My Death Flags Chapter 20

Oleh Pride of Nyx on November 14, 2017

My Death Flags Show No Sign of Ending Chapter 20 Bahasa Indonesia


 

Jika diingat-ingat lagi, Erika memiliki kakak laki-laki― meskipun Harold mengingatnya agak terlambat. Jika dia harus memberikan alasan mengapa dia sangat melupakannya, itu dikarenakan Itsuki tidak hanya absen dalam episode yang tidak berhubungan dengan alur cerita utama, bahkan namanya pun tidak diperjelas dalam permainan.

Tetapi jika ia pikirkan lagi, jika Erika merupakan anak tunggal, dan dia menikah dengan keluarga lain, maka kediaman Sumeragi kemungkinan besar akan binasa. Dengan situasi seperti itu, tidak mungkin mereka dengan mudahnya menyetujui pertunangan, jadi untuk tidak menyadari keberadaan seorang kakak laki-laki merupakan kesalahan Harold.

 

Yah, itu bukan merupakan masalah besar. Tapi Itsuki merupakan kakak laki-laki yang memiliki sister complex akut sama sekali tidak terbayangkan.
Itsuki, yang memasang senyum hitam di wajahnya, tertawa dengan ‘Fufufufu’ akan menjadi lawan yang sangat menyusahkan.

 

“Aku telah mendengarnya. Kalau begitu, sparring denganku.” (Itsuki)

 

Mata tersebut mirip sekali dengan binatang karnivora yang mengincar mangsanya. Dia benar-benar menerima kebencian yang tidak tepat, dan Harold juga tidak ingin menerimanya dilihat dari perilakunya, tapi tetap saja Harold meyakinkan dirinya sendiri kalau itu demi mendapatkan pengalaman bertarung yang sesungguhnya.

 

“Jangan menyentuhku seperti sudah akrab, kau seorang yang lemah.” (Harold)

 

Dia hanya ingin memohon secara normal “Bahuku sakit, jadi bisakah kau melepaskan tanganmu?” dan dia tidak berniat untuk memprovokasinya.

Tetapi selama dia memiliki mulut ini, dia tidak bisa menghindari jatuh ke dalam situasi berbahaya. Mulut ini merupakan asal mula bencana- Harold bahkan percaya bahwa peribahasa ini merupakan ungkapan bijak yang tertulis dalam Shinten.

 

“Kau sangat semangat, kah. Kalau begitu, segera bersiap.” (Itsuki)

 

Selagi dalam batinnya menjauh dari senyuman Itsuki yang semakin mendalam. berpikir bahwa akan sulit untuk bergerak dengan pakaian anak laki-laki dari Inggris saat ini, sesuai dengan pernyataan tersebut, dia mengganti pakaian yang telah disiapkan di ruang ganti.
Di atasnya ada dougi putih, sedangkan di bawahnya ada hakama biru tua seperti pakaian untuk anggota pemanah.

Melihat Harold yang keluar setelah mengganti pakaiannya, Tasuku, Itsuki dan orang banyak yang duduk di kursi penonton di lantai 2 tercengang. Meski anak laki-laki yang tingginya hanya 140 cm itu memakai dougi bersih dan baru, tidak ada kepolosan yang bisa dirasakan dari tingkah lakunya. Harold memancarkan tekanan aura yang dapat menusuk kulit.

 

“Apa ini senjatanya?” (Harold)

 

Serupa dengan yang dipegang oleh Itsuki, dia mengambil shinai yang ada di dinding.
Untuk membuatnya terbiasa, dia mengayunkannya secara biasa, ternyata cukup ringan sampai dia berpikir benda tersebut tidak memiliki beban sama sekali. Selagi membuat suara ‘Hyunhyun’ saat mengayunkannya, Harold secara bebas mengayunkan shinai-nya.

 

Itu merupakan cara berpedang yang mengalir sangat tajam sehingga membuat para penonton hanya bisa menatapnya terkagum-kagum. Melihat hal tersebut, Itsuki kalimat kagum ‘hee’ keluar dari mulutnya.
Meskipun dia telah mendengar tentang Harold sebelumnya, melihat kemampuan berpedang Harold secara langsung, dia meyakinkan dirinya kembali untuk tidak lengah. Bagi Itsuki, meskipun dia lawan menyebalkan yang merebut adik perempuan tercintanya, melihat anak berumur 10 tahun telah berlatih sampai seperti ini, sejujurnya dia merasa kagum.

 

Dan juga harapan jika itu Harold, dia mungkin dapat menikmati pertarungan yang memuaskan.
Jika berbicara tentang kemampuan berpedang, Itsuki sangatlah handal. Dia mungkin seseorang yang berada pada tingkat berbakat.
Maka dari itu, bahkan pada saat ini dia tidak akan mudah dikalahkan dari pria dewasa saat bertarung, dan sebaliknya, terdapat perbedaan besar dalam kekuatan diantara dia dengan anak seumurannya, sangat besar sehingga tidaklah mungkin bagi mereka untuk menandinginya.

 

Jika dibilang dia tidak sama sekali tidak merasakan tidak puas akan hal tersebut, maka itu merupakan sebuah kebohongan. Di dalam hatinya, dia selalu mengharapkan seorang pesaing yang mendekatinya baik dalam umur maupun kekuatan.
Dan sekarang, suatu lawan yang mungkin membuat hal tersebut terwujud telah muncul. Hanya saja jika Harold bukanlah tunangan Erika, Itsuki akan sangat membuka lebar tangan untuk menyambutnya.

 

“Ini seperti ranting.” (Harold)

 

Kesan Harold setelah mengayunkannya beberapa saat hanyalah itu.
Meskipun mengekspresikannya tidak perlu seperti itu, bagi Harold yang terus berlatih menggunakan pedang besi sampai sekarang, dia merasakan kurangnya berat pada shinai.

 

“Kalau begitu, apa kau sudah siap?” (Itsuki)

“Jangan menanyakan hal bodoh. Mulai secepatnya.” (Harold)

 

Terhadap Tasuku yang ingin memastikan, dengan cara sombong yang terasa seakan menyegarkan, Harold menjawabnya.
Dia gugup. Bahkan dapat dibilang ketakutan. Meskipun Itsuki merupakan karakter yang tidak muncul dalam cerita aslinya, dia merupakan manusia yang hidup dalam dunia RPG di mana pedang dan magic eksis seakan itu hal alami. Dia berada di dalam dunia seperti itu dan di sebut kuat jadi tidaklah mungkin dia seorang yang biasa.

 

Ketika dipikir secara normal, tidaklah mungkin seseorang yang hidup secara santai di era modern Jepang dapat menang. Tetapi Harold juga percaya akan sesuatu yang ada di dalam tubuh ini.
Meskipun mulutnya yang selalu menggunakan bahasa kasar dan pernyataan provokatif yang selalu memberinya masalah, tubuh berspesifikasi tinggi yang dapat menerapkan gerakan dan kemampuan yang tidak mungkin dapat dilakukan dengan tubuh aslinya, tanpa diragukan lagi merupakan aset terbesar.

 

Dengan menutup matanya, dalam kegelapan. pertarungan dengan Harold asli tergambar jelas. Ketika dua melawannya pertama kali, dia dibuat merasakan kesulitan dalam kecepatan dan kemampuan yang sangat luar biasa.
Saat ini, tubuh yang saat ini dia gunakan secepatnya akan dapat melakukan hal tersebut. Dan jika dia mengendalikan tubuh ini sesuka hatinya, maka~

 

(Aku tidak merasa seperti akan kalah) (Harold)

 

Di kedua mata Harold, kemauan keras yang tidak pernah terjadi sebelumnya dapat terlihat pada matanya. Dengan mata tersebut, dia memandang Itsuki yang berada di hadapannya.
Setelah mereka berdua terdiam, Tasuki memastikan peraturannya.

 

Shinai senjatanya. Termasuk kepala dan wajah, menyerang bagian vital, dan menggunakan magic dilarang. Tidak ada batasan waktu. Pertarungan akan dinyatakan selesai ketika salah satu dari kalian tidak dapat melanjutkan pertarungan atau menyerah. Dengan pengecualian hal tersebut, ini sama dengan pertarungan sesungguhnya. Apakah ada keberatan dengan peraturannya?” (Tasuku)

“Tidak ada.” (Itsuki)

“Apa kau menyebut ini setara dengan pertarungan yang sesungguhnya? Ini terlalu santai.” (Harold)

“Meskipun kau tidak puas, bagaimana pun aku ingin menghindari segala cidera berat. Kecuali kalau kau memakai baju besi(armor), setidaknya harus seperti ini.” (Tasuku)

“………..Hmm. Untuk hari ini, syarat tersebut sudah cukup.” (Harold)

 

Sebaliknya, dia berterima kasih atas usulan tersebut, tetapi di terlihat enggan menyetujuinya di permukaan. Tasuku merasa lega mendengarnya. Alasannya karena dia sangat memahami kemampuan Itsuki. Dengan kemampuan berpedangnya yang tidak kalah bahkan bila dibandingkan dengan seorang prajurit yang pernah mengalami pertarungan sesungguhnya, jika tidak dibatasi, kemungkinan dia melukai Harold sangatlah tinggi.

Sekalipun itu adalah sesuatu yang diinginkan Harold, merupakan hal buruk jika melukai putra sulung bangsawan, terlebih lagi anak dari seorang bangsawan lain yang memberikan mereka bantuan.

 

Bahkan tanpa dikatakan, Itsuki memahami kecemasan ayahnya. Jika memungkinkan, dia ingin bertarung dengan semampunya, tapi mengingat kedua posisi mereka, merupakan hal yang sulit.
Kalau begitu, kita akan sparring sepuasnya sampai batas tertentu adalah apa yang dipikirkannya. Karena itulah dia tiba-tiba mengucapkan kalimat ini.

 

“Aku akan membiarkanmu menyerang duluan. Lakukan sekuatmu.” (Itsuki)

 

Itsuki tidak berniat untuk meremehkan Harold. Karena dia tidak bisa menggunakan semua kekuatannya, dia ingin tahu seperti apa kekuatan Harold.
Jadi intinya, itu merupakan ucapan yang dapat diartikan dengan permintaan maaf karena dia terpaksa menahan diri melawan Harold yang menginginkan sebuah pertandingan yang serius.

 

“…….”  (Harold)

 

Terhadap sikap Itsuki yang bahkan bisa disebut sombong, Harold secara tidak terduga tidak menanggapinya. Hanya dengan menaikkan alis kanannya sedikit. Mungkin karena ia cukup tenang untuk menerimanya sebagai tindakan yang tidak berguna, atau mungkin karena dia agak kesal yang ditekan dengan kejengkelannya.

 

Sebagai ganti Tasuku dan yang lainnya mundur ke tembok, seorang pria dengan bahu lebar melangkah maju dan berdiri di antara Harold dan Itsuki yang saling memandang.
Mengkonfirmasi bahwa kedua belah pihak telah bersiap, dia dengan keras mengumumkan dimulainya sparring.

 

“Kedua belah pihak, sedia ………… Mulai!” (Wasit)

 

Bersamaan dengan mulainya dengan deklarasi tersebut, Harold yang mendapatkan giliran pertama. Seperti yang diharapkan.
Tapi yang tidak diduga oleh semua orang adalah kecepatan Harold. Dengan kecepatan seolah-olah dia menghilang, Harold melangkah masuk dan menutup celah antara dia dan Itsuki dalam sekejap.

 

“!? ” (Itsuki)

 

Bukan hanya Itsuki yang meninggikan suaranya karena kaget. Di antara orang-orang yang menonton pertandingan tersebut, mereka juga memiliki reaksi yang sama seperti suara Itsuki atau tidak adanya suara keluar karena mereka meragukan mata mereka sendiri.
Tapi bahkan jika Juno, satu-satunya orang yang benar-benar melihat kecepatan Harold dengan matanya sendiri, hadir di sini, bahkan dia akan bereaksi sama dengan yang lainnya. Sebab, kecepatan dan ketajaman gerakannya, bila dibandingkan sebulan yang lalu, ia mengalami peningkatan yang luar biasa.

 

Karena Itsuki benar-benar lengah, dia tidak bisa merespon dengan baik. Tapi tetap saja, itu hanya mungkin karena Itsuki mencoba bertahan secara refleks.
Tapi begitulah. Saat shinai mereka bertabrakan, sebuah suara ‘Shiiin’ bergema di dalam dojo. Di tengah gema tersebut, sebuah suara ‘Gasha’ muncul saat salah satu shinai jatuh ke lantai. Setelah Harold menyelesaikannya dalam sekejap, orang yang berdiri dengan tangan kosong dan terdiam adalah Itsuki.
Sementara semua orang kebingungan, dengan shinai yang terletak di sampingnya, Harold meludahkan kata-kata sambil mencibir pada Itsuki.

 

“Jika ini merupakan pertarungan hidup dan mati, kau pasti sudah mati. Bukannya kau senang, bahwa aku tidaklah serius.” (Harold)

 

Bahkan terdengar seperti ucapan sarkastik. Tapi bagi Itsuki, dia mendengarnya seakan itu penuh dengan kekecewaan.
Seakan menahan rasa frustrasinya, dia mengepalkan tangan kanannya, yang masih memiliki sensasi mati rasa yang karena shinai yang tersingkir dari tangannya, erat-erat.

 

“……. Benar, itu seperti yang kau katakan. Aku minta maaf karena telah meremehkanmu.”  (Itsuki)

 

Perasaan menyesal mengisi hati Itsuki bukanlah menuju Harold. Itu karena dia malu dengan kebodohannya sendiri karena tanpa disadari meremehkan Harold meskipun tidak berniat untuk lengah.
Dan saat dia menyadari bahwa Harold kecewa padanya, pada saat bersamaan dia juga yakin.

 

(Bahkan dia sedang mencari saingan yang dapat menandinginya secara penuh, ya? Sepertiku.)  (Itsuki)

 

Itsuki membayangkan apa yang akan dia lakukan jika posisi mereka terbalik. Jika Harold menahan diri seperti apa yang telah dilakukannya, maka tidak diragukan lagi Itsuki tidak akan mampu menekan kemarahannya.
Harold mungkin telah menempatkan ketidakpuasan tersebut dalam serangan tadi. Di sisi lain, karena dia marah dia tidak dapat mengeluarkan kekuatannya secara penuh.

 

Gerakan mata Itsuki entah bagaimana bisa melihat pedang Harold. Jika dia tidak salah melihatnya, Harold secara sengaja mencocokkan lintasan pedangnya dengan postur defensif yang dimiliki Itsuki dan membuang shinai-nya.
Alasan dia tidak memukul tangan atau tubuh Itsuki karena itu dimaksudkan―, ‘kau juga bertarunglah secara serius’ , adalah bagaimana Itsuki menafsirkannya.

 

Hanya satu bagian saja, benar Harold sengaja mengenai shinai. Hanya saja Harold, yang berusia 10 tahun tapi usia mentalnya hampir 20 tahun, tidak memiliki keberanian untuk menyerang Itsuki, yang usianya tidak cukup aneh untuk memanggilnya anak kecil.
Meski dia siap untuk terluka, tetapi ia ragu untuk menyakiti Itsuki. Pertarungan ini merupakan langkah pertama untuk mengatasi perasaan seperti itu, tapi itu tidaklah memungkinkan ketika lawannya merupakan anak kecil.

 

“Dan kali ini, aku mohon. Tolong, bertarung denganku secara sungguh-sungguh.” (Itsuki)

“Apakah kau seorang idiot. Dari awal, sparring ini adalah demi melakukan hal itu.”  (Harold)

 

Tanpa sedikit pun keraguan, Harold menyatakannya. Begitu cepat sehingga membuat Itsuki depresi.
Meski Harold pun tak mau melakukannya, namun sejak sejak awal ia berniat bertahan hidup di dunia hidup dan mati merupakan hal yang paling pantas, jadi dia tidak perlu ragu.

 

“……….. Ah, benar juga.”  (Itsuki)

“Jika kau masih ingin bertarung, cepatlah ambil senjatamu. Jika itu saja, aku akan menunggunya.”  (Harold)

“Terima kasih. Tapi aku akan mengambil giliran pertama, tidak masalah, kan?” (Itsuki)

 

Sambil mengangkat shinai dari lantai, Itsuki berbicara dengan Harold secara informal yang berbeda dengan cara dia berbicara sampai saat ini.
Menerima ucapan tersebut, bahkan mulut Harold melengkung, dan dengan suara seakan ia menikmatinya, ia menjawabnya.

 

“Fuhn, coba saja. Jika kau dapat mengikuti kecepatanku, ya.”  (Harold)

“Aku akan menunjukkan kepadamu.” (Itsuki)

 

Karena itu merupakan rasa hormat yang harus ditunjukkannya kepada Harold yang menginginkan sebuah pertarungan serius.
Dengan pertandingan yang akan dimulai kembali, ketegangan dari sebelumnya semakin intensif. Saat Tasuku hendak memotong suasana tersebut, dia menerima tatapan dari Harold dan Itsuki.

 

“Kami tahu”

 

Tatapan yang sepertinya bersamaan dengan keluhan.
Kami akan mematuhi peraturan yang ditetapkan, meskipun begitu kami akan bertarung dengan serius. Itu sebabnya jangan menghentikan kami.
Tasuku yang merasa seakan diberi tahu seperti itu, setelah ragu-ragu, menarik kaki kanannya yang telah maju. Memastikan hal tersebut, berbeda dari sebelumnya, Itsuki menunjukkan senyum lembutnya kepada Harold.

 

“Aku datang!” (Itsuki)

 

Kata-kata tersebut menjadi sinyal dimulainya kembali.
Mereka mulai bergerak hampir pada saat bersamaan. Namun seperti yang diharapkan, Harold lebih cepat. Tapi yang membuat langkah pertama adalah Itsuki seperti yang dia katakan.

 

Kecepatan Harold sudah lebih unggul dari miliknya. Tapi jika dia tahu itu dan berkonsentrasi, dia tidak akan kehilangan sosok Harold.
Dan sejak pertama kali serang, Itsuki membentuk sebuah hipotesis bahwa kecepatan Harold mungkin tidak hanya sistematis. Dasar akan hal itu adalah karena Harold sendiri ingin memiliki pengalaman bertarung. Dia menilai bahwa Harold kemungkinan besar tidak memiliki pengalaman bertarung. Ini berarti sulit untuk berpikir bahwa seseorang yang tidak memiliki pengalaman, dengan kata lain orang yang tidak berpengalaman akan dapat bergerak seiring dengan kecepatan mereka atau akan dapat mencampuradukkannya dengan tipu muslihat dengan serangan mereka.

 

Dugaan Itsuki ternyata benar. Dia langsung menduga ke mana tujuan Harold, dan serangan miring ke tempat kosong menjadi serangan balik yang menyerang Harold yang muncul di sana.

 

“Cih!”  (Harold)

 

Terhadap serangan yang tidak akan mengherankan jika dapat langsung menyelesaikan pertarungan, Harold menangkisnya dengan mengandalkan kecepatan luar biasanya. Tapi karena itu, kakinya terhenti.
Ini yang di incar Itsuki. Tanpa melewatkan kesempatan untuk menang, ia menyerang Harold tanpa henti.

 

Bahkan bagi Harold yang percaya pada kecepatannya, dengan celah yang cukup dekat untung saling menyerang, dia tidak bisa menggunakan blink seperti yang dia gunakan saat pertama kali.
Sebab itu, bahkan jika dia mencoba untuk mengambil jarak, Itsuki menutup celah di antara mereka untuk mencegahnya.

 

Jika hanya bertarung menggunakan kemampuan pedang, Itsuki berada di posisi unggul.
Harold pada dasarnya seorang amatir dan terlebih lagi ketika dia tidak mampu menggunakan kecepatan yang digunakan oleh kakinya, kecepatan pedangnya turun drastis, dan Itsuki tidak kesulitan menghadapi serangannya yang menjadi terlalu sistematis.

 

Sebaliknya, karena mata Harold terlalu bagus, dia bereaksi akan setiap tipuan. Karena dia tidak melatih sesuatu seperti “membaca arus” selama pertempuran, tubuhnya jadi mengikuti gerakan mata luar biasanya. Ketika itu terjadi, timbangan kemenangan berangsur-angsur miring ke sisi Itsuki. Mengincar untuk memukul badan Itsuki, saat dia mengayunkan shinai-nya, tetapi ditangkis oleh Itsuki yang menghalangi dengan shinai-nya, dan seperti itu mereka berdua mengunci pedang dan mulai saling mendorong.
Akhirnya, kaki Harold terhenti.

 

23517549_1628899057132158_2617445821866374917_n

 

“Ada apa? Kau hanya bisa bertahan saja.” (Itsuki)

“Aliran nafasmu menjadi tidak karuan dan terlihat menyakitkan.” (Harold)

“Bukannya kita berdua sama.”  (Itsuki)

 

Menguji masing-masing kekuatan, Itsuki yang tingginya 10 cm memegang keunggulan. Ditangkis seakan dia terdorong, postur tubuh Harold sedikit tidak stabil, tubuh Itsuki tiba-tiba jatuh.
Harold secara naluriah menyadari bahwa pukulan ini tak terhindarkan lagi. Bahkan jika dia ingin bertahan menggunakan shinai-nya, dalam kondisi tubuh yang miring, dia tidak akan bisa mempertahankannya dengan baik.
Yang paling bisa dia lakukan adalah mengejar saat dia tidak berdaya setelah shinai-nya tersingkir.

 

(Kena kau!)  (Itsuki)

 

Harold mencoba menahan serangan miring yang ditujukan ke badan bagian kirinya dengan shinai yang dipegang di tangan kanannya. Tidak mungkin menahan serangan yang membuat seluruh tubuhnya miring, bertahan hanyalah sebuah gerakan yang buruk dan perjuangan yang sia-sia.
Itsuki membuat shinai-nya terbang― seharusnya seperti itu.

 

“Eh?” (Itsuki)

 

Dengan tidak sengaja mengeluarkan suara seperti itu tepat di tengah sebuah pertandingan dikarenakan, tidak peduli seberapa buruknya sikap badan Harold, perlawanan yang diberikan oleh shinai yang bergerak terlalu kecil, seolah-olah dia mengayunkannya ke udara kosong. Karena dia mendapatkan kesan seperti itu.
Itu tidak mengherankan, karena seketika kedua shinai mereka bertabrakan, Harold melepaskan shinai-nya.

 

Shinai dengan mudahnya berputar di udara, dan dikarenakan ruang kosong yang hanya sekejap tersebut. Sebuah celah fatal saat mata dan kesadaran seseorang menyimpang dari lawannya sedikit dalam sebuah pertempuran.
Seperti yang dikatakan Itsuki “Tidak baik”, secara bersamaan bahu kanannya terkena serangan.

 

Heavy Palm Knock』  (Harold)
Itu adalah teknik yang muncul di dalam cerita, teknik bertarung tangan kosong dengan menggunakan telapak tangan. Sebenarnya, teknik tersebut digunakan bersamaan dengan serangan normal, dan ini bukan serangan di mana musuh bisa dikalahkan jika hanya menggunakan ini.
Tapi untuk lawan yang tak berdaya, setidaknya bisa menjatuhkan mereka, secara harfiah.

 

“Guu!” (Itsuki)

 

Karena tidak dapat menanggung dampak akibat telapak tangan, Itsuki terjatuh dengan menghadap ke atas.
Bahkan dengan punggungnya yang tersentak ke tanah, hal berikutnya yang dia lihat saat dia ingin mengangkat tubuhnya dan mengatur ulang cara berdirinya adalah sosok Harold yang telah memegang shinai yang jatuh dan mengarahkan ujung shinai ke lehernya.

 

“Selesai!”  (Wasit)

 

Tanda dari wasit yang mengumumkan berakhirnya pertarungan bergema di dojo.
Dengan itu sebagai isyarat, dojo menjadi terdiam. Satu-satunya hal yang bisa didengar adalah suara nafas Harold dan Itsuki yang compang-camping.

 

Seseorang menengadah, dan satunya melihat ke bawah.
Dengan bentuk yang sudah terlihat jelas, saat melihat ekspresi muramnya Harold masih belum berubah, Itsuki menerima kekalahannya.
Sesuai dugaan, itu membuat frustrasi karena dikalahkan. Tepat sebelum pertandingan dimulai, dia berpikir kalau tidak mungkin dia akan kalah dari seorang anak laki-laki 3 tahun lebih muda dari dirinya sendiri yang lebih lagi menambahkan frustrasinya .

 

Tapi berbeda dengan itu, perasaan puas yang tidak bisa dia dapatkan sampai sekarang tercapai. Akhirnya aku mendapatkan sesuatu yang selalu kuinginkan― dia mengalami perasaan senang seperti itu.

 

(Jadi ini adalah hal di mana kita saling berlatih satu sama lain, saingan, ya, meski aku kalah, rasanya tidak buruk.)  (Itsuki)

 

Bukannya perasaan buruk, ia malah merasa segar kembali.

 

“Aah, aku lelah. Dapatkah kau membantuku?”  (Itsuki)

“Aku tidak ingat menyerangmu begitu keras sampai kau tidak akan mampu berdiri. Karena didikan manja, daya tahanmu kurang.” (Harold)

 

Terhadap Harold yang mengulurkan tangannya bahkan saat bersikap sinis, Itsuki tersenyum.

 

“Aku akan berlatih hal dasar lagi. Itu sebabnya mari kita sparring ulang.” (Itsuki)

“Fuhn, aku tidak akan kalah lagi. Aku pasti akan membayar utang ini.”  (Harold)

“Apa yang kau ………” (Itsuki)

 

Harold berbicara seolah-olah Itsuki yang menang. Ketika ia melihat Itsuki tidak mengerti, Harold bergumam ‘Idiot’ dan menjawab dengan rasa jengkel.

 

“Tidak disangka kau memiliki otak burung yang tidak dapat memahami peraturannya secara menyeluruh. Dikatakan sebelumnya bahwa “senjatanya shinai“. Apakah kau berpikir kalau serangan terakhir, the palm strike, yang membuatmu jatuh merupakan serangan dari shinai?”  (Harold)

“………” (Itsuki)

 

Mendengarnya dari Harold, tidak hanya Itsuki, tapi semua orang yang menonton pertandingan tersebut tercengang. Tentu, jika memang seperti itu, maka itu akan menjadi kekalahan Harold dengan diskualifikasi.
Tapi bisa dikatakan bahwa Harold yang bereaksi langsung saat dia terpojok tersebut sangat baik sekali. Paling tidak, semua orang yang hadir di sini berpikir begitu, dan tidak ada yang keberatan kalau dialah pemenangnya.

 

Kecuali Harold yang menang.

 

“Ku, haha ……” (Itsuki)

 

Akibatnya, Harold yang dengan blak-blakan menyatakan seakan hal tersebut sudah jelas, tampak terlalu terus-terang, tabah dan polos lebih dari apapun, sehingga Itsuki tidak sengaja tertawa.
Karena itu, kejengkelan Harold semakin meningkat.

 

“Apa yang lucu?”  (Harold)

“Tidak, aku hanya berpikir kalau kau kuat.” (Itsuki)

“Apakah itu sarkasme, bajingan. Aku akan merobek lidahmu.” (Harold)

“Jangan mengatakan hal menakutkan seperti itu.” (Itsuki)

 

Tak bisa terbantahkan bahwa Itsuki bahkan menikmati obrolan sepele semacam ini.
Memutar menuju arah dari mana ia tiba-tiba merasa tatapan, adiknya dengan ekspresi mencela di wajahnya memasuki area penglihatannya. Dia bahkan tidak perlu memikirkan apa artinya itu.

 

(Wah wah, sepertinya kita bertukar tempat. Harold-kun mungkin memiliki daya tarik untuk menarik orang.)  (Itsuki)

 

Dia cemburu pada adiknya yang dibawa pergi, tapi sebelum dia menyadarinya, adiknya cemburu padanya. Pada situasi yang begitu menggelikan, Itsuki merasa ingin lebih tertawa.
Tapi sesuai dugaan, jika dia melakukan hal tersebut, Harold sepertinya akan benar-benar marah, jadi entah bagaimana dia menahannya, dan di salah satu sudut kepalanya, dia memikirkan hal seperti ini.

 

(Harold-kun adalah saingan dan ipar laki-laki ku, ya ……… Masa depan seperti itu mungkin tidaklah buruk.)  (Itsuki)

 


Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya


 

Penerjemah | Villager E | Osananjimi | Irfan desu | Chat aja dulu, nanti kita bicarakan lagi untuk ke depannya, aku sih optimis kita cocok.. *benerin sarung* ┬──┬◡ノ(° -°ノ)