Dungeon Defense Vol 4 – Bab 2 Part 6

Oleh Alone of Nyx on July 22, 2019

Dungeon Defense: Volume 4 – Bab 2 (Part 6) Bahasa Indonesia


Bab 2 – Engkau Datang kepadaku (Part 6)

▯ Demon Lord Keabadian, Peringkat 8, Barbatos 
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 4, Hari 7 
Dataran Bruno, Sayap Kanan dari Tentara Aliansi Bulan Sabit

“······.”

Hampa.

Dan sia-sia.

Aku menyaksikan tentara musuh hilang melewati garis-garis hujan.

Pengepungan telah diterobos. Aku menilainya sempurna. Ketika berpikir, ‘Aku rasa akan si Paimon jalang belum mati’, terlintas dalam pikiranku, aku sudah yakin akan kemenangan kami, tetapi.

Aku tidak dapat memprediksi ataupun aku dapat memblokir unit kavaleri dari satu pasukan yang muncul entah dari mana dan menusuk ke dalam pasukan kami seperti taring. Pada saat aku berhasil mengurai kekacauan dan mengatur barisan sekali lagi, kavaleri musuh, dan ditambah lagi, pasukan infanteri musuh sudah melarikan diri dengan santainya. ······.

Snap.

“······Sial.”

Lagi.

Lagi, kemenangan yang meyakinkan terselip lewat jari jemariku tepat di depan mataku.

Aku sudah melakukan banyak persiapan untuk memulai perang ini. Aku membakar pegunungan, saku memanipulasi media, dan aku nyaris tidak dapat membentuk ekspedisi yang akan gagal karena kesalahan orang tua Marbas. Semua hasil, saat di mana semua keringat dan darahku, yang telah aku tumpahkan sampai sekarang, akan dihargai, berada tepat di bawah hidung kami dan······ aku melewatkannya. Aku pada akhirnya kehilangan kesempatan.

“Sial!”

Hanya amarah yang keluar dari tenggorokanku.

“Sedikit lagi, jika kita mendorongnya sedikit lagi······. Kita akan mampu memperoleh tanah, pertanian, dan dataran subur di mana ras kita bisa mengolahnya dan bertahan hidup. Tinggal sedikit lagi—— . ”

Karena itu menyesalkan dan mengecewakan.

Karena kenyataannya aku diejek oleh seorang bajingan yang memperlakukan perang seolah-olah itu mainannya, aku membencinya.

“······ Yang Mulia Barbatos.”

Ketika lututku hampir jatuh, ada suara yang menarikku. Saat aku melihat sekeliling, bawahanku, anak-anakku yang aku seret sepanjang jalan sampai sekarang, memandangiku. Tatapan mereka menjadi tali dan hampir tidak bisa melilit tubuhku dan menariknya ke atas.

—— Benar juga.

Aku merupakan pilar dari Fraksi Dataran.

Orang yang telah memimpin keinginan berkelanjutan dari seluruh ras demon selama 500 tahun.

Aku adalah kegelapan dari ras kami dengan menggunakan metode kotor tanpa pandang bulu jika itu berarti ras kami dapat mewariskan tanah yang lebih hangat dan tanah yang lebih subur bagi anak-anak kami. Bukan orang biasa yang menyesal karena dunia mengecewakan, tetapi Demon Lord yang hanya bertindak sebagai pewakil sambil menanggung kebencian itu.

Terlalu dini untuk menyerah.

Kami hanya gagal dalam satu pertempuran.

Menelan gumpalan darah yang naik dari tenggorokanku, meraih keinginan yang mencoba melarikan diri dari persendianku dan menanamkannya, menambahkan baja ke perhatianku dan membuang pedang dari kehendakku, aku berdiri sebagai Demon Lord Keabadian.

“ ——Hm. Ya, baiklah. Aku melewatkannya. Sialan. Terserah. Itu bisa terjadi. Jika ada hari dimana kita mengerjai seseorang, maka ada juga hari dimana orang lain mengerjai kita. Meskipun para dewa tidak menunjukkan keadilan dalam hal mencintai semua makhluk, mereka sangat adil ketika harus menganugerahi kesengsaraan bagi semua orang. ”

Aku tersenyum.

Orang tersenyum ketika mereka kejam ke seseorang. Karena aku selalu keras pada diriku sendiri, aku bisa tertawa kapan pun aku sukai.

“Zepar, atrium kiriku.”

“Ya, Yang Mulia. Saya, Mayor Jenderal Zepar, ada di sini.”

“Aku mendengar sorak-sorai ketika kavaleri musuh bergegas menyerang. Itu bahasa Habsburg. Pasti pelacur Elizabeth itu memainkan tipuannya. Aku akan menganugerahkan kepadamu Remorseful Wolves. Kejar dia sampai ujung Neraka dan robek dia sampai hancur. ”

  “······.”

Zepar menundukkan kepalanya.

“Seperti yang Anda perintahkan.”

“Ya. Patuhi. Jika kau gagal, maka mati saja di sana.”

Aku menjentikkan jari-jariku. Bayanganku berdenyut sebelum menyemburkan 7 black maw, The Maw of Black Beast.

Tangkap ibu hamil hidup-hidup dan tuangkan kutuk mereka. Buat mereka menjadi mayat hidup yang tidak bisa hidup atau mati. Setelah mengumpulkan 100 lemur anak-anak yang terlahir karena mayat hidup tersebut, monster yang kau dapatkan dari kerja keras menyatukan lemur tersebut bersamaan adalah familiar eksklusifku, Remorseful Wolves.

Hanya ada satu cara untuk menghancurkan mereka. Hanya para ibu, yang pernah mengalami bayi lahir mati, bisa melarikan diri dari taring Remorseful Wolves. Alasan mengapa witch yang menyebalkan itu mampu melindungi Dantalian adalah karena itu. Sudah jelas karena mereka witch, maka mereka pasti pernah mengalami kelahiran bayi mati beberapa kali. Namun, jika itu Putri Kekaisaran dari Kekaisaran Habsburg, kehamilan pun tidak akan dialaminya.

“Beleth, atrium kananku.”

“Menunggu perintah Anda, Komandan.”

“Ada wanita succubus rendahan yang selalu mengikuti di belakang Dantalian. Dia mengelola persediaan di belakang. Tangkap jalang itu dan bawa dia kehadapanku.”

“Ini bukannya hobi saya untuk mengancam perempuan. Selain itu, saya ingat bahwa dia yang disebut sebagai outcast. Jika seorang pria makmur, seperti saya, menyentuh orang rendahan, maka harga diri saya ······.”

“Apakah kau ingin aku mengacaukan harga dirimu yang tinggi bersamaan dengan seluruh tubuhmu?”

“Sejak saya masih kecil, saya ingin menangkap succubus setidaknya sekali. Serahkan padaku.”

Peringkat ke-16, Demon Lord Zepar, dan Peringkat ke-13, Demon Lord Beleth, kedua Demon Lord peringkat tinggi yang mendukung Fraksi Dataran telah menerima perintah masing-masing dan langsung melaksanakannya.

Zepar kemungkinan besar akan menghancurkan Putri Kerajaan Elizabeth dengan caranya sendiri dan kembali. Aku tidak khawatir meskipun butuh beberapa hari. Masalahnya bukan Putri Kekaisaran, melainkan, Dantalian.

Aku sangat yakin kalau anak manusia itu tidak sepenuhnya sendirian mengeksekusi unitnya. Dia kemungkinan besar menerima instruksi dari Dantalian, dan melaksanakannya, untuk mengacaukan kami. Bahkan jika tidak ada bukti, tidak masalah. Intuisi lamaku, naluriku yang terlatih dalam kondisi hidup dan mati puluhan hingga ratusan kali di medan perang, memberitahukannya. Dantalian dan gadis itu, mereka berdua sedang merencanakan sesuatu.

Dantalian. Kau menggemaskan karena kamu memainkan trik lucu. Namun, aku selalu siap untuk menyayat tenggorokanmu jika kau menggigitkan gigimu ke arahku. Aku akan menunjukkan itu kepadamu sekarang.

Tak lama setelah itu, Beleth kembali dengan succubus berwarna merah muda. Aku ingin tahu apakah dia sudah memukulnya beberapa kali untuk memberikan contoh karena pipi kanannya memar.

“······.”

Jika aku tidak salah ingat, namanya Lapis Lazuli. Bahkan ketika darah menetes ke sisi mulut sang outcast yang rendah ini, dia terus menatap ke arahku. Dia menatapku dengan wajah tanpa emosi seakan dia menegurku. Meskipun kami telah bertatap muka beberapa kali setiap kali aku masuk dan keluar dari tempat tinggal Dantalian, tidak peduli berapa kali aku melihatnya, aku tidak menyukai tatapannya yang tengik.

“Saya telah membawanya, Komandan. Ini, karena sifat dasarnya dia tidak jahat, aku memukulnya sedikit tadi. Cih. Terasa kotor untuk memukul benda lemah.”

“Kerja bagus. Letakkan dia di sini.”

“Siap. Seperti yang Anda perintahkan.”

Gedebuk.

Beleth menyingkirkan sang outcast seakan dia membuangnya. Karena tubuh bagian atasnya jatuh terlebih dahulu, wajah si outcast jadi terluka. Dengan wajah tergores oleh tanah dan berlumuran lumpur, sang kekasih Dantalian, dan juga seorang rakyat jelata haram, menatapku.

“······ Hamba meminta maaf, Yang Mulia, tetapi hamba berpikir kalau ini bukanlah jamuan yang pantas. Tidak peduli seberapa rendahnya hamba, tubuh ini adalah salah satu yang telah menerima anugerah Yang Mulia Dantalian dan juga merupakan badan yang bertugas mengelola bagian belakang unit pasukan. Mengapa Yang Mulia melanggar hukum militer yang ketat atas kemauan Anda sendiri Yang Mulia?”

“Aku tidak punya dendam terhadapmu secara pribadi, Nak.”

Aku menggenggam rambut si outcast dan mengangkat kepalanya. Mengesalkannya, rakyat jelata ini tidak menunjukkan ekspresi kesakitan sedikit pun atau mengeluarkan erangan kesakitan sedikit pun. Dia hanya menatap lurus ke mataku dengan tatapan yang tak tergoyahkan.

“Namun, frustrasi terus menumpuk ke arah anak yang memberikanmu anugerahnya. Terus? Bahkan selama pidato, dia mengkhianati rasa percayaku, dan dia menggunakan trik murahan supaya dia bisa menghindari hukuman kecil. Menurutmu apa yang harus aku lakukan terhadap anak itu, yang menjadikan Jenderal penggantinya mengejek seluruh fraksiku?”

“······.”

Si outcast menutup bibirnya. Benar. Kau tidak bisa menjawabnya. Kau juga tidak tahu jawabannya. Aku mengangkat sudut bibirku.

“Ya. Aku sama. Aku tidak begitu yakin apa yang harus aku lakukan mulai dari sekarang. Karena itulah, saat ini, aku berencana mengunjungi Dantalian bersamamu dan menanyakannya secara pribadi. Ikut aku, kau rakyat jelata jalang.”

Dantalian. Sebaiknya kau memberikanku alasan yang masuk akal. Bukan hanya untuk keselamatan dirimu sendiri, tetapi jika kau menghargai kehidupan kekasihmu yang sangat kau cintai ini.

“Untuk saat ini, haruskah kita melakukan pemanasan sebelum pergi mengunjungi Dantalian?”

Aku tersenyum lebar.

▯ Demon Lord of Kebajikan, Peringkat 9, Paimon 
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 4, Hari 7 
Dataran Bruno, Sayap Kiri dari Tentara Aliansi Bulan Sabit

“······.”

Di antara hujan yang turun.

Wanita ini mencengkeram kipas bulunya yang basah dengan erat.

“······ Sekali lagi, wanita ini akan pergi mengunjungi Dantalian.”

Bukan itu.

Meskipun wanita ini tidak yakin apakah dia memiliki hak untuk mengatakan ini, meskipun tidak dapat menghentikan perang, entah wanita ini tidak memiliki pilihan lain selain mengatakannya. Dari awal, karena ini adalah perang yang dimulai setelah membuat Dantalian menjadi alasannya, mungkin karena itu tidak akan aneh jika Dantalian yang memimpinnya. Namun, bahkan jika ada orang yang berbeda dalam memulai perang dan orang yang mengakhirinya, yang harus mengatasi perang di pertengahan adalah para prajurit itu sendiri.

Dengan arahan gadis manusia itu, tidak ada pertimbangan terhadap nyawa para prajurit. Ada kemungkinan kalau tindakannya merupakan caranya sendiri untuk mengeluh karena kami telah memenjarakan Dantalian. Ada kemungkinan mungkin murni hanya main main dari seorang gadis muda dan arogansinya. Entah apa pun itu, ia adalah seorang individu yang membuat orang khawatir tanpa batas jika satu pasukan dikendalikannya. Karena dia merupakan Jenderal pengganti Dantalian, sangat masuk akal mendiskusikan ini dengannya.

“Sitri, kelola kamp militer menggantikan wanita ini malam ini.”

“Apakah tidak masalah pergi sendiri, kak?”

Sitri memandang wanita ini dengan mata khawatir. Karena dia tampak seperti hewan peliharaan yang mencoba menghibur temannya, senyuman muncul ke bibir wanita ini secara tidak sadar. Dapat tersenyum bahkan dalam situasi seperti ini murni berkat Sitri.

“Tidak masalah. Wanita ini hanya akan bertemu dengannya dan berbincang.”

“Bukan itu. Mm, Dalam pertempuran barusan, Barbatos berpartisipasi di sisi lain, kan? Jadi saya pikir dia akan marah juga sekarang. Meskipun Barbatos memang cocok untuk mati, kamu tidak akan menyukainya, kan?”

“······.”

“Jika kakak pergi bertemu Dantalian sekarang, bukannya kakak mau tidak mau akan bertemu Barbatos? Kamu akan melakukan pertengkaran sia-sia dengannya lagi. ”

“Jika begitu, maka lebih baik.”

Wanita ini berbicara sambil memberi lebih banyak kekuatan ke suaranya.

“Terlebih lagi, wanita ini harus pergi sekarang juga. Deklarasi yang dibuat wanita ini untuk menerima Dantalian dalam Fraksi Gunung bukanlah kebohongan. Wanita ini secara terbuka menyatakan di depan semua orang bahwa dia akan bekerja sama dengan pria yang telah Barbator buat menjadi kekasihnya. Wanita ini tidak punya pilihan lain selain memanfaatkan intrik politik terakhir kali, tapi ⎯⎯⎯⎯ .”

Kali ini, akan adil dan jujur.

Sambil memandang tegas ke Barbatos, wanita ini pasti akan membawa individu yang diyakini wanita ini dibutuhkan oleh kita.

“······.”

Setelah melihat wanita ini memperkuat tekadnya, Sitri mengangguk. Anak ini, yang selalu diam-diam mendukung wanita ini, menaruh kepercayaan, yang tidak berubah bahkan sampai hari ini, ke suaranya dan mendorong wanita ini ke depan.

“Ok. Semoga perjalananmu menyenangkan, kak. Saya akan mengurus semuanya di sini.”

Ya. Wanita ini akan mempercayaimu dan meninggalkannya di tanganmu, Sitri. Jenderal penggantiku yang lembut.

Meninggaklan kapten yang tidak senang karena mereka telah membiarkan kemenangan terselip dari genggaman mereka, wanita ini pergi. Setiap langkah yang wanita ini ambil, terdapat lumpur, jadi air lumpur mengotori sepatunya dan meresap ke roknya, mengotori mantelnya, tapi tidak apa-apa. Jika wanita ini percaya bahwa ada beberapa tetes darah dari para prajurit, yang telah mati di bawah perintah wanita ini, bercampur ke setiap air berlumpur di medan perang hari ini, maka pikiran bahwa itu kotor bahkan tidak akan muncul di pikiran wanita ini.

Hujan perlahan berhenti. Dari langit, awan gelap yang tidak mungkin menutupi secara menyeluruh, beberapa sinar cahaya kuning dari matahari terbenam jatuh ke bumi. Di antara sinar matahari yang terbenam, salah satu dari mereka mengenai dahi dari mayat yang tergeletak secara acak di tanah. Bukan demon, tapi mayat manusia. Domba, prajurit yang melakukan segala yang dia bisa untuk melihat ke atas agar dapat melihat sinar matahari, yang kemungkinan dia tidak bisa lihat bahkan sampai saat kematiannya, sedang menatap langit dengan mata yang membara.

“······.”

Wanita ini berhenti sejenak dan membungkukkannya kembali. Mantel wanita ini menyentuh bumi dan menjadi basah kuyup di air berlumpur. Sambil menutup kelopak mata dari prajurit tidak bernama, wanita ini berpikir bahwa tugas Tuan, di mana harus menggunakan jubah mereka agar mereka dapat melakukan tugas sederhana untuk sekedar menutup mata prajurit mereka, cukup mengerikan.

Entah kenyataan wanita ini tidak yakin sudah sekotor apa.

Apakah memang ada sebuah tekad yang membuat diri sendiri jadi kotor?

Wanita ini duduk dengan hampa di lapangan tempat cahaya matahari terbenam menjadi pucat.

▯ Raja Rakyat Jelata, Peringkat ke-71, Dantalian 
Kalender Kekaisaran: Tahun 1506, Bulan 4, Hari 7 
Dataran Bruno, Tentara Aliansi Bulan Sabit, Penjara Sederhana

Apakah hujan hari ini akhirnya berhenti?

Aku mengeluarkan tembakau yang ‘ku masukkan ke dalam salah satu saku mantel. Karena tidak ada atap, ini adalah sel tempat hujan terus mengalir. Meskipun aku tidak berencana untuk mengatakan kalua aku cukup menikmati dipukul oleh hujan atau mengeluh tentang itu, kenyataan kalau aku tidak bisa merokok, salah satu hal yang membuat membosankan dan tidak nyaman. Hujan musim semi tahun ini sangat kuat dan tahan lama.

Clack, aku menyalakan api dengan batu api. Clack, clack ······ Sambil melirik ke bawah bara yang berkedip-kedip sebentar, mirip dengan listrik, aku perlahan-lahan meninjau pertempuran yang terjadi hari ini. Aku menggumamkan kata-kata yang tidak benar-benar diperlukan saat melakukannya.

“Ah, ini sulit untuk menyalakan.”

Jangan menang telak dan jangan kalah telak. Itu adalah perintah yang aku berikan kepada Farnese. Jika itu dulu, maka Farnese kemungkinan tidak dapat memahami apa artinya itu dan dia akan mempertanyakannya. Namun, keadaannya saat ini, yang dididik oleh Lapis dan diriku sendiri, berbeda. Dia seharusnya bisa mengetahui makna dibalik kalimat tersebut dengan mudah.

Satu-satunya bagian yang menggangguku adalah tingkah laku Putri Kekaisaran Elizabeth. Aku membuat tanggapanku akan pergerakannya melalui Farnese. Apakah Putri Kekaisaran akan berperilaku sesuai dengan itu atau tidak. Jika dia melakukannya, maka apa yang akan membedakannya?·····. Berdasarkan ini, arah perang akan diputuskan.

“Badum tat badum tat apa yang akan terjadi: ini atau itu?   Badum tatat tat   membakar kuil dan membantai orang-orang – apakah ini? ······.”

Aku bersenandung dengan lagu militer yang aku buat sendiri.

Singkatnya, orang yang memimpin perang ini adalah Elizabeth dan diriku sendiri. Dan bukannya Barbatos atau Paimon. Tujuan dari pertempuran yang terjadi hari ini, tidak lain adalah untuk menginformasikan kedua Demon Lord dari fakta tidak mengenakan ini.

Duduk diam. 
Jika kau ingin memenangkan perang, maka bebaskan aku dari penjara ini dan berikan posisi pemimpin kepadaku. 
Jika kau tidak melakukannya, maka kalian semua satu hari nanti akan mati karena Putri Kekaisaran.

Pesan blak-blakan ​​dan eksplisit.

Meskipun kalian semua ada di luar sana, kau tidak dapat menggenggam perang. Meskipun terkurung di penjara sempit ini, aku mendominasi medan perang. Itu karena aku jauh lebih kompeten daripada kau. Tidak ada irasionalitas, ketidaklogisan, atau ketidakadilan di sini. Hanya ada kebenaran.

Hanya sebuah kebenaran.

“Ketika mereka mati dan mati lagi seratus kali ······   Ah.”

Bara api akhirnya menyalakan tembakau. Aku berhenti bernyanyi sejenak untuk meniup udara ke tembakau. Bara api berkedip dan nyaris berhasil membakar habis tembakau dengan warna merah cerah.

“Mhm.”

Sempurna.

Sepuluh banding satu, Barbatos pasti menyadari maksudku. Kemungkinan Paimon dapat mengerti petunjuknya sekitar 50 persen. Jika mereka berdua peka, maka mereka akan menyadari kalau tidak ada hal menguntungkan dari membinasakanku dan kemenangan akan semakin menjadih jika mereka membunuh Farnese. Mereka berdua tidak punya pilihan lain selain tidak membuat tuduhan dan menerimanya begitu saja tanpa syarat.

Karena manusia memiliki monster yang dikenal sebagai Elizabeth Atanaxia Evatriae von Habsburg.

Karena, satu-satunya orang yang bisa menghentikannya adalah diriku sendiri, Dantalian, dan Laura De Farnese yang telah diambil Dantalian.

Aku akan bertahan hidup karena kemampuan Elizabeth, dan sebaliknya, aku yakin Elizabeth akan bisa bernafas berkat kemampuanku dan Farnese. Elizabeth dan aku adalah sepasang alpinists yang sedang mendaki bersama sementara bergantung pada garis hidup satu sama lain.

“Sekarang.”

Bagaimana reaksi Barbatos dan Paimon? Apakah mereka akan marah? Mereka mungkin akan mengamuk. Apakah mereka akan putus asa? Mereka mungkin akan putus asa. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Nilai sejati seseorang selalu terbukti setelah istilah ‘berikutnya’ telah tiba.

Dengan sikap mental yang menunggu segala hal baru yang mendekat, aku melihat ke cakrawala lewat jeruji besi. Tembakau terasa manis dan membuat pikiranku terasa mati rasa. Aku menyanyikan sisa lagu sambil meniup asap ke arah matahari terbenam saja.

“Atau jika kita mati dan mati bersama-sama – apakah itu······?”

Aku di sini di penjara ini.


Sebelumnya | Selanjutnya


Mau tau siapa aja sih yang masih mengharapkan ini update, komen ya.

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻