Re:Host My Death Flags Chapter 14

Oleh Alone of Nyx on November 15, 2017

My Death Flags Show No Sign of Ending Chapter 14 Bahasa Indonesia


 

Ini merupakan artikel dari Cyborg-tl, dikarenakan web tersebut down, jadi kami re:host di sini.

 

Setelah kejadian itu, meskipun Kazuki diam-diam mengambil kembali pedang dan kembali ke kamarnya, mungkin karena terlalu memikirkan itu, dia tidak bisa tidur. Setelah berguling-guling di ranjang cukup lama, dia akhirnya tertidur sesaat sebelum matahari terbit.

Menyipitkan matanya ke arah langit yang semakin memudar, Kazuki berpikir – Sedikit lagi, tolong biarkan aku tertidur.

Seakan ia terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, tertidur pulas, sehingga saat Kazuki membuka matanya, waktu sudah lewat tengah hari.

Dia bangun seakan menyeret tubuhnya yang berat. Kemungkinan rasa sakit dari semalam masih tersisa.

(Meskipun bukan secara fisik.)

Dia menyentuh pipinya yang ditampar Erika. Secara fisik, tidak ada rasa sakit yang tersisa. Rasa sakit itu berasal dari hatinya.

Meskipun kejadian itu telah berlalu, Hatinya masih terluka oleh rasa bersalah karena membuat seorang gadis kecil menangis.

Bisa dikatakan, bahkan jika mulutnya robek, dia tidak boleh mengatakan “Aku tidak membunuh mereka.” Hal ini dimaksudkan tidak hanya untuk melindungi dirinya sendiri, tapi juga Erika.

“Fuh, tidak berguna.”

Bergumam “Tidak berguna” dicampur dengan nada menghina- Bahkan mengeluhpun tidak dizinkan oleh mulut Harold. Jika ini adalah sifat asli Harold, Kazuki kagum karena kekuatan mentalnya, tapi itu juga mungkin karena dia (Harold) terlalu egois.

Begitu ia berdiri, perutnya yang telah melewatkan makan malam dan sarapan mulai menujukan rasa lapar. Tapi untuk menjernihkan pikirannya karena baru saja bangun tidur, ia memutuskan untuk mandi.

Kembali ke topik, tidak ada bak mandi di kediaman Stokes. Karena budaya mandi (berendam) sendiri tidak ada disini.

Sudah 4 bulan semejak Kazuki berada dalam tubuh Harold. Selama waktu itu, satu-satunya kesempatan ia melihat bak mandi adalah saat mereka tinggal di kediaman Sumeragi.

Dan juga, pemandian umum besar yang terlihat seperti onsen dipasang di luar ruangan, dan bukan menyebutnya bak mandi, itu cukup mewah untuk disebut sebagai hot-spring.

Dia bersumpah dalam hatinya, jika ia memiliki kesempatan kembali ke sana, dia akan memastikan apakah itu hot-spring atau bukan.

Setelah selesai mandi, Kazuki memutuskan pergi ke ruang makan untuk mengobati rasa laparnya. Di perjalanan, ia berpapasan Dengan Juno dari sisi berlawanan saat melewati koridor.

Juno berhenti dan membungkuk ke arahnya, tapi tidak perlu bagi Kazuki untuk bicara padanya karena dia hanyalah seorang pelayan.

Tapi, saat wajah Erika yang menangis terlintas di pikirannya, tanpa sadar dia mulai bertanya tentang kondisi Erika.

“Bagaimana kondisi gadis lemah itu?” (Harold)

Sebelum ia tahu itu, dalam pandangan Harold, Erika telah mengalami perubahan dari gadis cengeng menjadi gadis lemah. Ini adalah cara dia khawatir padanya.

“Mengenai itu, kondisinya saat ini kian memburuk~. Seperti yang Harold-sama katakan, mungkin akan baik jika mempertimbangkan kembali ke wilayah Sumeragi.” (Juno)

Meskipun Juno mengatakan banyak hal, tanpa mengubah ekspresinya, dia membiarkan Kazuki. Diselamatkan oleh kemurahan hatinya, dan berpikir jika dia sudah marah, Kazuki diam-diam menyeka keringat dinginnya.

Berharap mereka pulang ke kediaman Sumeragi karena jatuh sakit awalnya sia-sia, tapi karena kondisi Erika sekarang diluar perkiraanya, jika mereka kembali lebih cepat, itu akan melegakan. Untuk alasan yang berbeda menengenai orang tuanya, Kazuki tidak ingin mereka tahu tentang kasus Clara.

“Kembali ke topik, Apakah Harold-sama tahu penyebab Erika-sama jatuh sakit?” (Juno)

“Mana mungkin. Aku bukan dokter.” (Harold)

Itu bohong. Dia tidak tahu soal 2 minggu terakhir, tapi tidak ada keraguan kondisi buruknya saat ini karena kejadian semalam.

Menambahkan hal itu, Kazuki tidak tahu, tetapi alasan ia jatuh sakit selama 2 minggu terakhir karena Erika shock setelah mendengar rumor Harold membunuh Clara dan putrinya. Dengan kata lain 9 dari 10 alasan ia jatuh sakit, Kazuki adalah penyebabnya.

Jika Kazuki tahu mengenai hal itu, hati nuraninya mungkin akan jauh lebih terluka. Kazuki bukanlah seorang biadab yang menikmati penderitaan seorang gadis yang baru menginjak usia 10 tahun.

Dengan situasi yang tidak normal pecah di wilayahnya sendiri, keluarganya yang bekerja keras bagaimana memikirkan solusinya, bahkan saat mereka lelah, namun karena tidak ada hasil, banyak rakyat jelata yang mati, dan secara tiba-tiba dipaksa untuk bertunangan. Dan tuanangannya itu adalah orang yang bahkan tidak menganggap rakyat sebagai manusia dan tidak ragu membunuh mereka, jenis terburuk dari sampah. Ketika semua itu ditambahkan, stress Erika semakin membesar.

Mempertimbangkan semua itu, menampar Kazuki bahkan tidak cukup untuk membuatnya lebih baik. Sebagai gantinya, ia ingin mendapatkan kasih sayang karena keterpurukannya.

“Sangat disayangkan~. Karena anda bisa membuat obat itu, saya kira pengetahuan anda cukup luas mengenai penyakit.~.” (Juno)

Juno secara tidak langsung berusaha menyelidiki. Dia sangat cemas karena dia masih belum mengetahui asal-usul obat itu. Kazuki benar-benar tidak menyadari niatnya, dan malah berpikir-“Apakah aku sehebat itu?”, Terkejut melihat dirinya begitu dinilai.

“Jika kau begitu khawatir, pinta dokter keluargamu memeriksanya. Meskipun kau tinggal disini, ini hanya akan buang-buang waktu.” (Harold)

Ini tidak aneh bagi keluarga bangsawan seperti Sumeragi untuk setidaknya memiliki 2 atau tiga orang dokter. Jika mereka benar-benar ingin menjaga kesehatannya, ini bisa dilakukan dengan mengirimnya ke tempat tinggal terpisah atau villa dengan perawatan seorang dokter, bukannya dikirim kesini. Akan tetapi mereka tidak melakukan itu, dan Kazuki sadar alasan mereka kemari memiliki beberapa tujuan, tapi Kazuki tidak tahu tujuan apa itu.

Tujuan Juno, terbagi menjadi 2, menyelidiki urusan internal Keluarga Stokes dan menyelidilki latar belakang Harold.

Yang pertama tidaklah sulit, lebih tepatnya, karena Keluarga Stokes sangat dibenci, para pelayan bicara seperti ember bocor saat membuka mulut mereka. Dengan mendengarkan keluhan mereka, dia bisa dengan mudah memperoleh informasi yang dibutuhkan.

Tapi untuk yang terakhir, penjagaan disekitar Harold sangat tidak normal.

Pertama, orang mengatakan anak itu sangat berhati-hati, dan mengingat kemampuannya merasakan keberadaan orang lain cukup tinggi, akan sangat sulit mendektinya. Karena hal itu, Juno terpaksa mengubah targetnya.

Akan tetapi, meskipun ia berulang kali berusaha berhubungan dengan 3 pengawal yang selalu disekitarnya, mereka semua terus menghindarinya.

Ada satu contoh dimana Zen, yang tampaknya paling mudah didekati, pernah keceplosan, tapi tetap saja, dia tidak memperoleh informasi yang dibutuhkan.

Membuatnya tetap waspada walaupun ini hanya obrolan santai, Juno merasa bahwa Harold benar-benar mengendalikan arus informasi agar tidak bocor. Yang membuatnya bingung adalah apakah dia (Zen) melakukannya karena loyaitas atau ancaman atau sesuatu seperti itu.

(Dari laporan divisi pengintai, sepertinya ia (Jake) telah mengunjungi sektor pertaniain~ ….)

Meskipun ia tetap bertukar informasi dengan divisi pengintai yang menyusup ke rumah ini, apa yang dia (Jake) lakukan masih belum diketahui. Bergabung dengan rumah-rumah pertanian kecil setelah mereka menyusup akan cukup sulit.

Jika mereka hendak melakukannya, hal ini akan memerlukan rentang waktu setidaknya beberapa tahun untuk itu, dan dalam kasus ini, mereka tidak punya banyak waktu. Ini juga bisa dikatakan terlalu terburu-buru, dan juga, memiliki pengintai di daerah tinggi penduduk adalah sebuah kesalahan.

Setelah menyelesaikan percakapan, Kazuki melanjutkan perjalanan. Ruang makan dimana biasanya Keluarga Stokes atau para tamu berkumpul untuk makan, dan kantin umum hanya digunakan oleh para pelayan. Kazuki menuju ruang makan.

Tanpa mengetuk pintu, dia secara kasar membuka pintu. Sejak saat itu, waktu menunjukan pukul 14:00, orang tuanya tidak ada disana. Gadis pelayan yang biasa menyajikan makanan sedang membersihkan meja, dia terkejut dengan kedatangan Harold yang tiba-tiba muncul, diapun bingung.

(Dia tidak mampu bergerak karena rasa takut dan kebingungan.)

Pada dasarnya, siapapun yang mengenal wajah Harold, tidak pedui pria atau wanita, tua atau muda, mereka semua akan ketakutan, jadi Kazuki sudah biasa dengan reaksi seperti ini.

Sambil memikirkan itu, ia duduk di kursi.

“Setelah selesai, siapkan makanan untukku. Dan juga, suruh Norman ke mari. Jangan lama.” (Harold)

“Ba, Baik!” (Gadis Pelayan)

Menerima perintah, cepat mengubah celemeknya, gadis itu meningglkan ruang makan dengan langkah bingung. Suara langkah di lorong dapat terdengar.

Setelah itu, bahkan 10 menit belum lewat, dia kembali dengan membawa makanan. Mungkin karena dia di tengah-tengah pekerjaan, Norman datang sesaat sebeum Kazuki selesai makan.

“Maaf datang terlambat.” (Norman)

“Duduklah!” (Harold)

Melemparkan sisa potongan roti kedalam mulutnya, Kazuki setelah itu menghabiskan sisa sup. Ini merupakan perilaku buruk, tapi karena satu-satunya orang yang berada di tempat ini adalah Norman dan pelayan, ia tidak peduli.

Setelah pelayan merapikan piring, Norman memulai pembicaraan saat pelayan itu pergi.

“Anda telat bangun hari ini. Apa anda kelelahan?” (Norman)

“Tidak, aku hanya susah tidur, itu saja.” (Harold)

“Kalau begitu,itu bukan masalah besar.” (Norman)

“Baiklah, karena kau datang, aku punya beberapa waktu untuk memutar otak.” (Harold)

Kazuki (Harold) mengangkat sudut mulutnya. Melihat ekspresi itu, Norman paham.

“Apakah ini menyangkut kekurangan personil?” (Norman)

“Benar, Sebelumnya kita pernah membahas melibatkan orang luar untuk bekerja sama bukan?” (Harold)

“Apakah anda sudah punya rencana?” (Norman)

“Aku memanggilmu ke mari untuk memastikan apakah ini akan bekerja atau tidak.” (Harold)

Tidak menggunakan cara klasik menghitung domba sebelum tidur, berpikir mungkin ia akan mengantuk jika memkirkan solusi untuk sesuatu yang merepotkan. Sesuai harapannya, Kazuki bahkan sedikitpun tidak mengantuk sampai dini hari.

Meskipun ia menyebutnya memikirkan solusi akan sesuatu, pada kenyataannya ini hanyalah pemikiran dangkal dan amatir. Apakah ini bisa diterapkan atau tidak, pada akhirnya ia harus mengkonfirmasikannya dulu dengan Norman dan Jake.

“Jadi, tentang mengambil personil dari luar, apakah mungkin membentuk kontrak dengan pedagang tentang metode pertanian LP setelah menunjukan keuntungannya?” (Harold)

Meskipun Kazuki tidak memiliki pengetahuan dalam perdagangan, ia yakin, teknik pertanian seperti ini akan sangat menguntungkan. Biayanya juga relatif lebih sedikit daripada metode konvensional, tapi efisiensinya akan sangat meningkat. Karena rasanya juga berbeda, mereka juga bisa menciptakan peroduk baru di pasaran.

Menjual teknik pertanian LP kepada para pedagang agar menyebarkannya ke masyarakat luas, setelah itu keuntungan akan dibagi dua antara pedagang dan Harold adalah yang Kazuki pikirkan.

“Tapi pada tahap ini, perlu menahan volume panen untuk sementara. Dan agar rumah-rumah pertanian tidak saling bertentangan, diperlukan ruang lingkup perusahaan yang cukup besar untuk membuatnya teratur, dan itu akan sulit.” (Harold)

Norman, sambil mengagumi rencana Harold (Kazuki), bertanya tentang bagian yang mengganggunya. “Jadi, apakah anda berniat membuat para pedagang sebagai pemimpin?” (Norman)

“Tidak, termasuk itu, aku juga ingin mendengar pendapatmu dan Jake.” (Harold)

“Dengan tidak adanya perantara, jika kita tiba-tiba mendekati perusahaan dengan permintaan, mereka tidak akan menerimanya. Namun jika menggunakan pedagang perorangan, sesuai dugaan, tenaga kerja masih tidak akan cukup …” (Norman)

Jika menyangkut perantara, orang tua Harold tau banyak mengenai mereka. Akan tetapi, permintaan harus disampaikan dengan baik, mereka harus membuat keberdaan teknik budidaya LP dikenal, dan Kazuki pikir ini masih terlalu dini untuk itu.

“Jadi, ini berarti kita masih belum menemukan cara untuk menerapkannya di wilayah ini.” (Harold)

“Sangat disayangkan. Tapi membuat kontrak dengan pedagang menurut saya adalah keputusan yang baik.” (Norman)

“Kalau begitu, kita akan fokus membicaraan tentang hal ini. Sampaikan rencana ini pada Jake.” (Harold)

“Dipahami. Masalahnya adalah menemukan pedagang yang bisa dipercaya.” (Norman)

Setelah itu,kedua orang tersebut membicarakan mengenai ini dan itu, tapi diskusi tidak berkembang lebih jauh.

* * *

Sambil membuat suara berderak-derak, kereta bejalan mengikuti jalur setelah melewati gerbang mansion.

Bertukar obrolan ringan dengan tentara yang berjaga, kusir kereta yang datang adalah Zen, dengan senyum riang terpampang diwajahnya.

Zen, yang telah selesai belanja beberapa barang, menurunkan bagasi dan setelah membawa kembali kereta ke tempatnya, dia langsung pergi ke kamar Harold.

Jika Kazuki (Harold) meihatnya, ia akan mengatakan “Kau seperti anjing yang bergantung pada pemiliknya.”- Dia akan membuat dirinya tampak bodoh dengan mengatakan itu.

Tapi orang itu sendiri (Zen), tampak seolah-olah tidak keberatan dipanggil oleh lidah beracun Harold. Berjalan dengan kecepatan yang aneh, ia akhirnya sampai di depan pintu pemilik kamar. Dia mengetuk pintu namun tidak ada jawaban.

“Harold-sama? Apakah anda di dalam?” (Zen)

Jika pelayan normal, mereka akan langsung pergi. Tapi Zen, yang bertindak terlalu akrab dengan Harold, membuka pintu dan mengintip ke dalam. Meskipun ia tahu itu, di dalam kosong seperti dugaannya.

Memutuskan untuk kembali lagi nanti karena mungkin ia sedang berlatih pedang, ia melihat sosok kecil berdiri di lorong saat bebalik.

Dia melihatnya seakan kehilangan semangat, berusaha menghiburnya, Zen menyapanya dengan ceria.

“Hello, Erika-sama.” (Zen)

Berbalik dengan gerakan lamban, seakan menyadari kehadiran Zen hanya karena suara itu, Erika sedikit melebarkan matanya.

“Selamat siang, kamu adalah …” (Erika)

“Ah, nama saya Zen. Apa yang terjadi dengan Juno-san?” (Zen)

Melihat Erika yang baru pertama kali bicara dengannya, ia bertanya pertanyaan tersebut. Tidak, dia mungkin bermaksud membuatnya bersemangat dengan memberikan pertanyaan gila. Tapi tetap saja, pembicaraan ini sudah melenceng.

“Dia pergi ke kota untuk beberapa urusan pribadi.” (Erika)

Jika mengatakannya tanpa menyembunyikan apapun, ia pergi menemui divisi pengintai untuk bertukar informasi. Karena ia baru saja pergi, dia akan kembali setidaknya 1 sampai 2 jam kemudian.

“Jadi begitu. Satu lagi, mengapa anda disini ….. ? Apakah anda memiliki beberapa urusan dengan Harold-sama?” (Zen)

Karena ia berdiri didekat kamar Harold, tidak salah jika Zen bepikir sepert itu. Tapi setelah Zen menyebutkan nama Harold, ekspresi di wajah Erika malah semakin suram. Saat ini, dia adalah orang yang paling tidak ingin ia temui sedikitpun.

Tapi Erika tiba-tiba menyadari bahwa orang di depannya ini tidak tampak membuat permusuhan dengan Harold. Mungkin dia tidak tahu mengenai rumor itu. Ketika memikirkannya, Erika secara refleks bertanya.

“Apa kamu tidak tahu?” (Erika)

“Etto …, Tentang apa?” (Zen)

“Itu, Harold-sama membunuh seorang pelayan dengan sihir.” (Erika)

“Mengenai itu, emm, bagaimana mengatakannya ya…” (Zen)

Kali ini giliran Zen yang kebingungan. Melihat reaksi itu, Erika yakin dia juga tahu mengenai kebrutalan Harold. Tapi ini menumbuhkan pertanyaan baru.

Meskipun ia telah mengetahuinya, bagaimana bisa dia tetap berurusan dengan Harold? Tapi dari keragu-raguannya, seolah-olah ia tidak merasa takut atau benci pada Harold, tapi itu semacam frustasi karena ingin membelanya tapi tidak bisa mengatakannya.

“Aah …. Saya juga telah mendengar rumor seperti itu diantara orang-orang, tapi tidak ada kepastian apakah rumor itu benar atau tidak, jadi saya sedikit ragu …” (Zen)

“Harold-sama telah menegaskan bahwa rumor itu benar. Lagipula, karena orang yang meninggal itu bekerja di sini, mengapa kamu sampai tidak menyadarinya?” (Erika)

“Uhh …” (Zen)

Setelah Erika mengatakan itu. Seolah Zen telah menggali kuburnya sendiri dengan penjelasan masuk akal Erika yang membuatnya kehilangan kata-kata.

Terus terang, Zen tidak cukup fasih untuk membalikan situasi dengan membingungkannya.

Norman telah memilih Zen karena dia baik hati, bisa dikatakan, Zen memahami perasaan sebenarnya Harold, maka dari itu ia dijadikan sekutu. Tapi itu bukan seolah-olah karakter baik hatinya sejalan dengan kepintarannya. Erika sekarang menekan Zen.

“Kalau begitu, kenapa kamu …. Bukan, mengapa orang-orang bisa tetap mengikuti Harold-sama seperti yang kamu lakukan?” (Erika)

Kata-kata yang diucapkannya terdengar seperti permohonan dan juga pertanyaan.

Tidak peduli seperti apa sifatnya, demi keluarga Sumeragi, Erika harus menikah dengan Harold. Hal yang tidak bisa ia terima adalah prilakunya.

Meskipun ia paham, kebimbangan antara tanggung jawab dan emosinya, Erika tidak tahu bagaimana meyakinkan dirinya sendiri.

Dari awal, dia sudah menyerah pada hal-hal seperti cinta dan pernikahan. Mengetahui orang yang akan menjadi tunangannya berasal dari keluarga yang menjujunjung prinsip darah murni, dan kenyataan bahwa mereka menindas rakyat mereka, ia penuh dengan kemarahan.

Akan tetapi, Harold memberikan harapan kepada wilayah Semeragi yang menderita. Tapi pada akhirnya, tetap saja ia tidak menganggap orang-orang yang tidak memiliki darah bangsawan sebagai manusia.

Jika harus dikatakan, saat ini ia memiliki harapan namun harapan itu segera hancur. Kenyataan bahwa seuntai harapan tidak lebih dari ilusi, hal ini lebih dari cukup untuk membuat Erika sangat putus asa.

Meskipun ia sedang hancur antara kebimbangan tanggung jawab dan perasaannya, ia tetap melakukan yang terbaik.

Tapi Zen tahu, keputus asaannya adalah ilusi yang sengaja Harold ciptakan. Tentunya ia pasti punya alasan.

Hal ini tidak bisa dihindari. Harold, yang rela dibenci dan dihina, dan bahkan memutuskan memikul dosa dengan dicap sebagai ‘pembunuh’ untuk menyelamatkan 2 orang nyawa, telah meninggakan Erika seperti ini.

Dan juga bisa dianggap seperti ini. Erika, demi keluarganya dan orang-orang, ia juga rela membunuh emosinya sendiri, seperti Harold, ia memiliki kekuatan dan kebaikan. Meskipun masih muda, mereka berdua sudah memikul beban berat. Harold dan Erika, berusaha untuk melakukan yang terbaik. Namun, hubungan antara mereka seakan dipisahkan oleh dinding. Dua orang yang sangat mirip, yang seharusnya tidak saling besebrangan, sebaliknya, mereka harusnya bersama, saling mendukung sama lain dan terbuka atas perasaan mereka masing-masing. Zen berpikir bahwa pihak ketiga adalah satu-satunya yang bisa menyatukan meraka.

“Erika-sama, bisakah anda ikut dengan saya?” (Zen)

Itulah sebabnya, meskipun orang dewasa ini tidak bisa diandalkan (dirinya sendiri), jika ia bisa mendukung mereka, meskipun Harold akan membencinya atau meninggalkannya, dia tidak akan keberatan.

“Hanya sebentar, tolong luangkan waktu anda. Ada hal yang ingin saya untuk anda dengar.” (Zen)

 


Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya


Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻