Isekai at Peace Chapter 7 Part 2

Oleh Alone of Nyx on April 26, 2018

I Was Caught up in a Hero Summoning, but That World Is at Peace Chapter 7 Part 2 Bahasa Indonesia


Chapter 7: Jatuhnya Baby Castella (Part 2)

 

Di depan meja kerja besar, Lilia-san yang merupakan pemimpin dari kediaman ini melipatnya lengannya dengan wajahnya yang sedikit meringis.

 

“……Aku khawatir akan kemungkinannya, pokoknya ini terlalu cepat.” (Lilia)

“Saya minta maaf. Ini merupakan kesalahanku.” (Luna)

“Tidak, ini bukan tanggung jawab Luna. Sebenarnya aku tidak akan menduga bahwa ‘Shadow’ dan kamu akan ‘kehilangan pandangan’ pada saat yang bersamaan. Tidak, aku lengah… Hasil rinciannya belum keluar juga, aku yakin magic ‘penghalang persepsi’ telah digunakan pada Kaito-san.” (Lilia)

 

Hal yang mereka bicarakan ialah, tentang kejadian kehilangan pandangan akan Miyama-san di kota petang ini, sepertinya dia tidak begitu peduli— bukan, terpisah di kerumunan banyak orang hal yang biasa, tapi itu hal yang serius bagi mereka.

 

“Pertanian, industri dan makanan…… Hal yang dibawa oleh pahlawan yang dipanggil dari dunia lain, membuat beberapa revolusi.” (Lilia)

“……Namun, kali ini ‘Orang dari dunia lain selain pahlawan’ muncul.” (Luna)

“Ya, pasti akan ada orang yang nekat jika hal ini tersebar luas. Bagaimanapun juga, tidak diduga mereka tiba-tiba akan menggunakan magic pada hari pertama.” (Lilia)

 

Ketika Lilia meminta Kaito untuk berbelanja, tidak hanya Lunamaria tapi juga di temani oleh beberapa pengawal rahasia. Pengetahuan dari dunia lain, tidak akan aneh jika ada seseorang yang menginginkannya…… Namun, kejadian bahwa mereka kehilangan pandangan akan Kaito di saat yang bersamaan, dapat dikatakan itu hal yang sangat tidak duga.

 

“…… Beritahu mereka bertiga(kayaknya refer nihonjin)?” (Luna)

“Tidak mungkin untuk memberitahu mereka. Hanya dengan dipanggil ke dunia lain sudah membuat mereka gelisah, bagaimana bisa kita memberitahu mereka kalau mereka sedang diincar…… Kejadian kali ini, mau tidak mau kita harus menuntaskannya. Secepatnya melaporkan beberapa shadow terhalang magic penghalang persepsi ke aniue— tolong hubungi Raja Yang Mulia.” (Lilia)

“Dipahami. Tetapi, saya tidak dapat mengerti. Sampai meninggalkan bekas magic penggunaan penghalang persepsi bisa dibilang nekat, dan tidak pernah terjadi sebelumnya.” (Luna)

“……Mungkin itu hal yang tepat untuk dilakukan. Bagaimana dengan demon yang Kaito-san temui?” (Lilia)

“Tetap ‘tidak dapat mendengar namanya’. Itu merupakan magic demon menyembunyikan informasi yang digunakan oleh demon kelas tinggi, bahkan dapat Anda buktikan dari magic penghalang persepsi yang di gunakan pada Miyama-sama jadi ‘terpaksa terlepas’, dapat diprediksikan bahwa itu merupakan demon kelas tinggi.” (Luna)

 

Sambil berbicara dengan nada berat, Lunamaria menaruh kalung Kaito di atas meja.

 

“……Apa hasil dari pengujiannya?” (Lilia)

“Tingkat kemurnian Dark Crystal setidaknya 90%, teknik yang digunakan…… Sayangnya itu mustahil bagi magician kita untuk meretasnya, paling tidak 10 atau lebih.” (Luna)

“……’Harta Nasional’ kah…… Saat ini tujuannya masih tidak diketahui, sejujurnya bentrok dengan demon memiliki tingkat kemampuan seperti ini, aku tidak ingin membayangkannya.” (Lilia)

“Ya, setidaknya setingkat madoushi istana kerajaan, bukannya masih bisa Anda tangani?” (Luna)

“Bagaimanapun juga, perkuat tingkat kewaspadaan. Rumah?” (Lilia)

“Beberapa teknik deteksi telah diperluas, saya sudah memerintahkan shadow dengan rencana darurat dan tidak memperbolehkan seekorpun tikus lewat.” (Luna)

“……Jika memungkinkan, hal ini cepat terselesaikan.” (Lilia)

 

 

 

 

Jam malam yang diselimuti penuh dengan keheningan, aku berada di beranda kamar— mungkin kalimat balkon lebih cocok, keluar dari kamar dan memandang bintang-bintang serta bulan di langit malam.

Meskipun ini langit dunia lain, terlihat tidak berbeda dengan yang aku lihat di bumi. Meskipun rasi-rasi bintangnya mungkin berbeda, aku bahkan tidak mengerti tentang astronomi.

Sambil terkadang angin bertiup menggerakkan rambut, aku mengingat hal yang ditanyakan oleh Kusunoki-san.

 

—Apa yang akan kamu lakukan?

 

Apa yang ingin kamu lakukan? kamu ingin menjadi apa di masa depan? Apa impianmu?…… Sejak dulu, jika diberi pertanyaan seperti itu— Sangat susah menjawabnya. Yang paling mengerti kamu adalah dirimu sendiri— Aku mendengar kalimat seperti itu tapi, aku paling tidak mengerti diriku sendiri.

Bahkan setelah dipikirkan berulang kali, tetap saja tidak mengerti. Untuk apa aku dipanggil ke dunia lain ini, apa aku mengharapkan sesuatu? Atau apakah kamu depresi? Sepertinya keduanya terasa benar, keduanya terasa salah.

Aku memilih Universitas karena dekat dari rumah, itu tidak seperti aku mengincar profesi tertentu, aku masuk Universitas hanya karena masih tidak ingin bekerja. Kemungkinan aku menikmati kehidupanku sebagai mahasiswa juga, entah apa aku bisa menjadi salaryman dengan benar, aku memikirkannya hanya dengan samar-samar.

 

Aku suka bermain game, terutama RPG…… bahkan jika kau tidak perlu memikirkan dirimu sendiri, musuh yang akan dikalahkan dan equipment sudah disediakan, jika kau berhasil menyelesaikannya akan merasakan sensasi keberhasilan.

Aku suka membaca Light Novel. Terutama cerita tentang pahlawan memiliki perasaan nyaman, jika ada perasaan empati, karakter utama akan menghadapi kesulitan tersebut.

Menghadapi kesulitan, aku pikir itu menakjubkan dapat meraih sesuatu yang ingin dicapai sambil berjuang mati-matian. Memiliki sebuah tujuan dan impian, terlebih lagi berjuang sekuat tenaga untuk mencapainya merupakan hal yang hebat aku pikir. Jaa, apa aku yang tidak memiliki hal tersebut merupakan manusia yang gagal? Apa hanya lari dari kenyataan? Apa aku harus melakukannya? Aku tidak tahu dan tidak pernah mendapatkan jawabannya.

Sebaliknya, aku pikir aku harus melakukan yang terbaik, dan aku tidak masalah untuk tidak menerapkannya sekarang juga. Ketika aku merasa ingin berubah, ada perasaan aku akan dengan mudah mengubahnya.

Pemikiran seperti itu masih sama bahkan setelah dipanggil ke dunia ini. Aku merasa lega karena ini merupakan dunia yang damai dan pahlawan bukanlah eksistensi yang merepotkan, aku kecewa mengetahui kalau diriku bukanlah pahlawan. Aku pikir, aku merupakan seseorang yang penuh kontradiksi.

Ingin berubah ketika memang berusaha untuk berubah, tidak memiliki keberanian untuk berubah, memandang langit yang kosong dan membuka mulut lebar-lebar, aku berharap kue nasi akan jatuh dari suatu tempat.

Ini sungguh cerita yang sangat bodoh. Dengan seperti itu aku membuka mulutku lebar-lebar ke arah langit malam— Nasi kue tidak mungkin jatuh seperti itu.

 

Ja, baby castella saja!” (Kuro)

“kuh!?!?” (Miyama Kaito)

 

Di mulut yang terbuka lebar, baby castella dalam jumlah banyak di lemparkan ke dalamnya, kembang api berwarna cokelat keluar dari mulut.

(Note: Muntah?)

Anak baik jangan pernah menirunya. Masaka, perasaan krisis akan kehidupan pertama kali di isekai, dikarenakan baby castella— Hal absurd ada batasnya juga kali!?

 

Dear Okāsama, Otōsama— Nasi kue tidak jatuh dari langit. Tapi— baby castella yang jatuh.

 


Sebelumnya | Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻