My Death Flags Chapter 21

Oleh Alone of Nyx on November 20, 2017

My Death Flags Show No Sign of Ending Chapter 21 Bahasa Indonesia


Bahkan dalam mimpinya, Harold tidak menyangka kalau lawan yang secara terbuka menyatakan permusuhannya sesaat sebelum pertandingan memikirkan hal seperti itu sekarang, tapi tetap saja dia merasakan kalau suasana hati Itsuki telah berubah dan dia bingung dengan perubahan mendadak tersebut.
Yah dia mungkin saja dalam suasana hati yang bagus karena ia menang― ia menyimpulkannya seperti ini yang jauh melenceng.

(Lebih tepatnya aku kalah. Apanya yang “Aku merasa sama sekali tidak akan kalah”) (Harold)

Dan itu pun dia kalah karena diskualifikasi terhadap anak kecil. Itu lebih menyedihkan daripada kekalahan biasanya.
Dia berpikir mungkin tubuh spek tinggi ini unggul dalam kemampuan untuk memunculkan flag.

Seakan menghilangkan kejadian terburuk yang terlintas dalam benaknya, dia menggelengkan kepalanya sampai tiga kali, dan berharap bisa menghilangkan perasaannya yang memburuk dengan menghirup udara segar, kakinya menuju ke luar dojo.
Bukannya keluar dari di mana dia masuk, dia malahan menuju ke pintu masuk yang terhubung ke ruang ganti, dan berdiri di bawah langit biru.

Sambil bermandikan dengan angin yang terasa nyaman di tubuh berkeringat, dia terus bertelanjang kaki di jalan bebatuan putih yang ditata dengan indah.

Dari dojo yang terletak di atas bukit, ada pemandangan kota Sumeragi yang tak terhalang.
Pemandangan kota yang menyerupai Jepang dahulu kala terbentang di bawah tebing. Bangunan-bangunan yang menyebar hanya berupa kayu dan tidak ada bangunan yang cukup tinggi untuk melewati langit. Di sana-sini, alam melimpah, dan seolah mewarnai mereka, kelopak kelopak merah muda berkibar-kibar.
Meski bukan pemandangan yang sangat dia kenal, tanpa diragukan lagi, ini merupakan dorongan langsung terhadap nostalgia orang Jepang.

Mungkin itulah pemicunya.
Waktu sejak dia datang ke dunia ini kira-kira 5 bulan. Mengingat tentang dunia asalnya yang terlintas dalam benaknya, kelenjar air matanya mengendur dan penglihatannya menjadi kabur.

Seolah-olah itu adalah sinyal untuk ledakan tersebut, pikiran Harold diserang oleh gelombang emosi secara berurutan.
Perasaan kesendirian yang jauh dari kampung halamannya, masa depan yang menunggunya, selalu mengayunkan dirinya untuk mempertahankan ketegangan, namun membawa faktor tidak dapat diprediksi yang tak habis-habisnya― yang dikombinasikan menjadi kegelisahan.

Bahkan jika itu adalah dunia yang mirip dengan permainan yang dicintainya, ada batas untuk menikmatinya. Kecemasan mental hidup sebagai karakter sebelum dia mengetahuinya, siapa yang akan mati jika dunia berjalan seperti sejarahnya, ternyata tidaklah biasa.

Harold menggeliat dalam hati karena berbagai perasaan bangkit dan berputar. Karena tidak tahan, air mata akhirnya mengalir keluar dari matanya dan meninggalkan jejak di pipinya.
Jujur saja, dia pasti sudah hancur dan menangis akan situasi yang tidak masuk akal saat dia ditempatkan.
Tapi alasan dia berhenti menangis tanpa suara karena tingginya rasa harga diri Harold yang asli. Atau lebih tepatnya, Harold yang memiliki kepribadian tidak menerima kekalahan bahkan jika dia meninggal menguranginya menjadi menangis menunjukkan betapa terpojoknya dia saat ini.

“…………Tidak akan aku menjadi yang kalah.” (Harold)

Meski dia seperti itu, hanya kata-kata ini yang keluar dari mulutnya. Bahkan jika dia ingin merengek, berpegang teguh pada rasa harga dirinya secara keras kepala benar-benar luar biasa― Harold memikirkan hal-hal seperti itu di sudut pikirannya di mana ketenangannya berada. Jika bukan karena ketangguhan mental seperti baja ini, Harold mungkin sudah rusak.

Sambil memikirkan hal-hal sentimental tersebut, dia menatap kelopak bunga sakura yang berkibar di kota Sumeragi. Dan tak lama kemudian, hatinya mulai sedikit tenang. Sambil memikirkan untuk kembali ke dojo segera, saat dia hendak berbalik, dia dipanggil.

“Harold-sama.” (Erika)

Begitu suara tersebut sampai di telinganya, jantungnya mulai berdebar. Jelas, itu bukan karena perasaan cinta.
Itu karena dia tidak tahu harus berbuat apa karena tidak ada hal baik sedikit pun jika berhubungan dengannya.
Ketika dia berbalik dengan gerakan seolah-olah dia adalah mainan kaleng berkarat,, sosok yang ada di situ tidak lain dan tidak bukan adalah Erika.

Tapi Harold tidak tahu apa yang Erika pikirkan untuk datang ke sini atau mengapa dia memanggilnya. Karena dia seharusnya sangat dibenci olehnya.

Yah, anggapannya kalau dia dibenci olehnya adalah salah. Alasan mengapa dia sengaja datang mencari Harold karena punggungnya didorong oleh Itsuki dengan mengatakan― “Sepertinya dia sedang murung jadi bagaimana kalau kau pergi dan menghiburnya?”.

Jujur saja, Harold tidak terlihat murung bagi Erika. Dia bahkan mendapatkan kesan kalau cara dia berbicara dengan Itsuki sepertinya santai.

Tentunya, bagaimana Itsuki seolah-olah bisa merasakan perasaan sebenarnya Harold, dia merasa sangat kesal, dan saat dia menyadarinya, kakinya sudah mengarah ke Harold.

Tapi saat memikirkannya dengan seksama, inilah saat yang tepat untuk meminta maaf kepadanya. Menurut Tasuku, dia tidak bisa memberi tahu kalau kesalahpahaman telah terselesaikan, tapi dia seharusnya masih meminta maaf dengan baik karena menamparnya.

Pada saat dia memutuskannya, Erika akhirnya melihatnya.
Tangan kanannya menutupi kedua matanya saat dia menghadap langit, tapi ada satu air mata yang mengalir melalui celah jemarinya dan pipinya.

Erika secara panik menghentikan kakinya. Dia langsung mengerti kalau dia telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia tidak lihat. Alasan menangis, emosi dibalik air mata tersebut, Erika sama sekali tidak bisa mengertinya. Karena dia tidak mengenal Harold dengan cukup baik untuk dapat mengetahui hal tersebut.

Dengan adegan mengejutkan Harold yang meneteskan air mata di depannya, sebuah gumaman kecil “Tidak akan aku menjadi yang kalah” sampai ke telinga Erika.

Harold, anak laki-laki seusianya, mungkin selalu bertarung seperti ini.
Selalu percaya diri dan memakai senyum tak kenal takut yang sangat cocok dengan dia, dia mungkin telah menangis diam-diam, dan ia mungkin selalu bersaing dengan orang dewasa tanpa membuat alasan sebenarnya diketahui.
Hanya menjadi kuat tidak akan cukup, dan hanya menjadi cerdas tidak akan membuat seseorang menang. Jika seseorang tidak memiliki semangat yang gigih untuk menyingkirkan kesengsaraan, mereka tidak akan bisa bersikap seperti dia.
Erika akhirnya menyadari bahwa apa yang dikatakan ayahnya itu benar adanya.

Dan akhirnya dia menyadari bahwa dia salah paham. Dia mengira kalau Harold adalah orang yang tidak akan hancur berantakan apa pun situasinya dan akan dapat dengan mudah mengatasinya, dan kepercayaan dirinya tersebut dikarenakan kesombongannya.

Bagaimanapun tidak mungkin Harold hanya memiliki kekuatan. Harold juga adalah anak seusianya. Tentu, dia juga akan memiliki kelemahan.
Hanya saja, dia berpura-pura bersikap angkuh begitu sehingga lingkungannya tidak sadar akan hal yang begitu jelas. Karena tidak ada orang yang bisa ia tunjukkan sisi lemahnya, dia terpaksa berperilaku seperti itu.
Menyadari keadaan Harold, satu-satunya pikiran yang sampai ke pikiran Erika adalah dia tidak ingin meninggalkannya, yang mencoba sendirian dengan pilihannya sendiri, menyendiri.

(…… .. Ini mungkin seperti yang dibicarakan Ayah, tentang bagaimana seharusnya aku “menjadi orang yang benar-benar bisa mengerti Harold”) (Erika)

Jika begitu, sudah jelas apa yang harus dilakukannya. Dia tidak akan ragu lagi.
Bahkan jika dia tidak memiliki kualifikasinya saat ini, bahkan jika masih banyak hal yang masih belum dia miliki, dia pasti akan menjadi orang yang suatu hari nanti bisa mendukung bekas luka tersebut. Hari ini adalah hari pertama dia memutuskan itu pada dirinya sendiri. Begitu dia memutuskannya, dia merasa hatinya menjadi tidak terbebani.
Karena itulah dia bisa memanggil namanya tanpa harus panik. Setelah dipanggil, Harold perlahan berbalik. Matanya dipenuhi kecurigaan.

Tentu, ketika dia memikirkan keadaan mentalnya, dia bisa mengerti mengapa dia membuat mata seperti itu. Tapi Erika sudah bersumpah bahwa dia tidak akan goyah pada sikap itu lagi.

“Pertandingan barusan mengaggumkan. Bahkan aku, yang tidak mengetahui cara berpedang, bisa memahami bahwa Harold-sama kuat.” (Erika)
“Kalian bersaudara, apakah kau datang untuk menggosokkan garam pada luka?” (Harold)
“Tidak sama sekali. Itu bukan sesuatu seperti kamu kalah dalam pertempuran tapi menang dalam perang.” (Erika)
“Aku mengerti, kau datang untuk berkelahi, ya?” (Harold)

Harold telah kalah dalam pertandingan tersebut dengan diskualifikasi. Jika sesuai dengan ucapan itu, maka dia kalah dalam pertempuran dan juga dalam perang.
Itu hanya bisa dianggap sengaja mengejeknya, mengatakannya dengan senyuman yang menyilaukan.

“Pfft……… Aku sangat minta maaf. Aku asal berbicara.” (Erika)

Sepertinya Erika juga menyadarinya.
Tapi lebih dari itu, bagi Harold, dia bingung bagaimana Erika berbicara dengannya secara biasa. Selain itu, saat ini, dia tidak feminin.

“Hmph, jika kau ingin mengatakan beberapa omong kosong tidak berharga, maka bermain-mainlah dengan pelayan mu atau dengan yang lainnya.” (Harold)
“Tolong tunggu.” (Erika)

Erika menghalangi jalan Harold saat ingin meninggalkan tempat ini secepat mungkin.
Ketidaksabarannya karena tidak bisa membaca niat Erika berubah menjadi iritasi dan mulutnya menjadi semakin parah.

“Minggir, aku tidak mempunyai waktu untukmu. Bahkan jika ada, aku akan menghancurkan mereka semua.” (Harold)
“Namun, kalau begitu aku tidak akan bisa berbicara dengan benar dengan Harold-sama.” Erika)
“Benar, itu lebih menguntungkan.” (Harold)
“Sayangnya, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Setidaknya hanya untuk kali ini, tolong luangkan sedikit waktu untukku.” (Erika)

Penampilan Erika yang hanya anggun seperti bunga bisa dirasakan sampai sekarang, entah kenapa terasa seperti dia tak tergoyahkan seperti pohon besar dengan akar yang dalam di tanah. Singkatnya, rasanya tidak akan bergerak sedikit pun.
Jadi ini adalah tekanan dari karakter permainan, ya― Harold yang kalah akan hal tersebut mendecakkan lidahnya, dan dengan aura penuh cemberutnya, dia berbicara kepadanya.

“…………Jika kau memiliki urusan, cepat selesaikan.” (Harold)
“Terima kasih banyak.” (Erika)

Mengatakan hal tersebut, Erika menekuk pinggangnya dan mengambil sikap membungkuk dalam-dalam.

“Aku benar-benar minta maaf atas kejadian waktu itu. Meskipun aku marah, salah jika aku menghina dan juga mengangkat tanganku. Aku ingin meminta maaf.” (Erika)
“Ha, kau datang ke sini untuk mengatakan sesuatu seperti itu? Sia-sia.” (Harold)

Meskipun kata-katanya dingin, dia tidak berbohong bahwa itu merupakan perasannya yang sesungguhnya. Harold dengan sengaja membuat marah Erika, dan reaksi tersebut sangat tepat. Biasanya, orang tidak akan berpikir untuk meminta maaf untuk hal tersebut. Itu karena dia Erika yang datang untuk minta maaf.

Bukan suatu kesalahan bahwa kebaikan adalah kebaikan hatinya. Dia dianggap disukai oleh mayoritas orang. Sejujurnya, sama saja dengan Harold saat menjadi pemain.
Tapi untuk Harold sekarang, dia hanya bisa memikirkan kebaikan yang berlebihan itu sebagai taring dengan racun mematikan. Itu adalah eksistensi mematikan yang sekali mereka digigit, bisa menjadi fatal.
Dia menikmati kebaikan yang sangat egois. Saat dia berpikir seperti itu, mulutnya terbuka.

“Tidak ada nilai dalam permintaan maafmu. Sebaliknya, meskipun kau menangis dengan putus asa, langsung meminta maaf setelah kau mengatakan hal tersebut, apakah kau benar-benar idiot? Pertama, kebaikan yang kau miliki merupakan sebuah tipuan yang berasal dari niat baik. Di tambah tidak menyenangkan, tidak lebih dari sekadar perasaan hangat saja. Dan terserah padamu untuk berdansa seperti badut seperti itu, tapi jangan menghalangiku. Jangan muncul di hadapanku. Kau merusak pemandangan dan seperti eksistensi yang menyebalkan.” (Harold)

Selain sifat tidak sopan Harold asli, kebencian terhadap Erika yang terakumulasi meletus sekaligus. Setelah membuang semua makian tersebut, dia kembali tenang. Dia sepertinya mengatakannya berlebihan. Terlebih lagi, dia melampiaskan kemarahannya padanya.
Karena alasan yang berbeda dari sebelumnya, ia ingin menangis.

Bermandikan dengan kata-kata kasar saat berada dalam sikap meminta maaf, bahkan tidak ada gerakan sekecil apapun dari Erika. Apakah aku membuatnya menangis, atau aku membuatnya marah― saat dia mengamati dengan rasa takut, Erika mengangkat tubuhnya.
Dia juga tidak mengungkapkan amarahnya dan juga dia tidak menangis. Bisa dikatakan, dia juga tidak putus asa karena diliputi oleh kata-kata tersebut.

Yang ada di ekspresinya merupakan ketenangan seperti gadis suci dalam sebuah lukisan seolah dia telah menerima semua kata-kata kasar Harold.
Erika sudah memutuskan terlebih dahulu untuk mengetahui bahwa Harold akan menunjukkan sikap seperti ini tentang permintaan maafnya. Karena dia tahu bahwa dia adalah orang yang kuat dan keras, dan juga orang yang memiliki kebaikan yang sesungguhnya, berbeda dengan dia. Tidak ada kebohongan yang tercampur dalam kata-kata kasar tersebut terhadap Erika. Dia sadar bahkan tanpa perlu diberi tahu kalau dia adalah eksistensi yang minus bagi Harold.

(Hal-hal yang tidak aku miliki terlalu banyak. Kekuatan untuk melawan nasib yang sulit, dan kebaikan untuk memarahi yang lemah.) (Erika)

Sejak awal dia salah. Mengulurkan tangan bukanlah satu-satunya jenis kebaikan. Menyaksikan, mendorongnya, tidak melakukan apa pun juga merupakan jenis kebaikan. Demi orang tersebut, agar mereka bisa tumbuh.
Tapi untuk benar-benar menerapkannya, kekuatan untuk percaya pada pihak lain sangat penting. Orang yang bisa mendukung Harold juga akan menjadi orang seperti itu.

Itulah mengapa tidak peduli seberapa kasarnya, dia akan menerima kata-kata Harold yang menunjukkan pengalamannya, dan hanya dengan menggunakan ini sebagai sumber untuk berkembang, dia akan menjadi eksistensi yang bisa benar-benar mengerti dan mendukungnya. Ini hanya langkah awal.

“……………..Hmph” (Harold)

Harold meninggalkan tempat itu seolah-olah dia telah kehilangan minatnya.
Erika berbicara ke arah punggung kecil yang telah menghilang ke dalam dojo.

“Aku tidak akan mengatakan ‘Tolong tunggu aku’. Tapi aku pasti akan menyusulmu. Tidak mungkin aku akan meninggalkanmu sendirian.” (Erika)

Gumaman Erika dibawa oleh angin bersama kelopak bunga sakura dan pergi menuju langit biru.


Sebelumnya | Selanjutnya


 

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻