan menusuk ke satu titik saja. Musuh tersebar dan kami fokus. Pasukan musuh harus mengawasi luar dan bagian dalam pengepungan mereka, sementara yang harus kami lakukan berlari maju dan hanya melihat ke depan. Seakan menempa paku ke papan kayu, Farnese menempa tentara kami ke dalam blokade. Selain ini, tidak ada rencana lain atau kecerdasan yang tidak biasa. Itu merupakan serangan frontal yang kuat.

 

Kata Farnese.

 

“Sebuah tentara yang menang melalui serangan frontal adalah tentara yang bahagia.”

 

Kata-katanya menjadi sedikit saat dia memerintah. Dia hanya akan menanamkan taktik ke kapten lain selama pertemuan strategi, tapi selama pertarungan sebenarnya, dia melihat medan perang dengan tatapan berkedip-kedip.

 

Farnese akan membaca medan perang seolah sedang melihat sebuah buku. Rasanya seolah-olah teriakan prajurit, gerakan unit, dan suara terompet semuanya memiliki suatu makna baginya, dan makna tersebut mengarahkan kata-kata dan kalimat. Ketika gerakan tentara kami tidak jelas, dia berbicara.

 

“Jangan goyah dan maju terus.”

 

Saat pasukan musuh bertahan dengan gigih, dia berbicara.

 

“Tahan juga, dan tegaskan tekad untuk menumpahkan darahmu.”

 

Begitu pengepungan musuh mulai berantakan, dia berbicara lagi.

 

“Serang di sana.”

 

Farnese membaca medan perang seolah-olah itu sebuah buku, dan seakan dia mengoreksi semua kesalahan cetak yang terdapat di secarik kertas, dia mengubah kesalahan di medan perang dengan perintahnya. Perintahnya tepat sekali, dan karena itulah terukir sangat dalam ke perwira dan pasukan kami.

 

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, para kapten memegang Laura De Farnese, yang menatap ke belakang kepala mereka, dengan rasa harga diri yang tinggi. Mereka mengatakan kalau mereka bisa merasakan tatapan Jenderal pengganti saat mereka bertarung. Dari kapten ke prajurit, tidak ada satu orang pun yang meragukan kata-kata sang Jenderal. Aku teringat ucapan seorang matematikawan jenius yang mengklaim bahwa seluruh dunia terlihat sebagai nomor baginya. Bagi Farnese, kemungkinan medan perang terlihat sebagai kata-kata dan kalimat untuknya. Bakat alami.

 

Sebelum tanda 2 jam telah berlalu sejak kami memulai serangan terhadap blokade tersebut, Farnese mengangguk.

 

“Berakhir sudah.”

 

Senyum tidak lurus terlihat di bibir Farnese.

 

 

 

 

 

 

5 menit kemudian, seperti yang dia katakan, pengepungan tersebut hancur. Pasukan musuh mengangkat bendera mereka dan melarikan diri. Karena pelarian diri mereka tampak disengaja, Farnese melarang pasukan kami untuk mengejar mereka tanpa berpikir.

 

“Jangan mengejar mereka. Kita akan berakhir dengan penderitaan. ”

 

Para kapten tetap diam dan mematuhi perintah tersebut. Merupakan kebahagian seorang kapten untuk mengejar pasukan musuh yang tersisa, memukul mereka dari belakang, dan mengosongkan kantong mereka. Tergoda akan hal itu, jumlah tentara yang memilih menjarah saat bertempur tidak terhitung jumlahnya. Namun, Farnese bukanlah seorang Jenderal yang pelit tentang penjarahan. Kapten, yang telah menjarah sebanyak yang mereka inginkan selama pawai yang terpaksa sampai sini, memahami sifat Jenderal dengan baik. Jika Farnese menyuruh mereka untuk tidak mengejar, maka mereka tidak boleh mengejar. Itu adalah peraturan yang serius.

 

Setelah tentara musuh mundur, seolah tirai ditarik ke samping, perkemahan Barbatos terungkap. Orang yang bertanggung jawab atas perkemahan tersebut keluar.

 

“Selamat datang, Dantalian. Terima kasih, kita bisa bertahan di hari selanjutnya.”

 

“Saya hanya bisa meminta maaf atas kedatangan saya yang terlambat.”

 

“Kau bilang terlambat …… Kami tidak memiliki harapan kalau seseorang akan datang sejak awal.”

 

Pengawas tersebut tersenyum pahit. Ada darah yang teroleh di jenggot putih pengawas. Pria dengan penampilan orang tua ini merupakan Demon Lord, peringkat ke-16 Zepar.

 

“Meskipun seharusnya menjadi etiket yang baik untuk memperlakukan mu dan orang-orang mu ke pesta perjamuan karena membiarkan kami melarikan diri dari kematian, tapi sayangnya, situasi kami saat ini tidak menguntungkan. Aku minta maaf. Meskipun demikian, jika kau tiba sehari kemudian, kami akan menyambutmu sebagai mayat buta. ”

 

“Bagaimana bisa etiket dalam perang bisa disamakan dengan kesopanan umum? Janganlah kita memperhatikan hal-hal seperti itu. Bahkan tidak ada sedikit pun alasan bagi Anda untuk merasa bingung, Duke Zepar.”

 

Peringkat ke-16 Zepar dan aku, yang berada di peringkat ke-71, saling berbicara satu sama lain saat menggunakan bahasa setengah sopan. Hal itu mungkin bertentangan dengan sopan santun, namun Zepar adalah tuan yang telah menerima penyelamatan, dan aku adalah penguasa yang telah memberinya penebusan tersebut. Secara tidak langsung aku menyatakan kepadanya bahwa inilah dekrit di garis depan. Zepar pasti mengerti implikasinya saat dia mengangguk.

 

“Meski begitu, aku merasa sangat malu menyambutmu seperti ini. Apa yang telah kami lakukan saat kau, yang memiliki peringkat rendah, menerobos melalui pegunungan dan tiba untuk menyelamatkan kami ……? ”

 

“Duke Zepar, bagian mana yang merupakan kesalahanmu? Karena para penguasa Fraksi Dataran telah melindungi benua demon, yang telah meningkat ke ekstremitas, semuanya pasti akan memuji usaha Anda. Yang saya lakukan hanya sedikit membantu para penguasa dalam membantu rakyat mereka. Sekarang, mari kita pergi. ”

 

Sambil bertukar kata-kata terima kasih, Zepar mengantarkan kami ke perkemahan.

 

Perkemahannya terpencil. Itu adalah tempat perkemahan yang hanya mengandalkan pagar kayu dan parit. Pagar telah hancur karena serangan berulang yang berlangsung beberapa hari belakangan ini. Di tiang kayu, mayat ditusuk melalui perut dan digantung seperti cucian. Burung pemangsa mendarat di atas mayat dan berpesta di bagian daging mereka yang paling lunak; mata. Darah keluar dari soket mata yang kosong dari mayat yang terbaring. Saat kami mendekat, burung-burung tersebut terbang dengan cemas. Saat burung-burung tersebut melarikan diri, mereka menjatuhkan bola mata yang tercabik ke tanah. Zepar tidak mengucapkan sepatah kata pun saat melewati mayat anak buahnya.

 

Menyaksikan pasukanku memasuki kamp, ​​tentara yang masih hidup berkumpul. Mereka bersorak sambil mengangkat tombak mereka.

 

 

 

― Hoorah untuk Yang Mulia Dantalian! Hoorah!

 

― Berkah bagi penyelamat kita!

 

 

 

Para prajurit menghalangi jalan kami sehingga kami tidak dapat bergerak kesana-kemari. Tak terbayangkan wajah para tentara yang selamat dari neraka untuk menjadi sangat indah. Mereka kehilangan bahan tubuh dan gigi dan kotor karena kotoran yang teroleskan ke seluruh tubuh mereka. Jika ada sesuatu tentang mereka yang cantik, maka itu adalah senyum cerah yang terbentuk di wajah mereka. Zepar memarahi petugas dan pasukannya.

 

“Apa ini? Tidak peduli betapa senangnya kalian semua, merupakan kebiasaan untuk tidak menghalangi jalan seorang raja. Cepat……”

 

“Tidak, tidak apa-apa, Duke Zepar.”

 

Aku menghentikannya.

 

“Ini adalah peraturan bahwa seorang raja yang berjalan di jalan rakyatnya tidaklah ada.”

 

Aku turun dari kudaku dan memeluk salah satu tentara. Prajurit tersebut adalah orc muda. Bau tajam yang kuat dari kotoran kuda, darah, dan air kencing terpancar dari tubuhnya. Aku mendekati orc muda dan mencium keningnya.

 

“Kalian semua sangat mengagumkan. Kalian patut dipuji. Kalian semua melakukan yang terbaik untuk bertahan. Saya minta maaf karena saya tidak bisa datang lebih cepat. Kalian melakukannya dengan baik……”

 

Para prajurit menangis tersedu-sedu. Setelah mendengar kata-kataku, tentara lain di sekitarku mulai meneteskan air mata juga. Mereka berlutut di sekelilingku dan membasahi ujung pakaianku dengan air mata mereka. Mereka menangis deras sambil menggumam ‘…… …… Yang Mulia ……’. Zepar tidak bisa mengganggu tentara yang menangis karena bertahan hidup. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diganggu.

 

Sementara suara tangisan meluap dari perkemahan, terdengar suara yang tajam.

 

“Hei! Tinggi dan lemah! ”

 

Itu Barbatos. Dia berdiri di atas punggung menunduk prajurit.

 

Barbatos melompat. Seolah-olah dia menyeberangi batu loncatan, dia menginjakkan kaki di belakang prajuritnya dan berlari menghampiriku. Karena perilakunya tidak memiliki wajah atau martabat, aku tercengang dan mulutku ternganga. Barbatos memelukku yang seperti itu.

 

“Sialan aku sangat bersyukur, kau anak bajingan!”

 

“Uwaack!”

 

Aku kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Barbatos terkekeh saat dia menepuk pundakku dan menggantung.

 

“Dasar bajingan gila, bajingan seperti anjing! Kau bajingan yang benar-benar tiba dalam waktu enam hari karena kau disuruh datang dalam waktu enam hari! Kau, Kau! Apakah kau merangkak ke sini dalam enam hari karena gunung-gunung tersebut seperti halaman depan rumahmu? Kau bajingan cantik! ”

 

“Uaaaack!”

 

Aku dicium dengan paksa. Sebenarnya, ini bukanlah berciuman tapi menyusu. Tidak mungkin ini sesuatu yang lain selain menyusui.

 

Aku, yang telah melakukan adegan romantis dan bermartabat, sekarang memelintir leher untuk menghindari menampilkan pertunjukkan menyusui publik. Bibir Barbatos sering salah sasar. Begitu itu terjadi, gadis ini kesal karena suatu alasan.

 

“Ah, sial. Coba diam.”

 

“Euub!?”

 

Barbatos meraih kepalaku dengan kedua tangannya. Akhirnya, dia bisa mendorong lidahnya ke mulutku. Itulah saat di mana menyusui telah berubah menjadi ciuman yang dalam. Bagi seseorang yang memiliki penampilan seperti anak kecil, kemampuan berciumannya sangat tak tertandingi. Pertama, dia menarik napas dan membuat bagian dalam mulutku menjadi vakum. Setelah tertelan, aku kehilangan kekuatan di lidahku. Barbatos lalu menyelimuti lidahnya denganku dan mengisapnya. Bibir kami berhenti seketika seketika. Pada saat itu, aku menghela tajam sambil mengeluarkan suara ‘Heub … ha …!’. Ini juga untuk sesaat. Segera setelah itu, Barbatos menancapkan mulutku sekali lagi, dan kali ini, dia menekan bagian tengah lidahku dengan bibirnya dan menstimulasinya. Kekuatan dikeringkan dari sendiku. Barbatos dengan tangkas menangkap dan mendukung tubuhku yang hampir roboh karena lututku melengkung. Aku akan diperkosa. Kata-kata itu menembus kepalaku. Benar. Aku akan diperkosa hari ini. Sejujurnya aku percaya kalau aku akan diperkosa seperti ini. Barbatos, yang sedang menekan bagian tengah lidahku dengan bibirnya, lalu membungkus lidahnya di kedua sisi punyaku sendiri. Mengeluarkan suara ‘Eub …’, aku mengerang. Apakah aku baru saja mengucapkan erangan itu? Benarkah itu aku? Apakah aku akan klimaks hanya dengan satu lidah? Tidak peduli berapa kali aku menggerakkan kedua lenganku agar bisa menjauh darinya, itu tidak ada gunanya. Karena aku tidak bisa mengeluarkan kekuatan pada tanganku, jadinya tergelincir. Barbatos menyeringai dengan matanya. ‘Lucunya’. Rasanya Barbatos mengatakan seperti itu. Seakan menyuruhku berhenti rewel, Barbatos mencengkeram tubuh bagian bawahku dengan tangan kirinya. OMG. Pandanganku menjadi putih. Baris terakhir perlawananku telah hilang tanpa jejak juga. Tidak ada cara untuk berjuang di sini. Lututku gemetar karena ketakutan akan teknik Demon Lord sesat ini yang telah hidup selama ratusan tahun. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku apa arti dari istilah ‘dimakan’. Aku akan dimakan. Itu merupakan ketakutan dasar manusia bertahan terhadap binatang sejak awal segala sesuatu. Aku benar-benar gemetar. Ya Dewa, tolong, sungguh, serius. Barbatos kemudian memadukan teknik mendorong lidahnya seperti bor dan menangkap lidahku dengan bibirnya seperti tali dan mengaduk bagian dalam mulutku. Rasanya seperti blender sedang mengaduk otakku.

 

“―Pa ha.”

 

Akhirnya, Barbatos melepaskan bibirnya. Garis tipis air liur tergantung longgar seperti jembatan gantung antara lidahku dan lidah Barbatos. Sambil terengah-engah, aku melotot tajam pada Barbatos.

 

“Kau…… kau sungguh ……”

 

“Jangan mencoba dengan cerdik mencuri hati anak buahku.”

 

Barbatos menggigit telingaku dan berbisik.

 

“Aku berterima kasih karena kau menyelamatkanku, tapi hanya itu. Dengarkan baik-baik. Tentaraku adalah milikku. Hal yang paling aku benci adalah orang tak berguna yang mengacaukan hal-hal yang menjadi milikku. Meskipun kali ini, aku membiarkanmu lolos hanya dengan ini, tapi jika kau mencoba untuk menarik bawahanku lagi …… ”

 

Lidah Barbatos menjilat bagian dalam telingaku. Sensasi dingin yang membuat dingin tulang punggungku.

 

“Dantalian. Pada saat itu, aku akan benar-benar memperkosa mu selagi berada di depan mata para prajurit. ”

 

“……”

 

Gluk.

 

“Jawabanmu?”

 

“A-aku akan hati-hati.”

 

“Rencanamu malam ini?”

 

Suara Barbatos, yang menanyakan tentang rencanaku malam ini, menetes dengan nafsu. Jika ada warna nafas seseorang, maka nafas Barbatos kemungkinan besar akan menjadi warna merah muda sekarang. Aku tersedak.

 

“Uh …… tidak ada?”

 

“Heeh. Lalu maukah kamu melihatnya? Hal yang seperti tadi. ”

 

“Tunggu sebentar. Meskipun aku tidak yakin apakah kau kelelahan setelah menahan serangan musuh terus-menerus atau tidak, bagaimana kalau beristirahat untuk hari ini? ”

 

“Karena aku lelah, aku kira aku harus meningkatkan kesehatanku dengan mengkonsumsi obat-obatan penguat?”

 

Gyaaaack.

 

“Setiap makhluk rasional di dunia memiliki hak pengambilan keputusan mengenai perilaku seksual mereka di masyarakat. Barbatos, godaanmu, aku akan dengan tegas menolak …… ”

 

“Tolak sepuasmu. Aku hanya akan menolak penolakanmu. ”

 

Ini tidak benar.

 

Barbatos meraih tangan kananku dan mulai menyeretku. Saat aku diseret, rasanya aku menjadi budak yang dijual ke kediaman lain karena panen yang buruk. Itu menyedihkan dan juga sengsara.

 

Ribuan tentara dengan hampa memandang diriku yang diseret pergi. Sudah jelas apa yang akan tetap ada di benak tentara hari ini. Adegan Yang Mulia Dantalian memeluk mayat tentara yang kotor dan menangis karena mereka telah berkibar menjauh dan menguap. Hanya satu adegan saja yang akan tetap berada di dalam tentara dan mereka akan tertawa dan membicarakannya sepanjang malam.

 

‘Yang Mulia Barbatos melahap Yang Mulia Dantalian!’

 

Seperti itu

 

Dengan harapan terakhirku, aku menatap Lapis, Farnese, dan para witch. Mereka semua mengabaikan pandanganku. Para witch bahkan melambaikan tangan mereka seolah-olah mereka adalah orang-orang Pyeongyang dan dengan penuh semangat melihat pemimpin mereka pergi. Para witch berseri.

 

 

 

― Dimakanlah dengan baik, Yang Mulia!

 

 

 

Jika lubang telingaku masih bekerja dengan benar, maka itulah yang para witch dengan jelas teriakan. Sial. Kebiasaan negara apa dan prinsip moral dunia mana yang menjadi hak menjual seorang majikan dan menyuruhnya untuk dimakan dengan baik. Karena tiga prinsip dasar dalam hubungan manusia telah runtuh dan cincin Olimpiade telah lenyap, aku akan melihatnya sebagai sesuatu yang telah kalian lakukan. Confucius dan Mencius akan mengutuk kalian semua. Matilah. Kalian semua matilah ……

 


Kuota Minggu ini 3665/7000
Sub Menu Novel sudah ditiadakan, untuk meng-aksesnya dapat melalui menu Novel. Ikut berpartisipasi dalam menentukan Main & Side Project Novel di Acedia of Nyx! Vote di sini! 


Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻