Magic? Muscle Is Much More Important Than Such A Thing! Chapter 03

Oleh Alone of Nyx on May 1, 2018

Magic? Muscle Is Much More Important Than Such A Thing! Chapter 3 Bahasa Indonesia


Chapter 3: Kehebatan Magic Otot

 

 

Setelah beberapa hari berkeliaran di sekitar hutan.

 

“…Oh. Aku dapat melihatnya, jalan keluar.” (Yuri)

 

Akhirnya kami dapat keluar dari hutan.

 

“Aah! Kita benar-benar keluar dari hutan!” (Firia)

 

Aku bilang ‘ya’ ke Firia yang baru saja keluar dari hutan.

 

“Tentu saja aku suka hidup di dalam hutan, tapi sesuai dugaan dapat melihat pemandangan bidang yang luas sungguh menenangkan, ya. Kemungkinan diserang oleh binatang magical juga rendah.” (Firia)

“Memang benar… Maaf Firia, boleh aku meminta sedikit air?” (Yuri)

 

Karena kita terus berjalan sejak pagi, atau mungkin dikarenakan aku merasa sedikit lelah akibat kita akhirnya dapat keluar dari hutan. Bagaimanapun juga, aku merasa haus. Firia menunjukkan ekspresi yang sedikit enggan ketika dia menuangkan air ke tanganku yang kubuat berbentuk mangkuk.

 

“Terima kasih.” (Yuri)

“Biasa saja.” (Firia)

 

Air dingin mengalir di tenggorokkanku. Terasa seakan tubuhku merasa segar dari lubuk hatiku yang paling dalam.

 

“…Meskipun magic tidak akan ada efeknya terhadapmu, tapi meminum air yang dibuat oleh magic agak, sangat curang, ya kan~” (Firia)

“Iya kah? Yah, bahkan tubuh ini nggak kebal juga kali.” (Yuri)

 

Magic tidak akan ada efeknya terhadapku, tapi bukan berarti akan ada efeknya terhadap lawanku.

Aku hanya dapat menangkis segala magic dengan tubuh kerasku.

Itulah kenapa, jika aku menerima serangan magic yang lebih kuat daripada daya tahan tubuhku, aku akan terluka secara biasa. Yah, meskipun sesuatu seperti itu belum pernah terjadi sekalipun sejauh ini.

 

“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Berpisah di sini, atau mungkin jalan bareng?” (Yuri)

“Aku terus memikirkannya sejak beberapa hari yang lalu, tapi jika tidak keberatan, apa tidak masalah bagiku untuk menemanimu, Yuri-san? Karena aku merasa tidak akan bosan jika aku bersamamu.” (Firia)

Lagipula kamu orangnya lucu juga, Yuri-san.” Tambah Firia.

 

Meskipun aku pikir yang aneh di sini bukanlah aku, tapi kau.

 

“Ditambah lagi, karena elf ras yang tertutup, kami jadi jarang keluar dari hutan. Dengan penampilan yang sangat di luar batas kewajaran, sepertinya kami sangat disukai,  aku bahkan mendengar kalau kami mungkin akan jadi incaran oleh pedagang budak… Itulah kenapa, yah, aku ingin ada yang melindungi~, seperti itu.” (Firia)

 

Firia mengatakannya dengan malu-malu sambil menggerakkan tubuhnya secara aneh.

 

“Apa keuntungannya bagiku?” (Yuri)

“Seperti, kamu dapat bersamaan dengan diriku yang cantik.” (Firia)

 

Selagi meletakkan jarinya di pipinya yang terlihat lembut, dia mengatakan seakan itu hal yang pasti.

 

“…Apa itu sebuah keuntungan?” (Yuri)

“Tidak peduli bagaimana kamu memikirkannya, itu merupakan sebuah keuntungan, tahu. Ditambah lagi, jika itu demi diriku, aku tidak akan merasa bersalah sedikitpun untuk memanfaatkan seseorang!” (Firia)

 

Firia mendeklarasikannya dengan sangat bersemangat. Dengan wajahnya penuh kemenangan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

 

“…Tidak, aku rasa mengatakan hal itu di hadapanku tidak akan ngefek, kayaknya.” (Yuri)

 

Apa? Meskipun dia terlihat pintar, apa mungkin dia orang yang bodoh? Yah, secara pribadi, seseorang yang mengatakan sesuatu seperti itu lebih terasa nyaman bagiku.

Caranya berpikir kayaknya sedikit kurang tapi dia cukup pandai dalam bertarung.

 

“Ah, itu karena aku menggunakan “Membaca Pikiran”, Yuri-san, kamu tidak bermuka dua, dan sepertinya kamu lebih memilih seseorang yang mengatakan apa yang mereka pikirkan. Aku rasa preferensinya agak cabul, tapi aku akan sabar menghadapinya jika hanya sampai situ saja. Terlebih lagi, aku yang menanyakannya kepadamu.” (Firia)

 

…Sebelum aku menyadarinya dia mulai berbicara seakan ini hal yang sudah pasti kalau dia akan menemaniku.

Sebaliknya, bukannya dia berbicara terlalu berlebihan tentang apa yang dia pikirkan?

Aku hanya dapat menghela nafas ‘haa’.

Yah, orang yang memberikan dorongan terhadapku untuk pergi keluar hutan ialah Firia.

Jadi aku tidak bisa begitu saja menolak permintaannya, kan?

 

“Lakukan sesukamu.” (Yuri)

“Ok~. Kalau begitu aku akan menemanimu secara sepihak.” (Firia)

“…ah.” (Yuri)

 

Aku menghentikan kakiku.

 

“Ada apa?” (Firia)

 

Firia juga berhenti di belakangku.

 

“Firia, apa kamu tahu dimana letak kotanya?” (Yuri)

“Tidak mungkin aku mengetahuinya, kan? Karena aku berjalan dengan polosnya, aku sampai ke hutan ini. Lagipula, aku bahkan tidak tahu sekarang kita berada dimana. Satu-satunya hal yang aku ketahui, manusia merupakan ras yang paling makmur, itu yang aku dengar.” (Firia)

“…apa kamu bercanda, kamu sungguh tidak mengetahui apapun, ya.” (Yuri)

“Sebaliknya, Yuri-san, karena kamu manusia, setidaknya apa kamu tahu dimana letak kotanya?” (Firia)

 

Firia menanyakan pertanyaan seperti itu kepadaku.

Fuu, pertanyaan yang bodoh.

Aku menjawab dengan senyuman yang cerah.

 

“Apa kamu pikir aku yang menutup diriku di dalam hutan sejak aku masih kecil akan mengetahui hal semacam itu?” (Yuri)

“Um, itu bukanlah sesuatu yang seharusnya kamu banggakan, bukan?” (Firia)

 

Ketika dia mengatakannya, benar juga.

Mengabaikan Firia yang memandangku dengan mata yang setengah terbuka, aku mencari sebuah petunjuk yang mungkin akan membawa kita ke kota.

Dan kemudian, aku berhasil mendapatkan petunjuknya.

 

“Kita memang beruntung, kita tidak perlu khawatir lagi.” (Yuri)

“Apa maksudmu?” (Firia)

 

Terhadap Firia yang bertanya sambil memiringkan kepalanya, aku menjulurkan tanganku dan menunjuknya dengan jariku.

 

“Aku dapat melihat sebuah dinding istana di sana. Jadi itu pasti kota, bukan?” (Yuri)

“…dinding istana?” (Firia)

 

Selagi mengerutkan alisnya, dia mengatakannya dengan ekspresi kebingungan.

Sepertinya Firia tidak dapat melihatnya.

 

“Yuri-san, kamu mempunyai mata yang bagus, ya kan?” (Firia)

“Yah, karena aku melatihnya.” (Yuri)

“Melatih matamu, apa-apaan itu…?” (Firia)

 

Dengan itu, kita mulai berjalan menuju dinding istana tersebut.

 

◇ ◇ ◇

 

“Yuri-san, apa kamu memiliki hobi akan sesuatu?” (Firia)

 

Ketika kita berjalan menuju kota, mungkin karena bosan, Firia bertanya kepadaku.

 

“Hobi ya… Di dalam hutan, hal yang dapat aku lakukan cukup terbatas.” (Yuri)

 

Aku mulai mengingat apa yang biasanya aku lakukan sampai saat ini.

Dan kemudian, aku mengingatnya.

 

“Ah, aku suka melatih tubuhku. Seperti melatih otot.” (Yuri)

 

Aku melupakannya karena bagiku itu hal yang biasa dilakukan, tapi aku memang menyukai melatih tubuhku.

Di dalam hutan yang memberikan pandangan terbatas, selalu akan ada kemungkinan aku akan menerima serangan kejutan dari sekitarku. Jadi jika aku tidak melatih tubuhku dan hal seperti itu terjadi, aku akan langsung terkirim ke alam baka.

Itulah sebabnya aku memastikan selalu berlatih segala hal yang dapat dilatih seperti mataku, hidung, otot.

Yah, meskipun tanpa hal itu, aku hanya menyukai melatih tubuhku.

 

“Kalau dipikir-pikir lagi, ketika kita di dalam hutan, kamu menyebut tentang ototmu, ya kan? Seperti karena kamu melatihnya jadi magic tidak akan ada efeknya terhadapmu, atau sesuatu yang absurd seperti, yah kamu tahu… Hmm, tapi tidak disangka aku hanya bisa melihat sedikit otot pada tubuhmu, kayaknya…” (Firia)

 

Selagi memandangi tubuhku, Firia menanyakan hal itu dengan pandangan yang tidak sopan.

Tubuhku memang tidak dapat disebut dengan berotot.

Tubuhku lebih ke tegap daripada Firia, tapi mungkin penampilanku yang tidak jauh berbeda dari orang biasa atau paling tidak sedikit lebih berotot daripada mereka.

 

“Aku memang sengaja tetap berada di keadaan seperti ini. Namun, akan lain ceritanya ketika aku sedang serius bertarung, tahu?” (Yuri)

 

Aku mengatakannya sambil memberikan kekuatan ke tubuhku.

Dan kemudian, tubuhku dengan cepatnya berubah menjadi keadaan yang biasanya kau gunakan ketika aku sedang serius bertarung.

Ototku yang bertambah secara cepat dengan mudahnya merobek mantelku, dan aku menjadi setengah telanjang dalam sekejap mata.

Tinggiku bertambah satu kepala, dan mencapai 2 meter.

 

“Bagaimana? Hebat kan?” (Yuri)

 

Sesuai dugaan bahkan Firia terlihat terkejut oleh perubahanku, mata peraknya terbuka lebar.

 

“…tidak, bukannya ini terlalu hebat? Bahkan tinggimu bertambah, kamu jadi drauma berotot sungguhan.” (Firia)

“Tolong jangan puji aku seperti itu, itu membuatku malu.” (Yuri)

“Aku tidak memujimu.” (Firia)

 

Tapi, biasanya aku tidak akan berubah menjadi seperti ini.

Karena tubuhku jadi agak besar, itu membuatnya agak susah bergerak, dan juga tidak cocok untuk bersembunyi.

Melatih ototmu memang hal bagus, tapi badan yang menjadi besar bukan berarti hal yang bagus.

Tergantung situasinya, akan ada saatnya ketika memiliki badan rata-rata lebih baik.

Itulah kenapa, aku memasang pembatas selain ketika aku bertarung, aku membatasi pembesaran ototku.

Jadi dipuji, aku membalikkan tubuhku ke keadaan biasa, dan memakai mantel cadanganku.

 

“Terlebih lagi, bahkan di wujud ini aku masih memiliki cukup kekuatan, tahu?” (Yuri)

 

Aku mengambil batu kerikil berukuran sedang dari tanah dan menggenggamnya dengan kuat.

Ketika aku membuka tanganku, yang tersisa di sana hanyalah batu yang sudah berubah menjadi pasir.

 

“Lihat.” (Yuri)

“…apa batu kerikil sesuatu yang bisa di hancurkan dengan tangan?” (Firia)

“Jika kamu melatih tubuhmu.” (Yuri)

“…Terserahlah.” (Firia)

 

Firia terlihat seakan takjub, aku tidak begitu mengerti apa yang dia katakan.

 

“Selain itu, aku juga bisa memancarkan api, tahu?” (Yuri)

“Kamu juga dapat menggunakan magic api? Berarti, Yuri-san, kamu seorang magician, ya kan?” (Firia)

“Aku memang seorang magician. Tapi magic yang aku gunakan bukanlah api, tapi magic otot.” (Yuri)

 

Aku menekukkan tanganku seakan menunjukkan ototku ke Firia.

Firia memandangku dengan ekspresi seakan dia tidak mengerti apa yang baru saja aku katakan.

 

“…magic otot? Apaan itu?” (Firia)

“Itu merupakan magic yang hanya dapat didapatkan dengan melatih ototmu.” (Yuri)

 

Aku memukulkan tinjuku ke tempat sebelahku.

Tinjuku yang aku gunakan dengan kecepatan yang melampaui kecepatan suara, membuat suara ‘boom’.

 

“Ya kan?” (Yuri)

“…Aku tidak merasakan sedikitpun bekas penggunaan magical energy, apa yang barusan terjadi?” (Firia)

“Aku hanya memukulkan tinjuku dengan kecepatan tinggi, dan dikarenakan terlalu cepat jadi tinjuku terbakar.” (Yuri)

“…ha? Eh? Apa-apa maksudmu?” (Firia)

 

Kelihatannya Firia sangat kebingungan akan magic-ku.

Shikata nai na, karena cara aku menggunakan magic sangatlah tidak biasa. Mungkin di luar hutan tidak ada magic yang sepertiku, ya kan.

 

“Lagipula magic otot adalah magic yang tidak menggunakan magical energy.” (Yuri)

“Tidak, aku rasa itu bukanlah magic tapi hanyalah pencapaian dari kekuatan.” (Firia)

 

Kelihatannya Firia mengatakan sesuatu dengan ekspresi takjub, tapi aku tidak begitu mengerti apa yang dia katakan.

Kau harus lebih melatih ototmu. Jika tidak, kau tidak akan dapat memahaminya.

 

“…umm, Yuri-san. Mengenai ototmu, tapi… apa mungkin kamu sebuah monster atau sesuatu yang lainnya, Yuri-san?” (Firia)

“Kamu terlalu kejam, tahu!? Aku manusia.” (Yuri)

 

Aku tidak pernah menyangka aku akan dianggap sebagai bukan manusia. Aku pikir aku hanyalah orang biasa yang dapat ditemukan dimana saja.

 

◇ ◇ ◇

 

Sore hari.

Sekitar saat hari menjelang gelap, aku dan Firia sampai pada dinding istana dengan selamat.

 

“Ohh…” (Yuri)

“Hebat, ya kan~. Karena elf pada dasarnya sebuah ras yang hidup bersamaan dengan alam, ini merupakan kali pertamaku melihat sesuatu seperti ini.” (Firia)

 

Ada beberapa orang yang seperti tentara di gerbang kota, tapi kita dapat dengan mudahnya melewati gerbang tanpa pemeriksaan sedikitpun.

…apa gunanya orang berdiri di sana coba?

Itulah yang aku pikirkan, tapi aku langsung mendapatkan jawabannya.

Agar binatang magical tidak masuk ke dalam kota, seperti itu kan? Karena sejak kita meninggalkan hutan, kita berpas-pasan dengan beberapa dari mereka beberapa kali. Tentu saja kita mengalahkan mereka semua.

Di dalam kota banyak rumah kayu saling berjejeran. Keteganganku memuncak ketika aku melihat pemandangan kota untuk pertama kalinya.

 

“Kalau begitu. Mulai dari sekarang, apa yang akan kita lakukan, Firia-san?” (Yuri)

“Apa yang akan kita lakukan, Yuri-san. Untuk sementara waktu, menyewa penginapan sepertinya pilihan terbaik, ya kan?” (Firia)

 

Terhadap pendapat Firia, aku memukul tanganku dan membuat suara ‘pon’.

 

“Penginapan, ya. Aku tidak pernah memikirkannya.” (Yuri)

“Yuri-san, tidak disangka kamu cukup bodoh, ya kan~?” (Firia)

“Iya kah? Setidaknya, kita dapat tidur di pinggir jalan, ya kan? Dan karena kita dapat berburu beberapa binatang magical jadi kita tidak akan kesulitan akan kehidupan kita juga.” (Yuri)

“Cara berpikirmu memang savage…” (Firia)

 

Sambil berbicara seperti itu, kami memilih sebuah penginapan.

Karena aku tidak memiliki uang, mau tidak mau aku hanya meminta Firia untuk membayarkan bagianku juga.

 

“Serahkan padaku” itu yang dia katakan, tapi agak buruk bagi seorang pria.

Untuk saat ini pikirkan saja cara untuk mendapatkan uang. Semuanya akan dimulai dari situ.

Aku mulai berpikir tentang hal yang akan kita lakukan mulai dari sekarang di dalam kepalaku.

 

◇ ◇ ◇

 

Setibanya di kamar, aku dan Firia menenangkan pikiran kami.

Di dalam kamar, yah fasilitasnya sama dengan kebanyakan penginapan yang ada.

Masalahnya adalah, hanya ada satu tempat tidur.

 

“…ya, Firia? Bukannya ini kamar untuk satu orang?” (Yuri)

“Ma, mau bagaimana lagi ya kan, karena kita tidak memiliki cukup uang untuk menyewa kamar untuk dua orang.” (Firia)

 

Sepertinya masalah keuangan kita lebih buruk daripada apa yang aku pikir.

Mungkin karena kita berada di dalam kamar berduaan, aku dapat melihat ekspresi Firia yang seakan kaku.

Di saat seperti ini, aku harus menunjukkan sisi diriku yang jantang, ya kan.

 

“Untuk saat ini, tidak apa jika kamu menggunakan tempat tidurnya.” (Yuri)

 

Aku dengan biasanya mengatakan kalau aku tidak akan menggunakan tempat tidur. Yah, itu sudah pasti karena orang yang membayar kamar ialah Firia.

 

“Menyuruhku menggunakan tempat tidur… ha! Jadi kamu mengincar tubuhku, ya kan…? Kamu parah, aku salah menilaimu.” (Firia)

 

Firia menyilangkan tangannya di depan dadanya yang kecil.

 

“Kenapa jadi begitu…? Aku hanya mengatakan karena aku bisa tidur sambil berdiri jadi aku tidak membutuhkan tempat tidur. Selama aku bisa tidur setidaknya 1 jam, itu sudah cukup.” (Yuri)

“Jam tidurmu, bukannya agak absurd?… Yah, karena aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri di dalam hutan jadi aku mempercayainya.” (Firia)

“Terlebih lagi, yang membayar kamarnya kan kamu, Firia, jadi sudah pasti kamu yang harus memakainya, ya kan?” (Yuri)

“Meskipun hanya kita berdua di sini, kamu dan si cantik ini, kamu sepertinya cukup gentleman, ya?” (Firia)

“…cantik? Dimana dia?” (Yuri)

 

Aku dengan tak wajar melihat ke sekeliling dan memeriksa daerah sekitar kami.

Firia dengan hebohnya loncat dan bergerak untuk memasuki daerah pandangku, tapi belum begitu lama dia memompa pipinya dan mengatakan “Muu…”

 

“Sekarang aku marah, aku akan tidur!… selamat malam!” (Firia)

“Ya, selamat malam.” (Yuri)

 

Seperti itu, malam pertama kami di kota terus berlanjut.

 


Sebelumnya | Selanjutnya

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻