Dungeon Defense Vol 3 – Bab 4 Part 3

Oleh Alone of Nyx on March 11, 2018

Dungeon Defense: Volume 3 – Bab 4 (Part 3) Bahasa Indonesia


Bab 4 – KABUT PERANG (Part 3)

 

▯Penjaga Utara, Margrave of Rosenberg, Georg von Rosenberg
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 12
Dataran Neris, Kamp Pasukan Kekaisaran

 

 

 

Musuh telah sampai di ujung lapangan yang diselimuti kabut salju.

 

Pada malah hari. Mendengar pengintai telah kembali untuk memberikan laporan mereka, aku berjalan keluar. Badai dan kabut asap bercampur sehingga sulit membedakan apa saja yang ada di hadapanku. Sang pengintai tersebut terengah-engah.

 

“Saya melihatnya. Jenderal, saya melihatnya. Saya yakin. Mayat, mayat beku mendekat seperti gerombolan. Aah, saya melihatnya …… ”

 

Aku menyapu salju dari bahu sang pengintai. Di Kediaman Rosenberg, catatan perang yang ditulis oleh nenek moyang kami diturunkan dari generasi ke generasi. Laporan yang pengintai telah berikan secara singkat sama dengan karakteristik yang menggambarkan Demon Lord Barbatos. Tidak ada yang aneh dengan itu.

 

“Jangan khawatir. Aku mempercayaimu.”

 

“Anda mempercayainya, Tuan Rosenberg? Apakah Anda benar-benar mempercayai kata-kata bodoh tersebut? ”

 

Putra Mahkota, yang dengan cepat tiba setelah mendengar laporan yang mendesak, tertawa menertawakannya. Putra Mahkota saat ini mengenakan pakaian tidurnya dan mantel bulu di bahunya. Aku ingin tahu apakah dia telah menghabiskan minum sepanjang malam karena leher dan pipinya merah.

 

“Ah aku tahu pasti karena usiamu, pujian mengenai dirimu menjadi komandan hebat hanya masa lalu. Cepat sadar, Rosenberg. Bagaimana mungkin mayat bisa bergerak?”

 

“Pemimpin musuh adalah Demon Lord Barbatos. Dalam catatan perang suci sebelumnya, ada banyak bagian dari Barbatos yang menggunakan dark arts untuk mengendalikan orang mati.”

 

“Ah, catatan itu mungkin salah. Kau harus berpikir menggunakan akal sehat. Orang hebat ini mungkin mabuk, tapi aku melihat dunia dengan benar, sementara kau sepertinya sadar, namun melihat dunia secara terbalik. Ini adalah masalah yang terjadi saat kau belum meminum alkohol. Kalau begitu sekarang, coba beberapa alkohol. Mari kita pergi dan menikmati minum bersama. ”

 

“Yang Mulia Putra Mahkota.”

 

“Oho? Apakah kau mengatakan kalau kau tidak mau menerima gelas dariku? ”

 

“Bagaimana mungkin hamba ……?   Saya hanya ingin melindungi Putra Mahkota dari musuh demon.”

 

“Bisakah seseorang yang tidak mampu mempertahankan satu dinding pun, bisa melindungiku?”

 

Putra Mahkota berkomentar serius. Aku menutup mulutku.

 

“Aku bercanda. Jangan marah.”

 

“Kata-kata Anda tak terukur, Yang Mulia.”

 

“Oh my, kau benar-benar berencana untuk tidak minum denganku. Meskipun kau, Tuan Rosenberg, adalah orang yang sangat membutuhkan alkohol. Aku sangat khawatir. Aku sangat prihatin, Tuan Rosenberg. Bagaimana mungkin kau bisa bertahan menghadapi duniamu tanpa alkohol?”

 

“Hamba berencana tekun untuk apa yang harus dipertahankan.”

 

Putra Mahkota mengambil sebotol alkohol dari mantel bulunya. Karena Putra Mahkota sedang mabuk, botol tersebut terlepas dari tangannya. Botol tersebut jatuh di salju, jadi tidak pecah. Oh sayang, hal yang berharga ini …… Putra Mahkota bergumam dan membuat keributan. Dia meniup salju yang menempel di botol. Hal yang berharga ini …

 

Aku mencoba memandang badai salju, tapi aku tidak bisa melihat apa-apa. Meskipun aku tidak dapat melihat apapun, aku memerintahkan kapten untuk mengatur pasukan. Prajurit-prajurit yang ditinggalkan Putri Kekaisaran entah tua dan lemah atau orang-orang yang sangat lelah dan sakit sehingga mereka tidak dapat bertahan di malam yang dingin. Perwira dan orang telah meletakkan busur mereka di tanah dan mengusap telapak tangan mereka pada kaki mereka. Ah, sangat dingin aku bisa mati …… tentara tua merengek. Suara ah …… ah …… dicampur bersamaan dengan suara yang dibuat oleh angin bersalju.

 

Putra Mahkota bertanya.

 

“Jadi, apakah Elizabeth menyuruhmu mati juga?”

 

“Yang Mulia Putri Kekaisaran telah mengatakan kepada hamba bahwa akan diberikan tempat yang sesuai.”

 

“Oh? Apakah tempat itu berada di dalam Keluarga Kekaisaran?”

 

“Hamba tidak tahu.”

 

“Kalau begitu kau akan mati tanpa mengetahui apapun.”

 

Pangeran Mahkota berbicara dengan datar.

 

“Elizabeth adalah devil. Aku tahu kalau dia devil. Pernahkah kau menatap mata merah murni miliknya dalam jangka waktu yang lama? Aku sudah pernah. Aku bisa mencium bau darah. Dia adalah seorang gadis yang membuat bau darah mengalir kemana pun dia memandang …… ”

 

Tiba-tiba aku menjadi penasaran. Bagaimana masa kanak-kanak Putri Kekaisaran? Apakah Putri Kekaisaran tetap Putri Kekaisaran saat masih kecil? Apakah dia seperti ini sejak awal? Aku terbatuk. Ada sensasi basah pada batuk tersebut. Karena pengalamanku, aku tahu kalau itu merupakan pertanda buruk ketika batuk kering tiba-tiba berubah menjadi batuk basah.

 

“Yang Mulia, apakah ada sesuatu yang terjadi di istana?”

 

“……”

 

Putra Mahkota menelan alkoholnya tanpa sepatah kata pun. Meskipun Putra Mahkota melihat ke arah yang sama sepertiku, rasanya kami tidak melihat lokasi yang sama. Rasanya bagi Putra Mahkota, badai salju yang mengamuk di depan kami tampak seperti ilusi. Putra Mahkota berbicara.

 

“Itu adalah dosaku.”

 

Putra Mahkota tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu.

 

Putra Mahkota, Rudolf von Habsburg, tidak sebanding dengan adiknya di segala hal. Pemberontakan yang Putra Mahkota tidak dapat tangani selama 7 bulan dengan tentara 5.000, dapat diselesaikan dalam waktu 15 hari oleh tentara Putri Kekaisaran yang berjumlah 1.000 orang. Bahasa kuno, bahwa yang Putra Mahkota telah mahir kuasai pada usia 14, dikuasai oleh Putri Kekaisaran pada usia 5 tahun. Dengan kesalahan memimpin Yang Mulia Kaisar terus berlanjut, para bangsawan mulai menginginkan seorang pemimpin yang kompeten. Putra Mahkota sangat ideal.

 

“Apakah kau melihatnya?”

 

Putra Mahkota bergumam.

 

Tidak yakin dengan apa yang seharusnya kulihat, aku menatap Putra Mahkota. Dia melirik ke arah badai salju yang sedang mengamuk di bagian bawah bukit.

 

“Seseorang telah datang.”

 

Embun fajar nyaris tidak menyentuh daerah bawah bukit. Sebuah kaki kerangka keluar dari dalam badai salju. Kaki kerangka tersebut dengan ringan melangkah di jalan setapak yang dilapisi oleh kabut asap. Seiring dengan langkah selanjutnya, bentuk kaki tulang tercetak di salju di tempat di mana kaki tersebut sebelumnya berada.

 

 

 

― ……

 

 

 

Di bagian bawah lereng, kerangka tersebut menatap kami. Tampak seakan tatapannya dari seorang pengembara yang dengan hati-hati memeriksa jarak pegunungan yang sekarang mereka harus daki. Meski kerangka tersebut tidak memiliki mata, aku bisa merasakan tatapannya. Itu merupakan tatapan dingin dan transparan. Putra Mahkota membiarkan tawa mengalir ke angin bersalju.

 

“Sudah banyak yang datang, ya?”

 

Dari kabut bercampur salju, ribuan mayat mulai keluar. Mengincar kamp pasukan kami, mayat-mayat tersebut perlahan menaiki bukit. Suara sebuah terompet terdengar dari kamp kami. Ayam jantan dikejutkan oleh terompet dan mulai berkokok. Begitu tangisan burung-burung, yang sepertinya tidak akan pernah berhenti, akhirnya berhenti, badai salju kembali berkobar kuat sekali lagi dan menyembunyikan tengkorak tersebut. Tidak ada yang terlihat melalui hiruk pikuk salju. Tidak ada yang bisa dilihat, namun pasukan kami mengangkat tombak dan busur mereka.

 

“Musim dingin, kah!”

 

Putra Mahkota berteriak keras. Dia menangkupkan tangannya di sekitar mulutnya untuk memperkuat suara dan berteriak dengan suara nyaring.

 

“Musim dingin! Musim dingin datang!”

 

Tentara kami ketakutan pada kegilaan Putra Mahkota. Rasanya seolah-olah Putra Mahkota tidak memberi tahu tentara kalau mayat-mayat tersebut telah tiba, namun sebaliknya, dia memanggil mayat-mayat tersebut untuk mendekati kami lebih cepat. Putra Mahkota dengan putus asanya mengeluarkan pedang panjang dan mengangkatnya ke udara.

 

“Semua pasukan, serang! Seraaaang! ”

 

Putra Mahkota melompat melewati pagar kayu dan mulai berlari. Semua pasukan, ikuti akuuu … suara Putra Mahkota bergema luas. Jangan takut mati, … pasukan tetap tidak bergerak. Tidak yakin apa yang harus mereka lakukan, mereka saling melirik dan kemudian berpaling untuk menatapku. Putra Mahkota menghilang ke dalam kabut bersalju.

 

Tak lama setelahnya.

 

Putra Mahkota kembali dari kabut. Dia terengah-engah. Setelah mendorong dirinya melewati celah di pagar kayu dengan susah payah, dia berjalan ke tempatku berada. Menurunkan pedangnya, Putra Mahkota mengangkat bahunya dengan sombong.

 

“Wow, tidak ada satu orang pun yang mengikuti. Sepertinya mereka tidak mempunyai niat untuk bertarung.”

 

“……”

 

“Mari kita mundur saja, Jenderal.”

 

Menghadap ke kapten, aku memerintahkan.

 

“Gulingkan batu-batu itu!”

 

Kapten mengulangi perintah tersebut. Batu-batu besar, yang telah kami persiapkan sebelumnya, mulai berguling ke bawah. Karena batu-batuannya tidak dapat berguling dengan benar, bebatuannya sering terjatuh ke arah yang yang acak, karena masih banyak mayat hidup di lokasi acak tersebut, arah bebatuan berguling tidak dapat disebut sepenuhnya acak. Batu-batu tersebut bertabrakan dengan kerangka dan menghancurkan tulang mereka menjadi beberapa bagian.

 

“Apa. Mengapa mereka mendengarkan kata-kata Jenderal tapi mengabaikan perintah dari Penguasa? Mereka sangat membeda-bedakan orang. Ketika aku kembali ke ibukota, aku akan menghukum mereka sebagai pemberontak.”

 

 

 

Pertempuran memanas sejak fajar.

 

Meskipun tentara kami sudah tua, mereka juga memiliki banyak pengalaman. Karena mereka telah melihat lebih banyak hal mengejutkan selama hidup mereka, tentara veteran tidak khawatir dengan barisan kerangka. Meski ada seorang tentara yang melarikan diri, tidak ada yang mencoba menghentikannya. Para tentara veteran tampaknya telah mengerti bahkan jika seseorang melarikan diri sendiri ke dataran bersalju yang sepi, mereka akan mati karena kelaparan, terbekukan sampai mati atau dimakan oleh binatang buas. Para tentara tua mengunyah roti basi, yang dibagikan sebagai sarapan pagi, untuk waktu yang cukup lama dan menelannya dengan air.

 

Begitu semua batu jatuh, tentara tua menarik busur mereka. Busur panah merupakan senjata yang menyerap energi magis dari lingkungan sekitar mereka dan meluncurkan panah menggunakan energi tersebut. Proyektil terbang secara tidak wajar jika senjata tersebut digunakan terlalu cepat, dan akan terkoyak parah dan menyebabkan panahnya tersesat jika digunakan terlalu lambat. Kapten tidak harus memberikan instruksi untuk menembak karena tentara veteran bisa menembak busur sementara membuat asumsi pengaturan jangka waktu di kepala mereka. Panah yang ditembakkan oleh tentara tua terbang dengan cepat dan dengan tajam menusuk sasaran mereka.

 

Karena mereka telah hidup sesuai dengan kebijaksanaan mereka sendiri, mereka berjuang sesuai dengan kebijaksanaan mereka juga. Cara mereka bertempur sama dengan fisiologi alami masyarakat.   …… Jadi mereka bertarung. Mereka yang bertempur adalah orang. Aku menghirup udara dingin dalam-dalam.

 

“Simak kata-kataku, kapten!”

 

Kapten segera berdiri berbaris dalam satu baris. Mereka sudah kapten yang sudah berusia. Mereka adalah tentara tua yang telah menjadi tua di pangkalan militer kelas rendah karena mereka memiliki status rendah, tidak memiliki   kemampuan signifikan, atau tidak mampu berdiri sejajar dengan benar. Karena kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang lahir di utara, mereka juga dibuang ke sini karena mereka lahir di utara. Karena tulang belakang mereka belum berkarat, mereka menahan punggung mereka lurus-lurus.

 

“Schleiermacher.”

 

“Ya, Yang Mulia.”

 

Aku memanggil masing-masing nama kapten. Seorang Kapten yang berjanggut berwarna coklat melangkah maju dan salut ala militer. Dia merupakan saudara kecil kedua Pejabat kecil yang mengelola pabrik penggilingan yang berada di wilayahku. Selama masa mudaku, saat aku sedang berbagi masa kecil dengan seorang gadis di desa yang aku sukai, aku berjaga-jaga di penggilingan.

 

“Saat ini, kekuatan militer utama kita tidak lebih dari 2.000. Tidak peduli apa ganjarannya, kau tidak boleh membiarkan bagian depan diterobos oleh mayat-mayat itu. Apakah kau mengerti? Pertahankan posisimu sampai nafas terakhirmu.”

 

“Seperti perintahmu, Margrave.”

 

“Tahan selama mungkin. Kemungkinan rekan-rekan kita yang mundur bisa bertahan hidup akan bertambah bergantung seberapa lamanya. Utara tidak akan mengirimkan kematianmu untuk dilupakan. ”

 

“Dipahami.”

 

Kapten tersebut pergi dengan para pelayannya di belakangnya. Di kejauhan, kami bisa mendengar suara samar kapten meneriaki tentaranya melalui salju. Kapten lain yang tersisa memiliki telinga mereka yang beralih ke suara tersebut.

 

“Tuan Roenbach.”

 

“Ya, Jenderal.”

 

Seorang pria paruh baya yang mengenakan baju besi perak melangkah ke depan. Di lokasi ini, pria ini satu-satunya yang belum lahir di Utara. Meski hanya namanya yang tersisa, dia pernah menjadi Penjaga Istana Kerajaan untuk Kaisar. Ada 6 ksatria dalam pasukan kami saat ini dan mereka memiliki 20 pelayan yang mengikuti mereka. Mereka adalah ksatria terakhir yang tersisa di sini.

 

“Sambil memimpin para ksatria, ratakan lereng dan menyapu mayat yang menonjol berlebihan. Tugasmu adalah mencegah mayat mencapai 50 meter dari pagar kita. Pertahankan garis depan dengan hidupmu, dan gugurlah di garis depan. ”

 

“Saya akan melaksanakan perintahmu, Jenderal.”

 

“Utara tidak akan melupakan kematianmu.”

 

“Saya, Roenbach, akan mencapai kemenangan.”

 

Pemimpin ksatria tersebut memperbaiki helmnya di atas kepalanya dan menaiki kudanya. Ksatria lainnya berkumpul di sekitar pemimpin mereka. Kuda perang yang memiliki keturunan baik, mengeluarkan napas hangat bahkan di saat angin yang dingin. Para ksatria menurunkan kepala mereka ke arahku satu kali, dan kemudian mereka melakukannya sekali lagi ke Putra Mahkota. Putra Mahkota mengangguk. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun tentangku menggunakan kesatria sesukaku. Putra Mahkota hanya menatap badai salju dengan mata mabuk. Satu per satu, aku memanggil nama masing-masing kapten.

 

“Bergmann, aku akan menempatkan 20 infanteri berat di bawah komandomu. Jika ada bagian pertahanan kita yang sepertinya berada dalam bahaya, pergilah ke sana dan bertarunglah. ”

 

“Ya, Yang Mulia!”

 

Puluhan tahun yang lalu, selama tahun kelaparan, anak muda yang pernah menunjukkan ke tidak bersalahannya dengan malu-malu mengklaim bahwa dia telah memburu seekor burung karena khawatir tuan mudanya kelaparan, sekarang telah berubah menjadi seorang kapten tua dan menanggapi.

 

“Gebauer, kumpulkan para pelayan dan berikan proyektil ke semua tentara kita. Selanjutnya, serahkan seluruh perbekalan kita kepada perwira dan orang kita. Mereka bertarung dengan kekuatan yang diberikan oleh makanan.”

 

“Saya akan memberikan seperlunya, Yang Mulia.”

 

Gadis yang telah terdaftar di militer meskipun perempuan, Gadis yang sering diolok-olok oleh laki-laki, dan pernah, membalas dengan suara keras yang menanyai di mana pria dan wanita Utara, sekarang membalas perintahku di sini di lokasi ini setelah berpuluh-puluh tahun berlalu.

 

“Tentara Habsburg yang hebat, dengarkan kata-kataku.”

 

Aku berbalik ke arah pasukan.

 

“Aku tidak tahu kepada siapa kalian semua telah bersumpah kesetiaan kalian, dan aku tidak percaya bahwa kesetiaan dibutuhkan saat makanan menjadi taruhannya. Namun, kalian semua harus tahu. Tugas seseorang dan tugas seorang prajurit, ini adalah hal-hal yang kalian semua harus ketahui dengan baik. Jika kita lari, maka pemuda di negara kita akan mati. Jika kita menyerah, maka tanah negara kita akan terbakar. Oh, tentara yang hebat dari Habsburg, yang dulu muda dan selalu tinggal di tanah ini, sekarang saatnya kita untuk memberikan hal-hal yang telah kita nikmati pada putra dan putri kita.”

 

Aku menghunuskan pedangku dan mengangkatnya ke langit. Pedang formal, yang telah diwariskan turun temurun dalam keluargaku, hilang dalam pertempuran sebelumnya. Tapi apakah ada masalah dengan itu? Aku tinggal di medan perang. Ini adalah rumahku. Di sinilah kediaman Rosenberg berada.

 

Aku berteriak. Panas dari perutku melonjak ke atas, membakar dan menusuk batukku yang basah, dan meledak di atmosfer musim dingin.

 

“Untuk Kekaisaran!”

 

Para prajurit mengangkat busur dan tombak mereka dan berteriak dengan sungguh-sungguh.

 

 

 

― Untuk Kekaisaran!

 

 

 

Sambil berharap suaraku bisa sampai ke sisi lain barisan, yang tidak dapat terlihat karena kabut dan salju, aku meraung.

 

“Untuk Kekaisaran!”

 

Para prajurit membalas.

 

 

 

― Untuk Kekaisaran!

 

 

 

Suara-suara dari sisi lain kamp, yang tersamarkan oleh keributan, sampai di tempatku berdiri juga. Tentara berusia lanjut, yang lahir dari berbagai tempat dan menjalani hidup mereka secara berbeda, akan mati bersama pada akhir hidup mereka di lokasi yang sama. Kepingan salju, yang masing-masing terbentuk dalam suhu yang berbeda dan dibawa oleh angin yang beragam, semuanya jatuh ke lantai yang sama dan mereda. Hidup seperti kepingan salju dan, akhirnya, mati seperti kepingan salju. Salju yang meleleh terlebih dahulu untuk mencegah salju, yang akan menumpuk di atasnya, mulai mencair. Dengan senang hati aku menerima semua salju dengan kehidupan serupa dan semua salju dengan kematian serupa. Utara adalah negara salju. Sebuah rumah yang didirikan untuk orang-orang yang tidak bisa pergi ke selatan. Sambil membalikkan wajah ke langit, aku menghela nafas. Ini adalah hari yang cocok untuk meratap. Hari yang baik untuk meratap ……

 

Di pagi sebelum tengah hari, seorang kapten berlari ke arahku.

 

“Yang Mulia, baris pertama telah diterobos. Sisa tentara dari garis pertama telah bergabung dengan barisan kedua. Untungnya, ada sedikit kebingungan selama mundur sesaat. Meski banyak yang terluka, hanya sedikit yang gugur. ”

 

“Bagus. Teruslah bertahan seperti itu.”

 

Sambil melirik ke arah peta, aku memberi perintah. Badai salju sangat dahsyat sehingga tidak mungkin melihat kamp militer dengan mata saja. Sambil menggambar hal-hal yang bisa dilihat dan tidak dapat dilihat di peta, aku merasakan jalan menuju sesuatu dan membuat asumsi mengenai kemana tentara kami harus pergi.

 

“Kami sudah menang hanya dengan bisa bertahan seperti ini. Jangan melawan tergesa-gesa, dan jangan cepat mati. Bertahan selama kau bisa. Perintahkan hal ini sekali lagi ke pasukan.”

 

“Dimengerti!”

 

Setelah beberapa saat, seorang pengawal masuk. Pengawal merupakan ajudan kapten. Karena kapten telah gugur dalam pertempuran, ajudan tersebut melakukan tugas kapten sebagai gantinya. Aku tidak bertanya di mana sang kapten gugur, dan ajudan juga tidak memberi tahuku.

 

“Jenderal, kelompok kedua telah diterobos. Baris kedua dan ketiga telah bergabung dan melawan musuh. Moral kami belum berkurang. Pemimpin Ksatria telah gugur.”

 

“Ok. Dalam perjalanan kembali, beritahu komandan Gebauer untuk meninggalkan tugasnya dan berpartisipasi di garis depan. Berjuanglah selagi menaati waktumu, tapi bergeraklah dengan cepat. Dengan bergerak cepat, kau akan bisa melawan lebih sedikit.”

 

“Dimengerti, Jenderal!”

 

Setelah itu menjadi tengah hari, sekitar waktu badai salju telah berhenti, seorang pengawal masuk. Sekali lagi, itu merupakan orang yang sama sekali berbeda. Pada kesempatan berikutnya, pengawal telah gugur dan hampir semua kapten lainnya gugur, jadi satu-satunya yang bisa masuk untuk melaporkan sekarang hanyalah pelayan ajudan. Utusan tersebut memberi hormat yang sangat tepat waktu dan memberikan laporan situasi.

 

“Baris ketiga telah diterobos. Seluruh tentara kita melawan di barikade kayu terakhir. Meski jajaran unitnya kacau dan berasimilasi, tidak ada masalah dalam bertarung bersama sebagai satu kelompok.”

 

“Bagus. Aku memerintahkan ksatria yang tersisa untuk menyerang. Jika kau memanfaatkan jalur sempit di antara pagar, maka penyerangannya seharusnya lebih mudah dilakukan. Memukul sisi musuh yang asyik menyerang di pihak kita.”

 

“Dimengerti, Yang Mulia. Semoga kita mencapai keberuntungan dalam perang. ”

 

Kemudian seorang prajurit yang berbeda, dan seorang prajurit yang berbeda ……

 

Pada akhirnya.

 

Semuanya menjadi terdiam karena tidak ada lagi orang di sekitarku.

 

Seperti orang Utara, para kapten telah berjuang sampai saat-saat terakhir mereka. Kami tidak menangkap tentara yang melarikan diri, dan karena kami tidak menangkap mereka, aku yakin lebih banyak yang tinggal. Di Ksatria Penjaga Istana, dari Ksatria Kerajaan sampai para pelayan ksatria, semuanya gugur dalam peperangan dengan heroik. Selama serangan terakhir, Putra Mahkota maju dengan pasukan tanpa sepatah kata pun. Aku tidak bertanya bagaimana Putra Mahkota gugur, dan tidak ada yang memberitahuku bagaimana dia gugur. Utusan terakhir untuk memberiku laporan pertempuran bukanlah kapten, bukan ajudan, dan bahkan bukan pembantu ajudan. Laporan terakhir diberikan oleh seorang prajurit yang tidak memiliki pangkat. Prajurit tersebut memberi tahuku bahwa baris terakhir telah diterobos dan segera menuju ke depan.
(AoN: Jujur salut banget dari atasan sampai terbawah, tersentuh bacanya.)

 

“……”

 

Sambil menerima sinar matahari tengah hari di punggungku, aku menatap ke bawah peta.

 

Sinar matahari mencairkan sampah beku, menyebarkan bau busuk di kamp. Itu merupakan nafas yang telah mengalir dari Surga. Karena salju turun dari langit, dan inilah aroma yang dipancarkan saat salju telah mencair, sepertinya bau langit terasa seperti ini.   …… Apakah negara salju merupakan negara langit? Apakah orang-orang salju merupakan orang-orang langit? Apakah itu alasan mengapa orang-orang salju kembali ke langit dengan mudahnya?

 

Punggungku menjadi panas karena sinar matahari. Sambil mengonsumsi aroma lembab, aku mengingat saat Putri Kekaisaran mencuci tubuhku. Aku sama sekali tidak tahu alasan mengapa Putri Kekaisaran membuang Putra Mahkota dan diriku di lokasi ini.

 

 

 

― Apa yang harus hamba lakukan?

 

― Kau akan menahan bagian belakang kita.

 

― Apakah Yang Mulia mengatakan hamba untuk mati saat bertahan?

 

― Aku tidak akan menghentikanmu. Namun, bukan hanya dirimu. Saudaraku juga ada di sana. Jika kau membiarkan Putra Mahkota Kekaisaran mati, maka kau kemungkinan besar akan dikenal sebagai pengkhianat untuk selamanya.

 

 

 

Menjadi pengkhianat abadi.

 

Putri Kekaisaran mengatakan itu.

 

Orang berbisik satu sama lain bahwa Margrave Georg von Rosenberg adalah asal mula awal perang ini. Margrave Rosenberg kehilangan Pegunungan Hitam dan menghancurkan rencana Kekaisaran untuk mengakhiri pertempuran ini dengan sebuah perang pendek. Ditambah lagi, Rosenberg sekarang tidak bisa melindungi Putra Mahkota dari kematian dan dengan demikian akan mengguncang ruang sidang Kekaisaran. Karena itu, sambil memikul semua kejahatan dan tugasnya sendiri, Georg akan gugur dan tenggelam dalam limbah beku, begitulah cara kau berkontribusi besar; ini merupakan kata-kata sebenarnya Putri Kekaisaran. Merasa dibutakan oleh kebaikan Kekaisaran, aku bertanya kepada Putri Kekaisaran.

 

 

 

― Apakah Yang Mulia memberikan hamba kesempatan?

 

― Aku hanya ingin memberi kau lokasi yang sesuai. Pergi sambil menanggung semua penghinaanmu sendiri.

 

 

 

Walaupun itu tawaran devil, pada saat yang sama, itu adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Kekaisaran sehingga tidak dapat disangkal      tawarannya.

 

…… Putri Kekaisaran benar-benar memberikan tempat yang sesuai untuk kantong tulang yang tua ini. Karena wilayah ini adalah rumah dan negaraku dan merupakan tempat di mana orang-orang akan bertempat-tinggal dan bertempat-tinggal lagi, Yang Mulia telah menyadari ini.

 

Sebuah bayangan terlihat dari balik punggungku. Bayangan tersebut menginjak salju. Sambil membuat suara yang tidak jelas, salju menerima bobot kehidupan yang menginjak mereka.

 

“Hm. Apakah kau Georg von Rosenberg?”

 

“Ya benar.”

 

Aku terus menatap peta. Setiap peta adalah tempat orang telah gugur. Aku memikirkan orang-orang yang telah bertempur sama dengan cara hidup mereka. Aku memikirkan tangan kasar dan tegap mereka yang menarik busur pada panah. Bahkan setelah mereka melepaskan panahnya, mereka terus menarik busurnya. Tembak dan tarik lagi, mereka terus menarik. Pertarungan berlanjut sepanjang hidup masih berlanjut, dan rasanya seolah-olah aku tidak lebih dari satu variabel yang membuktikan kelanjutan tanpa akhir tersebut.

 

“Pertarungan sudah berakhir, anak manusia. Apa yang kau lihat?”

 

“Perang.”

 

“Dan jika perang itu berakhir juga, apa yang akan kau lihat?”

 

“Perang.”

 

Suara logam mendekat dan memotong udara musim dingin.

 

…… Jadi inilah suara hidupku yang terpotong.

 

Kupikir begitu. Aku bertanya-tanya apakah dagingnya terpotong lebih rapi daripada udara karena aku tidak bisa mendengar suaranya. Penglihatanku membalik dan membalik beberapa kali sampai akhirnya aku menatap langit. Itulah tempat di mana aku akan berpaling. Aku memejamkan mata.

 

 

 

― Karena aku tidak bisa membersihkan pikiranmu, berpikir untuk menghiburmu dengan membersihkan badanmu. Jalan pertimbangan setidaknya tidak akan menjadi sendirian.

 

 

 

Aku akan merenungkan makna dan renungkan sekali lagi. Namun, karena negara salju adalah negara langit, suatu hari, mereka akan kembali ke bumi dan menumpuk sekali lagi, sehingga melanjutkan kehidupan menyedihkan mereka. Hal yang menghibur diriku adalah kehidupan yang buruk dan sangat menghibur daripada perhatian Yang Mulia.

 

 

 

 

Keanggunan Yang Mulia tak terukur, Yang Mulia.

 

Tolong perlakukan kami bawahan dengan simpati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

▯Raja Rakyat Jelata, Peringkat ke-71, Dantalian
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 3, Hari 12
Dataran Neris, Kamp Pasukan Kekaisaran

 

 

 

“……”

 

Aku menatap kepala Rosenberg yang terjatuh ke tanah yang tertutup salju.

 

Rosenberg masih melihat ke depan dengan mata menyipit. Hal-hal yang paling mungkin tidak lagi terlihat di mata tersebut dan hal-hal yang paling mungkin tidak dapat diapresiasi oleh mata itu lagi. Bagaimanapun juga, Rosenberg akan selamanya menunjuk ke arah dengan tatapan beku tersebut. Setelah aku memalingkan kepala untuk mengikuti matanya, aku melihat langit. Gumamku

 

“Pergilah ke tempat yang bagus, margrave.”

 

Aku mengangkat kepala Rosenberg dari salju. Aku menepis salju yang ada di rambutnya dan menyeka cairan yang mengalir dari lehernya dengan lap. Barbatos telah memenggal kepala Rosenberg.

 

Jadi, rencana kami sukses. Meskipun ada sebuah variabel di mana tentara kedua Marbas dikalahkan oleh Putri Kekaisaran, mengingat kemampuan Putri Kekaisaran, jika mungkin, itu merupakan hasil yang dapat diterima. Akan lebih baik menganggapnya lega karena Barbatos tidak kalah. Selain itu, berkat kemenangan Putri Kekaisaran, aku juga mampu meraih kemenangan. Seri. Tetap seri ……

 

Sudah sekian lama, perang telah mencapai keadaan jeda.

 

Marbas harus merekrut tentara sekali lagi dan Barbatos harus mengatur kembali tentaranya juga. Orang-orang yang membutuhkan waktu bukan hanya Pasukan Sekutu Demon Lord tapi Aliansi Manusia, juga membutuhkan waktu untuk membentuk sebuah strategi baru.

 

Meskipun sepertinya manusia mengharapkan perang berakhir dengan pertempuran singkat, aku mohon maaf. Ini masih terlalu cepat. Jadi silakan mengambil bagian dalam waltz-ku sedikit lebih lama. Sambil menatap wajah Rosenberg, aku tersenyum.

 

“Apa yang ingin kau lihat bahkan setelah kematian? Tutup matamu dan istirahatlah dengan baik, margrave.”

 

Aku menurunkan kelopak mata Rosenberg dengan telapak tanganku. Dengan demikian, Rosenberg akhirnya menutup matanya. Aku tidak tahu apa penyebab hebat dan rasa keadilan apa yang pria tua ini coba lihat pada saat terakhirnya. Itu mungkin sesuatu yang membosankan.

 

Seorang kapten mendekat dan memberitahuku kalau Barbatos memanggilku. Aku memerintahkan kapten tersebut untuk terus memegangi kepala Rosenberg. Aku sengaja mengintimidasi dia.

 

“Aku berencana untuk memberikan ini kepada Jenderal Farnese. Pegang dengan baik karena Jendral akan sangat menyukainya. Jika kau, mungkin, kehilangannya, maka Jenderal akan sangat kecewa padamu. Pada saat itu, bahkan aku tidak akan bisa menghentikan Jenderal.”

 

Wajah kapten menjadi pucat dan dia dengan hati-hati membungkus kepala Rosenberg. Cara jari-jarinya gemetar membuatnya tampak seperti sedang menangani kepalanya sendiri. Aku terkekeh dan berjalan menuju Barbatos. Di dalam ruang musuh yang kosong, Barbatos sedang merawat kukunya.

 

“Oh, kau di sini?”

 

“Saya di sini untuk memberi selamat kepadamu atas kemenangan besar, Yang Mulia―.”

 

Kataku sambil berlutut. Aku adalah tipe orang yang bahkan akan berlutut jika bercanda. Barbatos mendengus.

 

“Baiklah. Ini cukup bagus untuk melihat bahwa omong kosongmu meningkat. Ikuti aku.”

 

“Apakah kau akan menunjukkan sesuatu yang bagus lagi? Hal bagusmu berbaris setiap hari, jadi aku tidak yakin kapan aku bisa tidur nyenyak”

 

Barbatos menyeringai.

 

“Bisakah kau mengikutiku tanpa sepatah kata pun?”

 

Jika kau membuat keributan, maka aku akan menuangkan kata-kata kotor kepadamu dengan muatan ember lagi.

 

Itu merupakan maksud dari senyuman lembut Barbatos.

 

Sebagai individu yang percaya pada akal sehat dan penyempurnaan, aku mengikuti Barbatos. Seorang tahanan terikat di salah satu sudut kamp militer. Baju besinya cukup tebal. Status sosialnya kemungkinan besar adalah seorang bangsawan tinggi. Barbatos berbisik ke telingaku.

 

“Itu Putra Mahkota Kekaisaran Habsburg.”

 

“……”

 

Pastinya.

 

Ini adalah sesuatu yang benar-benar hebat.

 

Barbatos sedikit menggigit telingaku dengan gigi depannya.

 

“Dantalian, kau tidak akan bersumpah setia kepadaku. Itu adalah tragedi yang aku anggap sangat disesalkan. Namun, meski kau belum bersumpah kesetiaanmu, kau tetap setia kepadaku. Aku tidak berencana untuk menerimanya begitu saja.”

 

“Oh? Dan apa maksudmu dengan itu?”

 

“Aku akan memberikannya padamu.”

 

Barbatos menyibakkan dadaku dengan tangannya. Rasanya seakan masing-masing jarinya mengandung fungsi organik. Jadi, ini adalah sentuhan tangan, yang bisa membangkitkan orang mati dari tanah, rasanya seperti itu. Begitulah yang aku pikirkan. Jika sebanyak ini, maka aku akan dengan senang hati segera bangkit jika aku merupakan tengkorak.

 

“Kau bisa menggunakan tahanan tersebut sesukamu.”

 

“Barbatos ……”

 

Dengan lembut aku mengangkat dagu Barbatos. Barbatos tidak menolak sentuhan tidak sopanku. Bibir kami mendekat.

 

“Kau mungkin sudah mengetahuinya, tapi aku membenci wanita dengan tubuh kecil.”

 

“Hm, jadi?”

 

“Tapi hanya kau, aku tidak bisa menolaknya.”

 

“Aku tahu, kau idiot.”

 

Kami berciuman untuk jangka waktu yang lama. Itu merupakan ciuman yang mengandung rasa terima kasih dan bukanlah nafsu. Barbatos, dengan alasan aku terpaksa pergi ke utara untuk menyelamatkannya, dan diriku sendiri, karena dia tidak mengabaikan jasaku dan memberiku hadiah yang pantas. Seberapa indah pasangan yang tahu bagaimana harus benar-benar berterima kasih atas apa yang telah mereka terima, dan langsung menghargai pihak lainnya? Kami mitra bisnis yang mengaggumkan. Aku melepaskan bibirku dan berbisik.

 

“―Meskipun rasanya ingin melanjutkan ini sampai akhir di sini dan sekarang, telah menumpuk.”

 

“Tidak apa-apa. Kita sudah bersenang-senang kemarin. Pergilah dan urusilah urusanmu.”

 

Barbatos menunjuk ke arah Putra Mahkota dengan dagunya. Aku mengangguk dan mendekati Putra Mahkota Kekaisaran.

 

Aku bertanya-tanya apakah Putra Mahkota telah berguling-guling di tanah beberapa kali karena penampilannya lebih kotor daripada seekor anjing kampung. Rambutnya berwarna perak, namun, karena lumpur tersebut, warnanya bercampur dengan warna coklat. Dengan wajah penuh kotoran, Putra Mahkota menatapku. Matanya cekung seperti pemabuk yang baru saja terbangun karena mabuk.

 

“Kau siapa……?”

 

“Musuh Elizabeth.”

 

“……”

 

“Apakah kau tidak ingin mendengar usulanku, oh Putra Mahkota?”

 

Aku menyeringai dengan lancar.

 

 

 

Tuan kakak laki-laki.

 

Aku di sini untuk memberi tahumu tentang sesuatu yang menyenangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama             : Barbatos
Ras                 : Demon Lord
Pekerjaan    : Demon Lord (SS)
Reputasi       : Permaisuri Ketiga

 

Kepemimpinan: Peringkat S       Kekuatan: Peringkat A+   Kecerdasan: Peringkat A-
Politik: Peringkat C           Pesona: Peringkat A          Teknik: Peringkat C

 

Gelar: 1. Raja Abadi 2. Pemimpin Fraksi Dataran
Bakat: Dark Magic S+, Taktik A, Akting A-, Tipu Daya B
Kemampuan: Saint bagi semua yang telah meninggal (S)

[Prestasi: 451]

 

 


Kuota Minggu ini 5546/9000
Sisanya untuk chater selanjutnya, karena berjumlah 14.000


Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻