Dungeon Defense Vol 3 – Bab 5 Part 2

Oleh Alone of Nyx on March 15, 2018

Dungeon Defense: Volume 3 – Bab 5 (Part 2) Bahasa Indonesia


Bab 5 – Kata Tanpa Suara (Part 2)

 

 

▯ Raja Rakyat Jelata, Peringkat ke-71, Dantalian
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 4, Hari 2
Polles, Dataran Bruno

 

 

 

Pasukan Sekutu Demon Lord dan Aliansi Manusia mengirim dan menerima ultimatum. Diputuskan dengan mengirim seorang utusan dari kedua kubu, keduanya harus membahas apakah kedua kubu tersebut benar-benar akan berperang, atau jika kita akan melakukan perundingan damai. Tentu saja, peluang terjadinya gencatan senjata hampir tidak ada.

 

Jumlah nyawa yang hilang sudah mencapai ribuan. Seperti bagaimana guntur akan beresonansi saat petir muncul, kalau sudah seperti ini, melakukan perang merupakan arus kejadian yang alami. Bahkan semua Demon Lord— tidak termasuk Paimon— bersiap untuk melakukan perang. Ada satu masalah.

 

Siapa yang akan dipilih sebagai utusan.

 

“Kenapa tidak memilih Dantalian saja?”

 

Barbatos melangkah ke depan.

 

“Dia memiliki kontribusi paling banyak dalam perang ini, bukan? Kemampuan berbicaranya juga tidak buruk, dan karena dia memiliki peringkat terendah, sangat sempurna jika dia digunakan sebagai pesuruh. Kita mengirim utusan secara nominal, bukan? Jadi tidak perlu kita kehilangan muka dengan mengirimkan orang berpangkat tinggi, bukan? Gunakan dia sebagai pesuruh.”

 

Sejujurnya, itu merupakan daya pikir yang cekatan.

 

Tepat di tengah kedua kubu tersebut, sebuah tenda putih didirikan. Itulah lokasi di mana para utusan akan bertemu dan berbagi diskusi. Karena banyak anak sungai mengalir melalui dataran, suara anjing liar yang kepanasan bisa terdengar suara perkawinan di dekat air. Tidak ada silsilah di antara anjing-anjing liar sehingga seekor anjing jantan hitam terjerat bersama seekor anjing betina putih. Aku berhenti dalam perjalanan ke tenda untuk mengamati anjing berkawin untuk sesaat.

 

“Mereka sepertinya lebih baik dariku dalam hal itu ……”

 

Gumamku pada diriku sendiri. Menurut sebuah dekrit lama, utusan dengan tugas untuk menyatakan perang tidak diizinkan untuk memiliki pengawal atau pembantu yang dibawa.

 

Begitu aku berbalik dan menatap ke tempat yang jauh di belakangku, aku bisa melihat ribuan bendera berkibaran karena angin. Tempat itu tampak seperti sebuah pulau yang terdiri dari demon. Melihat sisi yang berlawanan, ribuan bendera melambai di sana juga, dan sepuluh ribu manusia berkumpul dalam satu garis, membuat mereka tampak setinggi sebuah pulau. Karena rasanya aku memiliki samudera eksklusif di antara kedua pulau tersebut, rasanya sangat berlebihan.

 

Hampir tidak ada sesuatu di dalam tenda. Dua kursi kayu yang dicat putih, dan satu meja yang tentu saja juga dicat putih. Hanya tiga benda yang ditempatkan di sini. Aku duduk di salah satu kursi dan diam menunggu utusan manusia.

 

Seperti angin musim semi, utusan manusia memasuki tenda.

 

“……”

“……”

 

Mata kami bertemu. Aku menggerakkan kepalaku dan mengangguk lebih dulu. Gadis itu juga membalas anggukan ringan. Gadis berambut perak tersebut duduk di kursi di seberang meja. Dalam sekejap, aku tahu bahwa dia adalah Elizabeth Atanaxia Evatriae von Habsburg, Putri Kekaisaran.

 

Putri Kekaisaran membawa sebuah paket. Hal yang dia keluarkan dari paket itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak aku duga. Itu papan Go. Di dunia ini, itu adalah papan permainan yang terkadang disebut sebagai Bendera Hitam dan Putih. Setelah mengambil papan Go dan sebuah wadah berisi potongan-potongan batu, Putri Kekaisaran meletakkannya di atas meja.

 

“……”

 

Aku menatap kosong pada Putri Kekaisaran.

 

Putri Kekaisaran meraih segenggam batu putih dan kemudian mengangguk ke arahku. Dia ingin menentukan siapa yang akan jalan terlebih dahulu dan jalan setelahnya.

 

—Apakah kau menduga hal ini?

 

Aku tertawa terbahak-bahak. Niat di balik isyarat humor ini tampak jelas. Putri Kekaisaran sedang mencoba untuk menguji kecerdasanku sekarang. Jika aku menampilkan kemampuan yang lebih rendah dari ekspektasinya, maka Putri Kekaisaran kemungkinan besar akan mengabaikan keberadaanku dan tidak menganggap seseorang seperti diriku sebagai individu untuk dinegosiasikan. Bahkan jika aku ingin menggertak dengan meneriakkan ‘Tindakan bodoh apa ini?’, Aku akan mendapatkan hasil yang sama.

 

Betapa menyenangkan.

Betapa sangat menyenangkan.

 

Aku mengambil satu batu hitam dan meletakkannya di atas papan Go. Ini mewakili angka ganjil. Putri Kekaisaran menunjukkan jumlah batu yang ada di tangannya. 3. Memang, itu angka ganjil. Karena aku telah menebak dengan benar apakah jumlah batu yang ada di tangannya genap atau ganjil, aku bisa jalan pertama. Konsep batu hitam melakukan jalan pertama sementara batu putih jalan setelahnya, sama di dunia ini juga. Namun, tidak ada komi di sini. Siapa pun yang mengambil batu hitam dan mendapatkan inisiatif akan memiliki keuntungan absolut.

(Catatan TL: Komi dalam game Go adalah poin yang ditambahkan ke skor pemain dengan batu putih sebagai kompensasi untuk bermain kedua.)

 

Dan dengan demikian.

 

Aku adalah orang yang jarang pernah kalah setelah meraih batu hitam.

 

 

 

— Tack.

 

 

 

Aku meletakkan langkah pertamaku.

 

Batu hitam yang kutaruh membuat suara yang ringan.

 

Melihat permukaan papan Go yang mulus, terbukti kalau ini adalah papan yang dinikmati oleh Putri Kekaisaran. Kemungkinan besar dibuat dengan menggunakan kayu yang cukup mewah. Suaranya memuaskan.

 

“……”

 

Putri Kekaisaran menatap papan Go dengan hening.

 

Langkah pertamaku berada di pojok kiri atas papan.

 

Dengan melakukan langkah pertama seseorang di pojok kiri atas papan, itu mirip dengan tindakan yang dengan berani memberikan jari tengah ke lawan. Dalam permainan Go, di mana ada penekanan pada etika, ini adalah langkah yang sangat sulit untuk ditolerir. Tidak salah untuk menyebut ini deklarasi perangku. Sambil menggerakkan batu di tangannya, Putri Kekaisaran membuat langkahnya.

 

 

 

— Tuck.

 

 

 

Kali ini, giliranku untuk diam.

 

Lokasi di mana Putri Kekaisaran meletakkan batunya berada tepat di pusat papan Go, dengan kata lain, sebuah cheonwon.

(Catatan TL: Nama gerakan ini disebut ‘cheonwon’)

 

Jika aku ingin menguraikan maknanya, maka tidak salah jika mengatakan bahwa sebagai respons terhadap jari tengahku, Putri Kekaisaran telah memberikan diriku dua jari tengah.

 

“……”

 

Kepalaku menjadi dingin. Meskipun mungkin menjadi masalah yang berbeda jika batu hitam diletakkan sebagai cheonwon. Sebuah cheonwon dengan batu putih? Bahkan jika seorang pro bermain melawan anak berusia 7 tahun, mereka tidak akan pernah melakukan tindakan yang bodoh seperti ini. Bahkan dari ayahku sendiri, aku sama sekali tidak diremehkan seperti ini.

 

Baiklah.

 

Ini akan menjadi pertarungan anjing.

 

Langkah pertama ada di kiri atas, dan langkah kedua adalah cheonwon. Kebahagian ini bukannya luar biasa? Sesuatu seperti sopan santun dan kontemplasi di papan Go harus didorong ke dalam sekelompok seekor babi betina.

 

 

 

— Tack.

 

 

 

Kali ini, aku sengaja meletakkan batuku dengan tenang di tikungan ketiga. Kepalaku semakin dingin saat kemarahanku meningkat, itu merupakan kebiasaan utamaku. Putri Kekaisaran pasti juga sama, karena batu yang diletakkannya di tikungan keempat hening dan lokasi yang dia tempatkan cukup logis. Konfrontasi kekanak-kanakan telah berakhir. Dalam sekejap, kami terbenam di medan perang pada papan.

 

 

 

— Tack.

 

— Tuck.

 

 

 

Perang dimulai dari kanan atas papan dan perlahan menyebar ke tengah. Aku berfokus pada penyerangan, sementara Putri Kekaisaran tetap bertahan. Sementara aku menyerang untuk menembus daerah pusat, Putri Kekaisaran membangun sebuah benteng di tengah dan bertahan untuk mengamankan wilayah di sekelilingnya. Aku, yang mencoba untuk memulai perkelahian, tidak mundur, dan Putri Kekaisaran, yang menerima pertempuran tersebut, tidak mengundurkan diri. Sebuah pertengkaran terjadi secara alami.

 

Sementara aku menekan pertarungan di bagian kiri atas papan, pada saat yang tidak terduga, aku akan menyerang dengan gelombang dari arah yang berbeda. Setiap kali aku melakukannya, Putri Kekaisaran dengan tenang menghadapi seranganku. Terkadang, ketika aku mengandalkan teknik Go modern untuk bergerak, Putri Kekaisaran memiringkan kepalanya.

 

“……”

 

Akhirnya, setelah setiap 10 sampai 20 putaran, tangannya akan berhenti dan pergi ke dagunya. Setiap kali ini terjadi, Putri Kekaisaran akan menatap papan tersebut untuk jangka waktu yang sangat lama. Karena tidak ada peraturan waktu, Putri Kekaisaran bisa memikirkan selama yang dia inginkan.

 

Akhirnya, setelah 30 sampai 50 menit telah berlalu, Putri Kekaisaran akan melawan langkahku. Meskipun aku tidak yakin apakah itu gaya masa lalu Go atau tidak, aku setidaknya yakin bahwa langkah tersebut bukanlah taktik Go modern. Meski demikian, karena sesuai dengan naluri, itu mengandung prinsip yang sulit.

 

Putri Kekaisaran menghidupkan kembali batu yang telah aku bunuh, menutup batu yang telah aku tempatkan, dan memanfaatkan batu yang telah aku buang. Aku mencuri batu yang dicuri oleh Putri Kekaisaran, menyerang wilayah yang dikepung Putri Kekaisaran sebagai pijakannya, dan menjarah bagian belakang yang telah dibuat Putri Kekaisaran. Kami tidak menyerah sedikitpun. Tidak ada yang mempedulikan dan tidak ada rasa peduli.

 

Terkadang, ketika Putri Kekaisaran meletakkan batu putihnya, dia akan secara tidak sadar bertanya kepadaku tentang langkahnya.

 

 

 

— Jika segini banyak, apakah tidak cukup untuk mengudurkan diri?

 

 

 

Pada saat itu, aku akan meletakkan batu hitam di samping yang lain tanpa emosi di wajahku. Setiap kali pihak oposisi akan membuat permintaan halus untuk menciptakan jarak, aku segera bergegas masuk. Bahkan jika aku menerima kerugian atas tindakan semacam itu.

 

Meskipun ini mungkin juga merupakan masalah untuk menang atau kalah, pada saat yang bersamaan, juga jenis percakapan. Aku ingin menanggapinya.

 

 

 

— Bertolak.

 

 

 

Memang, Putri Kekaisaran menanggapi dengan wajah tanpa emosi juga. Dia mengulangi saran yang sama dua kali dan aku tidak menyerah. Pada giliran berikutnya, dan giliran berikutnya, saat peperangan berlanjut, Putri Kekaisaran dan aku saling berdiskusi satu sama lain.

 

 

 

— Yah, pihakmu akan berada di pihak dirugikan ……

— Itu yang kau pikirkan. Aku ingin tempat ini.

— Orang biasa tidak dapat memperoleh setiap lokasi yang mereka inginkan. Menyerahlah.

— Itu biasanya bagaimana orang yang tidak kompeten menghibur seseorang.

— Aku menyesal untuk memberitahumu, tapi aku bukan orang yang tidak kompeten.

— Dan aku juga, bukan orang biasa. Aku minta maaf.

 

 

 

Babak kedua.

 

Tanganku berhenti di udara dengan batu di genggamanku.

 

“……”

 

Sampai sekarang, aku telah mendapatkan kesenangan layak dengan memanfaatkan Go modern. Namun, Putri Kekaisaran telah menciptakan tindakan balasan baru di tempat dan membalas langkahku. Pada saat tertentu, aku mulai perlahan kehilangan jalan yang bisa aku jalani. Pertarungan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Go manual sedang berlangsung di papan yang berada di hadapanku.

 

Tanpa diragukan lagi, aku telah mengambil keuntungan pada pertengahan awal pertempuran. Aku telah berjuang dan menang. Meski begitu, begitu kami sampai di titik tengah pertandingan, Putri Kekaisaran menyeret permainan ke sebuah kabut. Kedalamannya bukanlah pengalamannya, tapi sebaliknya, itu murni kepalanya, kreativitasnya, dan juga dari segalanya, itu merupakan intuisinya yang menyeret pertandingan tersebut ke rawa di bagian bawah. Putri Kekaisaran, yang tidak tahu siapa Go Seigen, tidak tahu siapa Bamboo Grove itu, dan tidak tahu apa-apa tentang Lee Chang-Ho, bisa menjatuhkanku ke dalam lubang.

(Lihat: Go Seigen dan Lee Chang-ho Sanae, juga dikenal sebagai Bamboo Grove, tidak memiliki halaman wiki, tapi dia telah memenangkan kejuaraan Go nasional 2005 di Korea Selatan. )

 

Setelah titik tengah pertandingan, aku sering terpikir. Pernapasanku menjadi lebih tidak terkendali saat lumpur naik. Untuk menangani pernapasan yang berat tersebut, aku menahan napas untuk jangka waktu yang lama dan mengembuskan napas dalam-dalam. Aku harus menginvestasikan lebih dari dua kali lipat, tiga kali lipat jumlah waktu dari yang dibutuhkan Putri Kekaisaran untuk melakukan langkah selanjutnya.

 

 

 

— Apa masalahnya?

 

 

 

Tanpa ragu sedikit pun, Putri Kekaisaran meletakkan langkah berikutnya begitu aku meletakkan batuku. Dia menekanku dengan kuat. Dia memprovokasi dan mengejekku.

 

 

 

— Tampaknya semangatmu tiba-tiba mereda. Di mana semua seranganmu, yang telah kau lakukan dengan sangat hati-hati sejak awal, menghilang? Sudahkah kau kehabisan tipu muslihat? Sudahkah kau sampai di dasar skema pintamu? Betapa mengecewakannya. Kau jenius hanya dengan kecerdasan yang cemerlang. Ada banyak jenius seperti itu sepanjang sejarah.

— · · · · · · · .

 

 

 

Aku tidak menanggapi provokasi tersebut.

 

Aku membungkuk dan membungkuk lagi.

 

Bahkan jika Putri Kekaisaran membuatnya bergerak dalam sedetik, bahkan jika dia dengan sengaja mengganggu wilayahku, aku tidak memperhatikan diriku dengan semua itu dan hanya mempertimbangkan pandangan yang ada di papan. Tidak ada batasan waktu. Itu merupakan kepercayaanku untuk memanfaatkan kondisi yang bisa digunakan.

 

 

 

— Betapa hambarnya.

— · · · · · · · .

— Cobalah memberikan respons yang lebih lucu. Bukannya game ini menjadi menyenangkan bagi kita berdua setelah sekian waktu yang lama? Ayo, oh Demon Lord. Semangatmu dan semangatku, mari kita tentukan sisi mana di antara keduanya yang lebih kuat. Bukankah itu juga dianggap kesenangan Go?

— · · · · · · · .

— Lihat di sini.

 

 

 

Aku meringkuk. Aku hanya meringkuk.

 

Tidak apa-apa mengutukku dan mengatakan kalau aku membosankan. Tertawakan aku sesukamu.

 

Tidak ada awak perahu yang akan melawan gelombang yang mengamuk. Seorang awak perahu akan menyelaraskan getaran gelombang dengan gemetar busur dan menghindari ancaman langsung. Alasannya sederhana saja. Awak perahu menyeberangi lautan untuk sampai di darat, mereka tidak pergi ke laut untuk berperang melawan lautan. Pada akhirnya, seseorang dengan tujuan, orang yang diberi arahan dalam hidup, tidak akan lengah saat dihadapkan oleh provokasi. Mereka hanya mengalir.

 

Dan akhirnya.

 

 

 

— · · · · · · · .

— · · · · · · · .

 

 

 

Ucapan telah hilang dari Putri Kekaisaran dan diriku sendiri.

 

Hasutan, ejekan, dan bahkan konfrontasi tidak lagi bolak-balik di antara kami. Aku bertahan sambil membungkuk, dan Putri Kekaisaran bertahan sambil meringkuk. Kami berdua tiba pada saat yang menyedihkan. Tidak ada kecerdikan atau intuisi di sana. Tidak ada pengalaman atau logika. Karena hanya selisih waktu, yang harus kami tahan sampai akhir, tetap, kami berdua tetap terhasut. Itu bukan waktu yang mengalir, tapi waktu yang menyambar terus dan ditarik.

 

Mengapa kami harus terus meletakkan batu.

Hanya ada satu alasan.

Hanya untuk menang.

 

Begitu pertarungan di papan, yang tadinya merupakan kompetisi untuk meraih kemenangan dan juga jenis percakapan, sudah sampai pada tahap terakhir, hanya tersisa pertandingan untuk menentukan pemenang. Kami telah kehilangan makna di balik semua percakapan heningnya yang telah kami bagikan sampai sekarang. Tidak, kami bahkan tidak bisa mengingatnya dengan benar sekarang. Hanya papan Go yang ditempatkan di depan kami yang berada di depan mata kita.

 

Ini akhirnya.

Ini adalah akhir permainan tanpa kemenangan atau gangguan.

Ini adalah langkah penutup yang bergerak sesuai urutan akhir yang ditentukan.

 

 

 

— Tack.

— Tuck.

— Tack.

 

 

 

“……”

 

Putri Kekaisaran menghentikan tangannya.

 

Ronde ke-252.

 

Jari-jarinya yang ramping, yang memegangi batu putih, melayang di udara. Seakan waktu di jarinya tertangkap di jaring, berhenti di tempat. Waktu berlalu cukup lama. Putri Kekaisaran mengangguk, lalu memindahkan tangannya ke arah wadah Go.

 

Clack clack clack.

 

Putri Kekaisaran menjatuhkan tiga sampai empat batu di atas papan sekaligus.

 

Bulgye ( 不 計 )

(Catatan TL: Tidak ada hitungan poin karena permainan satu sisi. Sama dengan mengatakan ‘permainan bagus’.)

 

Itu merupakan sebuah pernyataan yang mewakili seseorang menyerang.

 

“……”

 

Aku mengambil dua batu hitam dan meletakkannya di atas papan.

 

“……”

 

Begitu aku melakukannya, Putri Kekaisaran mengambil dua batu putih dan meletakkannya di bawahnya. Aku telah mengajukan pertanyaan kepadanya. Jika aku menang dengan 2 poin. Putri Kekaisaran kemudian menegaskan kalau aku memang menang dengan selisih 2 poin. Dengan hati-hati aku mengangguk. Jadi aku menang 2 poin, ya?

 

Setelah menyingkirkan semua batu tersebut, kami menghidupkan kembali perang sejak pertama dimulai. Kami meninjau kembali langkah yang telah kami lakukan. Meskipun sudah jelas, Putri Kekaisaran dan aku ingat dengan jelas setiap langkah yang telah kami lakukan sejak awal sampai akhir. Tidak ada halangan dalam menghidupkan kembali segalanya.

 

“Kenapa kau meletakkannya seperti ini di sini?” [Elizabeth]

“Karena kau terus berpegangan padaku, aku memutar-mutarnya di sekitar untuk membingungkanmu.” [Dantalian]

“Aah, jadi kau benar-benar mencoba melakukan itu. Aku meragukan karena tindakan acak tersebut. Aku sedikit panik karena aku mengira kau mungkin berniat untuk nekat.” [Elizabeth]

“Bagaimana denganmu? Kenapa kau membentangkan punyamu di sini seperti ini? Dari apa yang bisa aku lihat, bukannya menaklukkan kanan bawah akan menjadi pilihan yang bijaksana ……? “[Dantalian]

“Bukannya sudah jelas? Jika aku meletakkan batu di bawah sana, maka bentuknya akan mengalir seperti ini …… ” [Elizabeth]

“Aah. Kau khawatir semua batumu di bagian bawah akan hilang. ” [Dantalian]

“Begitulah. Jika memungkinkan, aku ingin membiarkan tempat itu.” [Elizabeth]

“Tunggu. Jika aku bermain di sini, lalu apa yang akan terjadi?” [Dantalian]

“Mm. Bukannya akan menjadi pergerakkan dengan denyut nadi yang buruk? “[Elizabeth]

“Nadi yang buruk? Tunggu sebentar. Jika aku memotongnya di sini maka …… ” [Dantalian]

“Sudah kubilang itu benar-benar langkah yang buruk. Perhatikan baik-baik, batu yang memiliki kesulitan bertahan di tengah …… ” [Elizabeth]

Saat waktu review kami telah berakhir.

 

Aku mendongak ke langit secara kebetulan dan menyadari bahwa sudah gelap gulita. Itu aneh. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa kami ketahui saat matahari terbenam. Begitu aku merasakan lingkungan sekitar, aku menyadari kalau kami sedang melihat papan Go sambil mengandalkan sinar bulan. Aku menarik alisku dan menatap Putri Kekaisaran. Seperti yang diduga, Putri Kekaisaran juga dengan rapi merajut alisnya. Pihak lain merupakan orang asing, namun juga tidak terasa asing. Rasanya seakan kami telah mati dan bangkit kembali.

 

“……”

“……”

 

Kami berdua berdiri dari kursi kami. Sama seperti yang kami lakukan saat pertama kali tiba, kami pergi tanpa berbagi satu kata pun juga. Kenyataan kalau kami telah mendiskusikan banyak hal saat meninjau masih dipertanyakan.

 

Ada kegemparan saat aku kembali ke perkemahan Pasukan Sekutu Demon Lord. Mereka penasaran dengan negosiasi macam apa, yang mengharuskan aku terjebak di tenda dari fajar sampai senja, dihasilkan. Aku tidak dapat memberikan tanggapan apapun kepada Demon Lord yang menanyakan apakah perang telah ditentukan, atau jika sebuah kesepakatan gencatan senjata tercapai. Barbatos, dengan wajah yang tampak seperti sedang menatap orang paling aneh di dunia, bertanya kepadaku.

 

“Apa yang terjadi? Pembicaraan macam apa yang kau lakukan di sana?”

“…… Tidak, belum ada yang beres. Akan ku beri tahu begitu semuanya sudah diputuskan.”

“Kalau begitu kapan akan ditentukannya? Besok?”

 

Aku memiringkan kepalaku.

 

“Mungkin lusa? Sekitar saat itu.”

“Maksudku, hal bagus kalau kau melakukan pertemuan dengan sungguh-sungguh, tapi kenapa kau perlu bernegosiasi selama tiga hari berturut-turut dalam situasi di mana tidak ada pilihan selain perang?”

“Aku belum yakin, jadi jangan bertanya.”

 

Demon Lord tampak terpukau. Bagaimana pun juga, karena aku benar-benar tidak tahu, aku tidak dapat memberikan tanggapan yang tepat. Sebagai kesimpulan, secara resmi diputuskan bahwa negosiasi akan berlanjut besok dan lusa.

 

Aku menghindari pertanyaan dari Demon Lord yang lain dan kembali ke markasku. Seperti biasa, Lapis mendidik Farnese di markas kami. Farnese sedang belajar berbicara sambil membacakan dengan keras tulisan yang tertulis di selembar kertas. Dia memiliki kepala yang bagus di pundaknya sehingga dia bisa mengingatnya dengan mudah, tapi nadanya saat memberikan pidato dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu belum sempurna. Nah, semuanya kemungkinan besar tidak sempurna di mata Lapis. Aku membuat mereka menghentikan latihan mereka sejenak dan berbicara.

 

“Farnese, apa mungkin kau tahu cara bermain Bendera Hitam dan Putih?”

“Maksud Anda Go? Meskipun gadis ini mungkin telah membaca banyak rekaman pertandingan Go, gadis ini tidak pernah memainkannya sendiri. Sebagian besar waktu, gadis ini hanya menikmati membaca catatannya sendiri.”

“Mm. Dan kau, Lapis?”

“Hamba juga tidak punya pengalaman. Apakah ada masalah?”

“Tidak, bukan apa-apa. Kau boleh lanjut berlatih.”

 

Aku duduk di sudut ruangan dan terus menatap ke ruang kosong. Pertandingan yang aku mainkan tadi terus melayang-layang di kepalaku. Itu bukan sesuatu yang didorong oleh bentuk batu belaka. Di papan tersebut, suasana tertentu, atau sesuatu yang mirip dengan suasana hati, jelas terbentuk di sana. Namun, tidak peduli berapa banyak aku mencoba mengingat bentuk itu, tidak ada yang bisa digenggam dengan jelas.

 

Sesekali, aku bisa mendengar suara Lapis yang memarahi Farnese. Aku memejamkan mata dan melihat kembali papan Go. Namun, satu-satunya hal yang muncul dalam pikiranku adalah jari-jari ramping Putri Kekaisaran Elizabeth. Meski entah bagaimana terasa ada titik kunci di sana, sulit dipercaya kalau ada semacam titik tersembunyi di balik jari-jari tersebut. …… Sungguh, ada banyak kejadian aneh di dunia ini. Gumamku pada diriku sendiri.

 

Besok, Putri Kekaisaran kemungkinan besar akan mendapatkan langkah pertama sementara aku langkah kedua.

 

Kemungkinan aku akan kalah.

 

Itu pikiran terakhir yang terlintas di pikiranku sebelum aku tertidur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

▯ Raja Rakyat Jelata, Peringkat ke-71, Dantalian
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 4, Hari 2
Polles, Dataran Bruno

 

 

 

Begitu ayam jantan berkokok saat fajar, aku berjalan ke dataran.

 

Di tenda, Putri Kekaisaran sudah tiba dan duduk di kursi.

 

“……”

 

Kami saling menyapa dengan ringan kali ini juga, berbeda dengan hari pertama di mana semuanya berakhir setelah saling mengangguk sedikit, kami berdua langsung menundukkan kepala saat ini. Kami tidak melakukannya dengan niat khusus untuk menunjukkan rasa hormat terhadap lawan. Itu hanya sopan santun yang secara alami keluar sendiri. Begitu aku mengangkat kepalaku, bahkan Putri Kekaisaran mengerutkan alisnya seakan ada sesuatu yang aneh.

 

“……”

 

Tiba-tiba, Putri Kekaisaran berdiri dan meraih pergelangan tanganku. Dia membalikkan tanganku bolak-balik dan memeriksanya, tapi semakin dia melihatnya, semakin alisnya mengerut. Aku tidak menghentikan Putri Kekaisaran, karena eksentrisitasnya, aku juga dapat dengan seksama mengamati jari-jari Putri Kekaisaran.

 

Tangan Putri Kekaisaran kasar. Pikiranku tetap mulus karena kekasaran tersebut. Aku mengerti kalau kekasaran tangan dan kehalusan pikiran sebanding satu sama lain. Itu merupakan kebenaran yang mengejutkan. Meskipun aku sebelumnya sadar akan kebenaran ini, rasanya baru pertama kalinya aku mengetahui hal itu. Sementara tangan kanan kami disambar dan saling meraih, kami saling menatap.

 

“……”

“……”

 

Memang ada sesuatu yang aneh. Meski aku tidak tahu apa yang aneh, ada yang aneh juga.

 

Mirip dengan kemarin, papan Go diletakkan di atas meja. Aku mengambil batu putih sementara Putri Kekaisaran mengambil yang hitam secara alami.

 

Hasilnya adalah kekalahanku.

 

Pada ronde 232, aku mengakui kekalahan Bulgy-ku. Tidak peduli seberapa banyak aku menghitungnya, aku berada pada posisi yang kurang menguntungkan dengan 1 poin. Gumamku terus terang.

 

“Apakah ini perbedaan 1 poin?”

“Ini adalah perbedaan 1 poin, jadi begitu.”

“Hm.”

“Apakah kau ingin meninjau ulang?”

“Meskipun aku ingin melakukannya ……”

 

Aku mendongak ke arah langit. Kami memulai pertandingan saat fajar, tapi seiringnya waktu, langit bersinar dengan matahari terbenam. Lebih banyak waktu yang terpakai dalam pertandingan hari ini dibandingkan kemarin. Baik itu Putri Kekaisaran atau diriku sendiri, kami tidak menggoda atau mengejek satu sama lain bahkan sekali pun, dan sebaliknya, menangani batu kami dengan sungguh-sungguh dari awal sampai akhir. Ini adalah keadaan di mana keahlian mengaggumkan dicari dalam pertandingan yang adil. Ditambah lagi, karena etos Putri Kekaisaran begitu antik bagiku, aku tidak mengenalinya, dan karena etosku aneh bagi Putri Kekaisaran, hal itu asing baginya. Karena langkahku yang adil menjadi tipuan baginya, dan keahliannya yang luar biasa menjadi langkah yang buruk bagiku, hal itu menjadi semakin sulit. Dengan demikian, tak terelakkan kalau banyak waktu yang terpakai.

 

“…… Kalau seperti ini terus, nampaknya negosiasi akan sia-sia hari ini juga. Ini meresahkan karena Demon Lord yang lain akan memanggangku tentang apa yang mungkin telah aku lakukan akan membutuhkan banyak waktu.”

“Sama saja di sisiku juga. Meskipun aku telah datang saat fajar dengan niat untuk santai melakukan negosiasi setelah menyelesaikan pertandingan Bendera Hitam dan Putih, aku tidak menyangka akan menghabiskan banyak waktu……”

“Ah, aku minta maaf. Aku pasti datang agak terlambat.”

“Tidak, tidak ada alasan untuk meminta maaf. Aku hanya tiba beberapa saat sebelum kau datang. Jumlah waktu yang aku tunggu kemungkinan besar bahkan tidak mencapai 20 menit.”

“Hm.”

“Mm ……”

 

Kami melihat bolak-balik antara papan Go dan wajah lawan. Kami tidak mengungkapkannya secara vokal, tapi kami berbagi pemikiran yang sama. Rasanya seperti etika yang tepat untuk menjadi orang pertama yang berbicara karena akulah kalah pada hari ini. Aku membuka mulutku.

 

“Putri Kekaisaran, kau tidak berniat untuk gencatan senjata, bukankah begitu?”

“Ah, aku memang tidak. Terserahlah.”

 

Tanggapan langsung.

 

Kami berdua menganggukkan kepala pada saat bersamaan.

 

 

 

“Kalau begitu kurasa kesepakatan sudah berakhir.”

“Bagus. Perjanjian sudah berakhir.”

 

 

 

Dengan begitu, negosiasi telah berakhir.

 

Bahkan tidak ada satu pun pun ketidakpuasan dari Putri Kekaisaran atau diriku sendiri. Sebuah negosiasi gencatan senjata yang telah berakhir dalam 5 detik setelah dimulai, apakah ini mungkin pertama kalinya dalam sejarah bahwa ini pernah terjadi? Apa pun itu, itu tidak masalah. Ada sesuatu yang lebih penting bagi kami saat ini.

 

“Mari kita tinjau pertandingannya.”

“Ok.”

 

Kami merevisi pertandingan sampai menjelang tengah malam. Beberapa kali, ejekkan kecil akan terungkap kapan pun pertanyaannya ‘apa yang akan terjadi jika aku menempatkannya seperti ini di sini?’, akan muncul. Kami mencoba untuk mencari tahu bagaimana melanjutkan dasar rasa ingin tahu kami untuk menjaga efek cheonwon sampai paruh pertengahan permainan. Sayangnya, jauh dari jawabannya, metode yang sampai pada solusi tidak muncul.

 

Hari ini juga, para Demon Lord menungguku dengan mata terbangun. Untuk pertanyaan tentang apa yang telah terjadi selama negosiasi hari ini, aku menjawab.

 

“4 jam dari sekarang, utusan manusia dan aku telah mengatur untuk bertemu sekali lagi pada subuh dini hari. Sebelum hari berakhir besok, tanpa kegagalan, aku berencana untuk menentukan apakah kita akan menghentikan negosiasi atau mencapai kesepakatan.”

 

Meskipun aku telah melakukan negosiasi sejak fajar hari ini, Demon Lord yang lain terkejut dengan pernyataanku kalau aku akan melanjutkan sisa konferensi pada pukul 4 pagi besok. Di antara mereka, beberapa Demon Lord bahkan memujiku karena aku berperilaku sangat tidak biasa untuk terlihat dengan sungguh-sungguh dan tulus.

 

Tentu saja, negosiasi sudah berakhir. Kami berdua sama sekali tidak memiliki niat sedikit pun untuk mengakhiri perang. Ada kebutuhan bagi kami untuk melaksanakan pertandingan terakhir kami hanya karena catatan pertandingan kami saat ini dalam keadaan imbang 1: 1. Tidak masalah apa yang terjadi, ini adalah pertandingan yang mutlak harus dilakukan.

 

Takut bahwa aku mungkin bisa dikalahkan karena kurang tidur, aku langsung tidur saat aku memasuki markasku. Meskipun Farnese telah memanggilku dan memintaku untuk segera melakukan sesuatu tentang Lapis, aku mengabaikannya. Urus pendidikanmu sendiri.

 

Tuan ini memiliki pertandingan paling penting dalam hidupnya yang ditempatkan di hadapannya sekarang juga, Nak. Jangan ganggu dia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Update Part 2/3. Besok lanjutannya.


Sebelumnya | Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻