Re:Host My Death Flags Chapter 13

Oleh Alone of Nyx on November 15, 2017

My Death Flags Show No Sign of Ending Chapter 13 Bahasa Indonesia


 

 

Karena gangguan Juno, latihan Kazuki kali ini selesai lebih cepat dari biasanya.

Akhir-akhir ini, dia memilki sedikit waktu luang. Saat waktu senggang, dia akan memanfaatkannya untuk berlatih pedang sebagai persiapan untuk masa depan. Akan tetapi, lama-kelamaan dia semakin ketagihan dengan mempraktekan berbagai jurus dari permainan.

Mungkin karena efek sampingnya, sekarang dia tidak tahu cara menghabiskan waktu selain dari itu. Kazuki mengutuk tubuhnya karena dia tidak bisa bebas pergi ke kota.

Oleh sebab itu, Kazuki sesekali pergi membaca buku. Memilah-milah buku, dia menemukan sesuatu yang menarik minatnya. Itu adalah buku tentang sihir.

Meskipun tidak membahas teknik sihir, buku itu berisi tentang asal-muasal sihir dan perkembangannya, beberapa tokoh dan sejarah yang berhubungan dengan sihir juga di terangkan disana secara rinci.

Di dalamnya, Kazuki menemukan nama yang tidak asing.

Vincent Von Westerfort. Dalam cerita asli, dia adalah tokoh heroik saat masih muda, menjabat sebagai kapten Ordo Saint Raja. Dia sangat unggul dalam kemampuan pedang, akan tetapi dia juga cukup unggul dalam kemampuan sihir sampai disandingkan dengan beberapa tokoh dalam sejarah.

Jika digambarkan, dia seperti “ultra firepower.”

Mamanfaatkan pertahanan abnormal tingkat tinggi, dia menerobos dari depan. Dia mempunyai kekuatan menyerang paling tinggi diantara samua karakter dalam cerita.

Tapi sayangnya, dipenghujung cerita, Vincent adalah karakter musuh yang bertempur melawan partai pahlawan. Meskipun dia bukan bos terakhir, kekuatannya cukup merepotkan, jumlah orang yang dia bunuh tidaklah sedikit.

Dan tidak seperti Harold, ia memperoleh popularitas yang tinggi dari para pemain. Karena latar belakang dan alasannya menjadi tokoh antagonis, hampir semua pemain bersimpati padanya. Termasuk Kazuki.

Tapi karena ia dalam tubuh Harold sekarang, Kazuki tiba-tiba membayangkan pertarungan antara Harold dan Vincent yang tidak ada dalam cerita asli, dan ia mulai berpikir cara apa yang bisa dia lakukan agar menang.

Salah satu keunggulan firepower dalam cerita, adalah kecepatannya.

Jika dia bentrok secara langsung dari depan, hal ini tidak akan menguntungkannya. Jika ia secara langsung menerima serangan Vincent, dia tidak akan bertahan lama lagi.

Tapi dalam urusan keterampilan pedang, Harold yang memiliki kecepatan dan variasi serangan yang tinggi, Kazuki berpikir bahwa dia bisa bersaing dengan Vincent.

Di masa lalu, ketika konsep gerakan 3D tidak digunakan seperti sekarang, seperti halnya [Brave Heart], game tersebut hanya memliki gerakan 2D dalam pertarungan. Dengan demikian, pemain tidak hanya harus mengendalikan karakter utama, tetapi juga harus memberikan perintah pada setiap anggota partai sehingga dapat menghasilkan combo.

Termasuk Kazuki, jika beruntung, dia bisa menghasilkan serangan yang stabil sampai dengan 80 combo.

Tapi itu hanya bisa dilakukan dengan kombinasi 4 karakter. Meskipun karakter musuh juga akan ditingkatkan kekuatannya karena hanya satu, Kazuki bisa dengan mudah menghasilkan lebih dari 30 combo dalam pertarungan. Terutama, jika musuh sudah terlempar ke udara, asalkan combo tidak terganggu oleh anggota lain, dia akan bisa terus menghasilkan combo sampai LP musuh habis.

Untuk menang melawan Vincent, ia harus menghindari serangan entah bagaimana caranya. Asalkan combo-nya tidak dihentikan, dia akan bisa terus-menerus melancarkan serangan tanpa henti.

Nah, jika dia bisa melakukan itu, tidak peduli siapa lawannya, dia tidak akan terkalahkan. Akan tetapi, itu adalah pertarungan keroyokan, jika berhadapan satu lawan satu, ini akan cukup suit.

Oleh sebab itu, membayangkan pertarungan Harold dengan lawan yang tidak dimuat dalam cerita asli, bagaimana cara memenangkan pertarungannya, ini adalah cara Kazuki menikmatinya sebagai penggemar berat.

Seperti sekarang, menghabiskan waktunya membaca 100 halaman, tanpa terasa hari sudah larut.

Menutup bukunya, ia menghela napas ringan. Bacaan ini cukup menghibur.

Selanjutnya, besok aku akan mencari buku tentang ilmu pedang. Dia memikirkan itu sambil berbaring di tempat tidur. Dan tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Ah, aku lupa meninggalkan pedang itu di hutan.”

Karena ia terlalu menikmati bacaan, dia sampai melupakan hal itu sampai sekarang. Juno mungkin tahu itu, tapi karena dia tidak kembali ke sana, kemungkinan pedang itu masih tertancap di pohon.

Kazuki jelas paham, jika seorang wanita biasa membawa pedang, ditambah dia adalah seorang pelayan, hal ini hanya akan membuat orang lain merasa curiga.

Bukan hanya itu, jika dia membawa senjata ke Kediaman Stokes, dan mengembalikannya ke sana, dia mungkin juga akan kesulitan menjelaskan alasannya berada di tempat seperti itu. Dari pada dicurigai, lebih baik meninggalkannya saja disana.

Kazuki memeriksa situasi dari luar jendela. Mendominasi cahaya dari bintang-bintang di langit, bulan besinar terang diantara celah awan.

Dunia ini, diterangi oleh bulan dengan ukuran 2 kali lebih besar dari yang Kazuki tahu, membuatnya tidak masalah bagi seseorang berjalan di malam hari tanpa lampu sekalipun.

Pedang itu masih di luar sana. Sebagai orang Jepang, ia tidak bisa tenang jika senjata mematikan tergeletak begitu saja di luar. Apalagi pedang itu adalah miliknya (Harold), dan jika sesuatu terjadi, ia tidak mau bertanggung jawab untuk itu.

Ia melewati rumah, suasana begitu sepi karena semua orang sudah tidur. Kazuki bejalan menelusuri ruangan, membuka pintu dan melangkah ke luar.

Karena di luar lebih terang dari dugaannya, Kazuki lega karena tidak akan masalah baginya jika menyusuri hutan. Meskipun mahluk-mahluk yang disebut monster tidak ada di sini, diperlukan keberanian yang cukup untuk menyusuri hutan di malam hari.

Lebih baik meyelesaikan ini sebelum bulan ditutupi oleh awan.

Kazuki mempercepat langkahnya. Dia berjalan ke arah belakang rumah, tempat dimana taman bunga berada. Taman ini cukup luas untuk disebut sebagai ladang bunga. Berbagai jenis bunga dengan warna-warna yang berbeda berayun karena hembusan angin yang lembut.

Kazuki menghentikan langkahnya karena mehat Erika berdiri di tempat itu. Menatap adegan itu, hal pertama yang dia katakan adalah:

“Huh? Apa yang kau lakukan?” (Harold)

Walaupun Erika telah sepenuhnya pulih setelah istirahat selama dua minggu, akan tetapi tetap saja, udara dingin diluar akan buruk bagi tubuhnya.

Ini reaksi yang wajar. Jika orang dewasa melihat seorang anak berada ditempat seperti ini malam-malam, pasti dia akan khawatir.

Itulah sebabnya, Kazuki tidak ragu-ragu mengambil tindakan dengan nada kasar seperti biasa, menyuruhnya agar segera kembali ke kamarnya. Tanpa menyadari bahwa itu akan menjadi penyebab runtuhnya cerita asli dan rencananya sendiri.

Jika di masa depan Kazuki mengingat ini, dia akan menyesal telah memanggil Erika. Dan merasa, ini adalah titik balik terbesar dalam hidupnya.

Tapi itu bukan sekarang.

“Apa yang kau lakukan malam-malam?” (Harold)

Mendengar suara itu, bahu Erika sedikit gemetar. Takut-takut berbalik, Erika meringis setelah memastikan bahwa dia adalah Harold. Reaksi yang tidak pernah ia tunjukan sebelumnya, Erika merasa tidak nyaman. Tapi tanpa memperdulikan hal ini, Kazuki menutup jarak antara mereka dan berjalan mendekatinya.

“Aku mendengar kau selalu di tempat tidur karena sakit. Dan lagi, melihatmu malam-malam disini, kau sungguh idiot atau memang gila?” (Harold)

Malam-malam di tempat seperti ini, apa kamu tidak kedinginan?‘ adalah apa yang sebenarnya dipikirkan Kazuki. Setelahnya dia tidak melanjutkan dengan – ‘Aku, aku tidak khawatir padamu atau apa, jangan salah paham.’, tetapi sesuai dugaan, Harold adalah sampah dan bukan seorang TSUNDERE. Dia memiliki sifat tercela, dan itu adalah apa adanya dia.

Kazuki bahkan tidak ingin Harold berubah menjadi TSUNDERE yang diproduksi masal. Bahkan jika itu hanya hayalan, bulu kuduknya sudah berdiri.

” ….” (Erika)

“Jangan hanya berdiri disana, kembali ke kamarmu. Untukku, aku akan lebih merasa lega jika kau juga pulang.”

Meskipun kata-katanya tidak terdengar khawatir, Erika masih menunduk ke bawah tidak bereaksi.

” …. Oi, jangan diam saja. Katakan sesuatu.” (Harold)

Mulut Harold sudah diluar kendali. Kazuki merasa ini akan menimbulkan masalah. Erika masih tetap diam, tapi pada dasarnya, dia mengerti maksud perkataannya.

Kazuki memutuskan, jika dia terus berbicara lebih dari ini, dia hanya akan menyakiti gadis ini yang tidak menunjukan perlawanan, dia memutuskan untuk mengakhiri ini.

“Fuuh, baiklah. Walaupun kondisi tubuhmu semakin memburuk, aku tidak peduli, selamat tinggal.” (Harold)

Kalau begitu, kenapa Kazuki (Harold) mengajaknya bicara kalau memang dia tidak peduli? Mungkin inilah apa yang akan orang lain pikirkan.

Tapi tiba, Erika menghentikannya.

” …. Tunggu sebentar.” (Erika)

“Apa?” (Harold)

“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.” (Erika)

Suaranya terdengar sangat gelisah, tetapi seolah-olah ia memaksakan dirinya bicara, Erika menatap Harold.

Memikirkan pertanyaan macam apa sampai-sampai dia menghentikannya, Kazuki memiringkan lehernya.

Rasa penasarannya terjawab dengan kata-kata Erika selanjutnya.

“Ada rumor yang mengatakan kau membakar pelayan sampai mati. Apa itu benar?” (Erika)

(Ah, jadi tentang itu.)

Mendengar pertanyaan Erika, Kazuki tetap tenang, dia tidak bingung ataupun gelisah.

Ini karena 2 minggu yang lalu, saat ia menjemput Erika, dia sudah tahu cepat atau lambat pasti dirinya akan mengajukan pertanyaan semacam ini. Karena Kazuki dan orang tuanya tidak menyembunyikan kejadian ini, ini reaksi yang wajar.

Dari awal, jawaban mengenai pertanyaan ini, Kazuki telah memutuskannya.

“Tidak, Kau salah.” (Harold)

“Kalau begitu …!” (Erika)

Ketika Harold menyangkalnya, Erika melangkah maju sambil tersenyum, seolah-olah ia telah menemukan seuntai harapan. Akan tetapi, kemudian dirinya merasa seolah-olah ditekan ke dasar neraka oleh Kazuki (Harold).

“Aku membunuh pelayan dan putrinya, mereka berdua. Yah, tidak peduli berapa banyak orang yang mati, hal itu tidak akan memberikan banyak perbedaan.” (Harold)

Sukacita diwajahnya lenyap, seolah-olah ia mendengar sesuatu yang tidak bisa dipercaya … Bukan, lebih tepatnya ia tidak mau percaya, mata Erika melebar.

“Kenapa …? Apa alasanmu melakukan itu …?” (Erika)

Sedih, marah, putus asa. Semua perasaan dalam dirinya bercampur aduk, Erika mencoba menggali motif untuk apa Harold melakukan hal ini.

Akan tetapi, jawaban yang diterimanya malah membuat hatinya semakin hancur.

“Tidak ada alasan khusus. Jika harus mengatakannya, wanita itu telah membuatku tesinggung. Jadi, aku membunuhnya.”

Harold mengatakan dengan dingin alasan dia membunuh mereka. Erika sedikitpun tidak mengerti, bagaimana bisa dia dengan mudahnya mengambil nyawa seseorang hanya karena alasan seperti itu. Sebagai manusia, dia tidak bisa mengerti pola pikir semacam itu sama sekali.

“Mereka berdua tidak lebih dari ternak. Tergantung suasana hatiku, aku bisa membiarkan mereka hidup atau membunuh mereka berdua, kau setuju bukan?” (Harold)

” ….. Cukup!” (Erika)

“Jadi, agar anaknya tidak ditinggal sendirian di dunia ini, aku menunjukan belas kasihan dengan membunuh mereka bersama-sama. Dia seharusnya berterima kasih.”

“Hentikan, kumohon …!” (Erika)

“Bagaimanapun, mereka hanyalah spesies rendahan. Dari awal sejak mereka lahir -.” (Harold)

“Pan” suara tamparan terdengar. Penyebabnya adalah Erika yang menampar pipi Harold.

Pernyataanya tentang orang-orang yang tidak memiliki darah bangsawan dianggap sebagi “Spesies Rendahan”. membuat Erika melewati batas kesabarannya.

 

15178963_1280742765281124_2349776828157088310_n

 

Tangannya gemetar penuh kemarahan, dan matanya yang penuh air mata, melihatnya dengan jijik. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Erika mengeluarkan kata-kata kasar.

“Kau yang terburuk!” (Erika)

“Lalu kenapa?” (Harold)

Seolah-olah dia tidak keberatan sama sekali, Harold bahkan tersenyum seperti biasa yang membuat orang lain tampak bodoh.

Dituduh sebagai pembunuh, diperlakukan sebagai yang terburuk, sampai sejauh ini, ia tidak keberatan sama sekai.

” …… Aku tidak ingin lagi bicara denganmu.” (Erika)

“Ha, itu berita bagus, sangat menggembirakan.” (Harold)

“Selamat tinggal!.” (Erika)

Sambil melihat Erika yang semakin jauh darinya, pipi kirinya yang ditampar mulai menunjukan rasa sakit.

Mekipun Kazuki dari awal ingin membuatnya kembali ke rumah, akan tetapi, langsung mendapatkan tamparan adalah hal yang menyakitkan.

(Apakah ini bisa disebut “hadiah”?

“Aku minta maaf pada para fans tentang bagian gila ini, tapi tidak peduli apapun, kau juga harus menjadi gila untuk menikmati ini.” – Kazuki mendesah seolah-olah dia bangga melakukan ini.

Yah, tidak ada gunanya merasa tertekan. Ini bahkan lebih baik daripada ditampar Erika yang menginjak usia 18 tahun, Kazuki mulai berpikir positif. Dengan tamparan Erika, ini akan semakin meningkatkan pengalamannya, tidak melulu hanya meningkatkan kekuatannya.

“Jangan ragu. Jika kau tidak terbiasa untuk gelar ini, berjuang di masa depan akan mustahil.”

Bergumam pada dirinya sendiri, Kazuki berusaha menghibur dirinya.

 


Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya


Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻