My Death Flags Chapter 22

Oleh Alone of Nyx on November 22, 2017

My Death Flags Show No Sign of Ending Chapter 22 Bahasa Indonesia


“Hey pak tua, berapa lama lagi kita akan sampai?” (Anak laki-laki berambut merah/Liner)

Saat terguncang oleh kereta yang digunakan secara umum dan ditarik oleh 2 ekor kuda, seorang anak muda dengan matanya yang berkilau bertanya pada ayahnya yang sedang duduk di sebelahnya. Perasaan gelisah dan gugup terlihat seperti tidak sabar untuk sampai ke tempat tujuannya.
Menghadapinya, ayah anak laki-laki tersebut seakan ingin menahan anak laki-lakinya yang tidak sabaran, dengan menjawabnya.

“Sebentar lagi, jadi diamlah.” (Ayahnya)

“Tadi kau juga bilang kaya begitu! Aku capek mendengar kalimat ‘sebentar lagi’.” (Anak laki-laki berambut merah)

“Tapi aku juga capek mendengar Liner ngomong ‘berapa lama lagi?’.” (Perempuan berambut pirang)

Di sisi berlawanan ayah anak laki-laki tersebut, mau tidak mau duduk dengan posisi dengan postur tubuh yang terjepit, seorang gadis berambut pirang berbicara kepada anak laki-laki berambut merah seakan sedang jengkel.
Terlihat seperti anak laki-laki tersebut, Liner, diprotes oleh mereka berdua. Tapi ada alasan baginya untuk berkelakuan seperti ini.

“Ini pertama kalinya kita akan kota, kan? Bukannya kau juga menantikan hal ini?” (Liner)

Dibesarkan di desa terpencil bernama Brosch, yang dikelilingi oleh pegunungan, jika berpergian jauh, Liner hanya pergi ke desa dan kota di sekitarnya. Tapi kali ini berbeda. Dia pergi keluar dari wilayah tersebut untuk pertama kalinya sejak dilahirkan.

“Bahkan jika kau menyebutnya sebuah kota, itu hanya Delfit. Ini tidak seperti kita akan ke ibukota dan jika kau begitu bersemangat seperti ini, kau sangat terlihat jelas anak kampungnya.” (Ayahnya)

“Yah, Brosch juga pedesaan.”  (Perempuan berambut pirang)

“Itu bukan yang aku maksudkan ………” (Liner)

Itu merupakan percakapan yang ceria, tapi tidak ada yang memperhatikannya. Sejak awal, kereta penuh sesak dengan orang-orang dan mereka semua mengobrol sesuka hati jadi orang-orang yang memperhatikan percakapan ini tidaklah ada.
Tapi di antara mereka, ada seorang pria yang tampaknya berada di puncak hidupnya, memiliki tubuh yang bagus dan jenggot yang melimpah, mendengar percakapan tersebut dan mulai berbicara dengan ayah Liner.

“Apakah kalian datang dari Brosch?”  (Bale)

“Ya. Apakah kau tahu Brosch?”  (Ayahnya)

“Itu merupakan desa yang berada di tepi wilayah perbatasan yang diperintah oleh Viscount Ballack, kan?” (Bale)

“Kau tampaknya cukup tahu.” (Ayahnya)

“Karena aku agak mengenalnya.” (Bale)

Mengatakan hal tersebut, pria tersebut memiringkan tangannya yang kosong ke arah dirinya sendiri di depan mulutnya. Ayah Liner mengerti apa yang ingin dia katakan dengan melihat tindakan itu.

“Terkait dengan alkohol, ya.” (Ayahnya)

“Tepat! Jika kau berbicara tentang ‘Alkohol Bale’, itu juga terkenal karena ciri khasnya sendiri.” (Bale)

‘Gahahaha’― Pria tersebut tertawa dengan suasana hati yang sesuai dengan penampilannya.

Viscount Ballack terkenal sebagai pencinta minuman keras yang tak ada bandingannya. Jika orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut ditanya tentang hal itu, setidaknya mereka akan pernah mendengar tentang rumor dia akan minum alkohol setiap malam seolah-olah sedang mandi di dalamnya atau dia sering mengunjungi bar di kota untuk minum .
Menurut Bale, Viscount tinggal di kota tempat Bale menjalankan tempat membuat bir, sebelum dia mulai memerintah. Sepertinya dia menyukai alkohol dari tempat pembuatan bir Bale sejak saat itu juga, dan bahkan setelah dia menjadi Viscount, dia tetap membeli alkohol dari tempat tersebut secara berkala.

Tapi meski kebijakan transaksi moneter sudah benar, sulit untuk mengatakan bahwa kotanya berada dekat dengan wilayah perbatasan Ballack. Jadi, dia sekarang di tengah mengembangkan bisnisnya di wilayah Ballack setelah penjualan.
Dia mengatakan meskipun dia masih belum pergi ke desa Brosch, dia tahu namanya dan geografi di sekitarnya.

“Tapi tetap saja, jika dari Brosch, kau datang cukup jauh. Apakah Delfit tujuanmu? Tempat tersebut tidak cocok untuk membawa anak-anak untuk liburan.” (Bale)

Kota pelabuhan Delfit. Seperti namanya, itu merupakan kota yang terbentang menghadap laut, dan tempat memancing dan perdagangan.
Mayoritas bagian yang bersentuhan dengan laut adalah pelabuhan, sehingga lalu lintas kapal cukup banyak dan di sana juga tidak ada pantai untuk menikmati laut. Akan menjadi masalah yang berbeda jika seseorang menuju ke garis pantai agak jauh dari pelabuhan di mana tidak ada jalur kapal, tapi di daerah tersebut monster biasanya muncul. Ada kapal penumpang yang mengelilingi laut, tapi melihat Liner dan keduanya, mereka tampaknya ke sana bukannya untuk menikmati perjalanan perahu yang akan memakan waktu lebih lama dari 3 bulan. Kalau begitu, mereka mungkin datang untuk menikmati produk laut.

“Ini bukan untuk tamasya tetapi untuk berpartisipasi dalam turnamen bertarung!” (Liner)

Terhadap pertanyaan Bale, Liner dengan tegas menyatakannya.
Delfit merupakan kota pelabuhan― dengan kata lain, itu merupakan kota nelayan. Karena itu, ada banyak pria yang gencar dan bangga dengan kekuatan mereka.

Mungkin dengan semangat tersebut sebagai sumbernya, sejak dulu sebuah turnamen bertarung diadakan setiap tahun di Delfit.
Meskipun digelar di bagian depan yang akan membantu dalam menjaga keamanan kegiatan maritim, asal-usulnya adalah karena orang-orang yang ingin melampiaskan kemarahan menumpuk atau hanya orang-orang yang ingin mengamuk, berkumpul dan mengadakannya, tapi ke cocokkan acara kekerasan dengan orang-orang yang tinggal di Delfit itu luar biasa cocoknya.

Seiring berjalannya waktu, jumlah peserta meningkat dan bahkan skalanya berkembang dengan cepat. Pada saat 20 tahun telah berlalu sejak awal dilakukannya, bahkan panggung eksklusif pun disiapkan dan sekarang tidak hanya dari Delfit, tapi juga dari kota-kota sekitarnya, para peserta hadir dan menjadi spesialisasi.
Kalau dipikir-pikir lagi, sudah musim itu, ya― saat menjadi yakin, Bale menatap tajam Liner yang begitu antusias dan berbicara.

“Turnamen bertarung, ya. Kau?” (Bale)

“A-, ada apa? dengan reaksi tersebut.” (Liner)

“Ini bukan berarti kau lemah tapi hanya saja turnamen bertarung di Delfit cukup serius. Berhati-hatilah untuk tidak mendapatkan cedera serius.” (Bale)

“Tidak apa-apa. Karena aku akan menang!” (Liner)

“Hou, betapa hebatnya deklarasimu.” (Bale)

“Yah, meskipun dia berpartisipasi pada divisi di bawah 13 tahun.” (Ayahnya)

Ayah Liner mengusap kepalanya dengan kasar. Karena itu, Liner mengeluarkan suara protes dan mengatakan ‘Hentikan!’ dan mencoba menyeka tangannya. Melihat pemandangan yang menghangatkan hati tersebut, Bale tidak bisa merasakan aura orang yang kuat, yang bisa memenangkan turnamen, darinya.
Dan sementara Liner sedang membuat keributan, tiba-tiba ujung bajunya ditarik dan dia mengalihkan pandangan ke arah sisi yang lain.

“Ada apa?” (Liner)

“Sudah terlihat, Delfit.” (Perempuan berambut pirang)

“Eh, benarkah!?” (Liner)

Tidak lama setelah mengatakannya, Liner tidak hanya menempatkan kepalanya, tapi setengah dari tubuhnya ke luar jendela dan melihat kota Delfit dengan kedua matanya.
Akan berlebihan untuk mengatakannya melewati langit, tapi tetap saja dia bisa melihat banyak bangunan tinggi yang tidak ada di Lietze. Ada banyak kios di sepanjang jalan raya yang mereka lewati, dan banyak di antara mereka ramai dengan orang-orang yang pergi bolak-balik dari kota.

Meski mereka belum masuk kota, itu juga karena jaraknya cukup jauh, sudah seramai ini. Jantung Liner sedang menari memikirkan berapa banyak hal yang tidak diketahui dan tak pernah terdengar terjadi saat dia masuk ke dalam kota. Di sebelahnya, meski gadis tersebut memiliki ekspresi tidak tertarik, mungkin karena tertarik dia berulang kali melirik ke luar jendela.

“Oo, luar biasa-!” (Liner)

“Liner, jangan berisik! Dan itu berbahaya jadi kembalilah ke tempat duduk!” (Perempuan berambut pirang)

“Tidak apa-apa! Wow, apa itu?” (Liner)

Setelah sampai di Kota Delfit yang telah lama ditunggu, semangat Liner terus meningkat. Akhirnya, kegembiraan Liner terus berlanjut sampai mereka masuk ke dalam dan turun dari kereta kuda.
Dan saat dia berdiri di atas tanah Delfit dengan kakinya sendiri, semangatnya mencapai puncaknya.

“Sangat banyak orang! Bangunannya sangat besar! Ada kapal baja!” (Liner)

“Itu patung kapal!” (Liner)

Untuk sementara, Liner meneriakkan apa pun yang dilihatnya. Bahkan melihat monumen sebuah kapal besar di tengah air mancur di alun-alun tengah, ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Melihat dia, orang-orang di kota menertawakannya seolah melihat sesuatu yang menyenangkan. Liner sangat bersemangat sehingga dia bahkan tidak memperhatikan situasi di sekitarnya, tapi untuk 2 orang bersamanya, itu sangat memalukan.

“Hei Liner, kau terlalu bersemangat! Kita harus cepat pergi mendaftar untuk berpartisipasi.” (Perempuan berambut pirang)

“Itu bisa dilakukan nanti! Aku akan pergi ke arah laut dan kembali!” (Liner)

“Aah ……… ayolah!” (Perempuan berambut pirang)

Begitu Liner, yang tidak bisa diam, berhenti, dia meninggalkan kalimat tersebut dan mulai berlari.
Dia langsung bercampur dengan kerumunan orang dan menghilang.

“Ya ampun, dia sangat bersemangat seperti biasanya……… Aku akan menyelesaikan pendaftarannya jadi aku akan menyerahkannya kepadamu. Setelah kau menangkapnya, kita akan berkumpul di depan air mancur ini.”  (Ayahnya)

“Baik.” (Perempuan berambut pirang)

Mereka terpaksa berpencar menjadi 2 arah.
Anak laki-laki bernama Liner, sekali dibebaskan, akan bermain dan bergerak selamanya sampai dia menjadi lelah. Dia telah pergi ke pelabuhan untuk melihat laut, tapi tidak diketahui ke mana dia akan ke mana selanjutnya. Jelas hal ini akan menjadi merepotkan jika dia tidak mengejarnya langsung.

Sambil menghela nafas, dia berlari mengejarnya, bergerak seakan menerobos kerumunan. Itu adalah prestasi yang bisa dia lakukan hanya karena dia adalah anak kecil yang memiliki postur tubuh kecil, gesit dan lincah.
Meskipun, ini adalah pertama kali baginya, yang berasal dari desa yang sama dengan Liner, melihat lautan manusia seperti ini. Dan kemudian, dia bertabrakan dengan sosok yang datang dari tikungan jalan.

“Kyaa!” (Perempuan berambut pirang)

Karena bertabrakan, dia tanpa sadar jatuh ke belakang. Karena orang lain hanya berjalan, untungnya dia tidak terluka. Tapi itu hanya menyangkut dirinya sendiri. Ingin memastikan keselamatan orang lain, dia bangkit.

“Ma, maaf! Apa kamu baik baik saja?” (Perempuan berambut pirang)

“Ya, aku baik-baik saja.” (Erika)

Suara yang menyegarkan itu sampai ke telinga si gadis tanpa ditenggelamkan oleh kerumunan yang ramai.
Itu sendiri adalah sesuatu yang bisa membuat orang terpesona, tapi setelah dia melihat bahwa pemilik suara tersebut adalah seorang gadis yang usianya tidak jauh berbeda dengan dirinya, dia menahan napas.

(I, imutnya ……!)  (Perempuan berambut pirang)

Itu bukan sarkasme, dan terlebih lagi itu kesan jujur.
Sampai posisi sedikit di bawah bahu, rambut hitam berkilau pun berkumpul. Kulit transparan putih seperti porselen. Mata dengan warna yang sama seperti rambutnya, sampai mengeluarkan pesona oriental.
Berkebalikan dengan ketidakdewasaan-nya, penampilan gadis yang memancarkan aura sangat indah sampai tidak ada seseorang pun yang menyangkal jika di deskripsikan dengan kalimat Bishoujo/gadis cantik.

“Apakah Anda baik-baik saja? Anda tampaknya agak pusing …… “ (Erika)

“Eh? …… ..Ah, Maaf! Tidak apa! Umm, apakah kamu benar-benar tidak terluka?” (Perempuan berambut pirang)

Apa yang harus aku lakukan jika ada goresan pada gadis cantik seperti ini?― Gadis berambut hitam ini cukup cantik untuk membuat dia menyimpan pikiran seperti itu yang membuatnya takut padanya.

“Jangan terlalu khawatir. Dia langsung menahanku jadi aku tidak jatuh.” (Erika)

“Dia?” (Perempuan berambut pirang)

Karena matanya dicuri oleh gadis berambut hitam yang tidak dia kenal, tapi di belakang gadis tersebut ada wanita berusia dua puluhan dengan rambut berwarna cokelat, mengenakan pakaian memasak.
Dia pasti pelayannya. Ketika dia melihat dari dekat, dia melihat bahwa gadis berambut hitam tersebut mengenakan gaun indah yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Tanpa diragukan lagi, dia seorang bangsawan.

“Sepertinya, kamu sedang terburu-buru?” (Erika)

“Ah, itu benar. Tapi…….” (Perempuan berambut pirang)

Dia ingin mengejar Liner. Tapi akan terasa canggung jika dia tidak meminta maaf dengan benar.
Mungkin karena dapat memprediksinya, senyum ramah, yang membuat orang-orang melihatnya merasa nyaman, muncul di wajah gadis berambut hitam tersebut.

“Jangan pedulikan aku. Sebaliknya, ini berarti kita berdua ditakdirkan untuk bertemu.” (Erika)

“Ditakdirkan untuk bertemu……….” (Perempuan berambut pirang)

“Jika ini merupakan ikatan yang kuat, kita akan dapat bertemu lagi suatu hari nanti. Itu sebabnya, ketika kita bertemu kembali……… Hmm, maukah kau menjadi temanku?” (Erika)

“Te, teman?” (Perempuan berambut pirang)

Mendengarkan permintaan yang sama sekali tak terduga, matanya menjadi seperti piring.

“Kamu tidak mau?” (Erika)

“Bu- bu- bukan begitu! Sebaliknya, apakah tidak masalah untuk berteman dengan orang sepertiku………” (Perempuan berambut pirang)

“Jika kita bertemu lagi, itu akan menjadi bukti bahwa ikatan di antara kita benar adanya, jadi bukan hal yang wajar jika kita menjadi teman?” (Erika)

“Iya kah ……?” (Perempuan berambut pirang)

“Ya. Jadi, bisakah kamu menahan perasaanmu saat ini sampai kita bertemu lagi?” (Erika)

“Y, ya!” (Perempuan berambut pirang)

Jujur saja, dia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan gadis tersebut, tapi entah kenapa dia bisa menerimanya dengan mudah.
Mungkin karena pesona gadis tersebut.

“Baiklah kalau begitu, mari kita bertemu lagi di suatu tempat. Ayo kita pergi, Juno.” (Erika)

“Baik ~” (Juno)

Di dalam kota di mana orang terus bergerak tanpa hentinya, gadis berambut hitam dan wanita yang sepertinya pelayannya pergi dengan santainya.
Setelah itu, dia kembali sadar dan memastikan Liner, dan saat dia kembali ke air mancur sambil menyeretnya, matahari mulai tenggelam.

Biasanya, dia pasti sudah memarahi Liner karena menimbulkan masalah, tapi baru kali ini, karena bertemu dengan gadis misterius tersebut, perasaannya agak kabur.
Dia tidak bisa mengatakannya dengan pasti, tapi seolah-olah roda gigi takdir mulai berubah, perasaan seperti itu yang tidak dapat disebut sebagai kegelisahan maupun kecemasan.

Sementara dia masih memiliki perasaan agak keruh seperti itu, keesokan paginya datang. Karena ini adalah hari turnamen bertarung, Liner, yang 3 kali lebih semangat daripada dirinya yang biasanya terlalu semangat, maju ke tempat tersebut, dan dia mengalami perjumpaan mengejutkan yang tidak dapat dibandingkan dengan hal kemarin.

Tidak, lebih akuratnya, itu bukan pertemuan tapi sebuah “reuni”.

Saat para peserta turnamen di bawah 13 tahun, termasuk Liner, berkumpul pada ruangan di samping panggung, saat mereka menunggu nama mereka dipanggil.
Saat dia menunggu turnamen dimulai dan Liner untuk tampil, dia melihat sosok yang membuatnya meragukan matanya sendiri.

Sosok tersebut, yang tidak bisa dilupakannya sejak hari pada 3 tahun yang lalu, dipanggil dengan nama yang berbeda dari ingatannya.
Tidak mungkin dia salah melihat penampilan orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Dia lebih tinggi dan kejantanan wajahnya telah meningkat, namun bekas dari hari itu masih tertinggal.

Secara kebetulan, matanya memperhatikan gadis tersebut. Bola mata merah yang dalam mengungkapkan keinginan kuat sama dengan yang ada pada hari itu.
Mata mereka bertemu, dan dia menarik napas. Mereka bertatapan hanya sebentar. Saat dia mengalihkan pandangannya, dia mengeluarkan napas seakan dia baru mengingat tentang akumulasi udara di paru-parunya. Bersamaan dengan itu, gadis berambut pirang tersebut― Colette Amerel mengucapkan nama anak laki-laki tersebut, yang telah bereuni, seolah sedang mengunyahnya.

“…….Harold, sama” (Perempuan berambut pirang/Colette Amerel)


Footnote

  1. Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera.

Sebelumnya | Selanjutnya


Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻