Magic? Muscle Is Much More Important Than Such A Thing! Chapter 02

Oleh Alone of Nyx on April 26, 2018

Magic? Muscle Is Much More Important Than Such A Thing! Chapter 2 Bahasa Indonesia


Chapter 2: Mengejutkannya Dia Tipe Orang Yang Membawa Sapu Tangan

 

 

Di hadapan kami, ada jejeran piring kayu kosong.

 

“Haa, aku makan banyak…… Aku tidak bisa makan lagi……”

 

Firia mengatakannya selagi mengusap perutnya. Jumlah yang dia makan sangatlah sedikit, hanya sepersepuluh punyaku.

 

“Aku pikir kamu seorang yang rakus, tapi tidak diduga kamu makannya cukup sedikit, kah.”

 

Karena dia mengatakan ‘enak, enak’ jadi aku pikir makanannya sesuai seleranya, tapi sepertinya perut dia tidak begitu besar.

 

“Aku ingin makan lagi, tapi perutku penuh terlalu cepat. Aku sangat iri kepadamu yang dapat makan banyak, Yuri-san.”

“Penampilanmu cukup ramping lagipula. Bagaimana kalau menambahkan sedikit berat badan?”

 

Aku mengamati badan Firia sekali lagi.

Meskipun dia mengatakan perutnya penuh makanan, tidak ada perubahan pada tubuh rampingnya.

Ketika aku memandangi Firia seperti itu, dia menyilangkan tangannya seakan menyembunyikan dadanya yang kecil.

 

“Ah, di dalam pikiran Yuri-san, aku dinodai……”

“Jangan menuduhku sembarangan seperti itu!”

“Apa, jadi tidak, ya. Kalau begitu aku lega.”

 

Selagi tertawa kecil seakan bercanda, Firia berdiri sambil mengatakan ‘Oi sho’.

 

“Terima kasih atas makanannya. Itu sangat lezat… Kalau begitu, aku rasa sudah saatnya aku pergi.”

“Tunggu sebentar.”

 

Aku memanggil Firia yang berdiri dan berniat untuk meninggalkan rumahku.

Dia memiringkan lehernya seakan bertanya ‘Ada apa?’.

Terhadap Firia yang seperti itu, aku mengungkapkan perasaanku dengan jujur.

 

“Aku juga ingin meninggalkan hutan ini. Apa tidak masalah jika aku ingin pergi bersamamu sampai keluar dari hutan?”

 

Aku tidak pernah merasakan kesepian sejak aku hidup sendiri di dalam hutan ini.

Aku juga tidak merasa kekurangan dengan kehidupanku di sini, karena aku bisa berburu beberapa binatang magical untuk makananku.

Tapi, aku bertemu dia.

Firia memang orang aneh, tapi dia bukan orang jahat. Malah sebaliknya, secara pribadi, aku mungkin bisa mengatakan kalau dia adalah orang baik.

Aku tidak pernah memikirkan tentang meninggalkan hutan ini. Mungkin, aku secara tidak sadar menghindari pemikiran seperti itu.

Tapi, berbicara dengan Firia, minatku untuk ke dunia luar yang secara tidak sadar aku kunci, mengalir keluar.

 

Aku ingin tahu banyak hal.

Aku ingin pergi ke banyak tempat.

Aku ingin bertemu lebih banyak orang.

—Lalu, di atas semua itu, aku ingin menjadi lebih kuat.

 

Perasaan seperti itu dengan cepat mengisi hatiku.

Aku tidak memiliki kemampuan untuk menahan keinginan yang bergejolak seperti itu.

Firia yang mendengarkan ucapanku melihat ke tahan dan seakan sedikit ragu-ragu, dan kemudian dia memandangku.

 

“Kalau begitu, ayo pergi bersama? Aku juga baru meninggalkan desaku jadi aku agak khawatir sendirian, aku akan lebih merasa aman dengan adanya kamu bersamaku, Yuri-san.”

“Ohh! Yoroshikune.”

 

Dan dengan begitu, aku memutuskan untuk meninggalkan rumahku yang telah aku tempati untuk sekian lama.

 

◇ ◇ ◇

 

Aku dan Firia berjalan melalu hutan yang lebat.

Melihat Firia yang belum kehabisan nafas meskipun kami telah berjalan cukup lama, aku merasa terkejut. Dibandingkan dengan penampilannya yang rapuh, tidak disangka dia memiliki cukup daya tahan.

 

“Kita masih belum bisa melihat jalan keluarnya, ya. Yuri-san, apa kau baik-baik saja?”

 

Sebaliknya, dia bahkan sampai mengkhawatirkanku.

 

“Aku tidak apa. Atau sebaliknya, aku terkejut kamu memiliki daya tahan seperti ini, Firia.”

“Elf merupakan penduduk hutan. Kecuali tempat di luar hutan, selama mereka di dalam hutan, itu hanya seperti berjalan di taman.”

 

Firia mengatakannya sambil membusungkan dadanya yang kecil.

 

“Penduduk hutan yang tersesat di dalam hutan, ya…”

“Kamu berjanji tidak akan mengungkit itu lagi, kan.”

 

Selagi saling bertukar kata seperti itu, aku dan Firia menjelajahi hutan.

Dan lalu, di depan kami, ada suara seakan suatu pepohonan terdorong.

 

“Seekor binatang magical?”

“Kalau begitu, sekarang giliranku untuk menunjukkan kemampuanku, kan?”

 

Firia mengatakannya dengan datar selagi menghadap ke binatang magical yang muncul.

Tinggi binatang magical, yang berjalan dengan empat kaki, sekitar pinggang Firia. Memiliki tanduk yang bagus di dahinya, bahkan di dalam hutan ini, itu cukup kuat. Selain itu dagingnya enak, bagiku itu binatang magical yang lemah. Aku bahkan tidak tahu namanya.

 

“Gargas, ya. Nampaknya aku tidak boleh menahan diri.”

 

Rupanya binatang magical yang berada di hadapan kami dipanggil gargas.

 

“Kumohon mati.”

 

Firia mengarahkan telapak tangannya ke binatang magical, dan menembakkan jarum air.

Dengan kecepatan sangat tinggi, air yang ditembakkan menembus binatang magical dari mulutnya sampai ujung.

Si binatang magical mati bahkan sebelum dapat mengeluarkan suara sedikitpun.

 

“Selesai. Barusan aku menggunakan magic air, tapi selain itu aku juga dapat menggunakan magic lainnya seperti api, petir, angin, dan juga penyembuhan. Selama aku memiliki magical energy, aku bahkan bisa menumbuhkan tangan yang hilang. Tapi mustahil jika sudah lewat dari waktu yang ditentukan.”

“…Menakjubkan, ya.”

 

Aku mengutarakan kata kagum.

Aku ingin tahun bagaimana dia dapat bertahan hidup selagi tersesat di dalam hutan ini yang merupakan daerah kekuasaan binatang magical, tapi tidak heran jika dia sekuat itu. Menumbuhkan lengan yang hilang bukanlah pencapaian dari magician biasa, kan.

Dibandingkan itu, Firia melambaikan tangannya seakan itu bukanlah apa-apa.

 

“Iya, iya kah. Te… terima kasih banyak.”

 

Mungkin dia tidak terbiasa dipuji, Firia memainkan rambut peraknya seakan malu.

Itu merupakan reaksi yang mengejutkan. Dapat menggunakan magic seperti itu, bukannya tidak masalah jika dia bertingkah sedikit sombong.

 

“Bu, bukannya aku malu atau apa, kamu tahu!”

 

Firia mengatakannya selagi membusungkan dadanya yang kecil, dan dengan datar menunjuk ke arahku.

Dan kemudian, dia langsung menyilangkan tangannya di depan dadanya.

 

“Kamu, kamu berpikir kalau dadaku sangat kecil, kan! Yuri-san mesum, mesum!”

“…Kenapa kamu bisa mengetahui apa yang aku pikirkan?”

“Itu adalah kemampuan yang aku punya. Itu disebut “membaca pikiran”, itu membuatku dapat membaca pikiran seseorang! Meskipun itu hanya dapat digunakan kepada seseorang yang berhati-hati kepadaku. Bagaimana, hebat bukan?”

 

Firia dengan bangga mengatakannya sambil membusungkan dadanya yang kecil lagi, dan meletakkan tangannya di pinggangnya.

 

“Itu… memang hebat.”

 

Bahkan jika itu hanya dapat digunakan kepada seseorang yang berhati-hati kepadanya, tapi dapat membaca pikiran seseorang memang akan menjadi keuntungan tertentu dalam pertarungan.

Ketika aku mengatakan itu, Firia dengan cepat memalingkan matanya, dan membalikkan badannya padaku.

 

“…Tolong jangan melihat ke arahku sebentar, *hiks*.”

“A, apa aku mengatakan sesuatu yang buruk? Maaf, aku sangat minta maaf!”

 

Aku tidak dapat menyembunyikan rasa panikku ketika Firia tiba-tiba menangis.

Apa yang barusan aku katakan!?

Apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaannya?

Sekarang aku baru kepikiran, aku tidak memiliki pengalaman akan hubungan di antara manusia, mungkin dia merasakan kebingunganku, jadi dia menjelaskannya kepadaku.

 

“Bukan begitu. *hiks*… Aku hanya, merasa sedikit senang.”

“Senang?”

“*hiks*. Karena… kamu mengatakan aku hebat! Karena, orang yang berada di desaki mengatakan kalau kemampuan ini menjijikkan!… *hiks* …Tolong berikan aku sebuah sapu tangan.”

 

Aku memberikan sapu tanganku ke Firia yang masih membalikkan badannya kepadaku.

Firia menjulurkan tangannya yang putih dan ramping untuk mengambilnya.

Dan kemudian dia menyeka air matanya dengan itu, dan menggunakan itu untuk membersihkan hidungnya. Setelah itu, dia mengembalikan sapu tanganku.

 

“Kamu… ini merupakan sapu tangan seseorang, kamu tahu?”

“Tidak masalah. *hiks*. Lagipula aku cantik.”

“Artinya jadi berbada, padahal…”

 

Alasan yang membingungkan, tapi aku lega karena itu membuatnya berhenti menangis. Karena dia telah menangis, sepertinya perasaan dia telah cukup stabil.

 

 

◇ ◇ ◇

 

 

Aku memanggilnya dengan timing yang tepat. Matanya masih merah tapi seperti dia sudah agak tenangan.

 

“Sepertinya kamu sudah agak tenang.”

“Biasanya, pada situasi seperti ini kamu seharusnya mengatakan ‘kamu bisa menangis di dadaku’, kamu tahu?”

“Kamu bisa menangis di dadaku.”

“Tidak, tidak usah karena aku sudah berhenti menangis. Lagipula, aku bukanlah cewek gampangan.”

 

Firia dengan acuh tak acuh mengatakannya dengan matanya yang masih merah.

Dan kemudian, setelah beberapa detik berlalu, dia membuka mulutnya lagi.

 

“…Tapi, yah, itu bukannya aku tidak merasa senang kalau dipuji. Terima kasih banyak.”

 

Dan Firia mengatakannya sambil tertawa Nihihi. Senyumannya dapat mempesona siapapun yang melihatnya.

Namun, mengatakan ‘itu bukannya aku tidak merasa senang’… Meskipun tidak akan menjadi masalah kalau dia mengatakan ‘aku senang’. Orang yang tidak jujur.

Terhadap Firia yang seperti itu, aku dapat merasakan mulutku sedikit mengendur.

 

“Tidak, aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan, jadi kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku. Itu sebabnya, Firia, kamu juga harus hidup sesuai keinginanmu. Otot ini, keren, kan?”

“Tidak, itu, aku tidak begitu mengerti hal itu.”

 

Terhadap diriku yang menunjukkan otot terlatihku, Firia memandangku dengan ekspresi dingin.

Betapa menyedihkannya dia sampai tidak dapat mengerti kehebatan otot ini.

 


Sebelumnya | Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻