Re:Host My Death Flags Chapter 5

Oleh Alone of Nyx on November 15, 2017

My Death Flags Show No Sign of Ending Chapter 05 Bahasa Indonesia


 

 

Mendengar laporan Harold, Orang tuanya percaya bahwa Clara dan putrinya Colette, telah meninggal. Hal itu tidak mungkin bahwa mereka akan meragukan anak mereka sendiri.

Walaupun putra mereka telah membunuh seorang wanita dan purtinya, mengingat mereka hanya memujinya berlebihan dengan mengatakan ‘Kamu mempunyai bakat dalam sihir. Kazuki merasa jarak antara dia dan kedua orang tuanya tidak akan tertutup selama sisa hidupnya. Selama mereka belum membersihkan diri mereka dari pemikiran seperti itu, tidak akan mungkin dia bisa bertatap mata dengan mereka.

Baik, karena mereka percaya begitu saja padanya, mereka tidak meragukan apapun yang dia katakan. Jadi untuk sekarang, itu lebih dari cukup dari apa yang dia harapkan. Untuk sekarang, bisa dikatakan bahwa rencana untuk menyelamatkan Clara dan Colette terbilang sukses.

Sebenarnya, ini adalah saat seharusnya ia senang, tapi ia dihadapkan pada masalah baru, bagi Kazuki, waktu sangat berharga. Yang paling dia bisa lakukan adalah berdoa agar Colette dapat keluar dari perbatasan. Mengesampingkan hal itu, hal yang mengganggu Kazuki saat ini adalah bagaimana berurusan dengan ketidak senangan masyarakat, keadaan sulit yang disebabkan oleh kebijakan politik keluarga Stokes. Singkatnya, itu dapat disimpulkan karena perpajakan yang parah.

Dikarenakan wilyah Stokes, dengan pengecualian pegunangan yang menjulang tinggi ke arah utara, wilayahnya dihadapkan pada permukaan tanah datar, dengan jalan raya ditempatkan seakan berjalan di samping kota, sangat diberkati dalam bidang trasportasi. Tidak ada lautan di sekitar nya, tapi ada sebuah sungai yang dibentuk oleh aliran dari pegunungan, yang dekat melintas. dan sebuah hutan yang membentang keluar dari utara ke sisi timur, sehingga tanah juga cocok untuk bidang kehutanan. Dengan sumber daya alam yang berlimpah, perputaran uang cukup baik. Alaminya, industri primer dan sekunder berhasil dengan baik.

Bagaimanapun, karena wilayah Stokes tidak terlalu luas, mereka tidak bisa memanfaatkan keuntungan tersebut. Kendati memajukan kota kecil – adalah batas mereka. Kebijakan yang mencakup bidang ekonomi, Keluarga Stokes terlalu membebankan pajak yang tinggi.

Bagi warga yang tinggal di sekitar pusat kota, yang memiliki penghasilan cukup tinggi, bukan berarti mereka tidak bisa membayar pajak, tapi bagi masyarakat pertanian yang tinggal di pinggiran kota, itu cukup memberatkan. Khususnya, dalam beberapa tahun terkhir, terkena bencana alam seolah-olah hal itu adalah kejadian rutin tahunan, dan karena hal itu, keuntungan menurun dengan hasil panen para petani tidak lebih dari jumlah modal awal.

Untuk alasan ini, berbagai suara bangkit dari perkebunan, meminta agar pemerintah mengurangi pajak untuk sementara, tapi tidak mungkin pasangan itu akan meminjamkan telinga mereka untuk mendengar sesuatu seperti itu. Sebaliknya, tekanan malah diperketat dengan mengatakan ‘Jika kalian lebih banyak memberikan keluhan, aku akan menaikan pajak lebih tinggi lagi‘ Masalah itu diselesaikan dengan mengancam mereka seperti itu.

Dalam game, ada percakapan yang menyingung tentang rakyat yang sangat menderita karena kebijkan poitik, namun tidak ada rincian tentang bagian itu. Kemungkinan, tanpa dokumen Norman, Kazuki mungkin tidak akan pernah memperhatikan itu. Jika kondisi ini berlangsung untuk waktu yang lama, ketidak senangan yang terkumpul karena tekanan yang disebabkan keluarga stokes, akan tanpa ragu meledak di beberapa titik waktu. Hal itu akan menjadi tanda pertama dari indikasi jatuhnya keluarga Stokes.

Baik, untuk Kazuki, dia tidak peduli apapun yang terjadi pada keluarga ini, dia merasa tidak ada hubungan nya. Tapi, kemungkinan bahwa dia akan terlibat dalam bencana ini sangat tinggi, dan karena itu, ia harus mengambil beberapa tindakan.

“Permisi~ …. Tte, apa yang anda lakukan?”

Memperlihatkan wajahnya dari pintu yang terbuka, terlebih lagi tanpa menunggu jawaban dari ketukan pintu, dia adalah kaki tangan yang membantunya dalam menyelamatkan Clara, Zen – Seorang kusir dari kereta kuda.

Entah mengapa, akhir-akhir ini, meskipun tidak ada pekerjaan untuknya, ia seolah-olah terlibat dengan apapun yang Harold lakukan. Tidak peduli seberapa keras ia mengusirnya, selain tertawa datar, tetap diam seolah-olah dia tidak mendengar nya sama sekali.

Zen berusia 19 tahun, seorang pemuda pada generasi yang sama seperti Kazuki. Dan juga, diantara semua laki-laki yang bekerja di rumah, dia berada pada usia yang paling dekat dengan Harold. Dalam pemikiran Kazuki, dia adalah sosok yang paling mudah untuk bergaul.

Dia seperti anjing, lebih tepatnya, kepribadian Zen memainkan peran besar dalam membuat orang merasa ramah padanya.

Dia memiringkan kepalanya ketika dia melihat prilaku aneh Kazuki. Meskipun disebut aneh, yang ia lakukan hanyalah mengamati pertumbuhan tanaman yang ada di balkon dengan tinggi sekitar 50 cm, yang menjadi hiasan jendela.

“Ini tidak ada hubungannya dengan mu. Cepat, tutup pintunya sialan!”

“O~ tto, sepertinya ada yang main rahasia-rahasia an disini.”

Setelah menutup pintu di belakangnya, sesuai perkiraan, Zen menyemburkan beberapa komentar seperti anjing saat melihat balkon. Adapun sikapnya, bisa dikatakan bahwa ia sangat tidak sopan sama sekali.

Sekitar 20 pot tanaman berbaris di balkon, yang dibagi menjadi 3 ruas dengan tiga jenis tanaman yang tumbuh. Untuk beberapa alasan, ada spesimen diantara semuanya yang pertumbuhan nya lebih unggul.

“Umbi bell dan bluna, dan juga ada groot merah ….. Apakah anda akan memakan semuanya setelah tumbuh dewasa?”

“Apakah kau ingin aku memotonng ususmu keluar dan, termasuk pot, memasukannya kedalam perut mu?”

Apa aku bermaksud membuat Zen memakannya?

“Tidak, terima kasih.”

” ….. ”

Jika sudah seperti ini, kita mungkin tidak akan mempunyai percakapan santai saat aku tertekan seperti ini, tangannya tetap bergerak saat ia mengingat itu.

Berdasarkan pernyataan Zen, semua sayuran ini dapat dimakan. Terus terang, hanya dedaunan yang tidak terlihat dibawah tanah, untuk umbi bell, nama nya itu benar-benar cocok.

Menambahkan hal itu, mereka adalah tiga tanaman pokok yang paling banyak dibudidayakan para petani di wilyah Stokes.

“Meskipun begitu, cara mereka tumbuh sepertinya terlihat berbeda, mengapa demikian?.”

Tanpa takut dengan pernyataan Kazuki sebelumnya, Zen bertanya dengan wajah penasaran. Baik karena hatinya yang terbuat dari baja atau sarafnya memang sangat keras, yang manapun, dia tetap saja tangguh.

Sambil mengagumi Zen, yang tampaknya memiliki tingkat daya tahan seperti karung tinju, Kazuki mengulurkan botol kaca.

“Ada tanaman yang disiram air yang dicmpur dengan ini, dan ada juga yang tidak.”

Sesuatu yang dipegang Kazuki, sangat akrab bagi semua penggemar [Brave Heart], itu adalah botol berwarna kebiruan semi transparan. Benda ini sangat berguna pada awal permainan, item yang memberikan dua kali lipat tingkat pemulihan stamina. Namanya adalah [Life Potion].

“Life Potion, untuk tanaman ….?”

Dia belum pernah mendengar teknik seperti itu untuk menumbuhkan tanaman. Tapi, tanaman yang diberi Life Potion, memang jelas lebih besar dari tanaman lain.

Mata zen menampilkan kejutan pada pemikiran Kazuki yang diluar akal sehat, tapi bagi Kzuki, ini hanyalah pemikiran sederhana.

Dalam sistem [Brave Heart], “Peracikan” juga ada. Dengan mencampurkan berbagai bahan yang berbeda, ramuan bisa diciptakan, tetapi untuk beberapa bahan, jika seseorng tidak membudidayakan nya sendiri, maka mereka tidak akan bisa mendapatkannya.

Selanjutnya, bahkan jika seseorang memelihara tanaman sesuai petunjuk manual, kerena tingkat keberhasilannya sangat rendah, pemain biasanya membajak ladang dengan harapan beberapa akan berhasil tumbuh.

Nantinya, fakta bahwa tingkat panen naik setelah diberi Life Potion atau [Ether] tingkat atas dikenal masyarakat, kemudian pemain yang berubah menjadi pahlawan mulai menyebarkan ramuan tersebut pada semua petani. Demikian juga, Kazuki adalah salah satu pemain.

Untuk menguji apakah hal itu bisa diterapkan disini, Kazuki menyiapkan beberapa pot, tanah untuk tanaman, bibit dan juga Life Potion yang diterapkan pada bibit yang mendekati tanggal kadauarsa, yang mana telah tertidur di gudang rumah Stokes, melalui Norman.

Tapi, ketika tanaman disiram hanya dengan Life Potion, meskipun pertumbuhannya cepat, mereka layu sebelum berbuah. Jadi, ketika ia mencampurkaannya dengan air, banyak percobaan yang terus ia ulangi, sampai akhirnya, kadar air dan Life Potion yang cocok bisa ditemukan.

Kazuki memetik beberapa groot merah dan melemparkannya pada Zen.

“O~to~to”

“Makan!”

“Mentah?”

Zen, yang gesit menangkap semuanya, bahkan tidak menyembunyikan ekspresi tidak senang di wajahnya, setelah mendengar perintah Harold.

Dia paham betul, diantara semua sayuran yang Kazuki tahu, broot merah adalah yang paling mirip dengan bawang. Mekipun bisa dimakan tanpa dimasak dengan api terlebih dahulu, pada dasarnya, adalah jenis sayuran yang biasa dimasak.

“Ini balasan karena kecerobohan mu ikut campur dengan urusan orang lain.”

“…. Eei, ba,baiklah!!”

Zen mungkin menyerah, tanpa menolak lagi, ia segera menggigit groot merah. Shaku-shaku, suara gigitan bisa terdengar.

“Nn?”

Zen, yang telah menelan groot merah, mengangkat suaranya senang. “Apa ini? Ini lebih manis dari biasanya dan mustahil begitu lezat!?”

<=”” a=”” style=”box-sizing: border-box; max-width: 100%;”>

Rasanya bagus untuk melihat reaksi seperti itu, mengetahui bahwa metode pertanian dengan Life Potion akan memiliki efek seperti itu, ini bahkan melebihi harapan Kazuki. Meskipun wajah bahagianya diluar perhitungan Kazuki, seperti yang diharapkan, meminta Zen sebagai kelinci percobaan adalah pilihan yang tepat.

“Bawa itu ke dapur dan kembali setelah juru masak mencobanya. Pendapat mereka akan rasa, berbeda dengan orang-orang biasa, apakah itu layak jika dipasarkan, selain rasa, tanyakan juga tentang hal itu.”

“Laksanakan!”

Zen segera membungkuk, karena ia memegang groot merah di tangan kirinya, ia tampaknya tidak cocok dengan sikapnya.

“Barang-barang yang kau peroleh atau atas perintah sipa kau melakukan ini-”

“Adalah rahasia, bukan begitu? Saya mengerti Harold-sama”

Zen menjawab seperti itu dengan senyum diwajahnya. Untuknya, penilaian nya tentang anak yang dikenal sebagai Harold telah berubah karena kejadian sebelumnya.

Sampai saat itu, ia hanya berpikir bahwa anak ini hanyalah bocah sombong, yang egois dan bodoh, tapi tampaknya ia hanya pura-pura untuk tujuan tertentu. Sifat sejati Harold agaknya kebalikan dari itu semua.

Baik hati, memeras otaknya untuk orang-orang yang status sosialnya lebih rendah dari dirinya, ia memiliki kematangan emosi dan kebiijaksanaan.

Setelah ia mengetahui hal itu, ia hanya bisa menilai mulut kotor Harold bukanlah apa-apa tetapi kemunafikan. Artinya, satu-satunya cara agar Harold tampak kekanak-kanakan hanyalah dengan seperti ini.

Seperti sekarang, ketika ia memasuki ruangan dan berbicara ini dan itu, selain menyemburkan kata-kata kasar, dia juga tidak tampak senang.

Mengingat usia Harold saat ini, ia harusnya sudah tahu mengenai hal-hal seperti perbedaan status sosial. Ini bukanlah masalah jika dia memiliki hubungan dengannya sejak kecil, tapi saat pertama kali Zen berbicara dengannya hanya beberapa hari yang lalu. Ketika orang seperti dirinya menunjukan prilaku tiak sopan, seolah-olah ia tidak keberatan sama sekali. Prilakunya sekan menunjukan bahwa ia tidak tertarik menjaga fasadnya. Bagi Zen, Harold Stokes yang seperti itu sangat menyenangkan.

Dan lagi, jelas ia berusaha melakukan sesuatu untuk groot merah ini. Tentunya, itu adalah sesuatu yang di luar pemahamannya, bahkan ia tidak bisa memikirkannya. Zen senang bisa membantunya dalam bentuk apapun.

 


Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya


Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻