Dungeon Defense Vol 4 – Bab 2 Part 3

Oleh Alone of Nyx on July 11, 2018

Dungeon Defense: Volume 4 – Bab 2 (Part 3) Bahasa Indonesia


Bab 2 – Engkau Datang kepadaku (Part 3)

 

Demon Lord Keabadian, Peringkat 8, Barbatos
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 4, Hari 7
Dataran Bruno, Sayap Kanan Pasukan Aliansi Bulan Sabit

Ο

Aaah Ini tidak menyenangkan.

Ini sungguh, sungguh tidak menyenangkan⎯⎯⎯.

Dari awal sampai akhir, perang ini belum berjalan seperti yang aku inginkan.

Kami telah berhadapan dengan Tentara Kekaisaran Habsburg sejak beberapa hari yang lalu, tetapi mereka tidak bergerak seperti yang aku inginkan.

Apakah mereka mengatakan namanya adalah Putri Kekaisaran Elizabeth? Orang ini, dia tidak maju dengan gegabah bahkan jika kita mengacaukannya, dan dia selalu maju setelah kami sungguh-sungguh ingin mundur. Dia berpengalaman dengan dasar-dasar taktik.

Musuh yang kedengarannya merupakan salah satu eksistensi yang paling menjijikkan di luar sana, setelahnya merupakan sekutu yang rapuh. Mmmm. Aku memprediksi ini akan menjadi perang berkepanjangan······. Yah, kami bisa bertahan dengan menjarah persediaan apa pun yang kita kurang. Itu bukan masalah istimewa. Seperti yang aku duga, ini kurang ledakan, perasaan eksplosif yang luar biasa.

Bagaimanapun juga, kami tidak bisa mengabaikan tentara kekaisaran dan membiarkan mereka. Kami melakukannya beberapa kali sebelumnya, tetapi setiap kali aku menyaksikan mereka dari samping, mereka benar-benar mendatangkan malapetaka. Fraksi Gunung dan Fraksi Netral telah dikalahkan oleh Putri Kerajaan Elizabeth sekali. Sialan. Dunia yang sangat penuh sesal ini. Aku satu-satunya sekutu yang dapat diandalkan di sini.

·····Tidak, jika kita hanya akan berdalih tentang reliabilitas, maka haruskah aku juga mengakui bahwa manusia tersebut jalang?

Laura De Farnese.

Gadis itu, yang dibawa Dantalian dari entah berantah dan tiba-tiba ditunjuk sebagai Jenderal penggantinya, pasti mirip dengan majikannya persis sekali karena ketidaksopanannya sangat tepat.

Dia tidak akan serius berperang. Ini adalah sesuatu yang bisa kau katakan ketika kau melihatnya. Gadis itu menikmati perang.

Dia bisa saja menarik musuh dan memusnahkan mereka dengan mudah, tetapi dia hanya akan menyiksa mereka selama 3 jam dan kemudian membiarkan mereka pergi. Alasannya mungkin sederhana. Itu karena akan sia-sia jika dia menelannya langsung begitu saja. Niatnya, untuk mengoyak mereka sedikit demi sedikit dan melecehkan mereka sampai mereka kering kerontang, memancar darinya seperti asap yang membubung. Sebagai komandan militer terhormat, aku bisa menyatakannya.

Dia sampah⎯⎯.

Sungguh sampah⎯⎯.

Untuk alasan apa bahkan para pengikut Dantalian penuh dengan sampah? Orang-orang mengatakan kalau tuan dan pelayan biasanya mirip, dan ini persis seperti itu. Kita harus membasminya nanti, tetapi si jalang Paimon terus-terusan ikut campur.

“Haaa.”

Sebuah desahan keluar dengan sendirinya.

Aku harus memusnahkan ras manusia, aku harus memusnahkan pasukan musuh, aku harus membunuh Paimon, dan aku harus menanamkan beberapa sopan santun yang pantas ke Dantalian, ada begitu banyak hal yang harus aku lakukan, namun waktu terus berlalu dengan perlahan. Kalau begini terus, aku takut hal-hal seperti ini akan tetap terjadi bahkan setelah 500 tahun berlalu.

Nah, perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah. Jika kau mengecualikan fakta kalau satu langkah itu sangat melelahkan. Dengan mata yang sangat lelah, aku menatap ke garis depan dan memikirkan di mana kami harus pergi untuk bertarung.

Pada saat itu juga.

“······?”

Satu pasukan dalam Aliansi Bulan Sabit mulai bergerak. Setelah menggunakan sihir untuk meningkatkan penglihatanku, aku bisa melihat bendera hitam dengan dua garis yang tertulis di atasnya menggunakan benang perak.

Ο

Otoritas untuk darah.

Darah untuk otoritas.

Ο

Tidak diragukan lagi, pepatah murahan tersebut hanya dimiliki seseorang, Dantalian. Dengan kata lain, itu berarti jalang manusia telah membuat pasukannya maju.

Mereka merangkak sampai ke tengah dataran dan secara terbuka mulai meletakkan pagar kayu di sana. Haruskah aku menyebutnya posisi bertahan? Bagaimanapun juga, tanahnya lemah karena hujan turun selama beberapa hari, jadi bahkan jika mereka mendirikan pagar di sana, pagar-pagar itu ditakdirkan untuk segera runtuh. Di tengah lapangan, yang benar-benar kosong, pasukan anak manusia tersebut mulai mengatur posisinya.

“······haah? Sialan. Apa yang mereka coba lakukan?”

Aku berbalik dan bertanya. Para Demon Lord dari Fraksi Dataran berdiri di sana. Bawahanku saling bertukar pandang satu sama lain tetapi mereka tidak bisa berkata apa-apa. Itu sudah jelas. Tidak ada seorang pun yang cukup waras untuk bisa menafsirkan tindakan absurd semacam itu dalam faksi kami.

“Jalang macam apa sebenarnya jalang itu? Aang? Apakah dia benar-benar melihat medan perang sebagai semacam taman bermain? Jika tuannya ada di penjara, maka dia seharusnya jinak, tapi kenapa dia menjadi gila dengan sendirinya?”

“······.”

Bawahanku dengan ragu mencoba menghindari menjawabnya. Namun, karena ada seseorang di antara mereka yang memiliki kepala waras, atau setidaknya, mencoba untuk tetap waras, dia berbicara dengan suara penuh kecurigaan.

“······Meskipun aku khawatir untuk menilai niat seseorang dengan gegabah, tidak peduli bagaimana kau melihatnya, bukannya mereka mencoba untuk memprovokasi pasukan musuh?”

“Memprovokasi?”

“Ya. Selama beberapa hari terakhir, sejumlah besar pasukan manusia telah dikalahkan oleh mereka. Setelah mengalami kekalahan dari seorang gadis, yang  berumur tidak lebih dari 17 tahun, pasti sulit bagi mereka untuk menanggung hal tersebut karena rasa kebanggaan yang kuat pada manusia. Jika mereka memprovokasi manusia dengan berani seperti itu, maka bahkan jika itu membahayakan martabat mereka, manusia tidak akan memiliki pilihan lain selain menyerang.”

Hmm

Ini bukan logika yang benar-benar konyol.

Masalahnya adalah jika provokasi itu benar-benar berfungsi dengan baik. Terlepas dari penampilan mereka, manusia memiliki pasukan yang sangat besar, ratusan ribu. Mereka mengatakan kalau sejumlah besar pasukan mereka bercampur dengan kelompok-kelompok sampah, tetapi itu juga sama halnya dengan pihak kita. Bahkan jika ada kelompok-kelompok sampah yang bercampur dengan kekuatan manusia, sudah jelas kalau pasukan gadis itu yang berjumlah 7.000 mungkin tidak akan bisa bertahan jika pasukan besar dari seratus ribu mendekati mereka.

Bagaimanapun juga, berkat dia bergegas ke depan seperti itu, pasukan kami yang lemah, yang dihubungkan oleh sayap kanan-pasukan pusat-sayap kanan, telah hancur berantakan. Jika lubang terbentuk di pusat pasukan begitu saja, maka orang-orang yang harus menanggung beban adalah kita karena kita menahan sisa formasi.

Aaah······. Terpaksa. Karena itu merepotkan, aku menggerakkan tanganku dengan setengah hati.

“Oi, bersiaplah untuk mengisi lubang yang akan ditinggalkan oleh si jalang itu. Zepar, pimpin pasukan cadangan kita dan bersiaplah untuk pindah ke pusat jika perlu.”

“Ya, Yang Mulia.”

Ribuan tentara cadangan di bawah komandoku segera berangkat. Bagian dalam mulutku terasa pahit. Namun, itu lebih baik untuk mengurangi kekuatan militer kita jika itu berarti kita bisa mencegah pasukan pusat runtuh.

Setelah menyimpulkan keputusan seperti itu, aku baru mau menjalankan strategi hari ini yang berada di kepalaku, tetapi, menetes, sesuatu jatuh ke leherku. Dingin sekali. Begitu aku melihat ke arah langit, beberapa tetes hujan mulai turun. Itu jatuh kemarin dan sehari sebelumnya, membuat hujan awal musim semi hanya terasa melelahkan sekarang.

“······?”

Tunggu.

Hujan?

Pendorong menggunakan hujan?

⎯⎯⎯⎯Pikiranku langsung tercerahkan.

Bagaimanapun juga, bumi terus menyerap kelembaban karena hujan sepanjang waktu ini. Beberapa tempat di seluruh medan perang dilalap air berlumpur. Jika hujan turun di sini sekali lagi, maka entah itu pasukan manusia atau kita Aliansi Bulan Sabit, jumlah taktik yang bisa kita gunakan akan sangat dipersempit. Terutama dalam hal penyerangan dan bukan pertahanan. Aku mengerutkan alisku dan memelototi pasukan gadis yang, berada di sana, selesai membangun formasi pertahanan mereka jauh ke garis depan.

“······Jangan bilang, mereka?”

Pada saat itu, suara terompet bergema dengan riuh dari sisi lain dataran. Begitu aku menoleh, tentara manusia akhirnya melakukan serangan. Karena hujan, mereka mengisi posisi kavaleri di depan, bukan aerial mage. Setelah menyaksikan hal itu, setiap bagian dari rasa kantuk yang tersisa di dalam diriku telah lenyap sepenuhnya dan aku berdiri dari tempatku.

“Ah, sialan. Pelacur itu memulai sesuatu.”

“Maaf?”

Tatapan bawahanku semua terfokus padaku sekaligus. Meskipun aku benar-benar tidak menyukainya. Meskipun aku benar-benar tidak suka pergi berperang sambil diseret, bukan dengan kemauanku sendiri, tetapi oleh orang lain, terlepas dari itu, aku harus memberikan perintah.

“Bersiaplah untuk pergi berperang, kalian orang bodoh! Ini pertempuran penghancuran. Pertempuran pengepungan dari pemusnahan! ”

Ο

Ο

Ο

Ο

Ο

Ο

Ο

Ο

Ο

Ο


Sebelumnya | Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻