Dungeon Defense Vol 4 – Bab 2 Part 5

Oleh Alone of Nyx on July 13, 2018

Dungeon Defense: Volume 4 – Bab 2 (Part 5) Bahasa Indonesia


Bab 2 – Engkau Datang kepadaku (Part 5)

 

Pedang Kesayangan Raja, Manusia, Laura De Farnese
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 4, Hari 7
Dataran Bruno, Pusat Pasukan Aliansi Bulan Sabit

Ο

Pertempuran telah memasuki tahap terakhir. Semuanya berjalan lancar.

Pihak kami mampu mengepung pasukan musuh di ketiga sisi. Meskipun pasukan musuh melakukan sebisa mereka untuk menembus unit pusat kami, itu tidak ada gunanya. Ada kalanya kami hampir dipukul mundur, tetapi pasukanku sangat elit. Formasi kami kembali normal dengan seketika dan membalasnya. Bisa dikatakan setengah proses pertempuran sudah berakhir sekarang.

“Mm.”

Demon Lord Barbatos dan Demon Lord Paimon. Para komandan kedua sayap masing-masing baru saja menyelesaikan formasi sayang burung bangau. Dengan ini, keunggulan pasukan kami telah berdiri pada landasan yang tidak dapat digoyahkan.

Jika musuh masih memiliki seluruh pasukan berkuda mereka, maka mereka bisa saja berbalik haluan. Namun, sebagian besar pasukan berkuda musuh gugur selama fase awal pertempuran. Tidak hanya itu tetapi tembok besar lumpur terbentuk di belakang mereka, begitu juga rute pelarian infanteri musuh telah disegel. Sekarang pasukan musuh tidak dapat bergerak maju, kiri, kanan, atau mundur. Situasi inilah yang disebut dengan dikepung dari segala arah.

Ο

— Wooooosh······.

Ο

Hujan lebat terus turun dan tidak menunjukkan pertanda untuk berhenti dalam jangka waktu dekat. Jarak penglihatan medan perang menjadi tertutup. Jarak pandang gadis ini tidak dapat melihat jauh-jauh dan terpaksa terhenti karena gangguan hujan. Di setiap lokasi gadis ini memandang, mayat musuh tergeletak di sana. Itu merupakan kematian yang seperti kejang-kejang, dan itu adalah kehidupan yang terasa seperti seseorang mengibaskan kejijikan mereka.

Para witch terkikik sambil kehujanan.

“Mahakarya. Ini adalah sebuah mahakarya. Lihat. Manusia sedang sekarat saat berenang di air kotoran. Pemandangan seperti ini sulit ditemukan!”

“Yup, sejak kita mulai mengikuti Tuan Dantalian, setiap hari sangat menyenangkan hingga menyulitkan untuk hidup. Sering kali para witch meratapi karena sulit bagi mereka untuk mati, tetapi suatu kejadian di mana mereka meratapi karena sulit bagi mereka untuk hidup sangatlah langka. Dalam hal itu, Tuan Dantalian adalah orang yang sangat hebat.”

“Alat bagian bawahnya besar juga.”

“Tungggu bentar. Semuanya berhenti. Bagaimana kau mengetahuinya? Jika aku tidak salah, maka nada suara itu hampir terdengar seolah kamu telah melihat tubuh telanjang Tuan sebelumnya.”

“Tidak, tidak, kak Humbaba. Itu kesalahpahaman. Tidak peduli sebanyak apa kita menempel pada Yang Mulia dan memohonnya untuk merasakannya, dia tidak pernah melimpahkan kepada kita anugerah sucinya. Namun, dalam hal observasi dan tidak menonton secara langsung, kita dapat melihatnya beberapa kali sebelumnya. Untungnya, kita kurang lebih mampu untuk mengamati alat master. ”

“Itu berarti kau mengintip!”

“Apa salahnya?”

“Menjarah sesuatu yang tidak kita punya dan mengintip pada sesuatu yang seharusnya tidak dilihat. Itu adalah harga diri yang terhormat dari para witch.”

“Jika aku mengingatnya dengan benar, maka kita adalah Royal Guard Tuan, dan jika aku belum menjadi gila, maka tugas dari Royal Guard adalah melindungi dengan mengamankan tubuh agung master, bukan? Tapi ketika kalian jalang berada di dekat master, tubuh agungnya jauh dari kata aman, apakah perasaan kalau tubuh agungnya jatuh lebih jauh ke dalam keadaan bahaya hanya imajinasiku?”

“Itu imajinasimu.”

“Kesalahpahaman yang keterlaluan.”

“Itu rumor tidak berdasar.”

“Kau benar-benar jalang gila! Aku mencintaimu, saudaraku!”

Ahahah, Kapten Royal Guard berpaling ke arah sini sambil tertawa.

“Yang Mulia, Jenderaaal pengganti, tolong beri kami perintah terakhir. Kami, setiap saat, siap untuk bergegas dan membantai mereka. Ini akan lebih mudah daripada, yah, hanya berburu sekelompok kalkun.”

Perintah untuk menyerang, kan?

Ucapan itu berarti kapten ingin memusnahkan pasukan musuh. Itu tidak aneh. Selama kau telah melangkah ke dalam medan pertempuran, sudah jelas kalau kau ingin kemenangan, dan selama kau mendapatkan kemenangan, wajar untuk menginginkan kemenangan total atau kemenangan besar. Namun, pertempuran bagi gadis ini merupakan sesuatu yang lain. Itu seni dan musik.

Bunga peperangan bukan berasal dari kemenangan atau kekalahan. Tangisan para prajurit ketika kemenangan mendekat, dan penderitaan para prajurit ketika kekalahan berada tepat di depan pintu rumah mereka. Itu adalah suara-suara yang menyublim perang ke dalam musik.

Agar hidup menjadi sebuah melodi, ia harus melintasi celah yang tak terhitung jumlahnya. Namun, di medan perang, masing-masing dan setiap kehidupan menjadi melodi dan irama. Apakah seseorang bisa mengerti ini atau tidak, itulah perbedaan yang menentukan antara para witch dan gadis ini.

“Yang Mulia?”

Gadis ini tidak menanggapi desakkan Kapten Royal Guard. Sebaliknya, gadis ini memejamkan matanya lebih dalam dan mendengarkan sekeliling sedikit lebih hati-hati.

Sekarang, dengarkan baik-baik.

Untuk lagu di tengah gemuruh hujan jatuh ke air berlumpur, melodi yang jelas mengalir di antara suara air tersebut——.

 

 

Aah.

Aah, aaaah.

Betapa indahnya.

Sungguh sangat indah.

“·········.”

Menggigil.

Gadis ini memeluk bahunya sendiri dan sedikit gemetar. Dengan hati yang diwarisi oleh Tuan dan dengan kepala yang diberikan kepada gadis ini oleh Tuan, gadis ini nyaris dapat mengenali keindahan tersebut.

Meskipun gadis ini kedinginan sampai tulang dalamnya karena hujan es, karena daging bagian dalam tubuh gadis ini sudah diisi sampai penuh dengan perasaan yang menyenangkan, menggigil karena kedinginan tidak mungkin dapat menggantikan gadis ini menggigil dan tidak ada celah lain yang dapat terisi, juga. Dengan gemetar, gadis ini sempurna.

Ah.

Gadis ini tidak membuka matanya, dia tidak mampu untuk melakukannya karena dia tidak ingin melarikan diri dari kegembiraan yang gelap ini. Gadis ini ingin tinggal di sini sedikit lagi sebelum berangkat.

Kemenangan dan kekalahan tidak ada artinya bagi gadis ini. Semata-mata jeritan maut, jeritan untuk hidup, dan erangan orang-orang yang tidak dapat hidup atau mati, hal-hal inilah yang bermakna bagi gadis ini. Di dalam dunia yang tidak berwarna/akromatis ini, hanya getaran itulah yang merupakan kehidupan, kematian, dan musik, semuanya pada saat yang bersamaan. Selama hari-hari gadis ini menghabiskan waktunya hanya untuk membaca buku-buku sejarah dalam perpustakaan yang tertutup debu pada sebuah ruangan kecil, gadis ini tidak mampu mengetahui kesenangan ini. Kegembiraan memainkan hidup dan mati puluhan ribu dengan tangan sendiri. Jika Yang Mulia tidak memberi tahu gadis ini, maka dia kemungkinan besar akan lupa selamanya.

“Uhm, Yang Mulia? Kau harus memberi perintah menyerang untuk······.”

“Pasukan kita tidak akan bergerak.”

“Maaaf?”

Berisik sekali. Jangan membuat balasan yang sia-sia, witch. Membuat suara yang tidak perlu agar tidak tercampur saat gadis ini mencoba untuk menghargai momen yang ditunggu-tunggu dari puluhan ribu melodi?

Hanya ada satu alasan mengapa kepala kau masih menempel pada lehermu. Itu karena Yang Mulia telah menyambutmu sebagai keluarga. Gadis ini bukan tidak menyadari kesan Tuan dan Nona sebagai ibu, dirinya sendiri sebagai ayah, dan keinginannya agar gadis ini memimpin saudara-saudara perempuannya, para witch, sebagai saudara perempuan tertua di keluarga. Itulah mengapa gadis ini memperlakukan kalian para pembuat onar, yang tidak dapat mengetahui disiplin militer, dengan kasih sayang seorang kakak.

Gadis ini membuka matanya.

“Aku mengatakan kalau kita tidak akan menggerakkan pasukan kita. Bergerak secara perlahan sekarang tidak dianjurkan. Kapten, apa kau bisa mendengarnya?”

Gadis ini mengangkat jarinya dan menunjuk ke arah pasukan musuh yang terkepung dan dibasmi di depan. Sang kapten mengikuti gerakan gadis ini dan memalingkan kepalanya. Meskipun kami berdua melihat ke tempat yang sama, sangat jelas kalau kami melihat hal yang tidak sama.

“Gadis ini bisa mendengar Franconian. Gadis ini bisa mendengar bahasa Batavia. Karena gadis ini dapat mendengar dialek Sardinia, suara Teutonik dapat terdengar juga. Hal yang terkadang tercampur kemungkinan Polandia-Lithuania. —— Namun, tidak ada bahasa Habsburg. Kalimat yang diucapkan oleh orang-orang dari Habsburg, negara yang dipimpin oleh Putri Kekaisaran yang dikenal sebagai Elizabeth, tidak dapat didengar.”

“······.”

Kapten Royal Guard, Humbaba, memiringkan kepalanya.

“······Hal yang hanya hamba dapat dengar dengan telinganya adalah kekacauan menjerit. Oh Dewa. Apakah Yang Mulia bisa mendengar semua itu? Kau dapat memahami setiap bahasa yang ada di benua ini? Itu luar biasa.”

Gadis ini mendecakkan lidahnya. Inilah mengapa kata-kata tidak dapat dimengerti.

Menguasai setiap dasar bahasa adalah pelajaran yang harus dilakukan seseorang tanpa alasan saat mereka hidup. Itu sudah jelas. Jika kau tidak melakukannya, maka kau tidak akan bisa membaca buku. Ini adalah sesuatu yang juga disetujui oleh Yang Mulia.

“Kapten, meskipun gadis ini berterima kasih atas sanjungannya, tidak perlu bagi kau untuk sekali lagi mengingatkan gadis ini tentang keunggulannya. Gadis ini pintar dan kau bodoh bukanlah masalahnya. Tidak perlu untuk memperhatikan fakta lain saat ini.”

“······Master dan pengikutnya benar-benar mirip satu sama lain. Ada alasan di balik semua yang dilakukan master. Dia tidak mengesampingkan ras lain dan menunjuk seorang manusia menjadi Jenderal pengganti bukan tanpa alasan.”

Sang kapten bergumam. Dilihat dari suasananya, sepertinya dia baru saja membungkus gadis ini dan Tuan menjadi satu dan menghinanya bersamaan, tapi itu bukan sesuatu yang gadis ini tidak bisa pahami. Pada dasarnya, para genius pasti akan menerima rasa iri dan cemburu dari yang normal. Gadis ini dengan murah hati menerima kepribadian yang berlebihan sang kapten.

“Dan teruus? Oh, Yang Mulia Jenderal terkemuka. Mengapa orang seperti kami tidak melakukan penyerangan hanya karena bahasa Habsburg tidak bercampur dengan orang-orang rendahan itu?”

“Aku akan mengatakannya lagi. Gadis ini jenius. Berhubungan dengan bahasa, musik, dan urusan militer, gadis ini menyombongkan kemampuannya yang tak tertandingi. Fakta ini terbukti jika kau melihat bagaimana gadis ini mengendalikan medan perang sebanyak 200.000 tentara, ditambah pasukan musuh dan pasukan sekutu bersamaan, dengan hanya 7.000 prajurit.”

“Ya, ya. Bahkan hamba, sebelum menjadi hina, pernah memegang harapan tinggi sebagai witch yang akan memikul generasi berikutnya. Terus?”

“Sungguh, sepertinya kau tidak dapat memahami apa yang dikatakan gadis ini. Pikirkan saja. Bukannya Tuan memperingatkan gadis ini, yang seperti itu, untuk jangan pernah melawan Putri Kekaisaran Elizabeth?”

“······.”

Kapten Humbaba mengerutkan keningnya. Tentu. Sepertinya dia masih belum paham. Sampai saat ini, karena telah melewati batas mengganggu apresiasi musik seseorang, dan telah memasuki tingkat dimana benar-benar menghancurkan konser, gadis ini tidak menyukainya. Namun, gadis ini dengan baik hati memberitahukan adik perempuannya yang bodoh dengan sesuatu yang terbukti dengan sendirinya.

“Kapten. Kau telah bersama dengan Yang Mulia sejak gadis ini ditahan sebagai budak, bukankah begitu?”

“Ya. Benar.”

“Sebelum Yang Mulia menemukan dan menunjuk gadis ini, tidak ada seorang pun di dunia yang menyadari kalau gadis ini memiliki bakat militer. Termasuk gadis ini sendiri. Bukannya begitu?”

“Ya. Itu juga benar.”

“Jika seperti itu, maka berpikir secara logis, terlepas dari preferensi Tuan pada wanita cukup busuk, kemampuannya untuk melihat kecakapan seseorang, bukannya tidak salah untuk mengatakan kemampuannya dalam menyadari seseorang yang berbakat sangat tidak tertandingi?”

“······Benar, ya kan?”

“Oleh karena itu, berdasar dari alasan pilihan Tuan ada benarnya, itu berarti Putri Kekaisaran merupakan jenis makhluk yang secerdas gadis ini atau seseorang yang mendekatinya. Pasukan Kekaisaran Habsburg, yang dipimpin oleh individu luar biasa semacam itu, secara kebetulan tidak berada dalam pengepungan tersebut. Apa itu artinya? Apakah kau berpikir kalau Putri Kekaisaran tiba-tiba merasa bosan dan memutuskan agar membawa seluruh pasukannya untuk berjalan-jalan?”

“······.”

“Jangan hanya percaya pada hal-hal yang bisa kau lihat, Kapten. Medan perang adalah tempat di mana kau bertarung memanfaatkan hal-hal yang tidak dapat kau lihat sebisa mungkin dengan hal yang dapat kau lakukan. Di saat dimana semua bidang penglihatan disempitkan oleh kabut basah——.”

Gadis ini mengalihkan pandangannya.

Melewati tanah dan langit di mana garis-garis hujan jatuh, gadis ini memperkirakan bahwa ada sesuatu yang mendekat. Itu tidak mirip dengan ramalan belaka. Gadis ini memiliki intuisi yang mampu melompat langsung ke sebuah kesimpulan jika disediakan dengan dasar yang benar.

“——Tidak mungkin bagi seorang individu dengan bakat yang sama mengesankannya dengan gadis ini, untuk melewatkan kesempatan ini.”

Putri Kekaisaran Elizabeth sudah menunggu.

Sambil membuat hujan menjadi tirai alami.

Untuk saat ini di mana dia bisa muncul sebagai pahlawan sendirian di medan perang ini di mana kekalahan sudah sangat jelas.

Tak lama setelah itu, intuisi gadis ini tepat sasaran. Mereka tampak seperti hantu yang menunggangi kuda perang, menerobos luapan hujan, dan menyerang sayap kiri dan kanan pasukan kami yang ramah. Pasukan berkuda yang mengenakan mantel ungu berkibar, tanpa diragukan lagi, adalah tentara Kekaisaran Habsburg. Pasukan Aliansi Bulan Sabit di kedua sayap tidak menyangka bahwa pasukan musuh masih memiliki pasukan berkuda yang tersisa, menyebabkan mereka diserang dari belakang tanpa bisa menunjukkan banyak perlawanan.

“Ah.”

Sebuah helaan napas mengalir keluar dari bibir kapten. Pemandangan yang hanya bisa digambarkan dengan kalimat sporadis menyebabkan ‘Ah’, tetapi hampir tidak pada saat itu, terbentang di hadapan kita. Area luar dari Aliansi Bulan Sabit, yang telah mencapai formasi pengepungan membasmi yang sempurna, hancur. Para prajurit musuh, yang hanya menunggu gilirannya di dalam pengepungan, bersorak pada bala bantuan yang muncul tiba-tiba dan memeras sisa kekuatan yang tersisa.

Golongan kedua pasukan musuh dan pasukan sekutu bercamput bersama-sama secara kacau. Secara alami, sulit untuk membangun kembali garis komando yang pernah hancur. Apakah itu mungkin terjadi pada situasi saat ini di mana hujan turun dengan berisik ke segala arah? Meskipun Barbatos dan Paimon mati-matian mencoba membangun kembali blokade, sayangnya, mereka telah kehilangan kesempatan terbaiknya. Mayoritas tentara musuh melarikan diri dengan hidup mereka. Melewati deru hujan, melintasi kabut basah.

“Mhm.”

Dengan mata yang kabur, gadis ini menyaksikan sesuatu yang melarikan diri. Nada yang sedang berlangsung dari pelarian pasukan musuh, yang perlahan semakin redup dan redup, menyedihkan dan indah. Kapten Humbaba dengan hampa menatap wajah gadis ini yang sedang dalam keadaan seperti itu.

“······Yang Mulia Jenderal Pengganti.”

“Gadis ini meminta maaf, Kapten. Saat ini adalah saat yang tepat. Tolong tutup mulut kau selama 2 menit. Jika kau tidak bisa diam, maka ada kemungkinan kalau gadis ini akan membunuhmu.”

“······.”

2 menit telah berlalu.

Gadis ini merasa puas.

“Baik. Apa yang membuatmu penasaran kali ini?”

“Ya. Yang Mulia Jenderal Pengganti berkata demikian sebelum pertempuran hari ini. Bahwa unit kita tidak akan menang, tetapi kita juga tidak akan kalah. Bahwa kita hanya akan menyebarkan kebingungan di seluruh medan perang. Dengan kata-kata itu, barangkali maksudmu adalah······.”

“Mm. Itu betul.”

Gadis ini mengangguk.

“Meskipun memunculkan pertempuran pengepungan pembasmian merupakan pencapaian dan prestasi gadis ini, itu merupakan kekeliruan Barbatos dan Paimon dan kesalahan mereka karena merusaknya. Gadis ini tidak memperoleh kemenangan, tetapi dia juga tidak mengalami kekalahan.”

“······.”

“Barbatos dan Paimon seharusnya malu. Barbatos, yang menyebut gadis ini sebagai penjahat tingkat tinggi dan mencoba menghukumnya, pasti sangat merasa malu. Jika dia mencoba untuk menghukum Tuan dalam persidangan militer sekarang, maka kehormatan Barbatos akan menjadi satu-satunya hal yang jatuh ke lubang tanpa dasar. Dia tidak akan bisa menghindari kritikan bahwa dia telah dengan memalukan mengalihkan kesalahan kekalahan dirinya sendiri ke Demon Lord lain.”

“······Uh. Tunggu sebentar, Yang Mulia. Sebagai permulaan, meski sepenuhnya sadar bahwa pengepungan Aliansi Bulan Sabit akan gagal, apakah Yang Mulia masih membuat kita berada di sini bermain-main di pasukan pusat?”

“Ya benar.”

“Ini agak merepotkan. Aku tidak mengatakan ini karena aku sangat menghargai sekutu kita, tetapi bukankah lebih baik untuk bergabung dan mengubah kekalahan menjadi kemenangan?”

Gadis ini memiringkan kepalanya.

“Mengapa demikian?”

“Itu sudah jelas. Ini adalah perang yang sudah terjadi jadi, selagi kita melakukannya, akan lebih memuaskan jika pasukan kita menang.”

Gadis ini hanya bisa memiringkan kepalanya sekali lagi. Sulit untuk memahami apa yang sebenarnya dikatakan oleh kapten. Gadis ini, sambil menyusun sebuah kebenaran yang sangat jelas dan sangat-sangat masuk akal, mengoreksinya.

“Kapten. Bagaimana bisa Barbatos dan Paimon menjadi sekutu gadis ini?”

“Maaf?”

“Barbatos mencoba menuduh dan menyingkirkan Tuan. Demikian juga, Paimon mencoba menggunakan Tuan sebagai alat politik belaka. Oleh karena itu, kedua Demon Lord sangat jelas adalah musuh gadis ini. Bahkan jika kita tidak bertindak, Putri Kekaisaran akan rela menawarkan untuk mengalahkan kedua orang itu, jadi mengapa gadis ini harus ikut campur? Mengambil kendali kelompok dengan menggunakan kelompok lain. Bagaimanapun juga, jika Putri Kekaisaran ingin menembus pengepungan, maka dia tidak punya pilihan lain selain menyerang salah satu atau kedua sayap formasi kita, bukannya pasukan pusat gadis ini, yang cukup jauh jaraknya. Jadi tidak masalah bagi gadis ini untuk menonton dengan santai saat mereka saling bertukar pukulan dengan sendirinya.”

Tidak ada seorang pun yang akan mengkritik gadis ini karena pasif hanya karena dia berdiri diam selagi pengepungan berantakan. Orang yang telah memutuskan dirinya untuk menjadi pelopor dan berdiri di garis depan, sejak awal pertempuran, tidak lain dan tidak bukan adalah gadis ini.

Pergi ke depan sebagai ujung tombak, menempatkan mayoritas pasukan berkuda musuh dalam kebuntuan, dan ditambah lagi, gadis ini telah memberikan kontribusi layanan mengesankan yang memungkinkan untuk menyelesaikan pengepungan. Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain sekarang, individu yang telah melakukan pelayanan terbaik bagi pasukan kita adalah gadis ini. Jika kau ingin mengkritik gadis ini, maka cobalah.

“Ditambah lagi.”

Dan gadis ini melanjutkan.

“Akan sangat membosankan untuk menang dengan cepat. Pokoknya, sudah ditentukan antara musuh dan gadis ini, sisi yang mendapatkan kemenangan adalah gadis ini. Namun, bukannya itu akan tidak sia-sia jika kita mengkonsumsi mereka secukup mungkin?”

“······.”

Kapten Royal Guard, wajah Humbaba menjadi hampa kembali. Saat dia mengatur topi kerucutnya, yang benar-benar basah kuyup oleh hujan, dia bergumam pada dirinya sendiri.

“······ Sekarang aku sangat yakin. Hanya ada sekelompok orang gila di sekitar Tuan kita. Nona Lapis dan bahkan Yang Mulia Jenderal Pengganti, mereka semua berada dalam kategori yang berjarak seribu langkah dari keadaan normal. Sepertinya aku satu-satunya orang waras di dekat tuan. Tentu saja, aku akan menjadi orang yang merawatnya.”

“Haah?”

“Ya?”

Waktu di medan perang terus mengalir bahkan ketika kami sedang berdiskusi.

Kedua pasukan Paimon dan Barbatos sudah memulihkan formasi yang telah hancur. Namun, sudah terlambat bagi mereka untuk mengejar musuh. Waktu yang telah berlalu tidak dapat diambil kembali. Serupa dengan hal itu, waktu di medan perang, yang telah berlalu, tidak dapat digenggam sekali lagi.

Setiap perang adalah konflik yang mengalir dari jam ke jam dan juga merupakan perang akan waktu. Itu tidak aneh untuk poin tertentu dalam waktu keseharian akan terhapus. Sebaliknya, itu merupakan kejadian biasa. Mirip dengan batu loncatan yang jarang terhubung, waktu sehari-hari sangat jarang dipisahkan. Karena itu, waktu untuk seseorang yang hidup sambil terkubur di bawah kehidupan sehari-hari serupa dengan orang yang mencoba menyeberang batu loncatan, yang merupakan tindakan di mana mereka harus membiarkan sesuatu mengalir dan terhapus di antara masing-masing batu agar mereka akhirnya dapat menyeberang. Bagi orang-orang itu, mereka perlahan-lahan melupakan diri mereka sendiri seiring berjalannya waktu, sampai akhirnya, mereka akhirnya benar-benar jatuh ke dalam keadaan terlupa.

Di sisi lain, waktu di medan perang mengalir dengan cara di mana bahkan satu langkah pun tidak bisa dihapus. Mereka yang lupa diri ketika telah melangkah ke medan perang tidak bisa dimaafkan. Pergerakan tentara musuh, arah angin sesuai bendera berkibar, dan bahkan bau, keharuman, dan denyut jantung yang naik entah darimana, seseorang harus mengumpulkan setiap informasi yang mungkin didapat dan merebut waktu dengan tepat. Seseorang yang menguasai waktu juga menguasai medan perang. Hari ini, Barbatos dan Paimon secara meyakinkan melewatkan waktu tersebut. Kesempatan kemenangan tidak akan pernah kembali kepada mereka sekarang.

Kapten Humbaba mendecakkan lidahnya.

“Agak menyedihkan. Pada akhirnya bukankah itu berarti mereka hanya digunakan oleh kita?”

“Pemilik perang ini adalah Tuan, pemilik dari pertempuran ini adalah gadis ini. Kesimpulan hari ini ialah hasil sudah tentu karena mereka telah memenjarakan Tuan, meskipun tidak tahu siapa pemiliknya, dan telah mencoba menganiaya gadis ini. Akan lebih baik jika mereka menyadari kedudukan mereka sekarang.”

“Sungguh, Tuan dan Jenderal adalah satu-satunya orang di dunia yang memberitahu peringkat ke-8 dan peringkat ke-9 Demon Lord dengan memberitahu mereka untuk menyadari kedudukan mereka······.”

Di saat itu. Sebagian dari kekuatan tentara musuh, yang awalnya kita anggap telah mundur sepenuhnya, muncul melalui hujan lebat yang tebal dan kabut basah. Dibasahi kelembapan, hanya ada beberapa sosok musuh. Meskipun gadis ini menyipitkan matanya, memikirkan apakah mereka mungkin berniat melakukan serangan mendadak, sepertinya bukan itu. Musuh hanya diam seperti patung.

“······.”

Bukan, bukannya serangan mendadak, tapi itu.

Gadis ini dengan perlahan menepuk pinggang kuda hitam dan maju. Meskipun suara Kapten Royal Guard, suara panik Humbaba bisa terdengar dari belakang, gadis ini mengabaikannya. Gadis ini menuju ke tempat musuh yang sedang menunggu selagi terkena hujan.

Pada saat yang sama, seseorang dari pihak musuh maju juga sambil menunggang kuda putih, menyamai kecepatan gadis ini. Oposisi hitam, namun, mereka juga putih. Bahkan selama cuaca saat ini, di mana awan gelap tersebar di seluruh langit, rambut perak miliknya itu menyinarkan dirinya dengan jelas tanpa batas. Rasanya seolah-olah air hujan membuat jalan untuknya.

Sebelum gadis ini bisa melihat garis bentuknya, gadis ini sudah tahu siapa orang tersebut.

Elizabeth Atanaxia Evatriae von Habsburg.

Satu-satunya orang membuat Yang Mulia mengakuinya sebagai musuh yang tangguh. Gadis ini dididik oleh Tuan hanya bertujuan untuk mengambil nyawanya.

Wanita itu dan gadis ini saling mendekat. Saat dia menatap hampa pada gadis ini selagi di atas kuda putih, gadis ini juga, menatapnya selagi di atas kuda hitam.

Sepertinya dia sedang memikirkan banyak hal di kepalanya. Wajahnya hampa emosi, tetapi matanya memiliki rencana yang sangat dalam. Namun, gadis ini tidak memiliki apa-apa dalam pikirannya. Gadis ini selalu bertemu dengan orang. Sudah bagus kalau gadis ini setidaknya bisa melihat orang ini dengan matanya sendiri, hanya pikiran ini yang melintas di kepalanya.

 

 

“······.”

“······.”

Hujan turun.

Gadis ini suka hujan.

Kapanpun hujan turun, suara hujan turun membasuh semua dunia yang menyusahkan. Ketika hujan menyentuh dan menodai pipi gadis ini, gadis ini merasa sangat lega karena rasanya seakan masih ada bagian luar di tempat itu.

Ada suatu masa ketika gadis ini berpikir kalau berbagai macam hal dunia menyiksanya, dan ada juga waktu ketika hanya hal-hal yang menyiksa yang ada di pikirannya, tetapi suara hujan menyapu hari-hari dan waktu itu pergi. Karena rintikan hujan sibuk merobohkan segala sesuatu di dunia, itu terasa seperti tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menghalangi gadis ini. Kapanpun hujan turun, gadis ini merasa seakan dia adalah sesuatu di dunia yang memiliki nilai paling kecil dalam terhalangi. Gadis ini menghela nafas sejenak selama ketidakpedulian hujan ini.

Jika menghilang tanpa bekas.

Jika jejak keberadaan tubuh ini lenyap, dan bahkan jejak yang hilang pun lenyap.

“Kau.”

Dia membuka bibirnya. Setetes air hujan mengalir di sisi bibirnya, mengikuti garis dagunya. Bibir itu kemungkinan bibir yang ingin dicium oleh Tuan.

“Jadi kau sudah mati ya.”

“······.”

“Itu bukan wajah seseorang yang hidup, dan itu bukan mata orang yang hidup. Apakah Dantalian membuat boneka menjadi Jenderalnya? Atau mungkin dia berniat menanggung, bukan boneka, tetapi mayat dan merawatnya? Sungguh pria yang menyusahkan. Tampaknya setiap dan semua hal yang diputuskan oleh pria itu untuk diambil tidak lain dan tidak bukan hanyalah penghalang.”

“······.”

“Jadi kau tidak suka berbicara. Karena kau hanya menatapku tanpa bersuara, aku tidak bisa melihat jalan untuk memulai percakapan. Sebenarnya, itu adalah sebuah pertanyaan apakah kau bahkan melihat aku atau tidak. Pikiran apa yang ada dalam kepalamu itu sampai membuatmu menjadi begitu tenang?”

Gadis ini memandang rintikan hujan.

Dan berbicara.

“Pikiran ingin membunuhmu terlintas di kepala gadis ini.”

Dia menutup mulutnya dan menunjukkan wajah yang sedikit kewalahan. Dia kemudian menyipitkan matanya dan menggelengkan kepalanya.

“Aku minta maaf. Kau tidak dapat membunuhku. Tidak hanya kau tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya, tetapi, entah apakah kau memang memiliki kemampuan untuk melakukannya atau tidak, berperang melawanku sekarang akan menjadi tindakan yang akan melawan perintah Dantalian. Karena kau adalah boneka, kau tidak akan menentang Dantalian. Bukannya begitu?”

“······.”

“Aku ingin melihat dari dekat gadis yang dia buat menjadi citra pasukannya. Aku melihat Dantalian bangga. Aku dapat melihat seorang lelaki yang, bagaimanapun juga, mencoba untuk memikul hal-hal yang tidak dapat dia pikul dan mengambil hal-hal yang tidak harus dia ambil. Bagaimana mungkin seseorang menyelamatkan seorang anak yang telah meninggal di masa lalu, dan juga, bagaimana seseorang berniat membunuh anak itu? Apakah Dantalian berencana untuk mengembalikan waktu? Apakah waktu seseorang adalah sesuatu yang dikembalikan hanya karena seseorang berharap hal itu terjadi?”

Dia mendongak ke arah langit yang hujan.

“Sampaikan pesan kepada Tuanmu, jika kau mau. Itu, setelah bertemu bonekamu, aku, Elizabeth von Habsburg, berpikir dia agak cantik.”

Dia pasti sudah selesai mengatakan semua yang ingin dia katakan karena dia membalikkan kepala kudanya. Belum lama setelah itu, dia menghilang ke dalam kabut basah dan prajurit, yang dia bawa bersamanya, menghilang bersamanya seperti bayangan. Gadis ini menyaksikan bayangannya memudar dalam kabut basah selama mungkin.

Hanya satu hal yang melintas ke pikiran gadis ini.

Ketika kita bertemu lagi, gadis ini akan membunuhnya.

Ο

Ο

Pertempuran hari itu berakhir seperti itu.

Tidak ada yang bisa mendapatkan kemenangan dan tidak ada yang kalah. Namun, satu pahlawan muncul dari Aliansi Bulan Sabit dan Tentara Salib.

Gadis ini, Laura De Farnese.

Dan Putri Kekaisaran, Elizabeth von Habsburg.

Ο

Ο

Ο

Ο

Ο

Ο

Ο

Ο

 


Sebelumnya | Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻