My Death Flags Chapter 26

Oleh Alone of Nyx on February 26, 2018

― My Death Flags Show No Sign of Ending Chapter 26 Bahasa Indonesia ―


Chapter 26 —

 

(PoV Cody)

 

Sambil didorong oleh kerumunan orang yang memanas, Cody secara paksa menerobos masuk. Dia meminta maaf kepada kerumunan di sekitarnya dan dengan gerakan ringan, dengan cepat sampai di barisan depan kursi penonton.

 

“Oh, sepertinya aku tidak terlambat. Tidak sia-sia meninggalkan pekerjaan pada bawahanku. ” (Cody)

 

Sambil membelai janggut di dagunya, Cody bergumam setelah menemukan bocah berambut hitam berdiri di atas panggung. Regu Cody telah diperintahkan untuk berpatroli di sekitar kota namun dia mendorong pekerjaan tersebut ke tiga bawahannya, termasuk Robinson Sambil menyelinap keluar untuk menyaksikan turnamen bertarung. Sekarang, bawahannya akan bekerja sambil mengeluh dengan kejam tentang dia. Dia akan menerima omelan setelah mereka bertemu nanti, tapi untuk saat ini, dia melupakannya dan memberi prioritas untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

 

Duduk di kursi dengan pemandangan yang bagus, dia melihat beberapa pertandingan yang tidak begitu menarik dan akhirnya, anak laki-laki yang dia tunggu-tunggu muncul di atas panggung. Pakaiannya sepertinya dibuat khusus untuknya dengan bahan yang berkualitas dan bahkan sarung tangan besi yang kenakan pada lengan kirinya, dari warnanya, rasanya terbuat dari bahan yang berbeda dari bahan perunggu biasa.

 

(Lebih bagus dari yang digunakan oleh ksatria kelas rendah (kami). Apakah dia seorang bangsawan dari suatu tempat?) (Cody)

 

Bahkan nama yang dipakainya adalah Mr.Lord, yang jelas-jelas merupakan alias. Dari pakaiannya, kemungkinan dia menjadi warga biasa sangatlah rendah. Kalau begitu, akan sangat sulit untuk memancingnya ke dalam Knight Order. Meskipun merekrutnya akan bergantung pada kekuatannya, Cody datang ke sini untuk memastikannya.

 

Dengan kata lain, ini akan menjadi semacam alibi yang bagus untuk merekrut bakat yang bisa membawa Knight Order di masa depan. Tidak berarti dia bermalas-malasan. Dia juga telah bersiap untuk berdebat dengan cara yang menyesatkan saat waktunya tiba. Dengan ini, dia bisa berkonsentrasi pada pertandingan anak laki-laki tersebut tanpa ada kecemasan.

 

“Sekarang, mari kita lihat apa yang akan kau …… lakukan?” (Cody)

 

Sebelum Cody bahkan bisa menyelesaikan kalimatnya, pertandingan sudah berakhir. Seketika ‘Dimulai!’, Lord memperpendek jarak, memukul pedang lawannya dan menusukkan pedangnya sendiri, semuanya dalam satu langkah.

Pertandingan bahkan tidak memakan waktu tiga detik, disimpulkan dengan kecepatan kilat. Bisa dimaklumi kalau mata lawan tersebut jadi tumpul.

 

Namun, tatapan tajam yang dipenuhi dengan maksud membunuh mungkin telah menimbulkan ketakutan lebih besar daripada dorongan pedang palsu di depan bocah tersebut. Tertelan oleh aura membunuh, lawannya menyatakan menyerah dengan suara gemetar.

 

Karena pertandingan berakhir seketika, bahkan penonton yang bersemangat pun tidak tahu apa yang telah terjadi dan sedang membuat gaduh. Namun tanpa memikirkan kebingungan orang banyak, Lord dengan cepat meninggalkan panggung.

 

“… Yang benar saja? Bukankah ini benar-benar bakat yang luar biasa? ” (Cody)

 

Kekuatan peserta dalam turnamen semacam ini tentu saja akan bervariasi. Bahkan lawan Lord saat ini cukup kuat, tapi hanya pada tingkat ketika membicarakan kelompok usia tertentu. Dengan kata lain, bukan bagian tentang kemenangannya yang harus dicatat, melainkan kecepatannya. Kemungkinan besar, lawannya telah menyadari sesuatu  telah terjadi dan sebelum dia mengerti, dia telah kalah. Jika dia hanya membandingkan kecepatan, maka Lord akan benar-benar melampaui bawahannya saat ini.

 

Bahkan saat dikelilingi oleh ribuan penonton, tanpa goyah sedikit pun, dia telah mengalahkan lawannya dalam sekejap tanpa ada gerakan yang berlebihan. Meski masih belum matang dalam hal pikiran, kecakapan dan tubuh, mampu menunjukkan kemampuan fisik di bawah tekanan yang begitu besar merupakan hal yang luar biasa.

Dengan bakat sebanyak ini, akan sia-sia untuk menyembunyikannya. Berpikir seperti itu mungkin karena ego dikembangkan dari anggota   Knight Order, tapi sejauh menyangkut Cody, mereka tidak akan rugi sedikit pun dengan meningkatkan jumlah individu berbakat mereka. Bahkan jika dia menyebutnya merekrut, hak untuk memutuskan apakah seseorang akan bergabung atau tidak diserahkan kepada individu itu sendiri, tapi Cody tidak memiliki kepribadian yang begitu mengagumkan untuk menahan diri karena hal seperti itu.

 

(Ada baiknya langsung memanggilnya sekarang tetapi …) (Cody)

 

Dari pertandingan sebelumnya, Cody merasakan indikasi tertentu dari Lord. Seakan dia sedang terburu-buru dalam pertandingan, sebuah ketidaksabaran yang tak berarti tapi memang ada.

Lord yang melihat kekuatan Cody bahkan tanpa sekejap saat bertatapan pagi ini. Tidak mungkin Lord tidak dapat merasakan perbedaan kekuatan antara dirinya dan lawannya. Namun itu bukan alasan untuk terburu-buru meraih kemenangan, mungkin itu hanyalah salah paham Cody.

 

Tapi kalau bukan itu masalahnya, kenapa dia begitu tidak sabaran? Keragu-raguan ini tetap berada di dalam kepala Cody saat turnamen berlangsung.

 

 

* * *

 

(Pov Harold)

 

Sejak saat dia melihat Colette, tindakan Harold menjadi sangat cepat. Dengan seruan untuk memulai pertandingan, ia melakukan serangan cepat, membuat lawannya langsung menyerah dan meninggalkan panggung.

Dia buru-buru kembali ke ruang peserta turnamen dan sambil dengan panik menggerakkan matanya, dia mulai mencari seorang anak laki-laki.

 

Karena Colette berada di sini, ada kemungkinan besar dia berada di sini juga. Tokoh utama “Brave Hearts”, Ryner.

Masalahnya adalah apakah dia adalah penonton seperti Colette atau peserta di turnamen. Skenario terburuknya adalah dia berhadapan dengan Ryner dalam sebuah pertandingan.

 

Sayangnya, doa Harold ‘Tolong berada di kursi penonton’, lenyap ke udara yang tipis. Perwujudan semangat dan keaktifan yang tinggi secara alami, rambutnya yang runcing memasuki pandangan Harold. Warnanya seperti yang diingatnya, merah terang.

Ketika nama ‘Ryner Griffith’ dipanggil, dia berlari ke panggung, membakar dengan semangat juang. Kepala Harold memandang ke bawah saat dia memastikan sosoknya. Dengan ini, menjadi pasti bahwa Ryner berpartisipasi dalam turnamen ini.

 

(Seriusan …? Haruskah aku menyerah sebelum aku menghadapinya?) (Harold)

 

Perkembangan ini seharusnya tidak ada di dalam permainan. Dalam pertandingan, saat ia sampai di Delfit, ada adegan di mana Ryner akan terkejut melihat sebuah kapal besar. ‘Jadi ini pertama kalinya dia datang ke Delfit ‘, kata-kata seperti tergambarkan. Dia sama sekali tidak mengerti bagaimana hal itu akan membawanya ke turnamen bertarung.

 

Bagaimanapun juga, dia tidak akan membuat masalah. Sementara dia berpikir untuk menyerah dari turnamen dengan alasan yang tidak jelas, dia tiba-tiba menyadari kalau dia melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pagi ini. Tanpa berpikir, hanya karena mereka adalah karakter yang muncul dalam permainan, dia secara refleks berusaha menghindarinya.

Jika dia memikirkannya kembali, alasan Ryner bersikap bermusuhan terhadap Harold di karena kan kematian Clara dan tindakan Harold dalam cerita tersebut. Dan Harold sudah menyelesaikan masalah Clara.

 

Meski dia bilang seperti itu, ia berencana untuk membuktikan dirinya melalui tindakannya daripada kata-katanya di masa depan. Ini berarti tidak ada alasan bagi Ryner untuk membencinya. Malahan, akan menjadi rencana yang baik untuk berteman dengannya. Meskipun ia tidak berniat untuk masuk ke dalam kelompok pahlawan yang selalu bertempur di lini depan, sangat memungkinkan untuk memberikan mereka saran dalam menambah kemampuan bertarung mereka menggunakan pengetahuan yang ia ketahui tentang game. Jika mereka menjadi bermusuhan, tidak mungkin mereka mendengarkannya.

 

Ketika dia berpikir sampai di sana, kepalanya juga telah cukup mendingin. Lagi pula, bahkan jika Erika dan Colette bertemu, ini akan menjadi kali pertama mereka bertemu. Selama Harold tidak hadir saat mereka bertemu, tidak mungkin tindakan masa lalunya akan ketahuan.

Karena Erika tidak akan mendekati Harold dengan minatnya sendiri, itu akan menjadi kesempatan bagus untuk secara tidak langsung menanyakan hubungan Colette dan Ryner melalui turnamen ini.

 

Sementara memastikan kekuatan Ryner saat ini, Harold bisa berkenalan dengannya, membangun hubungan persahabatan yang bisa dia gunakan di masa depan. Tidak perlu hanya berdiri dan melihat kesempatan ini terlepas dari hadapannya. Saat menetapkan tujuannya, Harold mengalihkan kesadarannya ke arah pertandingan tersebut. Saat dia berbalik ke panggung, baru saat Ryner memenangkan pertandingan, dengan senang hati memompa tinjunya.

 

Meski itu hipotetis, dia tetap menjadi Hero yang akan menyelamatkan dunia di masa depan. ‘Jika berbicara berkaitan dengan permainan, bahkan jika dia level 1, dia tidak akan kalah di tempat seperti ini’, Harold pikir. Dengan hal itu, dia harus mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan selamat kepadanya atas kemenangannya, ini akan menjadi permulaan percakapan yang bagus.

 

(Apa yang harus aku katakan? Selamat? … tidak, bukannya itu akan menjadi ‘Nah, bukankah kau implusif?’ Apa sih? Itu sangat sombong. Uh … membuatnya tidak berbahaya dan tidak mengejeknya …)

 

Sementara memikirkan hal-hal seperti itu, Ryner sudah berjalan melewatinya. Ingin menghentikannya, Harold spontan berkata:

 

“Hei kau, rambut merah.” (Harold)

 

Akibatnya, dia melakukan kesalahan dalam memilih kata-katanya. Bersamaan dengan postur tubuhnya, di mana dia melipat tangannya sambil menyandarkan punggungnya ke dinding, ucapan yang keluar dengan sangat angkuh. Tapi kata-kata tersebut sudah meninggalkan mulutnya, tidak mungkin dia bisa menariknya kembali. Dengan ucapan ‘Rambut merah’, kaki Ryner berhenti.

 

“Ah, kau!” (Ryner)

 

Saat Ryner menyadari Harold, dia tiba-tiba mendekat. Harold berpikir kalau dia mungkin saja marah, tapi tidak ada kemarahan di matanya, sebaliknya mereka memiliki nyala api yang berkobar di dalamnya.

 

“Hei, bukankah kau orang yang sangat cepat? Aku menontonnya, tapi aku sama sekali tidak bisa memahaminya! Bagaimana kau melakukannya?! Bisakah aku melakukannya juga?! ” (Ryner)

 

Sikapnya mengandung begitu banyak kekuatan sehingga membuat bahkan Harold, yang telah memanggilnya, ingin mundur. Bahkan dalam permainan, dia merupakan karakter yang mempertahankan sifat kekanak-kanakannya, tapi saat dia benar-benar anak kecil, sifatnya semakin nyata.

 

“Bahkan jika itu hanya sebuah trik, tolong ajari aku! Jika itu tidak mungkin, aku akan puas mengetahui jenis latihan apa yang sering kau lakukan! Aku membawa beban saat aku terus berlari, tapi tidak mungkin aku bisa bergerak secepat yang kau lakukan!” (Ryner)

 

“Coba, tutup mulut yang tidak berfungsi dengan baik.” (Harold)

 

“Ah maaf. Kalau dipikir-pikir, aku masih belum mengenalkan diri. Aku adalah Ryner!” (Ryner)

 

 

Ryner dengan riang mengulurkan tangan kanannya.

Setelah ragu beberapa saat, Harold menjabat tangan tersebut.

 

“… Harold. Panggil aku sesukamu.” (Harold)

 

“Baik! Senang bertemu denganmu, Harold!” (Ryner)

 

Ryner menyeringai tanpa beban ke arah Harold. Baginya, mereka sudah berteman. Begitulah Ryner. Bahkan bagi Harold, itu merupakan hal yang menyenangkan. Berhubungan dengan anak laki-laki murni ini sepenuhnya karena motif tersembunyi sedikit menyakiti nurani Harold, tapi dia menyingkirkan pikiran tersebut.

 

“Aku melihat gaya bertarung mu, sejujurnya itu agak impulsif, tapi jauh lebih baik daripada sisa dari orang-orang sampah di sini.” (Harold)

 

“Hee, terima kasih!” (Ryner)

 

Tidak peduli apa, orang lain hanya bisa berpikir kalau ia mencoba untuk memancing kemarahan peserta lainnya. Jelas, pandangan suram terbang ke arah mereka dari sekitarnya, tapi tanpa memperhatikannya, Ryner menjadi malu. Sepertinya fakta kalau dia merupakan seorang idiot yang tidak bisa mengerti sarkasme tidaklah berubah. Bagi Harold, di mana bahasa kasar yang digunakan secara paksa merupakan penyebab kejengkelan secara terus-menerus, dia sangat berterima kasih atas reaksi tersebut.

 

“Tapi aku tidak memiliki kewajiban untuk mengajarimu sesuatu. Jika kau ingin mengetahuinya, maka lawan aku dan cobalah untuk mencurinya. Walaupun itu hanya bisa dilakukan jika kau terus menang.” (Harold)

 

“Aku akan melakukannya! Harold juga, pastikan untuk tidak kalah sebelum bertarung melawanku, oke? ” (Ryner)

 

“Menurutmu siapa yang kau ajak bicara? Satu-satunya hal yang akan kau pelajari adalah perbedaan kekuatan antara kita seperti langit dan bumi.” (Harold)

 

“Aku sangat menantikannya! Nah, dah! Lain kali, ayo bertemu di pertandingan!” (Ryner)

 

Senyum ramah Ryner lenyap, senyum menyeringai agresif muncul di wajahnya, sementara Harold menyeringai dengan angkuh sebagai gantinya. Keduanya bertekad dan tak kenal takut. Untuk saat ini, ini adalah pertemuan awal mereka.

 

Dari kejauhan, peserta lainnya melotot pada keduanya. Karena mereka berdua berbicara seakan tidak ada orang lain yang penting selain satu sama lain, tidak dapat terbantu karena mereka mengira keduanya memprovokasi mereka.

Tanpa diduga, dia telah mengangkat rintangan untuk Ryner, tapi jika dia adalah pahlawannya, maka ini seharusnya tidak akan menjadi masalah.

 

“Kalau begitu, pertarungan ini tidak akan menjadi sia-sia belaka.” (Harold)

 

Harold bergumam sambil melihat tangan kanannya, yang telah menggenggam dengan kuat.

 


Chapter Sebelumnya | →

Founder | Spam-Slayer | Emperor of Nyx | I wonder how many miles I’ve scrolled with my thumb… (╯°□°)╯︵ ┻━┻