My Death Flags Chapter 19

Oleh Alone of Nyx on October 31, 2017

My Death Flags Show No Sign of Ending Chapter 19 Bahasa Indonesia


 

 

Saat malam hari di mana Harold dan Tasuku menetapkan hubungan kerja sama mereka.
Kegelapan menyelubungi dan di dalam kegelapan di mana cahaya bulan tidak sampai ke tanah karena awan yang tebal, seakan melarikan diri dari kegelapan tersebut ada satu ruangan di mana cahaya terang menyala.
Di ruangan itu, dimulai dengan Tasuku di kursi utama, Koyomi istrinya dan anak perempuannya Erika, pelayan pribadi Kiryuu, dan dengan pakaian memasaknya, yang sangat bersih, menjadi ciri khasnya, Juno, semuanya duduk. .
Seolah ingin menurunkan ketegangan, kepala keluarga kediaman tersebut, Tasuku, mulai berbicara.

“Kalau begitu, sepertinya ada yang ingin kau laporkan. Juno?” (Tasuku)

“Ya. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan kepada Master dan juga Erika-sama.” (Juno)

Meskipun dia berbicara dengan suara tenang, itu bukanlah cara bicara lambat yang biasa dia gunakan.

“Bahkan Erika?.” (Tasuku)

“Ya. Karena aku bergerak di bawah perintah Erika-sama.” (Juno)

Dengan ucapan tersebut, semua tatapan selain Juno berkumpul pada Erika. Merasakan hal tersebut, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku minta maaf karena telah memobilisasi mereka, Ayah. Tapi ada sesuatu yang aku benar-benar perlu konfirmasikan jadi aku terpaksa menggunakan kekuatan Juno.” (Erika)

“Sesuatu yang benar-benar perlu kau konfirmasikan, berarti sesuatu tentang Harold-kun?” (Tasuku)

“Benar. Ayah, apakah kau tahu tentang rumor bahwa Harold-sama membunuh seorang pelayan dan putrinya?” (Erika)

“Ya, sebuah laporan kalau beberapa rumor tersebut beredar di sekitar wilayah Stokes mengatakan hal tersebut.” (Tasuku)

Bahkan pengintai, yang menyamar sebagai pedagang dan wisatawan menyusup ke wilayah Stokes, telah mendengar tentang bagaimana ibu dan anak perempuannya terbunuh. Mungkin karena sejak sebelumnya ada kebencian terhadap keluarga Stokes di kalangan masyarakat, itu jadi cukup meluas.

“…….. Ada kemungkinan kalau itu tidak benar.” (Erika)

“Tidak benar? Dengan kata lain, yang terbunuh dalam rumor tersebut masih hidup?” (Tasuku)

“Untuk memastikan kebenarannya, aku menyuruh Juno dan yang lainnya bekerja sama denganku.” (Erika)

Dan sekarang, Juno ada di sini untuk melaporkan hasil penyelidikannya.
Kali ini, semua pandangan menuju pada Juno. Mereka semua menantikan laporannya.
Karena itu Juno tidak mencoba untuk memperpanjangnya dan langsung ke masalah utamanya.

“Mengenai masalah kali ini, rumor yang beredar itu salah. Clara sang pelayan dan putrinya Colette yang seharusnya terbunuh masih hidup.” (Juno)

Karena laporan tersebut, Tasuku menyipitkan matanya dan Erika menundukkan kepalanya dan dengan kuat mengepalkan tangannya, yang berada di atas lututnya. Dia diserang perasaan bersalah.
Sambil melihat ke arahnya seakan dia mengkhawatirkannya, Juno melanjutkan laporannya.

“Saat ini, mereka tinggal di sebuah desa kecil bernama desa Brosch yang berada di bawah yurisdiksi Viscount Ballack. Meski cukup sulit, saya bisa mendapatkan kesaksian darinya langsung.” (Juno)

“Apa yang kau maksudkan dengan sulit?” (Tasuku)

“Karena mereka tidak mengubah nama mereka, sangat mudah untuk menemukan mereka dengan menanyakannya pada penduduk desa, tapi dia dengan keras kepala menolak untuk berbicara tentang apa yang telah terjadi selama waktu itu.”

Menerima laporan dari rekan-rekannya yang telah pergi ke sana sebelum dia, Juno menuju ke desa itu sendiri. Ketika dia secara pribadi mencoba berbicara dengan Clara, tidak sampai mengusirnya di depan pintu, tapi sepertinya Clara tidak berniat membicarakan situasi sebenarnya.
Tapi itu juga bukan berarti Juno bisa mundur begitu saja ‘Mau bagaimana lagi~. Dan sambil berbicara dengan Clara, dia menyadari hal yang sangat pasti.

Clara merasa sangat berterima kasih pada Harold.
Sambil bersikeras kalau dialah yang telah membunuh mereka berdua, Harold telah menyembunyikan kelangsungan hidup mereka, dan bahkan saat mengetahui kalau ada rumor tentangnya yang membunuh mereka, dia tidak menunjukkan perilaku ingin menghentikan rumor tersebut. Ditambah lagi, tidak diketahui kenapa orang yang seharusnya dibunuh tersebut merasakan rasa terima kasih terhadap Harold.

Ketika dia berpikir sampai di sana, Juno membentuk sebuah hipotesis. Jika hipotesis itu benar, dia punya ide bagus untuk mengguncang Clara.
Dan secara bersamaan, itu adalah sesuatu yang bisa menginjak-injak perasaan Harold dan Clara.

Tapi kalaupun hal itu terjadi, Juno tidak punya pilihan untuk menahan lidahnya. Sambil menahan perasaan pahit, dia terus melanjutkan.

“Harold-sama menerima nama buruk sebagai pembunuh dan terus membenarkannya. Karena hal itu, para penduduk sangat membencinya, dan meski tidak diperlihatkan di permukaan, Harold-sama menjadi sangat kurus.
Aku tidak memiliki niat untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya menjadi publik. Tapi jika Anda menceritakan hal yang sebenarnya, Harold-sama akan mendapatkan simpati di balik layar. Tolong berikan testimoni, anggap saja itu cara untuk menolongnya.” (Juno)

Kata-kata memohon yang dilebih-lebihkan di sini dan di sana langsung efektif. Ketika Clara mendengar ucapan Juno, wajahnya menjadi sangat pucat dan dia menutupi mulutnya dengan tangannya. Matanya dipenuhi air mata dan setelah beberapa menit kesunyian yang menyiksa berlalu, dia akhirnya menceritakan pada Juno segala sesuatu yang telah terjadi pada hari itu dengan jelas.
Dan dia menyesal. Bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berbicara karena dipaksa.

“……….Apa yang dia katakan?” (Tasuku)

“Tampaknya semuanya dimulai sekitar 5 bulan yang lalu, ketika Clara hampir melukai Harold-sama karena kesalahan yang tidak disengaja.” (Juno)

Dari situ, Juno menyampaikan semua yang dia dengar dari Clara secara akurat tanpa berlebihan atau kekurangan apapun pada semua orang di ruangan tersebut.

Dengan dorongan tersebut, orang tua Harold marah dan hampir membunuhnya.
Harold telah berbohong kepada mereka dengan mengatakan kepada mereka bahwa dia akan menggunakannya sebagai eksperimen magic dan kemudian mengurungnya di ruang bawah tanah.
Dan sambil mengulur waktu, dia telah membuat sebuah rencana untuk menyelamatkan Clara.
Agar anak perempuan tersebut tidak ditinggalkan sendirian, dia menyatukan mereka.
Dia telah menyiapkan sejumlah besar uang, kereta kuda dan barang rumah tangga serta memberikannya secara gratis kepada mereka.
Dia telah menerima penghinaan tersebut bahkan sampai sekarang kemungkinan untuk memastikan keselamatan mereka.

“……….. Dia mengatakannya sambil menangis.” (Juno)

Mendengarkan laporan Juno, semuanya tercengang.
Di balik sikap sombongnya, Harold sangat kuat dan baik hati, dan pada saat yang bersamaan karena dia tahu tentang penderitaan yang telah dia lakukan ini.
Dan Clara yang mengetahui tentang hal tersebut, meski demi menyelamatkannya, pasti merasakan rasa sakit seakan tubuhnya telah dipotong karena dia berbicara tentang hal yang sebenarnya dan mengabaikan perasaannya.

Erika berdiri tiba-tiba dan mengulurkan tangannya ke pintu geser. Tasuku menghentikannya dengan bertanya padanya.

“Erika, kamu mau pergi kemana?” (Tasuku)

“………. Bagaimanapun juga, aku harus minta maaf pada Harold-sama. Tanpa mengetahui apapun, bahkan tanpa mencoba untuk mengetahuinya, aku memakinya hanya berdasarkan emosiku, dan terlebih lagi aku malah menggunakan tanganku. Meskipun itu adalah sesuatu yang tidak mungkin diampuni, tapi setidaknya masih ……..” (Erika)

Setidaknya dia akan meminta maaf secara tulus.
Tapi pikiran tersebut dihambat oleh Tasuku.

“Itu tidak bisa diterima.” (Tasuku)

“Mengapa?” (Erika)

“Dia sampai melakukannya sejauh ini, mempertaruhkan segalanya, untuk melindungi mereka. Sekarang setelah kita mengetahuinya, perilaku yang harus kita pilih bukanlah berbagi rahasia tapi untuk secara hati-hati mengikuti rahasia tersebut. Jika dia mengetahui kalau ada kebocoran informasi terhadap pihak lain, saat kita masih belum bisa saling percaya satu sama lain, yang kita bicarakan adalah Harold-kun, dia akan lebih berhati-hati terhadap kebocoran dan menjadi lebih penyendiri daripada dia yang sekarang.” (Tasuku)

Jika itu terjadi, ada bahaya terhadap Harold yang telah bertempur sendiri sejauh ini menjadi lebih penyendiri lagi. Meskipun tampaknya Harold akan melakukan sesuatu bahkan pada saat itu, meskipun begitu, itu adalah jalan yang berduri.
Di balik topeng tebal tersebut, dia mungkin telah terluka berkali-kali, dan terkadang dia juga menangis.

“Jelas misalnya Erika ingin meminta maaf. Tapi apakah itu benar-benar muncul karena menyadari kalau kamu telah menganiaya dia? Bisakah kamu menyatakan bahwa kamu tidak menginginkan diampuni karena perlakuan yang tidak baik? (Tasuku)

“!” (Erika)

Karena itulah Tasuku menghentikannya. Bahkan jika dia harus mengatakan beberapa kata yang tidak masuk akal dan kasar kepada putrinya sendiri.
Erika juga mengerti apa yang ingin dikatakan Tasuku. Paling tidak di kepalanya, dia memahaminya. Tapi hatinya, emosinya tidak bisa diatur sesuai akal.

“……… Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa yang kamu ingin aku lakukan ketika aku bahkan tidak bisa memperbaiki kesalahanku, ketika aku bahkan tidak bisa meminta maaf !?.” (Erika)

Erika yang menjerit seperti itu sangat cocok seperti anak kecil, di mana dia berkelakuan seperti seusianya. Berhadapan dengan Erika, yang biasanya lebih dewasa dari yang seharusnya, tapi menunjukkan perilaku kekanak-kanakan sekarang, meski dia sadar itu sangat tidak pantas, Tasuku tersenyum senang.
Sambil berdiri tegak, Tasuku mendekati Erika, dan dengan lembut membelai kepala Erika yang berada di sekitar tinggi perutnya.

“Jadilah orang yang bisa mendukung Harold-kun. Dia luar biasa, tapi dia terlalu luar biasa. Terkadang kekuatannya akan mengisolasi dia.” (Tasuku)

Bertukar kata dengan Harold, Tasuku secara naluriah merasakan beberapa hal. Kemungkinan besar, Harold melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda dari dia, atau lebih tepatnya dari manusia normal.
Jika bukan itu masalahnya, ucapan “Ini adalah sesuatu yang tidak lain selain diriku yang bisa mengerti” tidak akan keluar.

Ketika dia mengatakan dengan menyesal, dia pasti sudah mengerti masa depannya sendiri yang sudah dikhawatirkan Tasuku. Tapi untungnya atau sayangnya, Harold juga mempunyai kekuatan untuk bertahan dalam kesendirian tersebut.
Jika itu dia, tidak peduli betapa terjal jalannya, dia akan berjalan terus. Tasuku merasakan kemauan kuat dari Harold.

“Jika kamu berpikir ingin menyesali atas tindakanmu, jangan memohon ampunan, tapi apa pun yang ingin dia capai, awasi, dukung, coba mendekatinya dan cobalah untuk menjadi orang yang benar-benar memahaminya.” (Tasuku)

“Mendekati Harold-sama, jadilah orang yang benar-benar bisa memahaminya ………” (Erika)

“Itu akan menjadi sesuatu yang sangat sulit dilakukan. Karena betapa luar biasanya Harold-kun, meski dia mungkin menginginkan rekan, dia mungkin tidak membutuhkan teman. Bisakah Erika menemaninya, seseorang yang bisa melakukan banyak hal sendirian, dan mempercayai penilaian sepihaknya?” (Tasuku)

Yang terpenting, jelas sekali bahwa Harold sendiri berusaha menyingkirkan Erika. Tasuku tidak berpikir kalau dia akan bersikap seperti itu tanpa alasan apapun.
Dia mungkin mempunyai alasan untuk melakukan itu terhadap Erika.

Artinya, tidak peduli berapa banyak Erika mencoba mencurahkan perhatiannya padanya, mungkin tidak akan ada balasan. Dan itu juga akan membuat berjalan di jalan yang keras.

“……” (Erika)

Dan Erika tidak sangat kekanak-kanakan untuk menjawabnya dengan “Ya!” Seperti anak kecil yang berpikiran naif. Ini karena, betapa tindakannya sendiri berpusat pada diri sendiri, dan betapa berbedanya bentuk ideal yang Tasuku bicarakan, dia sangat memahaminya sehingga sangat menyakitkan.
Membungkuk dan mencocokkan matanya dengan Erika, yang menggerogoti bibirnya seolah-olah dia merasa malu, Tasuku menasihatinya dengan suara manis yang dipenuhi dengan rasa sayang.

“Kamu tidak perlu memberikan jawaban langsung. Tidak apa-apa bagimu untuk memutuskan apa yang ingin kamu lakukan dengan belajar dari sosoknya. Yah, aku pikir kamu harus meminta maaf karena kamu sudah sampai mengangkat tanganmu terhadapnya.” (Tasuku)

Dia mengantar Erika, yang tampaknya tidak bersemangat, kembali ke kamarnya setelah dia mengucapkan “Ya ……” dengan suara mungil. Dia memutuskan bahkan jika dia mengatakan sesuatu lebih dari ini, dia tidak akan bisa mengatur emosinya.
Setelah Erika meninggalkan ruangan dengan Juno mengikutinya, Tasuku tersenyum masam.

“Ketika pertunangan ditentukan, dia sangat depresi, tapi kali ini juga sama.” (Tasuku)

“Tapi alasannya benar-benar berlawanan.” (Koyomi)

Dibanding dia, Koyomi tertawa dengan suara seperti bel yang berkedip.
Baru 2 bulan yang lalu, meski Erika bersikap tegas, terhadap pertunangan dengan orang yang tidak dia inginkan, di dalam hatinya dia merasa putus asa.
Tapi sekarang, dia merasa menyesal karena menyakiti orang tersebut, dan bahkan memiliki pikiran untuk diakui olehnya. Meski, sepertinya dirinya sendiri masih belum sadar akan perasaan itu.

“Anak-anak terus menjadi dewasa seperti ini ………” (Tasuku)

“Apa yang kamu katakan begitu serius? Bukankah ini pertama kalinya kamu menyaksikan pertumbuhan anak kita secara langsung?” (Koyomi)

“Terlebih lagi jika perasaan ini tentang putrimu sendiri. Ngomong-ngomong, Kiryuu, apa jawaban Itsuki?” (Tasuku)

“Tampaknya dia akan kembali besok pagi.” (Kiryuu)

Menanggapi ucapan Kiryuu, yang telah menahan diri untuk tidak berbicara dan terdiam beberapa lama, Tasuku kembali tersenyum masam.

“Yah kalau dia. Aku tahu dia akan mengatakan itu.” (Tasuku)

“Karena anak itu mencintai Erika. Bahkan jika itu latihan, bukankah terlalu berat membuat Harold-kun bertarung dengannya?” (Koyomi)

“Mungkin akan baik-baik saja. Dari laporan Juno, sepertinya Harold-kun cukup berpengalaman. Seharusnya tidak menjadi perlawanan satu pihak.” (Tasuku)

Meski begitu, bahkan Tasuku pun tidak mengira bahwa Itsuki akan kalah. Bagaimanapun juga, bentrokan mereka berdua akan sangat seru – dorongan mendadak yang menyentuh jiwa pemuda melintas di wajahnya.

“Kamu membuat wajah buruk, dear.” (Koyomi)

“Tidak mungkin. Hanya saja hatiku menari melihat anak-anak yang memiliki masa depan cerah.” (Tasuku)

“Master juga masih muda, bukan?” (Kiryuu)

“Ha ha, tidak salah lagi.” (Tasuku)

“Haa, tidak peduli berapa umurnya, anak laki-laki akan tetap anak-anak.” (Koyomi)

Koyomi merasa jengkel dan menghela nafas pada Tasuku dan Kiryuu mengangguk dan menyeringai.
Harold, yang bahkan tidak menyadari bahwa orang-orang dewasa membicarakan hal-hal ini, merasa puas bahwa segala sesuatunya berjalan dengan baik meskipun ada beberapa situasi tak terduga, dan menikmati perasaan kasur yang tidak dia rasakan dalam waktu lama, dia pergi tertidur.

Dan kemudian, keesokan harinya.
Dengan ekspresi dingin, Harold, yang tampaknya tidak dalam suasana hati yang baik bahkan sekecil apapun, sarapan bersama Tasuku, Koyomi dan Erika. Dan ini terjadi setelah mereka selesai sarapan pagi.

“Oh iya, Harold-kun. Tentang masalah kemarin, aku sudah mempersiapkan lawan yang tepat untukmu.” (Tasuku)

Sambil minum teh hijau setelah makan, Tasuku berkata begitu. Menanggapi ucapan tersebut, Harold mengerutkan keningnya.

“Kau bertindak cukup cepat meskipun aku baru memintanya kemarin.” (Harold)

“Hanya saja kebetulan ada orang yang kuat berada di sekitar. Begitu aku bertanya tentang pertarungan tersebut, dia langsung menyetujuinya.” (Tasuku)

“Siapa?” (Harold)

“Itu adalah kesenangan yang harus ditunggu sampai kau bertemu dengannya. Dia baru saja kembali pagi ini, tapi bagaimana kalau langsung sparring dengannya?” (Tasuku)

“Tentu saja. Kau sudah menyiapkan tempatnya kan?” (Harold)

Tanpa mampu menekan ketidaksabarannya, Harold menjawabnya. Melihatnya seperti itu, Tasuku memperdalam senyumannya.

“Tentu. Kita akan melakukan perjalanan menggunakan kereta jadi bisakah kau bersiap? (Tasuku)

Tak lama setelah Tasuku selesai berbicara, Harold meninggalkan kursinya dan kembali ke kamarnya. Pakaian Jepang – karena akan sulit berkelahi dengan pakaian seperti yukata yang diberikan pada penginapan Jepang, dia menggantinya.

“Bahkan kemarin, tapi Harold-kun baik-baik saja dengan duduk di seiza.” (Tasuku)

“Bahkan tanpa mendengarkan penjelasan pelayan, dia mengenakan pakaian Jepang. Cara menggunakan sumpit dan pakaian juga, sepertinya pengetahuannya tentang budaya Sumeragi cukup dalam.” (Koyomi)

“……….. Kalau diingat-ingat, dia mengetahui tentang bunga sakura juga.” (Erika)

Keluarga Sumeragi menatap kursi kosong Harold dengan heran. Beberapa menit kemudian, sosok Harold dengan pakaiannya yang biasa hadir di kereta. Orang-orang yang menungganginya adalah Tasuku dan Kiryuu, dan entah mengapa Erika juga.

Erika yang duduk di sebelah Harold sepertinya merasa sangat canggung. Harold juga mengerti perasaan tersebut dengan baik.
Tidak ada salahnya dia membenci hal ini. Kemungkinan besar, Tasuku mempunyai semacam rencana.
Penalarannya seperti itu, Harold tidak perlu membuka mulutnya dan terus terguncang oleh kereta.

Setelah beberapa saat, tempat mereka tiba adalah arena yang luas. Hal pertama yang terlintas di depan matanya setelah turun dari kereta adalah pintu masuk 10 meter. Memberikan sebuah udara yang mengesankan, dan saat memasuki lapangan setelah melewati pintu masuk, di ruang besar terdapat berbagai fasilitas yang berbaris, dan dari sana sini dia bisa mendengar teriakan dan ‘don’ terdengar seolah menyentuh lantai bahkan tanpa memfokuskan telinganya.

Di antaranya, yang Harold tuju adalah sebuah dojo yang memiliki atmosfer yang sangat megah dan memiliki 2 lantai.
Mirip dengan penampilannya, mereka memanjat tangga kayu yang terpasang di luar dan memasuki dojo melalui pintu depan yang berada di lantai 2.

Dengan cahaya dari matahari yang memasuki melalui jendela berpola paralel, lantai tersebut tidak terasa suram dan seperti tempat istirahat. Di salah satu sudut, banyak orang dewasa meletakkan tikar tatami yang ditempatkan secara horizontal dan mengambil beberapa ruang.
Saat itu juga, Tasuku dan Erika memasuki area istirahat yang sedang berteriak-teriak dan dipenuhi energi, kemudian menjadi sunyi dan pada saat berikutnya, semua orang menunduk dan mengambil posisi membungkuk.

“Maaf karena berkunjung tiba-tiba. Aku akan meminjam dojo yang lebih rendah sebentar. Apakah Itsuki datang?” (Tasuku)

“Ya. Aku melihatnya pagi ini.” (stranger)

Tasuku berbicara dengan orang-orang di dalam dojo dengan cara yang biasa, dan orang-orang dewasa yang diajak bicara juga menjawab seolah mereka mengidolakannya. Hubungan kepercayaan mereka tampak jelas.
Sambil melihat pemandangan tersebut, Kiryuu yang mengantar, Harold dan yang lainnya mengikutinya dan turun ke lantai 1.

Ada sebuah aula kendo pada lantai itu. Ada 2 lapangan pertandingan, dan plafonnya tidak ada.
Ada kursi penonton yang hadir di lantai 2, dan mungkin karena Tasuku berkunjung atau sesuatu, jumlah orang yang mengintip situasi di lantai 1 mulai menjadi semakin banyak.

Tapi bagi Harold, penonton merupakan hal sepele. Matanya sudah terpaku pada suatu tempat.
Ada seorang anak laki-laki yang mengayunkan shinai-nya di tengah aula kendo. Dia lebih tua dari Harold, mungkin sekitar 12 atau 13 tahun, dan dia fokus mengulang ayunan latihannya. Dengan itu sendiri, dia memiliki kekuatan untuk menarik pandangan seseorang.

“Itsuki.” (Tasuku)

Saat Tasuku memanggil namanya, anak tersebut menghentikan latihannya dan berbalik menghadap mereka.
Dia memiliki rambut hitam dan mata seperti orang Jepang asli. Tingginya sekitar 10 cm lebih tinggi dari Harold, dan dengan fitur menyegarkan dan tampannya, dia bisa hidup sebagai idola bahkan di dunia asli Harold.

Anak laki-laki cantik Itsuki, langsung mengatakan ini setelah dia membuka mulutnya.

“Ooo, Erika! Dalam waktu singkat aku tidak melihatmu, kau menjadi lebih cantik!” (Itsuki)

Mengabaikan Tasuku, dia langsung bergegas ke Erika, dan mencengkeram tangannya, dia dengan sungguh-sungguh mulai memujinya. Erika mengalihkan tatapannya yang sepertinya dia malu, ke arah Itsuki.

“…… ..Oi, jangan bilang, orang ini lawannya?” (Harold)

“Meskipun aku tahu apa yang ingin kau katakan, kekuatannya nyata. Bersantailah.” (Tasuku)

“Aku yakin kalau aku menyuruhmu untuk “menyiapkan orang yang kuat”. Dilihat dari manapun kau melihatnya, dia hanya seorang anak-anak.” (Harold)

“Bahkan kau juga, bukan?” (Itsuki)

Tidak ada apa-apa selain Erika yang dilihatnya – meski begitulah tampaknya Itsuki, sepertinya dia juga telah menyisakan beberapa kesadarannya terhadap Harold juga. Sepenuhnya berbeda saat berhadapan dengan Erika, dengan senyum agak gelap, dia berpaling ke arah Harold.

“Terlebih dahulu, izinkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah Itsuki Sumeragi, kakaknya Erika.” (Itsuki)

“……… Harold Stokes.” (Harold)

“Hanya itu? Tidak mungkin, kan? Bukannya kau menghilangkan bagian yang paling penting.” (Itsuki)

Dengan plop, Itsuki meletakkan tangannya di bahu kiri Harold.

“Kau adalah tunangan Erika, bukan? Adik! Perempuan!! Kebanggaanku!!!” (Itsuki)

Sambil merasakan bahunya digenggam erat-erat oleh tangan kanan Itsuki, Harold menyadarinya.
Bahwa orang ini, tanpa diragukan lagi memiliki sister complex yang berat.


Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya


Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻