Magic? Muscle Is Much More Important Than Such A Thing! Chapter 01

Oleh Alone of Nyx on April 23, 2018

Magic? Muscle Is Much More Important Than Such A Thing! Chapter 1 Bahasa Indonesia


Chapter 1: Awal Mula

 

 

“Tangkapan besar, tangkapan besar. Dengan segini banyaknya, aku dapat makan sepuasku.” (Yuri)

 

Ada anak muda berjalan menuju rumahnya dengan keadaan perasaan senang— yang ada, itu aku.

Di dalam hutan yang lebat, aku berjalan sambil menyeret binatang magical besar di belakang punggungku.

Namaku Yuri.

Dengan penampilan rambut dan mata hitam yang sedikit tidak biasa, aku tidak tahu berapa usiaku tetapi dilihat dari penampilan sepertinya aku sekitar 18 tahun.

Tinggiku kemungkinan sedikit tinggi dari orang pada biasanya, tubuhku juga sedikit berotot dari orang pada biasanya. Aku memiliki penampilan seperti itu.

Jadi kau dapat bilang, selain tentang aku hidup di dalam hutan, aku hanyalah orang biasa yang dapat kau temukan dimana saja.

 

“Aku memang beruntung dapat menemukan binatang magical sebesar ini.” (Yuri)

 

Aku tertawa sambil merasakan berat yang berada di punggungku, dan berbicara pada diriku sendiri.

Aku sudah hidup sendirian di dalam hutan ini sejak aku masih kecil, tetapi ini kali pertamanya bagiku untuk menangkap binatang magical sebesar ini.

Sepertinya aku dapat hidup mewah untuk sementara waktu, dan aku juga mulai berpikir tentang makanan seperti apa yang aku harus buat untuk aku makan.

Setelah berjalan di hutan dengan perasaan senang, aku akhirnya sampai pada tujuanku.

Hanya terdapat satu benda yang manusia buat di dalam hutan ini— singkatnya, itu merupakan rumahku.

 

“Oke.” (Yuri)

 

Setelah menaruh bintang magical di lantai, aku merentangkan badanku untuk melemaskan ototku.

Untuk saat ini, bagaimana kalau aku memanggang bintang magical ini? Ketika aku berpikiran seperti itu, aku merasakan kehadiran yang tidak aku kenal. Apakah mungkin, bintang magical berbadan besar di sekitar sini terpikat karena bintang magical yang aku bawa.

 

“Aku tidak akan membiarkanmu lolos.”

 

Aku langsung bergegas keluar sambil mengeluarkan air liur.

Dan kemudian, ada orang yang tidak aku kenal di luar rumahku.

 

“…Ini rumah, kan?” (Firia)

 

Dia menggumamkan sesuatu di depan rumahku. Sepertinya karena dia sedang memikirkan sesuatu jadi dia tidak dapat menyadari keberadaanku.

Aku dengan seksama mengamati perempuan tersebut.

Dia memiliki rambut perak, mata perak, dan kuping panjang. Berbeda dari manusia sepertiku, sepertinya dia berasal dari ras yang berbeda.

Ciri khas dari dirinya ialah wajahnya yang sangat cantik. Manis, dan lucu, terlebih lagi elegan.

Seperti wajah cantik tersebut merupakan perwujudan kecantikan dunia, pandanganku terpikat olehnya.

Di bagian atas badannya, dia memakai baju putih ketat yang menunjukkan lekuk tubuhnya, dan di bagian bawah badannya, dia memakai rok.

Hanya dengan memandangnya sekilas aku yakin dia memiliki style yang bagus.

Tangannya yang lebih ramping daripada punyaku, kakinya yang panjang dan ramping memanjang dari roknya. Perkembangan dadanya sepertinya sedikit kurang, tapi meskipun begitu aku dapat mengatakan kalau kecantikan dirinya yang seperti seni pasti sangat luar biasa.

Aku tidak dapat menyembunyikan keterkejutanku dapat bertemu dengan perempuan cantik yang berada dihadapanku.

Dia memang cantik luar biasa, tapi alasan terbesar ialah pertemuan pertamaku dengan seseorang sejak aku hidup di dalam hutan.

Aku tidak pernah menyangka kalau seseorang akan datang ke bagian dalam hutan.

Pada pertemuan pertamaku dengan seseorang setelah sekian lamanya, aku tidak dapat menahan hatiku untuk tidak berdegup keras.

Tanpa menyadari hal tersebut, perempuan cantik tersebut menyentuh dagunya dengan tangannya sambil berpikir dengan ekspresi yang termenung.

 

“Kenapa ada rumah semacam ini di tempat seperti ini…? Haruskah aku mencoba untuk memasukinya?… tidak, sekarang bukan saatnya untuk ragu-ragu.” (Firia)

 

Sepertinya dia tidak dapat menyadariku. Jika seperti itu maka lebih baik aku mencoba memanggilnya terlebih dahulu.

Dan kemudian aku memanggilnya dengan berpikiran seperti itu.

 

“Apa kau ada perlu denganku?” (Yuri)

“Wea!?” (Firia)

 

Dia berteriak dengan suara yang aneh meskipun dia perempuan cantik, dan dia memandangku dengan ekspresi terkejut.

 

“Ma-maafkan aku, menjadi kaget…” (Firia)

“Tidak, maafkan aku telah mengejutkanmu. Ini pertama kalinya bertemu seseorang di dalam hutan. Dan jadi, apa kau ada perlu denganku?” (Yuri)

“Aku hanya ingin bertanya jalan keluar dari hutan ini, bisakah?” (Firia)

 

Menurut dia.

Sepertinya dia bernama Firia Windia. 17 tahun, dan Elf.

Aku dengar elf memiliki penampilan cantik, tapi aku tidak pernah menyangka sampai segininya.

Dan kemudian, sepertinya dia memang datang ke dalam hutan, tapi dia tersesat ketika ingin keluar dari hutan.

Setelah mendengarkan ceritanya, aku menyilangkan tanganku, dan melihat elf yang berada dihadapanku.

Bulu matanya yang panjang naik turun setiap kali dia berkedip.

 

“Jadi begitu ya, ya. Dengan kata lain… Kamu, tadi siapa namamu?” (Yuri)

“Aku baru saja memperkenalkan diri, padahal… Namaku Firia. Ah, ngomong-ngomong aku tidak akan menolak jika kamu ingin memanggilku dengan ‘Firia-san si elf yang sangat cantik’, kamu tahu?” (Firia)

 

Menyeringai dengan lebar, Firia menyentuh dagunya dengan jarinya. Aku tahu kalau dia imut tapi aku harap dia dapat menahan bagian narsisnya sedikit.

 

“…yah, tidak masalah bagiku. Dengan kata lain Firia-san si elf yang sangat canti—“ (Yuri)

“Ah, maafkan aku. Sudah aku duga, panggil aku Firia saja.” (Firia)

“Meskipun kamu yang memintanya.” (Yuri)

“Dipanggil seperti itu oleh seseorang ternyata lebih memalukan daripada yang aku duga…” (Firia)

 

Firia memalingkan matanya seakan menghindari tatapanku.

Dan pipinya sedikit memerah.

 

“Dengan kata lain, Firia, kamu elf, dan ketika kamu merasa gembira untuk meninggalkan desa asalmu, kamu datang ke hutan yang tidak dikenal ini dan kamu tersesat… seperti itu, kan?” (Yuri)

“Benar.” (Firia)

“…” (Yuri)

 

Aku memandang elf yang berada di hadapanku dengan mata setengah terbuka.

Bukannya elf seharusnya mengetahui tempat berbahaya seperti apa hutan ini?

Aku pikir bahkan untuk seorang anak kecil yang sedang gembira tidak akan berlari ke dalam hutan.

Mungkin dia menyadari pandanganku, Firia mengatakan sesuatu dengan bibir merah mudanya.

 

“Kau tahu, aku perempuan yang cukup kikuk. Tapi, bahkan bagian dariku yang seperti itu imut, kan?” (Firia)

“Jangan nyebut diri sendiri.” (Yuri)

 

Penampilannya memang iya, tapi sepertinya bagian dalamnya cukup menyedihkan.

 

“Yah, sederhananya kamu tersesat, kan?” (Yuri)

“Bukan, daripada tersesat… Aku hanya tidak tahu jalan keluar dari hutan sini.” (Firia)

“Itu yang disebut dengan tersesat.” (Yuri)

 

Dengan perkataanku, Firia menundukkan kepalanya.

 

“Uwa, meskipun aku telah mencoba melakukan yang terbaik untuk lari dari kenyataan! Tapi kamu mengatakannya!? Kamu mengatakannya!?” (Firia)

 

Ada apa dengannya…?

Bahkan jika kamu melakukannya, kenyataan tidak akan berubah, kamu tahu? Dasar orang aneh.

Dan perempuan aneh tersebut menutupi dadanya dengan satu tangan, dan menggunakan tangan yang lainnya untuk menunjuk ke arahku.

 

“Merasa senang karena menyadarkanku dari kenyataan yang tidak aku ingin lihat… Kamu jahat, mesum!” (Firia)

“Kalau begitu, aku tidak akan memberitahumu jalannya.” (Yuri)

“Aku minta maaf, tolong maafkan aku.” (Firia)

 

Firia membungkukkan kepalanya ke arahku.

Dari kelihatannya, tanpa diragukan lagi aku yang terlihat buruk di sini… jadi aku lega karena kita berada di dalam hutan.

Meskipun begitu…

Aku memandang Firia yang membungkukkan kepalanya di hadapanku. Apakah elf dipenuhi dengan orang-orang aneh?

Bagaimana ya, mereka lebih menyedihkan daripada yang aku duga. Pada awalnya aku pikir elf, seperti, lebih ke perwujudan sempurna tapi, sekarang aku sangat kecewa.

…Hanya saja, yah, daripada sempurna, dia lebih mudah diajak bicara. Mungkin itulah alasan kami bisa memiliki kesamaan yang bagus dikarenakan dia merupakan yang pertama aku temui dan memiliki pengertian yang mirip denganku setelah sekian lamanya.

Yah, masalahnya sekarang apakah aku dapat membawanya keluar dari hutan atau tidak.

Aku tidak keberatan menolongnya, tapi ada satu masalah besar di sini.

 

“Aku tidak keberatan membantumu, tapi… Aku tidak mengetahui jalan keluar, tahu?” (Yuri)

“Eh!? Meskipun kamu tadi mengatakan ‘kalau begitu, aku tidak akan memberitahumu jalannya’ dengan sombong!?” (Firia)

 

Ah, kalau tidak salah, aku mengatakannya, ya.

 

“Yah maaf, jangan khawatir, jangan khawatirkan itu.” (Yuri)

“Untuk menginjak-injak hati murni seorang perawan…! Harga yang perlu dibayar tidak akan murah, kamu tahu…!” (Firia)

 

Firia menatapku sambil mengatakan itu.

Tapi, karena dia lebih pendek dariku jadi itu membuat matanya menjadi melirik ke atas ke arahku, sejujurnya, ini tidak menakutkan sama sekali.

 

“Yah, apa ya, sekarang kita harus melakukan sesuatu tentang itu terlebih dahulu.” (Yuri)

 

Aku menunjuk ke bagian belakang Firia.

Terpicu karena hal itu, Firia membalikkan wajahnya ke belakang.

Yang berada di sana ialah binatang magical yang memiliki beberapa tentakel.

Itu merupakan binatang magical dengan bentuk tanaman karnivora yang ahli dalam mengendalikan tentakel berliku-liku ungunya.

 

“Uhiyeaaa!?” (Firia)

 

Berteriak dengan suara aneh lagi, Firia langsung memperjauh jarak dari bintang magical tersebut.

Firia menjauhkan dirinya sampai ke tempatku berada, dan badannya terus gemetaran melihat tentakel yang dengan bebasnya bergerak berliku-liku.

 

“Apa-apaan dengan bentuk tidak senonoh itu… Aku sangat merasa ingin melarikan diri yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Haruskah aku melarikan dari sini dengan sekuat tenaga?” (Firia)

“Tapi tentakel tersebut sebenarnya cukup enak, tahu. Sungguh.” (Yuri)

 

Firia, yang perlahan mundur tiba-tiba menghentikan kakinya ketika dia mendengar apa yang baru saja aku katakan.

 

“…Sungguh?” (Firia)

“Ya.” (Yuri)

 

Hanya dengan memanggang tentakel itu, sudah akan sangat enak dan akan mengeluarkan aroma unik.

Bahkan aku dapat mengatakan kalau itu salah satu rasa terenak di dalam hutan ini.

 

“Ayo lawan. Jika aku lari dari sini, aku akan memalukan reputasi elf.” (Firia)

 

Sangat berbeda dengan sebelumnya, sekarang Firia bersiap untuk bertarung.

Ternyata dia orang yang cukup perhitungan.

Tapi, seakan menyela Firia, aku mengatakan sesuatu.

 

“Aku kebetulan ingin memakannya sekarang. Jadi aku yang akan melakukannya.” (Yuri)

 

Ketika aku memikirkan makanan, aku menyadari kalau aku belum makan makanan yang semestinya sejak tadi. Aku merasa lapar sampai terasa aku ingin mati.

Bukannya jika aku mengalahkannya, aku dapat memecahkan masalah kelaparanku.

 

“Apa kamu tidak akan kesusahan? Binatang magical itu kelihatannya cukup kuat.” (Firia)

“Hmm? Ya, serahkan padaku.” (Yuri)

 

Aku berbalik ke arah Firia yang berada di belakangku dan mengatakan itu. Dan kemudian, ekspresi Firia berubah. Dari ekspresi gelisah menjadi kebingungan.

 

“Awas! Di depan, Yuri-san, depan!” (Firia)

“Hmm?” (Yuri)

 

Ketika aku memalingkan wajahku sesuai perkataannya, magic angin yang ditembakkan oleh binatang magical mendekat di depan kedua mataku.

Ujung angin tersebut mengenai badanku, dan membuat banyak debu.

 

“Tidak, tidak mungkin…?!” (Firia)

 

Firia yang suaranya bergetar.

Mungkin, dia pikir aku mati.

Yah, tidak akan aneh untuk berpikir seperti itu, tapi…

 

“Giliranku…!” (Yuri)

 

Menggunakan otot kakiku yang terlatih untuk keluar dari kepulan debu, aku memperpendek jarakku dengan binatang magical.

Aku memberikan bintang magical yang kebingungan pukulan ringan pada perutnya.

Dan bintang magical roboh sambil meneriakkan suara yang sepertinya terasa kesakitan.

Tentakelnya tetap bergerak beberapa saat, tapi itu berhenti juga.

 

“Fuu…!”

 

Setelah membunuh bintang magical, aku menyeret badannya ke Firia.

 

“Apa-apa yang terjadi…?” (Firia)

 

Wajah cantik Firia dipenuhi dengan ekspresi terkejut. Bahkan itu membuatnya membuka mata peraknya secara lebar, sepertinya cukup mengejutkan baginya.

 

“Ah, magic tidak akan ada efeknya bagiku. Karena aku melatih tubuhku.” (Yuri)

 

Benar, itulah alasan kepada aku dapat hidup sendiri di dalam hutan ini.

Tubuh terlatihku, tidak akan dapat dilukai oleh segala macam magic.

Secara harfiah, magic tidak akan berguna terhadapku.

Entah itu magic api, air, petir, angin atau tanah, segala macam magic akan lenyap dihadapan badanku yang keras. Jadi aku tak terkalahkan akan magic musuhku. Itu merupakan keuntungan besar dalam pertarungan yang nyawa sebagai taruhannya. Itulah kenapa, inilah alasan kenapa aku dapat hidup sampai sejauh ini.

 

Magic tidak ada efeknya…? Karena kamu berlatih…? Bukannya terlalu absurd?” (Firia)

 

Firia yang mendengarkan penjelasanku bergumam dipertengahan seakan terkejut.

 

“Meskipun kamu bilang begitu. Mau bagaimana lagi karena hal yang tidak ada pengaruhnya ya tidak akan ada efeknya.” (Yuri)

“Ti~dak a~dil~” (Firia)

“Apa kamu anak kecil?” (Yuri)

 

Ke Firia yang berbicara seperti anak kecil, aku secara tidak sadar mengatakannya sambil senyum terkejut.

 

“Ayo makan dulu sebelum kita pergi keluar dari hutan. Kamu akan makan, juga kan?” (Yuri)

“Kalau begitu aku akan dengan senang hari menerimanya. Rasanya akan seperti apa ya tentakel itu, aku sangat menantikannya!” (Firia)

“Masuk ke dalam terlebih dulu.” (Yuri)

 

Dan dengan demikian, aku mengundang seseorang yang berhenti di depan rumahku ke dalam rumahku.

 

 


Side Project baru, halaman buat seri ini nanti akan dibuat.


Halaman | Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻